Love Or Obsession?

Love Or Obsession?
I Caught You


__ADS_3

Jong-hoon masuk kedalam kamar sang adik, belum ada tanda-tanda jika Ji-eun sudah selesai mandi. Pria itu kembali mengecek kamar mandi, untuk memastikan apa benar adiknya itu tertidur di bathtub karena keasikan berendam.


Namun ia merasa agak aneh sebab pintu kamar mandi tidak terkunci dan bahkan terdapat celah. Dia mendorongnya perlahan dan tidak mendapati siapapun di dalam, bathtub pun terlihat kosong dan kering.


"Dia kemana?" Gumamnya.


Jong-hoon memeriksa seluruh sudut kamar Ji-eun, namun tidak menemukan keberadaan adiknya. Kemudian terlintas di pikiran nya untuk melihat cctv yang tersambung di ponselnya. Jong-hoon memang kerap kali mencari adiknya lewat cctv meski masih berada satu unit, karena jika mencari di semua ruangan rasanya melelahkan dan membuang waktu.


Memang cctv ini tidak terlalu lengkap, hanya ruang tamu dan beberapa kamar saja yang dipasangi. Kecuali dengan kamar mereka karena jelas keduanya harus memiliki ruang privasi.


Jong-hoon mengecek seluruh ruangan, tidak ada dimanapun. Kemudian ia melihat rekaman tadi malam, mungkin saja Ji-eun memang pergi menginap di apartemen Bongsoon dan lupa membawa ponselnya.


Awalnya ia melihat Ji-eun tengah berjalan menuju pintu depan, sesaat gadis itu terdiam di ambang pintu. Lalu berbalik dan tiba-tiba saja tubuhnya meluruh. Jong-hoon terkejut namun tak mengerti kenapa bisa begitu.


Akhirnya ia keluar menghampiri produser sang adik yang masih menunggu di ruang tamu.


"Maaf Produser, dia tidak ada di dalam." Serunya.


Yoongi yang melihat raut wajah Jong-hoon pun mendadak cemas, feeling-nya kembali menguat jika memang terjadi sesuatu.


"Ada apa?" Tanya Yoongi berusaha tenang.


"Aku menemukan ini."


Jong-hoon menyodorkan ponselnya yang masih memutar rekaman cctv yang dia lihat tadi. Sekilas Yoongi memfokuskan pandangannya pada layar ponsel, dan pria itu menggeram pelan


"Malam tadi? Astaga." Batin Yoongi.


"Bisakah anda menunggu disini? Tolong jangan khawatirkan apapun, biar aku yang mengurusnya." Ucap Yoongi.


"Tapi produser.." Jong-hoon hendak menanyakan apa yang akan Yoongi lakukan, namun tatapan tajam dari pria yang lebih muda darinya membuatnya tak berkutik. "Ah, baiklah. Hati-hati, dan tolong temukan adikku."


Yoongi mengangguk, mengembalikan ponsel milik Jong-hoon dan keluar dari apartemen dengan tergesa-gesa. Pria itu terus berdecak ketika lift yang membawanya turun terasa sangat lambat.


Yoongi merogoh ponselnya dan menekan layar dengan cepat, mencari kontak seseorang dan menghubunginya.


"Kau dimana?"

__ADS_1


"Aku ada di apartemen. Ada apa Hyung?" 


"Lacak keberadaan pria bernama Jihyun. Aku akan tiba di sana sebentar lagi."


"Baiklah."


Yoongi langsung masuk ke mobilnya dan melajukan kendaraan itu menuju apartemen adiknya. Dia harus bisa menemukan Ji-eun. Selain ia berjanji dengan Jong-hoon, gadis itu juga tanggungjawab nya. Mereka kerjasama untuk menjauhkan Ji-eun dari Jihyun tapi malah kecolongan begini.


•••


Ji-eun merasakan kepalanya pusing dan lehernya juga sakit, seperti memar semacamnya. Dan tangan serta kakinya pun tidak bisa di gerakkan. Gadis itu membuka matanya, memicing meneliti sekitarnya yang terasa asing.


"Shh, Aww..!"


Ji-eun menunduk dan mendapati kakinya terikat dengan tali tambang, sementara tangannya berada di belakang yang juga terikat. Ji-eun berusaha menggerakkan tangannya untuk melepas ikatan, namun sayang karena pergelangannya terasa perih akibat gesekan.


Ia bisa merasakan kulitnya sangat perih. Sepertinya sedari kemarin pun ia memberontak.


