
Suasana rumah yang jauh lebih tenang daripada di kota, membuat gadis bermarga Lee itu sedikit damai. Tidak ada kebisingan dan manusia-manusia pengganggu untuk sementara waktu.
Gadis itu tengah berada di balkon nya, mendengarkan musiknya yang sudah dirilis bersama Yoongi tempo lalu. Tanpa sadar gadis itu tersenyum, pertemuan nya dengan Yoongi membuat hidupnya berubah. Sejak dulu ia selalu bersikap profesional dan acuh dengan sekitar, membangun komunikasi dengan rekan kerja seperlunya saja.
Namun saat dengan Yoongi, hidupnya terasa berubah. Dia lebih banyak bicara, tidak memikirkan apakah imagenya akan buruk di depan Yoongi dan teman-temannya atau tidak. Dan sepertinya hanya pada Yoongi gadis itu berani mengumpat.
Senyum yang terlukis tiba-tiba memudar. Ji-eun menggelengkan kepalanya pelan, mencoba mengusir bayang-bayang Yoongi yang hadir. Bukankah dia sudah bertekad untuk melupakan apa yang terjadi? Hubungan mereka hanya berdasarkan produser dan artist, itu saja.
•••
Yoongi tengah berada di studionya, pekerjaannya tidak ada habisnya meski pria itu sudah tidak pernah terlihat lagi di televisi. Sudah dikatakan bukan jika dia tidak bisa benar-benar berhenti dari dunia musik. Saking cintanya terhadap musik, dia bahkan bisa membuat lagu hanya dalam waktu lima menit saja.
Di tengah kesibukannya, ponselnya yang berada di atas sofa berdering. Sepertinya pria itu lupa untuk mematikan nada deringnya. Karena sejujurnya Yoongi memang tidak suka di ganggu jika sedang bekerja.
Awalnya pria itu mencoba abai, namun bunyi nyaring yang seolah tidak ada habisnya membuat konsentrasi nya pecah dan sulit untuk fokus kembali. Pria itu mengacak rambutnya gusar, lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju sofa. Diambilnya ponsel tersebut, ternyata ada panggilan dari ibunya.
Tanpa menunggu lagi, Yoongi menggeser ikon hijau untuk menerima panggilan itu dan mengarahkannya pada telinga.
"Ya?" Sahut Yoongi malas.
"Kapan kau akan pulang, Yoon? Jangan lupa dua minggu lagi ulang tahun perusahaan, dan kau harus datang. Ayah juga akan membahas hal penting denganmu."
"Aku akan pulang jika pekerjaan ku sudah selesai. Dan tolong jangan bahas soal perusahaan, aku tidak ingin mendengar itu."
__ADS_1
"Yoon--"
"Bu, tolonglah. Seharusnya ibu tahu kenapa aku masih betah berada di sini meskipun sudah berhenti." Sela Yoongi.
"Ya sudah. Ibu hanya mengingatkan mu, jangan lupa makan dan jaga kesehatan. Aku tidak ingin anakku menyaingi pangsit rebus."
"Ya."
Yoongi memutus sambungan telepon dan menghela nafasnya. Sikap ibunya ini sama seperti dirinya, keras kepala dan bermulut pedas. Ya, dia jadi tahu darimana asal sifat menyebalkan yang dimilikinya. Itu merupakan warisan khusus dari sang ibu.
Meski begitu, Nyonya Min sangatlah menyayangi putra bungsunya. Itu sebabnya dia selalu menelpon setiap beberapa jam. Sayang saja Yoongi kerap kali mengabaikan panggilan ibunya dan memilih untuk sibuk dengan dunianya sendiri.
Yoongi menatap layar ponselnya, seperti ada yang tak biasa. Entah kenapa ia merindukan Ji-eun, biasanya dia akan mengirimi pesan pada gadis itu meski tidak setiap hari. Dan Yoongi pun sudah tidak lagi mengirimi pesan pada Aara seperti dulu.
Entahlah, hidupnya sekarang sudah berbeda. Secara tidak langsung, kehadiran Ji-eun memang membuatnya perlahan melupakan Aara. Pria itu melirik pergelangan tangannya yang kosong, bahkan gelang pemberian Aara yang tak pernah ia lepas sejak dipasangkan itu sekarang tidak lagi bertengger disana.
