
Park Jimin membawa bungkusan berisi makanan halus yang di pesan Yoongi, kebetulan sekali dia tengah berada di kantin bersama Namjoon. Sementara Taehyung memilih untuk tidur sejenak karena dia merasa lelah dan tubuhnya terasa sedikit pegal.
Bukan seperti Jungkook yang rajin berolahraga, dia yang tidak pernah berkelahi pun langsung merasakan efek nya. Maksudnya, dia hanya berlatih beladiri untuk waktu senggang saja dan juga tak pernah digunakan untuk bertempur selama ini. Dan kemarin adalah pertarungan perdananya, beruntung lawannya itu tak terlalu sulit. Tau begitu dia akan membawa pisau dapur milik ibunya saja ketimbang meminjam pistol yang bahkan tidak berguna sama sekali.
Padahal jika saja dia tidak menghalangi Chanyeol yang hendak mengambil pistol di laci mungkin saja ia akan terlibat baku tembak dari pada perkelahian.
Alasan untuk tidur nyatanya tidak benar-benar digunakan sepenuhnya oleh Taehyung. Bukan maunya sebab ketika pria itu hendak menutup mata ponselnya justru berbunyi. Dia bahkan sudah menolak ratusan panggilan dari teman-temannya, bahkan dari ibu dan ayahnya.
Mereka semua pasti ingin bertanya tentang kasus yang mereka selesaikan, bukan menanyakan keadaannya. Setidaknya tanyakan dulu apakah dirinya terluka atau tidak alih-alih mengatainya bodoh karena bertindak ceroboh hingga berkelahi dengan orang lain.
Namun panggilan kali ini sama sekali tidak bisa ia tolak, sebab yang menelepon adalah kekasihnya. Ya, Park Bongsoon menelepon setelah mendengar berita itu. Meski terlambat setidaknya ada usaha untuk menanyakan apakah hal itu benar atau tidak.
Sama seperti yang lain, bukannya menanyakan keadaannya justru umpatan kembali ia terima dan sialnya kalimat itu keluar dari mulut orang yang paling dia cintai.
"Hah! Aku benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi dengan mu, Kim. Kau ini.. ah astaga bahkan aku bosan terus mengataimu. Bisakah kau sekali saja membuatku berkata 'Oh, Kim kau pintar sekali!'. Bukankah kau akan bahagia mendengarnya?" Bongsoon terus saja berbicara pada Kim Taehyung yang memang menurutnya sangat-sangat luar biasa. Entahlah, bahkan maksud dari kata luar biasa itu sendiri pun dia tidak bisa menerjemahkannya.
"Bukankah kau sering memujiku seperti itu?" Tanya Taehyung.
"Kapan kau bertingkah layaknya orang pintar, hah?!"
"Saat di atas ranjang. Kau terus memuji keahlianku yang terus membuatmu mendesahkan namaku wifey."
"Astaga! Kurasa semua pria pun pasti pintar seperti itu. Sudahlah aku akan berangkat bekerja, kabari aku kapan kau pulang biar aku yang menjemput mu."
"Terimakasih sayang. Nanti akan ku kabari."
Bongsoon tidak menimpali ucapan Taehyung, dan langsung memutus panggilan sepihak. Namun itu tidak membuat pria bermarga Kim itu kesal. Karena di balik sikap Bongsoon yang sering memaki dan mengumpatinya sebenarnya gadis itu perhatian dan peduli padanya. Hanya saja mungkin terlalu gengsi untuk menunjukkannya secara terang-terangan. Ah, wanita memang seperti itu.
Di ruangan lain, Yoongi terlihat tengah menyuapi Ji-eun dengan telaten. Sesekali mengusap sudut bibir sang gadis yang belepotan. Ji-eun pun terlihat sangat lahap tanpa ada drama penolakan karena memang tidak dipungkiri jika perutnya sangat lapar dan perih. Beruntung dia tidak memiliki riwayat asam lambung.
"Setelah ini minum obat mu dan kembali beristirahat." Ucap Yoongi. Dia meletakkan mangkuk bekas bubur dan mengulurkan segelas air putih hangat. Kemudian Yoongi menyiapkan obat-obatan yang harus dikonsumsi sang gadis atas resep dokter.
__ADS_1
"Produser?" Panggil Ji-eun.
"Hm? Kau ingin sesuatu?"
Ji-eun menggeleng, "Apa kakak ku sudah tahu keadaan ku?"
"Ya. Dia tahu, tapi aku menyuruhnya untuk tidak mengkhawatirkan dirimu."
