
Kim Namjoon tengah fokus pada laptopnya. Pria itu menerima perintah dari Yoongi untuk mencari informasi tentang Jihyun. Dia sendiri tidak tahu siapa pria bernama Jihyun itu dan ketika dia berhasil menemukannya, pria itu terkejut karena ternyata orang yang dimaksud adalah adik dari temannya, Park Jimin.
"Jadi dia adik Park Jimin?" Tanya Yoongi.
"Ya. Memangnya ada masalah apa dengannya Hyung?"
"Kau bisa melacak keberadaan pria itu? jika perlu retas semua cctv jalan yang bocah itu lewati." Titah Yoongi tanpa menjawab pertanyaan adiknya.
"Bisa, tapi aku membutuhkan waktu."
"Lakukanlah."
Yoongi keluar dari ruang kerja Namjoon yang berada di rumahnya. Pria itu mengirimkan pesan pada ponsel Ji-eun yang ditujukan untuk Jong-hoon. Dia mengatakan pada pria itu untuk tidak cemas dan menunggu Ji-eun di apartemen, selebihnya biar dia yang mengurus.
Lalu pria itu menghubungi Jimin, mungkin saja pria itu bisa membantunya untuk menemukan keberadaan Jihyun.
"Kau dimana?"
"Aku masih di Busan. Ada sedikit masalah di sini, ada apa Hyung?"
"Dimana adikmu?"
"Adikku? Memangnya ada apa?"
Yoongi tak berniat menjawab pertanyaan Jimin yang bukan sebuah jawaban yang ia inginkan. Menyadari keterdiaman Yoongi, Jimin kembali bersuara.
"Sebenarnya aku tidak tahu dia ada dimana. Dia sedang menjadi buronan polisi, mungkin saja bajingan itu sedang bersembunyi."
Deg!
"Buronan polisi? Apa maksudnya?" Batin Yoongi.
"Cepatlah ke Seoul, aku akan meminta Jungkook untuk menemani bibi Park di sana."
"Baiklah, aku akan segera kesana." Jawab Jimin tanpa menanyakan alasannya.
Pria berkulit putih itu memutus panggilan telepon untuk mengirimi pesan pada Jungkook yang saat ini kebetulan sedang berada di Busan. Ia bisa meminta pemuda itu untuk menjaga ibu Jimin selama putranya membantunya.
__ADS_1
Sementara ia juga meminta Taehyung untuk mengunjungi apartemen Namjoon. Ada hal yang perlu mereka lakukan.
•••
Ji-eun membelalakkan matanya ketika tiba di sebuah kamar yang terdapat beberapa pria di dalamnya. Keadaan yang mengenaskan sempat membuat para pria itu mengernyitkan dahinya.
"Kau yakin ingin menggunakannya?" Tanya seorang pria bernama Chanyeol.
"Memangnya kenapa?" Jihyun bertanya balik.
"Tidak." Chanyeol mendekati Baekhyun dan berbisik, "Apa dia sudah kehabisan gadis?" Tanyanya.
Wajar dia bertanya seperti itu. Club' ini banyak menyediakan gadis yang sangat-sangat layak untuk menemani mereka minum, tapi kenapa Jihyun harus membawa gadis yang tidak berdaya. Memangnya apa yang bisa gadis itu lakukan dengan keadaan yang seperti itu.
Sementara kedua pria yang duduk menikmati sebotol wine merah di sana terlihat acuh. Salah satunya adalah pria yang sempat ingin melepaskan Ji-eun. Pria itu terlihat membuang muka ke arah lain dan itu membuat Ji-eun sedikit penasaran.
"Aku tidak ikut. Kalian saja yang memakainya, aku hanya ingin minum." Ucap Baekhyun.
"Bilang saja kau takut pada kekasihmu." Sahut Chanyeol.
"Bagaimana denganmu?" Tanya Jihyun pada Se Hun.
Jihyun mendengus, sia-sia saja dia membawa Ji-eun jauh-jauh kemari jika mereka tidak mau memakainya. Sebenarnya ia bisa saja memakainya sendiri namun untuk memberi pelajaran pada gadis itu memang harus dengan cara seperti ini.
"Let's party!" Seru Jihyun.
Ketiga pria yang duduk di depannya mengangkat gelas dan menyatukan gelas mereka ke atas hingga saling membentur pelan dan menghasilkan bunyi 'ting'. Kemudian ketiganya langsung meneguknya hingga tandas.
