
Yoongi, Taehyung, Jimin, dan Namjoon sudah berada di atas jet milik Hoseok yang mereka sewa. Jet itu memang tetap berada di Seoul sehingga mereka tidak perlu menunggu kendaraan itu datang.
Hoseok tidak penasaran kenapa Yoongi hendak menyewa jet pribadi nya, karena pria bermarga Jung itu berpikir mungkin saja Yoongi akan berlibur dengan kekasihnya. Bahkan Hoseok mengatakan untuk tidak usah menyewa dan tinggal membawanya saja, dengan beberapa pramugari juga yang akan melayaninya.
"Aku belum miskin, jadi aku tidak akan menerima apapun dalam bentuk cuma-cuma." Sanggah Yoongi saat itu.
Selain alasan itu, Yoongi memang tidak terbiasa memakai barang milik orang lain dengan sembarangan. Jika meminjam pasti akan di kembalikan dan jika ia mengatakan menyewa maka dia akan membayarnya.
Keempat pria itu mengistirahatkan tubuhnya sejenak di dalam pesawat, karena perjalanan memakan waktu kurang lebih empat jam dan tidak akan mungkin mereka menunggu selama itu tanpa berbuat apapun. Yoongi yang biasanya lebih suka tertidur kini tetap terjaga sembari memikirkan kemungkinan yang akan mereka hadapi.
Biar bagaimanapun ini adalah kasus penculikan. Hal ini mustahil untuk tidak di rencanakan jadi mungkin saja mereka berjaga-jaga apabila ada yang menemukannya.
"Kau sudah siapkan alatnya?" Tanya Yoongi pada Taehyung.
"Sudah. Aku meminjamnya dari pamanku, dan dia menanyakkqnnyq untuk apa sebab senjata seperti itu tidak bisa digunakan sembarangan."
"Ya, aku tahu itu. Tidak usah mengajariku bocah."
"Aku hanya menjawab, kenapa kau marah."
Yoongi kembali fokus pada ponselnya, terhitung sudah beberapa jam sejak menghilangnya Ji-eun. Perkiraan cctv apartemen, gadis itu di bawa lari pada pukul sepuluh malam. Dan saat dirinya mengecek kesana itu ketika pagi hari bersamaan dengan Jong-hoon yang katanya baru saja pulang dari Busan.
Waktu menunjukkan pukul lima sore, waktu yang banyak terbuang untuk menunggu dan menunggu. Dari menunggu Namjoon yang mendapatkan informasi tentang Jihyun dan bisnisnya, peretasan cctv, lalu peretasan informasi markas milik bos Jihyun yang berada di Rusia.
Belum lagi menunggu Jimin yang datang dari Busan menghabiskan waktu tiga jam lamanya. Sementara hanya Taehyung yang gerak cepat saja, meski tetap membuatnya menunggu untuk membujuk kekasihnya yang curiga karena Taehyung mengatakan akan pergi selama beberapa hari.
Memang benar kata Bongsoon, jika Taehyung itu benar-benar bodoh. Pria itu hanya menang tampan saja. Padahal tanpa mengatakan pun Yoongi yakin jika Bongsoon tidak akan mencarinya.
Yoongi melirik Jimin yang terdiam, wajahnya menghadap jendela pesawat dan mata indahnya tetap menatap pemandangan di bawah sana.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Yoongi.
"Yeah."
__ADS_1
"Kau pasti tidak menyangka jika adikmu seperti itu." Sahut Taehyung. "Wae?" Sambungnya ketika Yoongi menatapnya dengan tajam.
Jimin memaksakan senyumannya dan melirik kedua pria yang ada di depannya. Dia bukan mengkhawatirkan sang adik yang ternyata berbuat kejahatan separah itu. Jujur saja Jimin sudah sangat kecewa pada sang adik hingga terlalu bingung untuk menanggapinya seperti apa lagi.
Dia hanya mengkhawatirkan kesehatan ibunya yang ia tinggal sendiri. Apalagi jika nanti dia pulang dengan membawa kabar bahwa Jihyun memang benar-benar seorang penjahat. Jimin tidak ingin kehilangan sosok yang ia sayangi, apalagi penyebabnya itu tidak lain adalah adiknya sendiri.
"Aku minta maaf, Hyung. Karena dia, kau harus repot seperti ini. Kau pasti mengkhawatirkan kekasihmu." Ucap Jimin, dia memang belum mengetahui jika Yoongi dan Ji-eun bukan pasangan sesungguhnya.
"Tidak apa-apa."
