Love Or Obsession?

Love Or Obsession?
Diusir?


__ADS_3

Bunyi alarm dari jam digital bermotif kepala kucing yang bertengger di atas nakas mengusik seorang pria dan gadisnya yang tengah tertidur lelap. Entah harus disebut sebagai apa hubungan mereka mengingat tidak ada kejelasan satu sama lain namun sekarang malah tidur bersama layaknya sepasang kekasih.


Yoongi mulai terbangun, hal yang pertama ia rasakan adalah lengannya yang terasa pegal dan kebas karena dijadikan bantal oleh Ji-eun semalaman. Dia ingin mematikan alarm di atas nakas, namun lengannya tak cukup panjang untuk menjangkau benda itu. Karena merasa bantalnya bergerak, Ji-eun melenguh dan reflek membawa tubuh Yoongi yang hendak bergeser kembali ke pelukannya.


Yoongi hanya menghela napasnya. Tangannya menjuntai ke lantai karena tidak menggapai jam tersebut. Di liriknya Ji-eun yang masih terlelap dan memeluk perutnya.


Pria itu mendecih, "Padahal semalam dia yang tidak mau di peluk." Gumamnya.


"Aku bisa mendengarnya." Balas Ji-eun yang turut menggumam.


"Kalau sudah bangun kenapa tidak melepaskan pelukannya? Aku ingin mematikan alarm itu. Berisik."


"Aku ingin begini. Perut buncit mu membuatku nyaman." Gumam Ji-eun enteng.


Pria berkulit putih itu membulatkan matanya, apa-apaan dia dikatai buncit. Padahal dirinya rajin berolahraga, tapi memang tidak dipungkiri jika perutnya tidak berotot. Tidak berotot, bukan berarti buncit. Tolong dicatat!


Tanpa kata, Yoongi menghempaskan tangan Ji-eun dan bangkit dari tidurnya. Mata sipitnya memicing kala ia berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi. Sementara Ji-eun sudah merasa kesal karena tidur nyaman nya tersudahi. Dia tidak berbohong jika perut empuk Yoongi cukup nyaman dijadikan guling.


Saat ingin melanjutkan tidurnya, rungunya mendengar suara bel. Entah siapa yang datang bertamu pagi-pagi seperti ini. Gadis itu ingin mengumpat tapi langsung teringat jika ini bukan tempat tinggalnya. Jadi kemungkinan itu adalah tamu Yoongi.


"Yoongi-yaaaa, ada tamu!!" Teriak Ji-eun.


"Tidak perlu berteriak." Balas Yoongi. Kenapa pula gadis itu berteriak macam di hutan padahal jarak kamar mandi dan kasur hanya beberapa langkah saja. Telinganya juga masih berfungsi dengan baik jadi tidak berteriak pun dia akan mendengarnya.


Yoongi yang sudah selesai mencuci muka dan menggosok giginya itu keluar dari kamar dan melihat siapa yang datang di pagi hari. Tidak mungkin dua pemuda Kim itu karena mereka juga kelelahan sama seperti dirinya pasti tidak akan sengaja bertamu di pagi hari.


Park Jimin? Bisa saja. Tapi pria itu sudah pulang ke Busan semalam karena terlalu khawatir pada ibunya.


Pria berkulit putih itu membuka pintu depan, nampak seorang pria berdiri di depan pintu dengan membawa tas ransel berukuran sedang.


"Oh! Maaf menganggu pagi mu produser." Ucap Jong-hoon membungkukkan badannya.


"Tidak masalah, masuklah."


"Terimakasih. Apa dia sudah bangun?"

__ADS_1


"Sudah."


Yoongi berjalan kembali ke kamar untuk memanggil Ji-eun. Pria itu mendesah pelan saat melihat Ji-eun menggulung tubuhnya dengan selimut. Bukankah gadis itu sudah bangun, kenapa malah melanjutkan tidurnya.


"Hey, bangun." Ucap Yoongi sembari mengguncang bahu Ji-eun.


"Jangan ganggu tidurku, produser."


"Apa ini? Kau baru saja memanggilku Yoongi. Kenapa mendadak formal lagi?"


Ji-eun tidak menyahut, dia benar-benar ingin melanjutkan tidurnya sampai siang. Lagipula tubuhnya masih lelah. Tapi sepertinya Yoongi memang tidak mengizinkannya untuk menyambung tidurnya. Pria itu menarik selimut yang menggulung tubuh Ji-eun hingga gadis itu ikut terseret dan berakhir jatuh ke lantai.


"Akhh! Bokong ku.." Ji-eun meringis memegangi bokongnya yang membentur lantai. Bahkan Yoongi hanya menatap nya datar tanpa berniat membantu.


"Ada kakakmu di depan." Ucap Yoongi sembari berlalu.


Ji-eun yang mendengar Yoongi menyebut kakaknya itupun langsung bangkit dan berlari menuju ruang tamu. Mengabaikan rasa sakit pada aset belakangnya.


