Love Or Obsession?

Love Or Obsession?
Kawan Lama


__ADS_3

Hari berlalu, tahun berganti. Musim dingin kini menyelimuti negeri ginseng itu. Salju mulai memenuhi setiap sudut kota, menutupi jalanan dan atap rumah.


Sudah satu bulan berlalu sejak dirinya kembali ke rumah, Ji-eun belum memutuskan untuk kembali bekerja. Meski berita tentang dirinya sudah mulai meredup, tapi gadis itu benar-benar belum berpikir untuk kembali menyapa para fansnya.


Sebenarnya banyak tawaran untuk menjalani peran di berbagai film dari beberapa agensi, juga tawaran untuk berkolaborasi dalam membuat lagu, namun gadis itu memilih untuk tidak menerimanya. Entahlah, dia benar-benar belum ingin menampakkan dirinya lagi di televisi.


Jong-hoon selaku manager sang adik pun sama sekali tidak bisa memaksa. Semua keputusan ada di tangan Ji-eun. Sepertinya mereka memang harus menjadi orang biasa untuk beberapa waktu.


Ji-eun keluar dari kamar nya, gadis itu mengenakan celana bahan panjang berwarna hitam dan baju panjang dengan warna senada. Juga mantel yang dilengkapi bulu di bagian leher dan hoodie agar ia tidak kedinginan. Dilihat dari pakaiannya sepertinya gadis itu memang akan keluar rumah.


"Kau mau kemana?" Tanya Jong-hoon. Pria itu tengah menikmati cokelat panas di ruang keluarga.


"Aku ingin membeli sesuatu, kau mau menitip?"


"Eum... Tidak."


"Aku pinjam mobilmu." Ucap Ji-eun menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja.


Jika boleh memilih, Ji-eun lebih baik bersantai dan tidur panjang di dalam kamarnya. Udara yang dingin di siang hari membuatnya terlalu malas untuk beraktivitas. Mau pergi pun juga tidak ingin karena salju ada dimana-mana dan tentunya akan menghambat perjalanannya.


Namun untuk satu ini dia memang terpaksa keluar rumah. Mau tak mau dia harus pergi ke suatu tempat untuk membeli sesuatu yang bisa ia jadikan petunjuk.


Sebenarnya selama beberapa hari ini, Ji-eun merasa badannya sedikit bermasalah. Dia selalu merasa tidak fit dan wajahnya terlihat pucat. Tapi ketika ia mengecek suhu tubuhnya, semuanya normal.


Ji-eun sempat berpikir jika mungkin saja ini efek dari berdiam diri di rumah selama musim dingin. Ji-eun tidak pernah bersantai selama ini di rumah, waktunya selalu habis untuk bekerja dan bekerja setiap harinya. Namun istirahat yang cukup dan meminum vitamin saja sepertinya tidak cukup karena keadaan tak kunjung berubah.

__ADS_1


Hingga saat gadis itu membuka lemari setelah mandi, dia melihat stok pembalut untuk beberapa hari yang masih utuh. Gadis itu mengingat-ingat kapan terakhir dia datang bulan sehingga stok miliknya masih belum berkurang. Dan Ji-eun tahu persis kapan benda itu di beli yaitu saat dia kembali ke rumah yaitu satu bulan yang lalu.


Itu artinya bulan ini dia sama sekali belum kedatangan tamu. Ji-eun tak ingin berpikir negatif yang akan membuatnya gelisah. Pasti ada sesuatu yang membuat siklus datang bulannya menjadi bermasalah. Tapi semakin berpikir positif, hatinya semakin ragu.


Hingga Ji-eun menyerah dan memilih untuk memastikannya. Gadis itu menuju apotik yang tidak jauh dari rumahnya. Jalanan terlihat lebih sepi dari biasanya karena cuaca yang dingin pasti membuat orang-orang malas beraktifitas di luar.


Ji-eun sudah tiba di apotik yang terlihat sepi, gadis itu menuju tempat kasir untuk membeli beberapa alat pendeteksi kehamilan. Dari yang murah sampai yang mahal agar lebih akurat. Sebelumnya dia sudah memakai topi dan masker hitam agar tidak dikenali oleh orang. Bisa dibayangkan jika nanti ada yang melihatnya membeli testpack di apotik.