"Apa dia yang mengikat ku disini?" Gumam Ji-eun. "Ya Tuhan, tolong aku."


Cklek.


"Kau sudah bangun ternyata." Ucap Jihyun.


"Lepaskan aku!" Seru Ji-eun. Matanya sudah berkilat karena amarah.


"Lalu kau akan kabur dan pulang menemui kekasih produser mu itu?" Tebak Jihyun.


Jihyun tertawa ketika melihat raut wajah sendu sang gadis, ia tidak menyangka jika gadis itu akan bereaksi demikian saat dia mengatakan seperti itu.


"Kenapa dengan wajahmu ha? Kenapa dengan kekasihmu? Dia mengkhianatimu ya? Dia bahkan tidak ada saat kau seperti ini."


"DIAM! Tutup mulutmu jika kau tidak mengerti apapun!" Marah Ji-eun.


"Baiklah, aku akan diam. Sebaiknya kau juga beristirahat dan tidak usah terus memberontak. Kau harus menyiapkan tenaga untuk malam nanti."


"Apa maksudmu?!"

__ADS_1


Jihyun hanya tersenyum smirk tanpa menjawab pertanyaan Ji-eun, membuat sang gadis menggeram dan mengumpatinya. Tapi tidak masalah bagi dirinya sebab permainan yang sesungguhnya belum di mulai.


•••


Gadis bermarga Lee itu semakin meringis kala perutnya terasa perih. Sedari kemarin malam dia tidak memakan apapun bahkan bibirnya sudah kering dan memucat, tenggorokannya pun bak gurun pasir yang sangat tandus.


Sebenarnya Jihyun sudah beberapa kali memberikan makanan dan minuman hanya saja Ji-eun tidak mau menerima apapun dari pria itu. Dia masih diselimuti kemarahan, marah pada Jihyun dan juga pada Yoongi.


Kenapa? Entahlah. Dia hanya mengikuti hatinya saja, dan saat ini ia benar-benar merasakan marah pada pria yang menjadi kekasihnya itu.


Ruangan mendadak terang ketika seseorang masuk, pria itu menekan saklar membuat ruangan menerang sepenuhnya. Terlihat Ji-eun sudah tidak berdaya di kursi, gadis itu terduduk pasrah meski wajahnya masih terlihat menantang.


"Jadi kau gadis yang di maksud oleh Jihyun?" Ucap pria itu.


"Cantik. Tapi kenapa Jihyun membiarkan gadis itu seperti ini?" Gumamnya.


Pria itu mendekati Ji-eun yang masih menatapnya garang, lalu meneliti penampilan gadis itu sekilas. Tangannya terulur ke belakang untuk membuka ikatan tali yang membuat sang gadis nampak tersiksa, namun urung saat mendengar langkah kaki seseorang


"Apa yang kau lakukan?" Ucap Jihyun.


"Melepaskannya."


"Kau bodoh. Bagaimana jika dia kabur?"


"Kau tidak melihat keadaannya yang seperti itu? Bagaimana dia akan melarikan diri hah? Lagipula aku merasa kasihan padanya."


"Cih, dia tidak perlu di kasihani. Bukankah kita hanya akan menikmati tubuhnya?" Bisik Jihyun.


Pria bernama Se hun itu melirik Ji-eun dengan tatapan ragunya, pria berusia satu tahun lebih tua dari Jihyun itu hanya diam dan berlalu meninggalkan keduanya. Jihyun lagi-lagi mendecih ketika melihat temannya tampak mengasihani sang gadis.


"Kau benar-benar mampu membuat semua orang menyukaimu." Ucap Jihyun.


Pria itu melepaskan ikatan pada kaki sang gadis, tanpa melepaskan ikatan tangannya Jihyun menyeret Ji-eun keluar dari ruangan menuju ruangan yang sudah mereka persiapkan.


"Kau mau membawaku kemana?!" Ucap Ji-eun lirih namun tajam.


"Sebaiknya simpan tenagamu yang tersisa untuk nanti, daripada harus mendebatku." Bisik Jihyun.

__ADS_1


Langkah Ji-eun benar-benar terseok tak mampu mengimbangi langkah Jihyun, gadis itu juga sudah terlalu lemas untuk memberontak atau melarikan diri. Dia menyerah, berharap keajaiban menghampirinya. Dia teringat pada sang kakak yang pasti sudah tiba di apartemen. Apa Jong-hoon mengkhawatirkan dirinya? Lalu apa pria itu tahu jika dirinya dibawa lari oleh Jihyun, karena bahkan ponselnya tertinggal di rumah.


__ADS_2