
"Kadang aku berpkir begitu banyak rahasia yang aku temukan tapi aku hanya bisa berpasrah sampai rahasia itu terbongkar dengan sendirinya"
\~\~LYSM\~\~
Sesampainya di rumah Aldrina di sambut Bimo yang masih menggunakan pakaian kampus lelaki itu menidurkan dirinya di sofa.
"Eh monyet udah pulang?"tanya Bimo ketika melihat Aldrina memasuki rumah
"Eh kakaknya monyet kapan pulang?balas Aldrina balik bertanya
Bimo memasang wajah kesalnya "Nyet lo masih utang balasan dari gue ya"
"Balasan? Balasan apa kak? Cinta? Aduh maaf kak jangan gila kita itu saudara kandung lagian hati aku udah milik kak Dandra"
"What? Mimpi jangan di siang bolong nyet, udah sini dulu!"
Aldrina mengerutkan dahinya "Utang apaan ya?"batin Aldrina yang sudah lupa telah mengerjai Bimo tadi pagi
Tanpa pikir panjang Aldrina langsung mendekatkan diri kearah Bimo, Bimo pun langsung beraksi dan langsung menangkup kedua pipi adiknya dan memberikan ciuman bertubi tubi.
"Ah ih ih kak Bimo udah ih! Jorok banget ih"ucap Aldrina sambil susah payah menjauh dari Bimo
"Syukurin siapa suruh ngerjai kakak pagi tadi hm?"tanya Bimo sambil merangkul Aldrina agar tidak kabur
"Hehe abisnya kakak sih bawel banget! Kakak tau gak karna hari ini aku sama kak Dandra serasa pangeran dan putri liat deh foto kami"ucap Aldrina sambil memamerkan fotonya dengan Dandra pada Bimo
"Hmm semua orang juga udah tau"balas Bimo malas
"Lah tau darimana?"
Plak
"Aww sakit kak"
"Biarin sok lupa lagi! Gue udah liat di IGmu nyet"
"Hahaha oh iya juga ya kak, lupa" tawa Aldrina lepas membuat Bimo menggelengkan kepalanya
"Oh iya kak, papa udah pulang?"
"Ini baru pulang sayang"ucap Gandhi dari ambang pintu
"Eh papa"ucap Aldrina lalu spontan berlari mendekati Gandhi dan memeluk ayahnya
"Kenapa? Tumben meluk gini? Ada maunya yah putri papa?"ucap Gandhi sambil menyambut pelukan hangat putrinya
"Haha tau aja sih papa ayo pa duduk dulu biar aku cerita"balas Aldrina sambil menarik tangan Gandhi
"Awas lo kak! Ada bisnis nih"ucap Aldrina pada Bimo yang kembali tiduran di sofa
"Ih apasih nyet itu disitu kan masih ada!"
"Tapi aku maunya disini kakakku sayang"
Bimo menghela napasnya lalu mengalah dan pindah ke sofa yang ada di sebrang "Udah puas?ucap Bimo ketus
"Banget kak"
__ADS_1
Gandhi yang melihat kedua anaknya adu mulut hanya bisa tersenyum lalu mengikuti Aldrina duduk disamping putrinya.
"Pertama aku mau nanya siapa nama bunda, Pa?"
DEG
Bimo dan Gandhi saling lempar pandang mendengar ucapan Aldrina bagaimana tidak mereka sudah lama mengubur informasi Kaylee karna trauma berat yang dialami Aldrina lagi-lagi putrinya mengulangi pertanyaannya tapi untuk alasan apa kali ini? Ntahlah hal itu membuat detak jantung Gandhi tidak menentu.
"Untuk apa itu nak? Papa kan sudah pernah bilang papa belum memberitahumu untuk saat ini"
Aldrina menghela napas "Okey tapi alasannya kenapa? Kenapa papa gak mau ngasih tau Aldrina sih?"
"Aldrina sayang ayolah mengertilah keadaan papa"
"Papa selalu aja bilang gitu kalo Aldrina paksa"ucap Aldrina kini dengan wajah sedihnya
"Maaf nak"
"Kalo begitu yang kedua, papa sama bunda punya sahabat yang sama gak?"
Lagi lagi pertanyaan putrinya membuat Gandhi heran mengapa hari ini Aldrina menyerbu dirinya dengan berbagai pertanyaan diluar dugaan.
"Punya sayang, kenapa kok tiba-tiba nanya itu sama papa?"
"Nah ini intinya yang ketiga, kapan papa punya waktu luang buat ketemuan sama om"
"Om?"
"Aduh pa, Aldrina lupa lagi nanya nama om siapa, soalnya beliau itu ayahnya Dandra pa katanya sahabat papa sama mama"
"Apakah Barley? Wah sudah lama aku tidak mengenal sobatku ini terlebih semenjak dia terpaksa memecat Kaylee, pantas saja dengan kehadiran Dandra di hidup Aldrina aku merasa aman"batin Gandhi yang akhirnya tau alasan Aldrina menyerbu dirinya dengan berbagai pertanyaan
"Ma maaf sayang papa hanya mencoba mengingat, papa dan bundamu memang punya satu sahabat yang sama namanya Barley tapi papa tidak tau orang yang kamu maksud adalah dia"
"Oooh nama om Barley"batin Aldrina
"Biar lebih pasti apa papa punya fotonya?"
