
"Masa depan bukan untuk ditakuti namun berusahalah agar masa depan tidak menakutkan"
\~\~LYSM\~\~
Waktu akan terus berjalan tanpa tau adanya kata berhenti, hari ini SMA Tunas Utama akan memberikan laporan hasil belajar yang kita kenal dengan Rapor. Banyak siswa yang memasang wajah bahagia mungkin karena sebentar lagi akan libur dan banyak juga yang memasang wajah sedih bahkan takut pastinya karena nilai rapor yang akan mendebarkan. Di sebagian keluarga nilai rapor ada yang merah adalah hal yang memalukan dan ada juga yang memaklumi bagaimanapun hasil itu adalah hasil jerih payah dari anak mereka.
Aldrina memasang wajah bahagia saat ini begitu juga sahabatnya, ketiga gadis cantik itu sedang duduk di bangku panjang yang berada di depan kelasnya.
"Guys kalian pada kemana liburan ini?"tanya Luna penasaran
"Kalo gue sih kayaknya di rumah aja besar-besarkan badan"balas Shirene yang tidak mau ambil pusing mengingat sang ibu yang biasanya selalu sibuk bahkan di hari natal sekali pun
"Hei mut badan elo udah gede kali, jangan dong entar kak Lucas susah"ucap Aldrina dengan senyuman nakalnya
"Anjir susah apaan tuh Drin? Hahah"tambah Luna dengan tawa yang pecah
Sementara Shirene memasang tampang bingung "Susah kenapa? Dia terima-terima aja kok aku kayak gini"balas Shirene sambil memegangi kedua pipinya yang tembem
"Hahah udahlah lo terlalu polos Mut"balas Aldrina menyudahi pikiran kotornya
Tidak berapa lama mereka semua dibariskan di lapangan, untung matahari saat ini tidak terlalu panas. Ketiganya berada di satu deretan dan paling belakang, Aldrina mengambil posisi dibelakang Shirene dan Luna tepat dibelakang Aldrina. Aldrina memundurkan dirinya sedikit agar mencapai telinga Luna.
"Is... Sengaja dibelakang lo kan? Biar waktu nama lo dipanggil semua pada liatin"bisik Aldrina jahil pada Luna
"Ih dosa banget lo Drin, engga ya jahat amat mbak"balas Luna dengan telinga yang memerah
"Alah-alah ngeles lagi hahaha"ucap Aldrina lagi menyudahi obrolan itu
Seperti dugaan Aldrina tadi semua mata menatap ke arah Luna yang berada di posisi paling belakang saat nama gadis itu dipanggil menjadi juara 1 di kelas mereka, bahkan Tian sang ketua kelas sudah dikalahkan Luna. Banyak siswa-siswi yang bersorak-sorai walaupun Luna siswa pindahan, dirinya bisa menyesuaikan diri dengan begitu cepat.
"Cihiy Luna Pwiiitt"ucap Gilbert sambil bersiul
"Jangan Lupa makan-makan ya"tambah Gilbert yang mendapat tawa dari seisi kelas
"Asek Luna bisalah buat bangga kak Felix"ucap Shirene dengan mengedipkan sebelah matanya
"Benar banget tuh orang pintar mah beda"sambung Aldrina begitu antusias
Luna yang berjalan sedikit berlari sudah memiliki wajah yang memerah seperti kepiting rebus dan mengambil posisi disamping Tian yang menjadi juara 2 "Awas ya kalian buat malu aja"batin Luna yang merasa dikerjai sahabatnya
"Eh Drin kapan yah gue bisa kayak gitu?"tanya Shirene yang berada di depan Aldrina
"Kapan yah mut? Emm mungkin tunggu matahari terbit dari sebelah barat kali yah mut"balas Aldrina seolah berpikir
"Yahhh berarti gak mungkin dong"balas Shirene dengan polosnya
"Yah that's right mut ahahahaah tapi bisa aja sih kalo otak Luna dipindah ke otak lo mut"ucap Aldrina sambil tertawa
"Hahaha anjir lo Drin tega banget, emang lo gak pengen kayak gitu?"tanya Shirene sambil menunjuk para siswa-siswi yang juara sedang di foto
"Enggak sih mut, gak terlalu penting yah pokoknya gue bisa ngikutin pembelajaran gue udah syukur banget"balas Aldrina memikirkan dirinya tidak mungkin bisa tiba-tiba pintar
"Yah gak usah sampe segitu kali Drin pokonya ningkat deh nilai lo gitu, biar bisa nyusul kak Dandra"balas Shirene yang membuat Aldrina menjadi diam
Aldrina merasa telak ketika mendengar nama Dandra, yah benar sekali Dandra adalah kebalikan dari dirinya di bidang akademik. Mungkin bisa saja Aldrina mengkikuti jejak Dandra di bidang olahraga tepatnya pemain basket karena dirinya sudah memiliki banyak kejuaran di permainan yang satu ini, hanya saja untuk perkuliahan Aldrina tidak menginginkan menjadi pemain basket biarlah itu hanya menjadi hobbi untuk diirnya dan satu lagi Aldrina memang belum mendapatkan apa yang bisa memotivasinya untuk kuliah.