Usai membeli alat tersebut, Ji-eun buru-buru pulang karena udara dingin membuat tubuhnya tidak bisa bertoleransi. Juga khawatir jika ada yang menyadari keberadaannya disini. Parkiran umum tempat dirinya memarkirkan mobilnya sedikit jauh sehingga dia harus berjalan kaki.


Entah karena terburu-buru atau memang ceroboh, Ji-eun tidak sengaja menabrak seseorang hingga kantong belanjanya jatuh. Gadis itu terkejut sesaat. Ini macam Dejavu dimana pertama kalinya ia bertemu dengan Yoongi.


"Kau baik-baik saja?" Ucap pria yang baru saja tertabrak.


"Ah, aku minta maaf--" Ji-eun berhenti berbicara saat merasa mengenali sosok di depannya. Matanya memicing seolah memastikan penglihatannya. "Lee?"


Pria di depannya itu hanya mengerutkan dahinya. Apa perempuan ini mengenalinya? Ya, meskipun tidak akan ada orang yang tidak mengenalinya di muka bumi ini. Tapi jika gadis yang mengenalinya ini adalah penggemarnya pasti akan heboh.


Menyadari kebingungan dari wajah sang pria, Ji-eun melepas masker dan topinya. Seketika senyum mengembang dari bibir sang pria kala dia juga mengenali sosok di depannya.


"Ji-eun? Benarkah ini kau?" Seru pria itu tak kalah terkejutnya.


"Tentu saja. Memang kau pikir aku mempunyai kembaran."


"Astaga, mimpi apa aku semalam."

__ADS_1


Ji-eun memutar bola matanya malas, namun gadis itu tetap tersenyum. Sikap berlebihan yang selalu ada pada diri teman lamanya ini tak pernah hilang. Bertemu dengannya saja seperti bertemu dengan seseorang yang sangat penting.


Gadis itu juga tidak menyangka akan bertemu kawan lamanya di sini.


"Kau sendirian? Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Ji-eun.


"Ah, aku ada sedikit urusan disini. Dan aku bersama staff dari agensi, mereka ada di penginapan." Jawab Lee Jong Suk.


Ji-eun hanya mengangguk beberapa kali lalu merapatkan mantelnya karena tubuhnya semakin merasa kedinginan. Tidak biasanya dia akan kalah dengan angin dingin, Ji-eun bahkan suka sekali bermain salju ketika musim itu telah tiba.


"Kau mau pulang? Apa kau mau makan siang bersamaku di sekitar sini?" Ajak Lee.


"Aku ingin, tapi mungkin lain kali. Aku bisa mengabari mu nanti." Tolak Ji-eun halus. Bukannya dia tidak ingin, dia sangat senang bertemu dengan teman lamanya namun kondisi tubuhnya tidak mau diajak bekerja sama. Ji-eun tidak ingin membuat Jong Suk khawatir atau curiga.


"Kau sedang tidak diet kan?" Jong Suk memicingkan matanya.


"Tidak."


"Ku kira begitu, karena kau terlihat semakin --" Jong Suk menjeda ucapannya. Dan hal itu membuat Ji-eun penasaran sekali. Memangnya tubuhnya kenapa? Apa ada yang salah? Gadis itu menatap temannya dengan tatapan bertanya. "Berisi." Sambungnya pelan.


Ji-eun hampir saja memukul Jong Suk saat mendengar kalimat selanjutnya dari pria itu. Sedangkan pria itu tertawa melihat wajah merah padam Ji-eun yang merasa kesal karena di katakan berisi. Bahkan gadis itu menyentuh kedua pipinya seolah tak percaya dengan apa yang pria itu katakan.


Tapi sungguh, gadis itu terlihat lebih berisi dari terakhir mereka bertemu. Entahlah, sebagai kawan lama tentu pemuda bermarga Lee itu tahu jika Ji-eun sangat ketat menjaga pola makannya. Sekalipun gadis itu makan sembarangan pasti perubahannya tidak akan cepat atau bisa dikatakan Ji-eun itu susah gemuk.


Maka akan terlihat aneh dan mengherankan jika kawannya ini tiba-tiba saja bertambah berat badan.

__ADS_1


__ADS_2