
Hari pertama musim semi di Daegu. Bunga-bunga mulai berbuah kuncup di sepanjang taman di halaman luas rumah utama milik Min Yoongi. Rasanya masih tetap sama seperti dulu, indah dan damai.
Tidak. Mungkin sekarang berbeda sebab dia tidak menikmati ini sendirian melainkan bersama seseorang yang ia cintai.
Pagi hari di rumah utama sungguh berbeda dengan pagi hari di rumah Seoul. Pasalnya, pagi ini terlihat sangat damai dan sepi. Tidak ada pengganggu seperti biasanya. Yoongi sangat menyukai suasana ini.
Tapi, dia juga rindu saat masih berada di asrama. Bangun pagi dan membangunkan adik-adiknya. Memasakkan mereka, berilahraga bersama, dan bercanda bersama. Sayangnya, mereka harus terpisah sampai di sini sebab usia semakin bertambah dan bukan hanya uang yang nereka pikirkan tapi juga seseorang yang akan menemani masa tua mereka.
Setelah sekian lama bangun pagi disambut udara dingin, sekarang udara yang hangat cenderung panas ini yang Yoongi rasakan. Dia tidak akan bangun terlambat lagi karena merasa nyaman dengan udara pagi yang dingin.
Ji-eun terbangun saat merasakan cahaya menerpa wajahnya. Ia meraba tempat tidur di sampingnya dan tidak menemukan keberadaan Yoongi. Perlahan, Ji-eun mengerjapkan matanya dan melihat pintu balkon terbuka. Pasti suaminya di sana, pikirnya.
Gadis Lee menyibak selimut dan melangkah menuju balkon, tapi karena terlalu silau akhirnya dia memilih untuk berdiri di ambang pintu.
"Kau sedang apa?" Tanya Ji-eun menghampiri Yoongi di balkon.
Balkon kamar mereka langsung menghadap taman bunga, itu sebabnya pemandangan taman bunga dari kamar mereka terlihat sangat jelas dan Yoongi sedang menikmati itu.
Bunga-bunga yang ia tanam sendiri itu kini menghiasi tamannya yang terlihat cukup luas. Bunga yang ia tanam penuh kaih sayang dan selalu ia lindungi kala musim dingin tiba.
Saat musim dingin tiba, para penjaga akan memasang pelindung dari kaca agar tumbuhan bunga-bunga itu tidak merasa kedinginan dan layu. Dan saat musim semi tiba, mereka akan melepasnya.
Yoongi berbalik, menatap istrinya yang masih berdiri di ambang pintu balkon. Ji-eun terlihat sangat seksi mengenakan baju tidur satin tanpa lapisan jubah. Kulitnya putih mulus dan terlihat sangat terawat.
Seketika Yoongi merasa tidak rela jika kulit putih itu terlihat jelas di kamera dan layar televisi. Seharusnya hanya dia yang boleh melihatnya.
"Kau mau keluar dengan penampilan seperti itu?" Tanya Yoongi yang mana membuat Ji-eun heran.
Ji-eun memperhatikan tubuhnya. Tidak ada yang salah tapi kenapa Yoongi seolah tidak menyukai penampilannya.
"Memangnya kenapa?" Tanya Ji-eun bingung.
Tanpa mau menjelaskan, Yoongi melangkah masuk kedalam kamar dan mengambil jubah tidur sang gadis yang tergeletak di ranjang dan memakaikannya. Ji-eun hanya mampu tersenyum, dia bisa paham kenapa Yoongi bersikap demikian.
"Memikirkan apa?"
"Tidak ada. Emm, aku lapar."
"Ayo turun."
Ji-eun sebenarnya belum telalu merasa lapar. Hanya saja dia sengaja mengalihkan pembicaraan agar Yoongi tidak banyak bertanya tentang dirinya.
Percayalah, sekarang dia tengah menyembunyikan debaran jantungnya karena mendapatkan perhatian kecil dari Yoongi. Bahkan saat tangannya di gandeng, wajahnya terasa panas dan pasti terlihat memerah. Rasa itu bahkan menjalar sampai ke telinganya.
__ADS_1
Mereka memasuki lift untuk turun ke lantai bawah menuju dapur. Sesampainya di dapur, Yoongi langsung menyuruh Ji-eun untuk duduk saja selagi dia menyiapkan sarapan.
"Kau mau makan apa?" Tanya Yoongi.
Ji-eun memikirkan makanan apa yang ingin dia makan pagi hari ini. Lalu matanya sangat berbinar ketika mengingat sesuatu.
"Nasi goreng kimchi?"
"Ani." Tolak Yoongi tegas.
"Kenapa?" Ji-eun langsung melemas.
"Kau sedang hamil, tidak boleh mengkonsumsi kimchi."
"Tapi aku pernah memakannya saat hamil. hmpt!" Ji-eun langsung menutup mulutnya saat tidak sengaja mengatakan bahwa ia pernah memakan makanan tersebut saat pertama hamil. Bersama Jungkook waktu mengunjungi restoran di sekitar rumahnya.
Maksudnya, tidak terjadi apapun padanya dan dia baik-baik saja sampai sekarang.
Yoongi menyipitkan matanya setelah mendengar bahwa Ji-eun pernah mengkonsumsinya. Sebenarnya dia sendiri tidak tahu apakah benar-benar tidak boleh dikonsumsi saat hamil atau hanya sekedar mitos. Tapi, berjaga-haga lebih baik.
