Love Or Obsession?

Love Or Obsession?
Dejavu


__ADS_3

Rasanya seperti Dejavu ketika Jong-hoon mendapat kabar bahwa adiknya kembali menjadi korban Jihyun. Seketika pria itu menyesal karena meninggalkan Ji-eun di Seoul sendirian. Ia terlalu sibuk dengan kasus sang adik hingga tidak menyadari jika bahaya mengintai.


Jong-hoon tidak menyangka jika ternyata justru Yoongi lah yang menemukan Jihyun. Pria itu di tahan oleh kepolisian Rusia untuk pemeriksaan terkait bisnis yang mereka jalankan, sementara Jihyun yang berwarga negara Korea Selatan akan di deport kembali ke negaranya jika proses penyelidikan selesai.


Karena mau bagaimanapun kejadian kejahatan itu berlangsung di negara orang lain, maka kepolisian Rusia lah yang mengurusnya. Berita tersebut bahkan sudah menyebar ke media Korea Selatan sebab Jihyun adalah adik dari Park Jimin yang notabenenya memang seorang idol.


Dan tentu kepolisian Korea Selatan pun juga mengetahui berita tersebut. Inspektur Kim yang sejatinya adalah paman Taehyung meradang pada keponakan tampannya yang bodoh itu.


"Jadi ini alasan mu meminjam senjataku? Kenapa kau tidak menceritakan ini padaku? Hah benar-benar. Aku perlu memarahi ibumu karena sudah melahirkan pria bodoh seperti mu!" Ucap inspektur Kim melalui sambungan telepon.


"Tapi anak bodoh inilah yang sudah menangkap buronan itu, paman. Bahkan kau yang bertanggungjawab atas kasus ini pun tidak bisa melakukannya."


"Bagaimana jika nanti kau yang ku tembak, hah?!"


"Ampun paman. Tidak bisakah kau memuji keponakan mu sekali saja? Bahkan saat aku tumbuh sangat tampan pun kau tidak memujiku."


"Sudahlah. Jika urusanmu sudah selesai cepat kembali."


Kim Taehyung menghela napas saat telepon terputus. Pria itu menoleh ketika Namjoon masuk kedalam ruang perawatan. Taehyung mendapatkan luka sayatan yang cukup dalam di lengan hingga pria itupun turut di rawat.


"Apa masih sakit?" Tanya Namjoon.


"Aku bahkan tidak apa-apa. Dimana Yoongi-hyeong?"


"Dia sedang ke kantor polisi bersama Jimin."


"Pasti sangat berat menjadi Jimin, aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi bibi Park ketika mendengar berita ini."


"Kau benar. Media Korea Selatan sudah mengetahui kasus ini, dan aku rasa karir Jimin sedikit terancam."


Taehyung mengangguk, bukan hanya mendapat kenyataan pahit namun pasti keluarga Jimin akan mendapat cibiran dari beberapa orang dan media. Atau mungkin pria bermarga Park itu tidak lagi mendapatkan tempat dimanapun.

__ADS_1


•••


Yoongi duduk di bangku yang berhadapan dengan seseorang. Bau khas besi sangat kentara sekali menusuk indera penciuman nya. Sementara Jimin berada di ruangan yang berbeda untuk memberikan sedikit informasi tentang adiknya yang menjadi tahanan negara.


"Apa.. gadis itu baik-baik saja?" Ucap Se Hun ragu.


Aura dingin mendominasi ruangan tersebut, bahkan rasanya tidak se-menegangkan ketika di interogasi oleh polisi. Yoongi menghela napasnya sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari pemuda yang duduk di hadapannya. Tangannya setia terlipat di dada dengan punggung yang menyender pada sandaran kursi.


"Ya." Yoongi menegakkan tubuhnya, "Kenapa kau membantu kami?"


Sehun mengangkat pandangannya, sempat bersitatap dengan Yoongi namun hanya beberapa detik saja sebelum pria itu kembali membuang pandangannya.


"Aku adalah bagian dari mereka, jika saja aku mengatakan alasannya mungkin kau tidak akan percaya."


"Aku memang tidak akan mempercayai ucapan tanpa bukti. Tapi tidak ada salahnya untuk mendengarkan alasanmu."


Se Hun tersenyum miris. Mau apapun yang dia katakan bukankah pada akhirnya dia akan tetap mendekam di balik jeruji besi bersama ketiga temannya? Karena meskipun ia tidak terlibat dalam bisnis haram itu tetap saja dia berada di sana dan hampir mengikuti rencana Jihyun.


