Love You So Much

Love You So Much
Bagian 12 (Api Cemburu)


__ADS_3

“Cemburu lahir saat kurangnya rasa kebersamaan dan rasa kepercayaan seperti yang kurasakan sekarang”


~~ LYSM ~~


Hentakan kaki Luna memasuki kelas membuat  kelas 10 MIA-3 yang semulanya ribut menjadi berbisik-bisik melihat kehadirannya.


“Geb siapa tuh cantik benar?”bisik Gilbert pada Tian, yang ditanya malah memandangi Aldrina yang memberikan ekspresi terkejut melihat kehadiran gadis itu


“Kenapa dia?”tanya Tian dalam hati


“Yaelah si ogeb malah ngelamun gak seru lo”putus Gilbert obrolan yang tidak mendapatkan jawaban itu


“Eh nak sini mendekat ke bapak”perintah pak Handoko pada Luna


“Orang Jepang makan tuna…”kata pak Handoko lagi lagi ingin berpantun


“Pak ayolah, bisakah mempercepatnya”protes Biselia yang sedari tadi sudah jengkel


Pak Handoko yang mendengar itu pun langsung memberhentikan pantunnya.


“Huh... Ngerusak suasana lo”sorak Gilbert pada Biselia


“Diem lo kerak nasi”kata Biselia tidak terima


“Iiii dasar badut Ancol sono lo balik ke Ancol kasian teman-teman lo pada nungguin”balas Gilbert tidak mau kalah


Biselia pun berdiri dari kursinya seakan ingin menjambak Gilbert.


“BISELIA! Duduk kembali atau bapak keluarkan”kata pak Handoko memberhentikan pertikaian itu


Gilbert pun menjulurkan lidahnya “Kamu juga Gilbert”sambung pak Handoko melihat reaksi Gilbert, Biselia pun tersenyum senang


“Maaf yah nak, baru hari pertama udah bertemu kejadian seperti ini" Luna tersenyum manis mendengar perkataan pak Handoko menandakan dia tidak masalah dengan keadaan sekarang


“Baiklah silahkan perkenalkan dirimu”


“Perkenalkan nama saya Luna Glesil saya baru pindah dari London ke Indonesia salam kenal teman-teman”kata Luna memperkenalkan dirinya tidak lupa diakhiri senyum


“Baiklah Luna karena kamu masih baru kamu boleh duduk di samping Tian karena dia yang paling bertanggung jawab di kelas ini dan kamu Gilbert pindah ke samping Biselia"sambung pak Handoko setelah Luna selesai berbicara


“WHAT” Biselia meneriakkan ucapan yang sama dengan Gilbert


“CIE CIE”seisi kelas bersorak


“Kayaknya lo berjodoh bro sama dia”ejek Tian sambil menepuk-nepuk bahu Gilbert yang memasang tampang tidak terima


“Cepat-cepat jangan diperlama lagi”tegas Pak Handoko mulai menaikkan nada suaranya


Gilbert pun terpaksa pindah ke samping Biselia yang biasanya hanya duduk sendiri di kelas, keduanya pun tatap-tapan seakan ada sengatan listrik terpancar dari mata keduanya. Pak Handoko geleng-geleng melihat keduanya dan memulai pembelajaran. Dandra yang sedang di kantor kepala sekolah.


“Bagaimana nak Dandra sudah bertemu Luna?”


“Belum pak nanti saya akan menemuinya setelah jam istirahat”

__ADS_1


“Oke baiklah, kamu boleh kembali ke kelasmu! Bapak minta tolong ya itu juga demi kebaikan sekolah ini seperti yang bapak katakan orangtuanya selalu mendanai kegiatan sekolah, jadi bapak selaku kepala sekolah ingin berterimakasih kepada keluarganya dengan cara ini” Dandra pun mengangguk paham dan keluar dari kantor kepala sekolah


Bel berbunyi menandakan jam istirahat, Dandra pun berdiri dari bangkunya yang mendapat pertanyaan dari Bastian yaitu sebangkunya yang selama 3 tahun ini disampingnya. Bastian adalah orang yang paling akrab dengan Dandra dikelas namun akhir-akhir ini mereka tidak pernah terlihat bersama karena sibuknya Dandra sebelum pergantian ketua OSIS.


