
Setelah satu Minggu berlalu, kini hari yang Aara tunggu telah tiba. Kemarin dia baru saja menerima gaji dari bulan pertamanya ia bekerja menjadi asisten Seokjin.
Gaji di kantor itu tidak main-main apalagi di jabatan yang Aara duduki. Mungkin sekitar 20x lipat dari gajinya di restoran dulu. Sangatlah cukup untuk membeli satu buah unit mobil.
Tidak heran jika kualifikasi untuk masuk ke perusahaan Seokjin sangatlah sulit. Dan meskipun pekerjaan mereka mudah namun perlu konsentrasi yang sangat tinggi.
Aara tengah sibuk menata pakaian miliknya dan sang putri ke dalam koper. Juga beberapa peralatan yang dirasa penting. Beberapa mainan milik Yoonji juga ikut masuk kedalam ransel.
Setelah dipastikan tidak ada yang tertinggal, mereka berdua keluar dari rumah sembari menggeret koper dan menenteng ransel. Aara memutuskan untuk menyewa mobil saja untuk kenyamanan perjalanan mereka.
Meski lebih cepat menggunakan kereta, namun akan sulit untuk mereka berdua dengan barang bawaan sebanyak ini.
"Ibu, apa kita akan kembali kesini lagi?" Tanya Yoonji.
"Ya, kita akan kembali kesini kapanpun kau mau." Ucap Aara. Dia sengaja berkata seperti itu agar Yoonji tidak terlalu merasa sedih.
Aara sudah memutuskan untuk pulang ke Daegu dan tidak akan kembali ke Gwacheon lagi. Dan untuk pekerjaan, Seokjin juga menyarankan Aara untuk resign. Toh selama ini Seokjin tidak terlalu kerepotan karena masih ada sekretaris Hwang.
Seokjin menyarankan Aara untuk tidak perlu kembali ke Gwacheon, lebih baik tinggal bersama orangtuanya di Daegu. Seokjin kasihan pada mental Yoonji jika harus berhadapan dengan neneknya yang sudah macam nenek lampir.
Lagipula, suami Aara sudah tidak ada lagi di dunia dan itu artinya mereka tidak ada lagi hubungan apapun. Mungkin Hyun Sang pun sudah menjadi 'mantan' mertua bagi Aara.
"Aku akan merindukan kalian." Ucap Mi-Soo bersedih.
"Kakak jangan sedih, kita akan kembali ke sini lagi dan kakak akan menemani Yoonji seperti biasa."
"Yah, kakak akan menunggu saat itu."
Aara tersenyum dan berpamitan pada Mi-Soo karena mobil yang ia sewa sudah tiba di depan. Sang supir pun membantu Aara untuk memasukkan barang-barang bawaan mereka ke bagasi.
"Hati-hati dijalan, kabari aku jika kalian sudah sampai." Ucap Mi-Soo pada Aara.
__ADS_1
"Pasti. Jaga dirimu juga. Kalau begitu kami pamit pergi."
Ketiganya saling berpelukan untuk yang terakhir, setelah itu Aara mengajak Yoonji masuk kedalam mobil. Mobil mulai melaju dengan diiringi lambaian tangan Mi-Soo yang di balas oleh Yoonji.
Hah.
Rasanya seperti ada beban yang berkurang dari dirinya. Meski berat meninggalkan kota kelahiran dan rumah mendiang suaminya, namun Aara bertekad tetap pulang ke rumah orangtuanya.
Dia akan membantu Mi-Soo untuk menjual rumah itu atau mungkin ibu mertuanya akan mengambilnya, Aara tidak peduli. Saat ini, kebahagiaan Yoonji lebih penting.
Aara juga mengabari ayah mertuanya jika dia sudah dalam perjalanan menuju Daegu. Hal itu di dukung oleh ayah mertuanya yang mengizinkan Aara untuk pulang kerumah orangtuanya.
•••
Yoongi tengah berada di tepi taman di belakang rumahnya yang terdapat sungai buatan. Bersama Holly yang senantiasa menemani majikannya.
Sudah seminggu ini dia berada di Daegu, namun pikirannya sama sekali belum bisa meninggalkan Seoul. Bukan memikirkan rumahnya yang berada di sana, tapi dia masih memikirkan Ji-eun.
