
Suasana di meja makan kali ini sangat hening. Ruangan yang diisi oleh sembilan orang itu nyatanya tidak membuat suasana ramai. Biasanya mereka akan menikmati makanan sembari mengobrol atau membicarakan hal yang tidak penting sekalipun.
Menurut Ji-eun, suasana sekarang terasa canggung. Dia yang duduk di apit oleh Jungkook dan Yoongi merasakan aura permusuhan disini. Dimana Yoongi yang terus memperhatikan Jungkook dengan tatapan tajam sementara yang di tatap malah acuh seolah semakin mengundang emosi Yoongi.
Kim Taehyung dan Jimin makan dengan tenang tidak peduli sekitar yang penting perut mereka kenyang. Sementara sisanya menatap dua kawan mereka yang tengah berseteru lewat telepati itu.
"Kau harus makan ini." Ucap Yoongi dan Jungkook bersamaan. Keduanya juga sama-sama menaruh daging pada piring Ji-eun.
Yoongi menatap Jungkook tajam dan Jungkook juga melakukan hal yang sama. Mereka menaruh daging lebih banyak ke piring gadis Lee.
"Makan milikku saja." Ucap Yoongi pada Ji-eun.
"Tidak. Aku yang lebih dulu menaruhnya, jadi makan punyaku saja."
"Tidak perlu. Kau menyukai daging dan tidak semudah itu untuk berbagi makanan kesukaanmu."
"Jangan dengarkan dia, kakak ipar. Makan saja milikku."
"Hei, aku ini suaminya. Dia harus mendengarkanku."
Yoongi dan Jungkook terus berdebat tentang daging siapa yang harus Ji-eun makan, tanpa memperdulikan teman-temannya yang menatap jengah. Yoongi yang biasanya selalu mengalah untuk adiknya kini malah keras kepala.
Ji-eun sudah hampir menangis karena kelakuan mereka. Sejujurnya ini membuatnya tidak nyaman tapi dia takut mengecewakan keduanya. Hingga akhirnya--
Brak!!
Semua yang berada di meja makan terkejut saat Seokjin menggebrak meja. Seketika membuat dua orang yang tengah berdebat itu mengatupkan bibirnya. Namun naas dengan Jimim, dia justru harus tersedak saking terkejutnya.
"Bisakah kalian diam?! Tidak lelah terus mendebatkan hal tidak penting?"
Jika Seokjin sudah dalam mode serius, tidak ada siapapun yang berani mengusiknya. Bahkan Yoongi yang dikenal paling dingin sekalipun. Ji-eun sebagai satu-satunya wanita tentu merasa canggung dan merasa ini semua salahnya.
Seharusnya dia tidak ada di tengah-tengah mereka yang membuat hubungan mereka menjadi sepeeti ini.
"Dia mendekati istriku, hyung." Bela Yoongi.
"Dia kakak ipar ku, memangnya tidak boleh jika aku dekat dengannya." Jungkook turut membela diri.
__ADS_1
"Sejak kapan kau berani padaku?"
"Aku--"
"Astaga, cukup! Apa kalian berdua tidak melihat betapa tersiksanya Ji-eun berada di tengah-tengah kalian?"
Ji-eun mengangkat wajahnya yang langsung melihat semua orang menatapnya, termasuk suaminya. Memang sedari tadi dia merasa tidak nyaman, tapi dia pikir tidak ada yang menyadari karena mereka sibuk memperhatikan Yoongi dan Jungkook berdebat.
"Kau-" Seokjin menunjuk Yoongi. "-- bukankah kau selalu mengalah demi dia. Mengalah saja hari ini, bukankah setelah ini kalian akan jarang bertemu? Biarkan saja dia melakukan apa, tidak akan ada yang merebut istrimu."
"Benar. Lagi pula sejak kapan kau menjadi bucin, hyung?" Tanya Taehyung santai.
Hoseok menyenggol lengan Taehyung agar tidak perlu ikut campur. Yang di senggol hanya menatap dengan wajah tak bersalah. Taheyung memang sedikit menyebalkan jika tidak ada kekasihnya.
Pria bermarga Min itu menghela nafas, kemudian mengalah untuk membiarkan Jungkook melakukan apapun. Benar kata Taehyung, sejak kapan ia memperdulikan miliknya secara berlebihan? Ini seperti bukan dirinya. Tapi, rasanya memang kesal jika Jungkook terus mendekati istrinya dan memberikan perhatian yanh seharusnya berasal dari dirinya.