"Jong-hoon! Aku merindukanmu!" Teriak Ji-eun merentangkan tangannya menghambur ke pelukan kakak lelakinya.


Jong-hoon yang tengah duduk tenang itupun dibuat terkejut sekaligus malu dengan tingkah kekanak-kanakan adiknya. Tapi sepertinya atensinya teralihkan pada pakaian sang gadis yang membuat dahi putihnya mengerut.


Ji-eun yang belum sadar akan penampilannya pun menunduk dan meneliti pakaiannya. Sedetik kemudian ia juga terkejut saat mendapati dia hanya memakai kemeja kebesaran milik Yoongi. Bahkan dia tidak memakai bra dan celana terusan.


Gadis itu menatap kakaknya takut, kenapa bisa ia lupa untuk mengganti pakaiannya dan membiarkan Jong-hoon melihatnya dalam keadaan seperti ini. Bukan apa-apa, pasti pria itu akan berpikir yang tidak-tidak.


"Silahkan diminum." Ucap Yoongi menyajikan secangkir kopi untuk tamunya.


"Terima kasih, ini sungguh merepotkan."


"Tidak masalah. Bagaimana keadaan apartemen?"


Jong-hoon menghela napasnya sebelum berbicara. Ia urung memarahi adiknya karena ini pembahasan yang penting. Karena kedatangannya kesini bukan hanya untuk melihat keadaan sang adik, bahkan pria itu belum menanyakan itu.


"Kacau. Apartemen itu diburu oleh para wartawan yang ingin sekali meliput Ji-eun. Dan dari kabar ayah pun di rumah kami juga sama. Semua berbondong-bondong mencari Ji-eun bahkan menunggunya di rumah dan apartemen untuk memastikan jika mereka tidak akan terlewat." Jelas Jong-hoon.

__ADS_1


"Kau yang benar saja? Kalau begitu, aku tidak bisa pulang kemanapun?" Protes Ji-eun.


"Tentu saja. Kecuali kau sudah siap di wawancarai dan ditanya tentang kasus penculikan itu."


Ji-eun menggeleng kuat. Dia tidak mau membuat klarifikasi yang akan mengingatkannya kembali pada penculikan itu. Sebenarnya bisa saja, namun dia tidak mau. Lebih baik di wawancarai tentang album atau proyek lagunya saja.


"Lalu, rencana anda?" Tanya Yoongi lagi.


"Sebenarnya aku tidak enak untuk mengatakan ini. Aku akan mencari tempat tinggal baru untuk sementara, dan ... Apakah aku bisa menitipkan adikku disini selama aku menghalau para wartawan itu?" Ucap Jong-hoon ragu.


"Aku tidak mau! Kenapa kau sembarangan menitipkan ku pada orang asing. Memangnya aku ini hewan peliharaan?" Protes Ji-eun.


Belum juga Yoongi menjawab, Ji-eun terlebih dulu menyela. Dia tidak habis pikir pada kakaknya, seenaknya menitipkan dirinya. Memangnya dia ini seekor anjing?


"Aku sudah mengatakan alasannya, bocah. Mengertilah, ini semua demi kebaikanmu. Lagipula aku harus mengurus kasus Jihyun di kepolisian, mereka membutuhkanku untuk menjadi saksi kejadian empat tahun yang lalu."


"Tinggalkan saja dia di sini." Ucap Yoongi.


"Ya, sebenarnya aku tidak ingin merepotkan anda. Tapi aku bahkan tidak tahu lagi harus mempercayakan adikku pada siapa."


Yoongi mengangguk. Dia tidak masalah dengan itu, justru bukankah itu sebuah keuntungan. Karena tentang kesepakatan yang mengharuskan Ji-eun tinggal dirumahnya itu ia tak perlu mencari alasan dan Ji-eun pun tak bisa beralasan untuk menolak.


"Ini pakaian mu, hanya beberapa saja karena aku tidak tahu apa saja perlengkapan milikmu. Di dalam juga ada dompet dan ponselmu." Ucap Jong-hoon menyerahkan ransel berukuran sedang yang ia bawa tadi.


"Jadi, aku diusir?"


"Masih untung kau tidak ku masukkan ke panti."


Ji-eun mencebik kesal, jika saja bukan kakaknya maka sudah ia cakar-cakar wajahnya. Lagipula kenapa wartawan itu sangat merepotkan hidupnya. Jangan sampai muncul berita yang menyebutkan jika 'Idol ternama Lee Ji-eun di usir kakaknya sendiri' itu tidak lucu.


Lalu kenapa Jong-hoon tidak menitipkan nya pada Bongsoon saja?


"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Jong-hoon.


"Aku sudah baik-baik. Pria gila itu belum sampai menyakitiku karena produser lebih dulu datang."

__ADS_1


"Ah, kalau begitu kau harus berterimakasih banyak-banyak pada produser Min."


"Aku tahu itu."


__ADS_2