“Woi bro mau kemana?”tanya Bastian pada Dandra


“Ada misi dari bos besar bro”balas Dandra


Bastian pun mengangguk paham kemudian Dandra berpikir jika hanya dia yang sendiri ke kelas 10 MIA-3 mungkin saja akan menimbulkan kesalahpahaman yang besar terlebih kepada Aldrina.


“Temani gue bro”kata Dandra akhirnya


Keduanya pun berjalan menyusuri koridor kelas 10 tentu saja keduanya menjadi pusat sorotan mata anak kelas 10 yang sedang beristirahat. Keduanya memasuki kelas 10 MIA-3.


“Kak Dandr..”kata-kata Aldrina terpotong ketika Dandra melewati dirinya begitu saja


Aldrina mengerucutkan bibirnya lalu dilihatnya Dandra dan temannya mendekati Luna.


“Kamu Luna kan?”tanya Dandra pada Luna untuk memastikan, dia hanya ditunjukkan foto oleh kepala sekolah semalam


“emmm iya kak”jawab Luna sambil mengangguk


“Ooh oke, perkenalkan saya Dandra selaku ketua OSIS ditugaskan kepala sekolah buat bantu kamu disini”jelas Dandra tanpa basa-basi dengan wajah datarnya seperti biasa


"Ih ngapai sih kak Dandra pakek kata kamu lagi, coba ke gue yang ada kata Anda"ucap Aldrina dalam hati dengan wajah dongkolnya


“Oh iya iya kak makasih sebelumnya tapi keknya gak usah deh kak saya bisa sendiri menyesuaikan diri”tolak Luna seakan tidak mau merepotkan oranglain


“Tidak apa-apa itu sudah menjadi tugas saya sekarang, sudah makan siang?”sambung Dandra lagi


Dandra melakukannya agar tidak berlama-lama dikelas itu tetapi yang ada malah membuat seisi kelas salah paham seakan Dandra tertarik dengan Luna dan jadilah Aldrina cemburu.


“Aku gak pernah diajak”gumam Aldrina sedih


Shirene pun menepuk-nepuk bahu Aldrina. Setelah Luna keluar dengan Dandra dan temannya.


“Ada yang bertepuk sebelah tangan nih”kata Biselia memanasi Aldrina


Aldrina hanya meliriknya tidak berniat menggubrisnya, dia beranjak dari bangkunya


“Mau kemana Rin?”


“Keluar cari udara segar”


“Gue ikutan”


Keduanya pun melenggang pergi keluar kelas.


***


Seminggu lebih setelah kedatangan Luna ke kelas mereka, hampir setiap hari Aldrina melihat Luna bersama Dandra ada rasa tidak terima yang dirasakannya tapi apa boleh buat Aldrina hanya bisa berlapang dada.


“Rin..Rin aku gak sabar hari ini pertama kalinya kita ekstrakulikuler”kata Shirene antusias pada Aldrina yang sedari tadi hanya berdiam diri

__ADS_1


“Hemm”balas Aldrina dengan helaan nafas yang berat


“Napa lo? Anak kucing lo mati? Atau PMS?”tanya Shirene heboh


“Tau ah”balas Aldrina malas dan membaringkan wajahnya


Keduanya saat ini sedang menunggu kegiatan ekstrakulikuler setelah selesai makan siang. Mereka memilih untuk tidak pulang ke rumah agar ada waktu untuk istirahat. Kini Aldrina sudah mengenakan pakaian olahraganya dan Shirene menggunakan pakaian santai yang pastinya sopan.