"Mampus, kami tidak pernah berfoto berdua selalu ada Kaylee di foto kami, aku tidak mungkin memberitahu Aldrina sekarang aku takut traumanya akan kambuh"batin Gandhi khawatir
"Ih papa melamun mulu gak seru!"ucap Aldrina ngambek lalu melipat kedua tangannya di depan dada
"Maaf putri papa jangan ngambek dong! Udah udah sini"ucap Gandhi sambil menarik Aldrina mendekat
"Sayang kamu bisa mengatakan padanya untuk menemuiku besok iyah besok, ayah punya waktu kosong seharian penuh besok"balas Gandhi agar Aldrina melupakan keinginannya untuk melihat foto Barley
"Yah lebih cepat lebih baik, aku harus mengatakan pada Barley untuk jangan sering mengungkit Kaylee di depan putriku"batin Gandhi
"Oke siap bos"ucap Aldrina dengan wajah sumringah dirinya sudah melupakan apa yang membuatnya sedih tadi
"Satu lagi pa tapi kalo ini harus harus harus banget dijawab dan dituruti"uacp Alddrina sambil menangkup kedua tangannya memohon
Gandhi mengerutkan dahi "Jika yang aneh-aneh papa gak bisa janji nak"
"Gak aneh kok pa cuma butuh ijin dan bantuan papa"
"Yasudah katakan dulu"
__ADS_1
"Jadi gini pa aku belum cerita ini ke papa tapi ke kak Bimo udah kok itu pun karna aku nangis segugukan sih hehe"
"Pa kan kak Dandra tahun ini dipercaya sekolah jadi utusan yang nerima beasiswa ke luar negeri buat kuliah tepatnya di London Pa sebenarnya aku gak rela pa tapi demi masa depan yang cerah Aldrina siap pa"
"Terus?"tanya Gandhi yang fokus mendengarkan putrinya
"Terus kak Dandra liburan ini mau ke London ngurus segala keperluan disana, boleh gak Aldrina ikut nemenin pa? Sekalian biar Aldrina tau aman atau enggaknya daerah yang bakal ditinggal kak Dandra, Aldrina gak tenang pa kalo belum tau, ya ya pa?"
Gandhi kembali mengedarkan pandangannya pada Bimo dan putranya itu mengangguk bahwa dirinya mengizinkan adiknya pergi "Ada syaratnya"jawab Gandhi dengan penuh pertimbangan
"Apa pa?"
"Kakak kamu harus ikut"
"Yes rencana aku berhasil"batin Aldrina sambil senyum-senyum sendiri
"Aldrina? Kok jadi senyumsenyum sendiri kamu nak?"
"Hehe gapapa pa, Aldrina boleh gak ajak teman-teman juga?"
"Boleh itu terserah kamu sayang, tapi kalian kalau di negara orang harus hati-hati gak boleh sembarangan"
"Siap pa Aldrina paham kok,oh iya pa kan teman-teman Aldrina ada yang belum punya paspor papa bisa bantu kan pa buat urus?"
"Pasti sayang apa yang tidak untuk putri papa satu-satunya dan untuk lebih menjamin keselamatan kalian nanti naik pesawat pribadi kita ya sayang"
"Serius? Boleh pa?"
"Tentu saja boleh dan jika tidak ada tempat untuk tinggal papa bisa urus semuanya untuk kamu"
"Wah makasih banyak papaku sayang kalo untuk tempat tinggal kak Dandra udah ada kok pa"
"Baguslah kalo begitu, papa percaya kalian bisa jaga sikap disana terlebih bakal ada Bimo yang akan mengawasi kalian disana"
"Iya pa iya tenang aja aman, sekali lagi makasih banyak pa"jawab Aldrina sambil memberi kecupan singkat di kedua pipi Gandhi
"Gue gak dicium juga nih? Kan karna gue lo di izinin kalo gue gak mau gak mungkin ada izin bukan?"ucap Bimo menggoda adiknya
"Idih tadi aja kakak marah gue cium"omel Aldrina
"Gimana gak marah nyet lo nyium pake lipstik! Susah hilang pula"
"Blekk emang enak"ejek Aldrina sambil menjulurkan lidahnya
"Gue ngambek, gue gak mau ikut"
"Pa liat kak Bimo"rengek Aldrina
"Hahah Bimo jangan goda adik kamu"
"Biar pa habisnya ngeselin"
Aldrina semakin menempel ke Gandhi meminta pertolongan "Udah udah itu urusan kalian, papa udah lapar kita makan dulu"
"Ih papa mah gitu yaudah deh kasihan cacing papa nanti demo"
"Hahaha iya sayang kamu tau aja, ayo Bimo bangun dari tidurmu"
__ADS_1
"Oke siap pa"
Ketiganya pun berlalu menuju meja makan, disana sudah tertata rapi makanan yang akan mereka makan. Tidak lupa Aldrina menyendokkon nasi kedua orang yang paling dicintainya di dunia, mereka pun berdoa yang dipimpin oleh Gandhi lalu makan dengan khikmat. Malam ini Aldrina sangat senang sekali selain bertemu dengan calon ayah mertuanya dia juga mengetahui bahwa ibunya memiliki sahabat terlebih lagi karna saat ini mereka bisa makan bersama di meja makan hal yang paling disukai Aldrina selama tinggal di rumah.