"Hei Drin gue becanda kali jangan dibawa serius dong"ucap Shirene yang sadar sudah melukai hati sahabatnya
"Hahaha santai mut gue gak apa-apa kok"balas Aldrina memamerrkan senyum manisnya
Luna pun kembali ke barisan dan mendapat ucapan selamat dari teman-temannya. Setelah itu mereka semua kembali ke kelas masing-masing untuk menerima rapor yang akan dibagikan wali kelas mereka. Pak Handoko selaku wali kelas dari X Mia-3 sudah berada di dalam kelas, beliau memberi pengarahan dan pantun yang berguna memotivasi siswa-siswinya.
"Selamat Pagi semuanya"ucap pak Handoko dengan suara khasnya
__ADS_1
"Selamat pagi pak"ucap semua siswa serempak
"Pada kesempatan ini bapak mau berterimakasih kepada kalian karena sudah berjuang selama satu semseter ini, banyak suka duka yang sudah kalian hadapi terlebih ini adalah tahun perubahan sikap yang paling besar setelah melewati masa SMP. Bapak hanya mau mengingatkan terimalah hasil kalian ini dengan segenap hati walaupun ada hasil yang mengecewakan itu adalah hasil kerjamu selama ini, jika mau berkembang maka belajarlah lebih giat lagi, oke Gilbert?"ucap Pak Hondoko tiba-tiba saja memanggil Gilbert
Gilbert yang heboh memanggil-mangngil Tian untuk melihat isi dari bingkisan juara pun menggaruk lehernya "Heheh iya pak siap"balas Gilbert dengan cengiran
"Bapak ada pantun buat kalian"sambung Pak Handoko
"Apa tuh pak?"balas seisi kelas dengan begitu semangat
Kakak menari dengan gemulai
Walaupun adik terlihat usil
Kamu tidak harus hebat jika sudah memulai
Namun berusahalah karena semua usaha memiliki hasil
"Huh cakep mantap pak, siap siap"teriak salah satu siswa antusias
"Asyik banget tuh, Gilbert punya balesan tuh pak"tambah Aldrina mengingat Gilbert yang selalu membalas pantun pak Handoko
Tanpa pikir panjang Gilbert berdiri dengan gagah dan langsung menjawab pantun pak Handoko.
Harga minyak turun naik
Membuat para ibu enggan membelinya
Nasihat Pak Handoko adalah yang terbaik
Semoga kami bisa mewujudkannya
"Gilbert woooo"teriak Aldrina heboh sendir
"Hehe maaf pak spontan"balas Aldrina dengan cengiran
Seisi kelas pun memberikan tepuk tangan yang meriah pada Gilbert, menurut mereka Gilbert adalah orang yang sangat berperan penting untuk menciptakan suasana riuh di kelas. Pak Handoko tersenyum senang dan memberikan kedua jempolnya. Akhirnya mereka semua pun mendapatkan rapor mereka masing-masing dan melakukan kebersihan terlebih lagi besok di sekolah mereka akan ada acara perayaan natal.
Setelah selesai kebersihan ketiga gadis itu pergi ke kelas pujaan hatinya masing-masing. Mereka berencana untuk pergi ke mall untuk memberi beberapa cemilan, ketiga gadis itu berncana akan menginap di rumah Aldrina malam ini. Sebelum memasuki area kelas Dandra, Aldrina menarik nafasnya dalam-dalam agar tidak berkelahi dengan Olivia yang selalu membuat dirinya selalu jengkel.
"Wauw si tukang onar sekolah datang lagi"ucap Olivia dengan pandangan tidak suka
"Ya ya si centil keberatan banget"balas Aldrina yang melintas di depan Olivia
"Alah belagu banget, dulu Dandra sekarang Kenzo ketos baru juga lo embat"ucap Olivia membuat Aldrina naik pitam
"Sabar Drin sabar, ingat tujuan lo"batin Aldrina terus melanjutkan langkahnya
Olivia yang merasa diabaikan langsunng mendorong Aldrinadari belakang untung saja ada Dandra yang sudah memperhatikan Aldrina sedari tadi jika tidak mungkin Aldrina akan terluka lagi.