"Kalau begitu aku ingin memesan makanan, apa kalian mau menitip?"
"Aku butuh sayur untuk meningkatkan konsentrasi ku, pesankan aku salad." Ucap Taehyung.
"Baiklah, Yoongi-hyeong?"
"Kopi."
Selepas kepergian Jimin, Taehyung menatap wajah Yoongi dengan lekat. Meski tengah terpejam, Yoongi bisa tahu jika adiknya itu tengah memperhatikannya.
"Ada apa?" Tanyanya masih dengan mata tertutup.
"Tidak. Aku hanya memastikan saja apakah kau benar-benar mengkhawatirkan gadis itu?"
"Aku hanya tidak ingin melukai adikku."
Taehyung terdiam, bukan karena menerima jawaban Yoongi. Melainkan berpikir jika, adik mana yang dia maksud? Mengingat Yoongi mempunyai banyak adik dan tidak mungkin jika yang dimaksud adalah adik kandung karena Yoongi anak terakhir.
"Jungkook." Ucap Yoongi.
"Kenapa dengannya?"
"Dia pernah mengatakan padaku. Jika aku membuat gadis itu terluka sama saja aku melukai Jungkook. Aku tidak ingin bayi itu membenciku."
__ADS_1
Taehyung sungguh tidak mengerti, ia juga tidak tahu kapan Jungkook mengatakan hal itu. Namun pria bermarga Kim itu memilih diam dan menyamankan posisi duduknya sembari menunggu salad yang ia pesan melalui Jimin.
•••
Para pemuda Korea tiba di negara terluas itu pada malam hari, saat bintang-bintang melukiskan dirinya di atas langit Rusia. Ketiganya mendarat di bandara yang terdekat dengan tempat markas para penculik itu, agar menghemat waktu perjalanan.
Mereka menyempatkan diri untuk menyewa beberapa mobil dari tempat rental mobil. Dua mobil yang mereka butuhkan dengan masing-masing berisi dua orang dan memiliki tugas yang berbeda.
"Kau yakin ini tempatnya?" Tanya Yoongi pada Namjoon.
"Ya, aku sangat yakin."
"Tidak seperti bayanganku. Aku pikir kita akan melawan beberapa pengawal berbadan besar." Ucap Taehyung yang mulai menyelipkan sebuah pistol di balik kemeja di punggungnya.
Tidak seperti markas pada umumnya, tempat ini hanyalah sebuah bar yang terkesan kecil dan sempit. Atau mungkin ini bukanlah markas besar atau markas utama. Tapi menurut pelacakan yang dilakukan oleh Namjoon, pria yang menjadi target mereka berada di dalam.
"Kau dan Jimin tunggu di mobil, bersiap untuk menghindari kemungkinan. Aku dan Taehyung akan masuk kedalam." Ucap Yoongi mengomando.
"Apa kau yakin, Hyung?" Tanya Jimin.
"Percayakan saja padanya." Sahut Namjoon.
Jimin mengangguk dan menatap punggung kedua temannya yang mulai masuk kedalam bar yang cukup ramai. Sementara keduanya kembali kedalam mobil. Masing-masing menunggu di mobil yang berbeda agar keduanya bisa langsung membawa Yoongi dan Taehyung jika nanti mereka dalam bahaya.
Keempat pria itu memakai earphone yang terhubung satu sama lain, untuk memberi tahu keadaan yang mereka amati. Yoongi dan Taehyung berpencar agar tidak membuat keganjilan, meski tidak akan ada yang mengenali mereka di dalam sana.
Yoongi terus berjalan menyusuri lorong yang di beritahukan Namjoon. Sebelumnya pria itu sudah meretas cctv di dalam untuk mencari dimana Ji-eun disekap. Tidak akan mungkin mereka memasuki ruang VIP satu persatu.
Sementara Taehyung berjalan sedikit jauh di belakang Yoongi. Sesekali pria itu berhenti ketika melewati meja yang terdapat para gadis. Tentu hal itu mengundang perhatian sebab paras pemuda Kim yang bak pahatan patung dewa membuat para gadis bersorak. Bahkan ada yang mengajaknya bermalam. Sayang sekali dia harus menjalankan misi ini, lagipula tidak akan ada yang bisa menandingi kekasihnya.
"Aku menemukannya." Ucap Yoongi yang Taehyung dengar di earphone.
"Baiklah. Maaf gadis-gadis aku harus pergi." Ucap Kim Taehyung melayangkan kecupan udara.
__ADS_1