Jihyun menuang minuman beralkohol itu lagi pada gelas bertangkai panjang untuk meminumkannya pada Ji-eun namun gadis itu memberontak hingga menumpahkan minuman tersebut.
"Jangan berulah, ******!" Desis Jihyun dan Ji-eun hanya menatapnya datar.
"Cepat minum!"
Jihyun menarik rambut panjang sang gadis yang membuat gadis itu meringis, hingga mau tak mau mulutnya terbuka dan cairan itu di tumpahkan kedalam mulutnya bahkan sampai meluber ke pipinya. Pemandangan itu tak luput dari pria tertua yang berada di depannya.
"Sexy!" Ucap Baekhyun.
__ADS_1
Semua tertawa dengan keras menikmati minuman mereka, kecuali Sehun yang terlihat datar. Sesekali pria itu menatap miris pada Ji-eun, namun tak berani berbuat apapun. Sebab jika ia melawan Jihyun di hadapan Baekhyun maka dirinya yang akan terkena amukan.
•••
"Aku menemukannya!" Seru Namjoon menarik perhatian Yoongi dan beberapa temannya yang sudah berkumpul.
Namjoon menggeser laptopnya agar Yoongi bisa turut melihat. Ada sebuah lokasi yang membuat mereka membelalakkan matanya bersamaan.
"Dia ada di Rusia, tepatnya di Orsk. Dan aku sudah meretas info markas mereka." Jelas Namjoon.
"Kalau begitu, kita kesana sekarang." Ucap Yoongi.
"Tapi Hyung, mereka bukan orang biasa. Menurut info yang ku dapat, pemimpinnya adalah seorang bandar senjata ilegal. Dia juga pemimpin perusahaan di sana."
"Bagaimana mungkin seorang CEO ternyata memiliki bisnis seperti itu." Sahut Jimin.
"Aku tidak peduli." Yoongi mengalihkan pandangannya pada Taehyung, "Bukankah kau bisa menggunakan senjata api?"
"Ya. Aku masih menguasainya." Ucap Taehyung.
"Kalau begitu bawa untuk berjaga-jaga."
"Kau gila, Hyung?!" Pekik Jimin, dan langsung mendapat tatapan dingin dari Yoongi. "Maaf, maksudku, kenapa harus memakai senjata api? Apa kita akan baku tembak?"
"Untuk berjaga-jaga. Jika perlu aku akan menembak adikmu jika dia melukai milikku."
Taehyung sempat terkejut ketika Yoongi begitu serius untuk menyelamatkan Ji-eun. Meski dia tahu seharusnya memang begitu mengingat Jihyun adalah target utama Yoongi dalam kerjasama ini. Namun yang membuatnya terkejut adalah ketika dia melihat kilatan kemarahan dan kekhawatiran menjadi satu.
Entahlah, apa ini hanya karena rasa peduli atau memang ada sesuatu diantara mereka.
"Aku akan menyewa jet milik Hoseok. Persiapkan diri kalian." Ucap Yoongi.
Namjoon, Taehyung, dan Jimin mengangguk serentak. Meski mereka tidak pernah melakukan misi seperti ini namun mereka yakin jika mereka bisa. Kemampuan Taehyung yang bisa menggunakan senjata api, lalu Namjoon dengan kemampuan meretasnya yang luar biasa, serta Jimin dan Yoongi yang memiliki keahlian beladiri seperti nya cukup untuk bekal mereka.
Lagipula mereka tidak akan melawan tentara bersenjata ataupun mafia. Menurut informasi yang Namjoon dapat, orang yang melindungi Jihyun hanyalah bos besar dan bandar. Meski pria itu memiliki bisnis senjata namun tetap saja tak membuat Yoongi gentar.
Yoongi tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan gadis itu sekarang. Dia merasa sudah jadi pecundang karena gara-gara kejadian itu, penculikan ini terjadi. Mungkin jika hubungan mereka baik-baik saja pun rencana ini akan tetap terjadi. Tapi setidaknya dia bisa menghalangi pertemuan Jihyun dan Ji-eun. Dia bisa memastikan gadis itu aman dalan jangkauan nya.
__ADS_1
Kim Namjoon sama sekali tidak tahu perihal kejadian obat perangsang itu. Karena memang Yoongi tidak bercerita dan tidak berniat menceritakannya. Dia tidak ingin adiknya merasa bersalah. Jika saja Yoongi bisa menahan diri pasti tidak akan terjadi semacam ini. Penyesalan memang selalu datang di akhir.