Tapi ya sudahlah, daripada menjadi ribut lebih baik dirinya yang mengalah. Seokjin benar, tidak akan ada yang merebut Ji-eun termasuk Jungkook.
"Kau baik-baik saja?" Yoongi bertanya pada Ji-eun yang langsung di balas anggukan oleh gadis itu.
Yoongi tak menjawab, dia melangkah menuju dapur untuk membuatkan susu hamil untuk istrinya. Suasana kembali kondusif karena tidakada lagi perdebatan. Setelah membuat susu hamil, Yoongi memilih untuk bermain game bersama Jimin yang entah sejak kapan sudah berada di depan layar televisi.
"Kau masih mau di sini, hyung?" Tanya Jimin.
"Besok aku akan pulang."
"Menempati rumah yang ada di Daegu?"
"Hm."
•••
Waktu berlalu semakin cepat, kini senja mulai menyapa di langit Seoul. Semburat jingga terlihat indah menghiasi langit.
Setelah perdebatan saat sarapan tadi, kini hubungan Jungkook dan Yoongi kembali membaik. Tampak seperti tidak ada masalah apapun, bahkan keduanya bermain basket bersama.
"Kau ingin berendam?"
__ADS_1
"Iya. Temani aku." Ucap Ji-eun manja.
Entah sejak kapan mereka berubah menjadi hangat satu sama lain. Padahal dulu sama sekali tidak terlintas di pikiran mereka untuk sampai di titik ini.
Tapi Yoongi berani bertaruh, meski Ji-eun tidak mengandung anaknyaa sekalipun, dia akan tetap mengejar gadis itu. Ji-eun seperti memiliki pesona tersendiri, mampu membuatnya menjadi bukan dirinya.
Dari sekian banyaknya gadis cantik yang pernah berada di sekitarnya, tidak satupun dari mereka yangg mampu membuat Yoongi merasa tertarik. Justru dia selalu menghindari mereka dengan menjaga jarak dan pandangannya.
"Aku merasa aku bukanlah diriku." Ucap Yoongi.
"Kenapa?"
"Sedikit banyaknya pasti kau tahu siapa aku. Apa rasanya tidak aneh saat aku berhadapan denganmu?"
Ji-eun terlihat berpikir, memang perubahan Yoongi itu sangat kentara bahkan jika bersamanya pria itu bisa berubah 180° dan Ji-eun sempat tidak percaya jika ini adalah sosok Min Yoongi.
Tapi apapun itu, rasanya tidak ada yang perlu dibuat pusing. Sebab, dingin atau hangat Yoongi tetap membuatnya jatuh cinta. Rasanya cintanya itu lebih besar dari yang sebelumnya.
"Aku tak peduli bagaimana kau di depanku dan diluar sana. Aku juga tak peduli jika kau tidak mencintaiku dan hanya kasihan pada anak di dalam perutku. Yang terpenting, aku hanya ingin menikmati waktu ini sebelum kau meninggalkanku."
"Tidak akan ada yang pergi, baik aku maupun kamu. Kita akan bersama-sama merawatnya sampai dia tumbuh dewasa."
"Tapi-"
"Tidak ada tapi. Dan aku tidak mengizinkanmu berbicara lagi."
Yoongi membawa wajah Ji-eun ke arahnya, lalu ******* bibir yang sekarang menjadi candunya. Bibir yang lembut seperti mentega membuatnya merasa meleleh.
Ciuman yang lembut tanpa nafsu seakan menghantarkan kasih sayang, membuktikan jika Yoongi saat ini benar-benar mencintai gadis yang menjadi istrinya. Entah sejak kapan yang pasti rasa itu sudah bermekaran seperti bunga di musim semi.
Namun gerakan Ji-eun yang tidak tepat membuat sesuatu dalam diri Yoongi bangun. Posisi mereka saat ini adalah Yoongi yang memangku Ji-eun yang membelakanginya.
Sesuatu di bawah sana tidak sengaja tergesek hingga menimbulkan sensasi yang membuatnya menggeram.
"Kau membangunkannya." Bisik Yoongi.
"Membangunkan siapa?" Tanya gadis Lee polos.
__ADS_1
Dan saat sesuatu yang bergerak di bawah bokongnya, Ji-eun langsung paham. Dia bahkan tidak ingat jika mereka sedang sama-sama naked.