Se Hun tetap terdiam, biarlah ini menjadi keputusannya. Jika memang Tuhan adil maka dia pasti akan keluar dari sini.


•••


Yoongi dan Jimin kembali ke rumah sakit setelah menyelesaikan urusan mereka. Sebenarnya dia masih penasaran dengan pria bernama Sehun yang menolongnya. Dan pria itupun sama seperti pria lainnya yang memang berkebangsaan Korea Selatan, entah mereka memang sudah berpindah atau hanya sekedar singgah dan berkumpul.


Tepat ketika Yoongi dan Jimin sampai di rumah sakit dokter baru saja keluar dari ruangan Ji-eun. Pria bermarga Min itu langsung menghampiri dan menanyakan kondisi sang gadis. Tidak, dia meminta Park Jimin untuk menanyakannya sebab dirinya tidak begitu lancar berbahasa Inggris. Jika mendengarkan dia akan mengerti maksudnya namun sulit untuk mengucapkannya.


"Bagaimana keadaan teman saya, dok?" Tanya Jimin dengan aksen English.


"Nona Lee hanya mengalami beberapa luka lebam dan mendapat jahitan di dahinya. Beruntung tidak terjadi pendarahan sehingga pasien tidak kehilangan banyak darah."


"Apa kami bisa menjenguknya?"

__ADS_1


"Silahkan. Kalau begitu saya permisi."


Dokter tersebut mengundurkan diri dan pergi untuk mengurusi pasien lain. Sementara Jimin mempersilahkan Yoongi untuk menjenguk Ji-eun, dia akan ke ruangan Taehyung.


Yoongi mendorong daun pintu berbahan kaca itu kedalam, lalu kembali menutupnya dengan rapat. Bau obat-obatan seketika langsung mengusiknya, dan pemandangan yang dia lihat adalah tubuh lemah Ji-eun yang terbaring di atas brankar. Perban membalut kepala dan pergelangan tangannya, serta bekas kebiruan di lengan dan sebagian wajahnya.


Yoongi menarik kursi di samping brankar dan mendudukinya, tangannya terulur untuk mengusap punggung tangan sang gadis yang tertancap jarum yang terhubung dengan cairan infus.


"Maafkan aku." Lirih Yoongi.


Pria berkulit putih itu merasa bersalah sebab karena kejadian yang lalu membuat hubungannya dengan Ji-eun merenggang. Saat Yoongi berniat untuk meminta maaf justru hal yang ia dapatkan malah seperti ini. Dia memang tak bisa melihat seorang gadis terluka, siapapun itu.


Usapan di punggung tangannya membuat tidur Ji-eun terusik. Gadis itu memang tersadar beberapa jam yang lalu setelah tiba di rumah sakit. Karena anastesi yang diberikan saat dokter menjahit lukanya membuatnya mengantuk dan tertidur. Apalagi keadaan tubuhnya memang lemah.


Yoongi tersentak pelan kala mendengar lenguhan sang gadis, kemudian pria itu menatap Ji-eun yang perlahan membuka kedua matanya. Tangannya bersiap menumpu tubuh untuk bangkit duduk namun Yoongi langsung menahannya.


"Biar ku naikkan saja kasurnya, tidak perlu bangun."


Yoongi meraih tuas yang ada di tepi ranjang brankar dan memutarnya.


"Cukup?" Tanyanya dan Ji-eun mengangguk.


"Minumlah, kau pasti sangat haus. Apa kau ingin makan juga?"


Ji-eun hanya bisa mengangguk menjawab pertanyaan yang Yoongi ajukan, untuk sekedar berbicara saja dirinya tidak mampu sebab memang tenaganya seperti terkuras habis tak bersisa. Hanya cukup untuk bernapas dan membuka mata.


Yoongi mengulurkan tangannya meraih segelas air putih di atas nakas, kemudian menyodorkannya pada bibir pucat sang gadis. Ji-eun mendesis kala cairan bening itu membasahi tenggorokan nya, juga membuat bibir pucatnya terasa perih. Setelah itu Yoongi menghubungi Jimin untuk memberikan bubur di kantin rumah sakit.


"Tunggu sebentar, aku sedang meminta Jimin untuk membelikan makanan. Kau perlu sesuatu lagi?" Ucap Yoongi.


Ji-eun kembali menggeleng, gadis itu menatap lekat Yoongi yang juga menatapnya. Entah ini hanya perasaan Ji-eun saja atau karena yang lain, yang jelas dia menghangat kala Yoongi memperhatikan nya.

__ADS_1


__ADS_2