"Kau pernah memakannya?" Tanya Yoongi.
Ji-eun terpaksa mengangguk karena Yoongi menatapnya tajam. Ia sudah menutup matanya dan menyiapkan diri akan kemungkinan yang terjadi. Dimarahi misalnya.
Pria itu mengambil rumput laut di kulkas untuk membuat sup rumput laut. Memakan makanan ini saat hamil sangat bermanfaat untuk mengurangi resiko sembelit dan membantu perkembangan otak janin. Untung kemarin penjaga rumahnya telah mengisi penuh kulkasnya. Sehingga dia tidak akan kebingungan dalam membuat menu karena semua bahan tersedia.
Meskipun dia sangat yakin jika anaknya akan terlahir pintar karena dia sendiri memiliki otak yang cerdas. Namun demi membantu perkembangannya maka tidak ada salahnya.
Setelah selesai, Yoongi menyajikan semangkuk besar sup rumput laut dan juga nasi campur gandum. Semangkuk buah kiwi dan strawberry untuk memenuhi vitamin istrinya. Sedangkan untuk dirinya sendiri ada seporsi Japchae.
Ji-eun menelan ludah ketika melihat menu sarapan Yoongi. Sepertinya mulai hari ini dia tidak akan bisa lagi memakan makanan dengan bebas.
"Selamat makan." Ucap Yoongi.
"Selamat makan." Sahut Ji-eun lesu.
°°°
Ji-eun tengah bersantai di studio mini Yoongi. Yoongi menerima tawaran untuk membuat lagu dari beberapa agensi dan artist solo, itu sebabnya dia beada di studionya sekarang.
Sebenarnya sudah dari kapan hari tawaran itu diberikan namun karena pernikahan membuat Yoongi tidak langsung menerimanya. Dan beruntungnya mereka terus menunggu hingga hari ini.
Yoongi terlihat sangat fokus, tidak sekalipun dia menghiraukan keberadaan Ji-eun di ruangan itu. Hanya sesekali melirik untuk melihat istrinya sedang berbuat apa.
__ADS_1
"Aku masih lama di sini. Jika kau bosan, turun saja tapi jangan keluar." Ucap Yoongi.
Di rumah ini tidak ada siapapun selain mereka berdua. Dan kedua penjaga rumahnya tinggal di paviliun belakang dan berjaga di luar rumah, itu sebabnya Yoongi marang Ji-eun untuk keliar rumah.
"Tidak. Aku akan menunggu saja."
Ji-eun mengambil majalah yang berada di atas nakas. Majalah tersebut berisi gambar suaminya yang mengenakan busana dari brand ternama dengan logo satu huruf abjad.
Gadis itu bahkan tidak menyadari jika rambut Yoongi sudah panjang namun pria itu seperti membiarkannya. Karena memang mau seperti apapun model rambutnya, pria itu tetap terlihat tampan.
"Kau pernah menghadiri fashion show di Paris?" Tanya Ji-eun.
"Ya, aku mendapatkan undangan khusus." Jawab Yoongi tanpa menoleh.
"Benarkah? Apa kau menikmatinya?"
"Apa maksudmu?"
"Ya, ku dengar beberapa model kebanyakan memperagakan busana yang terbuka. Apa kau menikmatinya?"
Yoongi terdiam sejenak, bahkan tangannya yang sedang mencacat lirik lagu ikut terhenti. Pria itu menoleh, menatap istrinya yang terlihat menantikan jawabannya.
"Aku datang untuk bisnis."
Dalam artian, dia menghadirinya karena dia salah satu model dari brand tersebut. Dan jika di tanya apakah dia menikmatinya atau tidak jawabannya tentu tidak.
Dia sama sekali tidak memperhatikan para model yang berlenggak lenggok di catwalk di depannya. Dia hanya mengikuti acara namun tidak peduli pada sajian di depannya.
Mau secantik apapun gadis yang disuguhkan, dia tidak akan menyukainya. Bahkan saat model itu mempertontonkan sebagian tubuhnya yang naked pun dia tidak minat sama sekali untuk meliatnya.
Hanya ada satu gadis yang bisa membuatnya memusatkan perhatian, yaitu... siapa lagi jika bukan istrinya.
Ji-eun memutarkan bola matanya malas. Yoongi tak pernah merasa gugup atau tertekan ketika menjawab pertanyaan sekalipun itu adalah pertanyaan jebakan.
Ji-eun meraih segelas susu hamil yang sudah ia minum separuh. Menghabiskannya hingga tandas lalu kembali melihat-lihat majalah. Yongi juga belum ada tanda-tanda selesai bekerja.
Hingga menit berlalu sampai beberapa jam, Yoongi baru menyelesaikan proyek lagunya. Membuat tiga lagu serta instrumennya dala waktu tiga jam membuatnya sangat merasa kelelahan.
Yoongi menoleh kearah samping, dilihatnya Ji-eun yang sudah tertidur di sofa selama berjam-jam. Pasti akan sangat pegal sekali tidur di situ apalagi dalam keasaan hamil.
Tanpa membangunkan istrinya, Yoongi menggendong tubuh sang gadis untuk di pindahkan kedaalam kamar. Setelah memindahkannya, Yoongi ikut bergabung d samping Ji-eun dan tertidur arena badannya terlalu lelah.
Keduanya saling memeluk dan menghangatkan tanpa peduli udara yang sudah panas.
__ADS_1