Bukankah tanda-tanda jatuh cinta yang kentara itu adalah merasakan debaran jantung setiap melihat atau mengingat seseorang? Bahkan dia sudah merasakan tubuh Ji-eun beberapa kali namun belum ada perasaan apapun.
Apa benar dia hanya dikendalikan nafsu saja, mengingat dia memang tidak pernah dekat dengan gadis manapun selama ini. Jika itu benar, mungkin Yoongi harus merasa sangat bersalah pada Ji-eun. Dia hanya orang lain bagi gadis itu, namun sudah berani menyentuhnya lebih dalam dan bisa dikatakan merusaknya.
Dan anehnya, Ji-eun sama sekali tidak menuntutnya. Maksudnya, Ji-eun bisa saja meminta pertanggungjawaban meski belum ada hasil dari perbuatan mereka. Setidaknya, mereka berkencan sungguhan bukan? Sungguh Yoongi benar-benar tidak mengerti pada alur kehidupannya sendiri. Bukankah yang menentukan kehidupannya adalah dirinya sendiri, tapi dia bahkan tidak bisa mengaturnya.
•••
__ADS_1
Park Bongsoon dibuat pusing saat kekasihnya, Kim Taehyung datang ke rumah sakit dan membuat keributan. Bukan berbuat rusuh, melainkan membuat para fans nya gaduh. Biar bagaimanapun Kim Taehyung masihlah seorang artist, pria itu memang sudah berhenti dari dunia musik tapi pria itu masih terkenal.
Kim Taehyung masih menjadi bintang iklan dan beberapa model majalah pria di Seoul. Tapi dengan santainya pria itu keluar mengunjungi Bongsoon tanpa penjagaan ketat. Beruntungnya direktur rumah sakit sama sekali tidak marah atas keributan barusan, mereka langsung meminta petugas keamanan untuk menertibkan masa yang gaduh demi kenyamanan para pasien.
"Wifey." Panggil Taehyung.
Bongsoon hanya melirik sengit, kemudian fokus kembali pada catatan di depannya. Beruntungnya gadis itu sedang tidak menangani pasien dan langsung menyeret pria itu ke ruangannya.
"Galak sekali dia." Gumam Taehyung.
"Jangan mengataiku." Ketus Bongsoon.
"Apa? Aku tidak mengatakan apapun." Ucap Taehyung dan Bongsoon hanya memutar bola matanya jengah.
Sebenarnya dia sudah lelah sekali menghadapi pria yang berusia dua tahun dibawahnya ini. Memang jika memiliki kekasih yang lebih muda itu harus ekstra sabar seperti menghadapi seorang bayi saja. Bedanya jika bayi itu memang polos, kalau pemuda di depannya ini hanya mukanya saja yang polos.
Rasanya dia benar-benar ingin menyerah dan mengakhiri hubungan mereka. Namun, di balik sikapnya yang menyebalkan itu, Kim Taehyung adalah sosok yang jarang ditemui. Pria itu manis dan romantis, memperlakukan wanita dengan baik tidak pandang umur, sopan santunnya juga sangat tinggi dan sedikit tidak sombong. Ya, hanya sedikit karena di depannya pemuda itu sering kali memuji dirinya sendiri karena memiliki paras yang tampan. Namun jika di luar dia sering kali merendah atau bahkan menjelek-jelekkan mukanya sendiri.
"Jangan menatapku seperti itu, sayang. Aku tahu aku sangat tampan." Taehyung menyentuh pipinya sendiri saat melihat Bongsoon menatapnya tak berkedip.
"Justru aku sangat ingin menelan mu, Kim. Diam dan jadilah anak yang penurut!" Titah Bongsoon.
"Oke sayang."
__ADS_1
Kim Taehyung melipat tangannya di meja dan tersenyum menatap kekasihnya, menampilkan smile box nya yang menjadi ciri khas pemuda itu. Dia benar-benar diam dan menurut untuk tidak mengganggu sang gadis. Tapi ekspresi itu malah membuat Bongsoon muak.
Jika ada yang bertanya siapa yang tidak tertarik dengan paras tampan Kim Taehyung yang bak dewa Yunani itu, maka Bongsoon akan mengangkat tangannya dan berteriak paling kencang.