"Terimakasih."
"Sama-sama. Minumlah."
Ji-eun menerima beberapa butir obat itu dengan ragu. Kemudian netranya menatap Yoongi yang tampak tengah membersihkan meja nakas dari sampah plastik bekas bubur tadi. Saat Yoongi menoleh, Ji-eun masih terdiam dengan obat yang berada di telapak tangannya. Alih-alih di minum gadis itu justru hanya menatapnya.
"Ada apa?"
Eh? Ji-eun tersentak dan langsung memasukkan obat itu kedalam mulutnya. Matanya terpejam sembari meneguk air putih. Namun bukannya tertelan justru gadis itu tersedak dan meraih tisu yang ada di nakas. Memuntahkan seluruh obat yang berusaha ia telan.
"Kenapa tidak mengatakannya?" Ucap Yoongi setelah tersadar. Dia awalnya juga heran bagaimana bisa gadis dewasa macam Ji-eun tidak bisa menelan obat?
"Aku.." Ucapan Ji-eun terhenti ketika Yoongi kembali mengambil obat yang baru. Ji-eun hanya bisa menatap horor obat-obatan yang kini mulai melambai-lambai padanya.
"Buka mulutmu." Titah Yoongi.
Ji-eun menggeleng lemah, tanda ia menolak. Jika di teruskan maka yang ada obat-obat itu akan terbuang percuma karena dia terus memuntahkannya. Namun gadis itu mengangkat alisnya ketika Yoongi memasukan satu butir obat ke dalam mulutnya, meraih tengkuknya dan...
Apa ini? Kenapa Yoongi malah menciumnya?
Ciuman mendadak itu hanya berlangsung singkat. Ji-eun bisa merasakan sesuatu yang menerobos masuk kedalam kerongkongannya, namun gadis itu masih belum mengerti. Kenapa harus dengan cara itu?
"Apa?" Ucap Yoongi ketika Ji-eun terus menatapnya.
__ADS_1
Ji-eun menggeleng.
"Buka lagi mulut mu."
"Tidak mau."
"Kau tidak mau meminum obatnya?"
"Tidak, maksudku-- ah baiklah." Ji-eun benar-benar dibuat tidak berkutik saat mata tajam itu menatapnya. Dia juga kesal kenapa setiap Yoongi menatapnya seperti itu dia malah langsung menciut.
Ji-eun terpaksa membuka mulutnya, hanya agar obat itu bisa masuk kedalam tubuhnya bukan karena ciuman Yoongi. Bisa di bayangkan jika Yoongi menyuruhnya meminum obat dengan cara seperti itu, seberapa banyak ia akan di cium oleh produser nya.
"Semua saja agar tidak terus mengulang." Ucap Ji-eun.
"Kenapa? Bukannya kau senang dicium olehku?"
"Kalau begitu kau saja yang menghabiskan obatnya." Kesal Ji-eun.
"Tidak usah merajuk karena aku tidak akan tersentuh. Cepat buka mulutmu."
Ji-eun mendengus dan membuka mulutnya lebar-lebar, saat itulah Yoongi memakan semua obatnya dan menyatukan mulut mereka. Sedikit susah mendorong obat berjumlah empat butir itu secara bersamaan sebab dia juga merasakan pahitnya. Dan setelah obat itu terdorong sempurna, bukannya melepaskan Yoongi justru ******* bibir Ji-eun yang mana membuat gadis itu membelalakkan matanya.
"Sebentar saja." Bisik Yoongi lalu kembali ******* bibir Ji-eun.
Sudah dia katakan jika apapun yang Yoongi lakukan Ji-eun tidak bisa membantahnya, perlahan gadis itu juga terlarut oleh ciuman lembut yang Yoongi mainkan. Tangan Yoongi juga turut menekan tengkuk Ji-eun untuk memperdalam ciumannya.
"Wow..wow!!"
Suara seseorang membuat Ji-eun melepaskan ciumannya secara paksa bahkan mendorong Yoongi sedikit keras hingga terduduk di kursinya. Wajah Ji-eun sudah pias, rasanya malu sekali saat orang lain melihatnya tengah bercumbu dengan seorang pria.
Sementara Taehyung, Namjoon, dan Jimin terkekeh karena melihat ekspresi masam Yoongi yang terpergok sedang berciuman. Rasanya mereka ingin memotret ekspresi wajah Hyung nya sekarang ini karena momen ini merupakan momen yang langka.
__ADS_1