"Maksud lo apa Liv dorong-dorong Aldrina?"ucap Dandra tidak suka setelah membantu Aldrina berdiri tegap
"Eh eng...eng.. Enggak kok Dan, cuma becanda doang"ucap Olivia sedikit takut melihat Dandra yang terlihat marah
"Gue gak suka ya lo nyakitin pacar gue"ucap Dandra menekankan kata pacar
"Udah kak orang kayak dia gak usah diladenin"ucap Aldrina menarik tangan Dandra agara menjauh
"Gak usah belagu lo Aldrina emang yang gue omongin benar ya! Lo itu cewek gatel dulu Dandra sama Felix sekarang Kenzo pun lo buat dalam masalah hanya karna cewek gatau diri kayak lo"teriak Olivia yang membuat mereka menjadi tontonan siswa-siswi yang berada di sekitar mereka
"Masalah?"batin Aldrina
Kini gadis itu memutar langkahnya dan melepaskan tanggannya dari Dandra "Apa maksdudnya? Kenapa lo bilang gue buat Kenzo dalam masalah?"tanya Aldrina dengan menunjuk tepat di wajah Olivia
__ADS_1
"Lo gak liat muka Kenzo babak belur? Lo kira siapa yang buat? Selain pangeran-pangeran lo"ucap Olivia membuat Aldrina terdiam
Setelah mendengarkan perkataan Olivia, Aldrina berjalan mundur dan berlari menjauh meninggalkan kerumunan.
"Yes gue menang"batin Olivia tersenyum bangga
"Sialan lo Liv"umpat Dandra dan berlari mengejar Aldrina
Aldrina berlari ke kelas Felix yang saat ini sudah ada Luna disana yang sedang memohon pada dirinya. Kemudian Aldrina menarik sebelah tangan lelaki itu dengan paksa begitu juga Dandra yang menyusul. Sebelah tangan Dandra dan Felix dipegang Aldrina dengan wajah yang sudah memerah. Keduanya dibawa ke depan Kenzo yang baru saja selesai membersihkan jendela kelasnya.
"Gue mau kalian berdua minta maaf"ucap Aldrina di depan Kenzo yang membuat Dandra dan Felix melotot tidak percaya
"Apa? Ngapai gue minta maaf Drin gue gak salah"ucap Felix tidak terima terlebih lagi kini semua mata tersorot pada mereka
"Gue gak butuh alasan kalian, gue cuma mau kalian minta maaf"ucap Aldrina dengan penuh penekanan
Dandra yang sudah melihat Aldrina sangat marah langsung meminta maaf walaupun rasanya sangat sulit.
"Maaf udah mukulin lo kemaren"ucap Dandra dingin
"Kak Felix juga"ucap Aldrina semakin marah
"Iya iya gue minta maaf walau lo yang salah"ucap Felix tidak tulus sama sekali
"Yang benar kak"ucap Aldrina lagi
"Maaf bro udah mukulin lo kemaren tapi sekali lagi lo nyakitin Aldrina nyawa lo taruhannya"ucap Felix kini dengan wajah serius
"Gak nyangka dua jagoan Tunas Utama ditaklukkan oleh seorang gadis"batin Kenzo dengan senyuman sinis
"Oke gak masalah"ucap Kenzo memasang senyuman sinisnya
"Sekarang lo yang minta maaf ke gue"ucap Aldrina kini pada Kenzo yang masih memasang wajah sinisnya
"Gue gak merasa salah sama sekali"balas Kenzo yang membuat Aldrina menggelengkan kepalanya
"Gue pikir lo bisa berubah"ucap Aldrina pelan dengan wajah kecewa lalu meninggalkan Kenzo dengan membawa Felix dan Dandra dari sana
Luna pun mengekor ketiganya dari belakang. Aldrina menuntun mereka ke taman sekolah tempat awal yang sudah dijanjikannnya dengan sahabatnya.
"Aku tau kalian sayang sama gue tapi gak gitu, Olivia jadi punya bahan buat ngejatuhi gue"ucap Aldrina masih dengan perasaan kecewa
Aldrina merasa kecewa terlebih lagi kini mendapat pandangan seakan menjadi akar dari permasalahan, padahal dia hanyalah korban.
"Ya gak bisa gitu dong Drin, dia terlalu kasar sama cewek"ucap Felix tidak mau mengalah
"Trus kakak ikutan kasar adalah yang benar?"balas Aldrina
"Ah gataulah"ucap Felix sambil membuang muka
"Gue gak nyangka rasa sayang lo sama Aldrina masih sebesar itu Lix"batin Luna merasa sedih
"Udah dong kakak-kakak gak usah debat lagi, gimana kita langsung pergi aja?"ucap Shirene mengalihkan topik
"Setuju"sambung Lucas sang kekasih
"Gak mau malas"balas Felix
"Ayolah kak"ucap Aldrina dengan pupply eye
"Tadi marah sekarang mohon-mohon"ucap Felix dengan sindiran
"Yah yaudah kalo tega sama Luna gak punya pasangan, yah kan sayang"ucap Aldrina sambil mengedipkan matanya pada Dandra
__ADS_1
Dandra yang melihat perubahan sikap Aldrina yang begitu cepat hanya bisa tersenyum sambil mengangguk. Felix pun meilhat Luna, ada peraasan tidak enak akhir-akhir ini yang dirasakannya jika menolak perkataan Luna hanya saja Felix selalu gengsi karena sudah terlalu lama mengabaikan Luna. Dengan banyaknya drama yang terjadi akhirnya ketiga pasangan itu pergi ke mall dengan kendaraan masing-masing.