“Kalo lo uda selesai bilang ke gue ya mut kalo enggak datang aja ke lapangan basket”kata Aldrina beranjak dari bangkunya


“Oke siap boss”balas Shirene seakan memberi hormat


Keduanya pun tertawa dan menuju tempatnya masing-masing. Kini Aldrina sudah di lapangan basket sudah banyak orang disana. Angkatan kelas 10, 11, dan hanya Felix yang kelas 12 mengingat dia adalah ketua tim basket putra di sekolah itu dan ketua tim basket putri adalah Bunga. Dia tidak dapat hadir karena ada urusan terlebih Bunga tidak lagi bisa membagi waktunya untuk bermain basket karena sudah kelas 3.


“Baiklah Selamat datang untuk adik-adik kami kelas 10 dan untuk kelas 11 selamat datang kembali di pertemuan kita yang pertama setelah kalian kelas 11, saya selaku perwakilan dari senior kalian mengucapkan terimakasih dan selamat bergabung, ingatlah yang selalu saya katakan, apa itu anak kelas 11?”kata Felix diakhiri pertanyaan


KITA DISINI UNTUK BERMAIN BUKAN UNTUK BERSAING


“Yah bagus sekali kalian masih mengingatnya, jadi ingat jangan ada yang mengganggap temannya adalah saingan diluar sana saingan kalian telah menunggu”sambung Felix lagi


Jika saat seperti ini sungguh mengasyikan melihat Felix mengordinir orang-orang bukan Felix yang selalu membuat Aldrina risih.


“Ini baru kak Felix yang kukenal”kata Aldrina dalam hati


“Ah apaan sih aku gak jelas banget deh”sambungnya lagi seakan tidak menyangka dirinya akan berkata seperti itu lagi setelah sekian lama


Semuanya pun dibagi menjadi beberapa kelompok agar bola yang mereka gunakan cukup untuk melakukan beberapa teknik dasar sebelum diadu satu sama lain per kelompok. Aldrina menikmati kegiatannya terlebih dengan kegiatan ini Aldrina bisa kenal dengan anak basket lainnya. Pandangan Felix tidak bisa lepas pada gadis itu yang kini mengumpulkan rambunya keatas lalu mengambil ikat rambut yang ada dipergelangan tangannya. Felix sangat menyukai ketika Aldrina berusa mengikat rambutnya walaupun tidak rapi itu membuat kesan manis dan lucu baginya. Aldrina yang merasa dilihati langsung mengambil bola yang tadinya dia tahan ditengah-tengah kedua kakinya dan melemparkan bola itu ke arah Felix. Tentu Felix terlambat menyadari aksi Aldrina bola terkena bahunya cukup kuat.


“Sial”teriak Aldrina mendekati Felix yang kini seakan kesakitan


“Eh gapapa kak?”tanya Aldrina dengan tampang khawatir


Felix mengintip lalu terus memasang tampang kesakitan membuat Aldrina tampak semakin bersalah dengan gerakan cepat Felix mengambil bola dan membenturkannya pelan di atas kepala Aldrina.


“Awww”pekik Aldrina kaget


“Ihh apaan sih gak lucu woi”seru Aldrina begitu kesal


Dandra dan Luna yang baru saja dari perpustakaan melihat pemandangan itu membuat mereka terlihat kesal terlebih saat Aldrina dan Felix yang akhirnya tertawa bersama.


“ALDRINA”teriak Shirene dari pinggir lapangan yang membuat Aldrina dan Felix berhenti tertawa


“Seneng amat neng”goda Shirene sambil menyenggol-nyenggol bahu Aldrina


“Apaan sih”jawab Aldrina


“Uda siap eskulnya?”sambung Aldrina lagi


“Udah nih! Kan hari pertama jadi belum masak apa-apa tadi”balas Shirene dengan raut wajah yang disedih-sedihkan


“Duh duh kacian amat yang sabar ya seyeng”balas Aldrina menggoda Shirene sambil mencubit gemas pipi Shirene yang tembem itu


Shirene pun tambah memasang wajah kesal lalu tiba-tiba tertawa, keduanya pun tertawa diikuti dengan Felix yang kini juga tertawa walaupun tidak tau apa sebab dari candaan keduanya, dia hanya tertawa melihat Aldrina yang juga tertawa.

__ADS_1


***


__ADS_2