Saat itu juga dia langsung pulang ke Daegu bahkan tanpa membawa apapun. Pakaian saja tidak sempat di ganti.
Meskipun Yoongi tidak terlalu dekat dengan sang ayah, namun pria itu sangat menyayangi kedua orangtuanya. Meskipun ayahnya pernah melarangnya untuk menjadi artist, Yoongi tetap menghormati pria itu. Rasa sayangnya sebagai seorang anak tidak pernah hilang.
Dan setelah kembali ke Daegu pun, dia tidak bisa kembali ke Seoul. Sebentar lagi hari perayaan ulang tahun perusahaan dan Yoongi di larang kembali oleh ibunya. Bahkan meskipun tidak menghabiskan waktu lama untuk perjalanan.
"Yoon." Panggil Kang Hyerin, ibu Yoongi.
Yoongi hanya menoleh sesaat, kemudian kembali menatap sungai.
"Ayahmu ingin berbicara padamu. Temui dia dulu, nak." Ucap Hyerin.
"Aku sedang tidak ingin membicarakan apapun."
__ADS_1
"Yoon."
"Bu, biarkan aku sendiri." Pinta Yoongi.
Nyonya Hyerin menghela nafasnya dan berbalik karena merasa percuma jika harus membujuk putranya. Membujuk suaminya lebih mudah daripada membujuk putra bungsunya yang seperti bayi itu.
Dia heran, saat hamil Yoongi dia bahkan tidak mengidam batu atau es sama sekali. Kenapa justru Yoongi memiliki sifat seperti itu, sangat berbeda dengan putra pertamanya.
Tanpa Hyerin sadari jika Yoongi memiliki sifat yang sama persis dengan dirinya saat muda. Bahkan ayah Yoongi perlu perjuangan yang besar untuk mendekati gadis keras kepala dan dingin macam Hyerin.
Selepas kepergian sang ibu, Yoongi mengecek ponselnya yang masih setia terpejam. Tidak ada bunyi notifikasi atau kabar apapun. Dia pernah mengirim pesan pada Ji-eun untuk bertemu namun gadis itu sepertinya tidak berniat membalasnya.
Untuk bertanya tentang berita yang Jungkook sampaikan pun Yoongi merasa tidak bisa. Dia hanya tidak ingin mengatakan sesuatu tanpa bukti yang mungkin saja membuat Ji-eun tersinggung. Meski bukti dari Jungkook cukup jelas untuknya.
Mungkin jika dia kembali ke Seoul, dia akan berusaha menemui Ji-eun melalui Jong-hoon. Ya, untuk memastikan kebenaran itu. Dan jika semuanya benar, dia siap untuk melakukan apapun.
•••
"Kau yakin tidak ingin ikut aku pulang?"
"Tidak, Kim. Aku masih ada pekerjaan disini, kau pergi sendiri saja. Bukankah teman-teman mu juga akan datang."
Saat ini Kim Taehyung tengah membujuk kekasihnya, Park Bongsoon untuk ikut dengannya pulang ke Daegu. Sebenarnya bukan pulang, lebih tepatnya menghadiri acara yang memang berada di kota kelahirannya.
"Kau yakin sayang? Aku khawatir meninggalkan mu sendirian." Taehyung terus membujuk sang kekasih.
Bongsoon menghela nafasnya karena merasa lelah dengan sikap Taehyung yang terus memaksanya. Dia sudah mengatakan bahwa dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya apalagi hanya untuk menghadiri acara yang menurutnya tidak penting itu.
Namun sepertinya kekasihnya itu tidak mau mengerti dan tidak ada cara lain untuk membujuknya. Bongsoon yang tadinya sedang membaca majalah mendekat dan mengecup singkat bibir Kim Taehyung, yang membuat pria itu sedikit luluh.
"Kalau begitu, layani aku sekarang." Bisik Kim Taehyung.
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban sang kekasih, pria itu langsung menyambar bibir kekasihnya dengan rakus. Bongsoon sampai kewalahan mengimbanginya. Tangannya ia gunakan untuk menyangga tubuhnya dengan berpegangan pada sandaran sofa karena saat ini mereka tengah berada di ruang tamu. Sungguh Kim Taehyung yang tidak tahu tempat.