
"Aku menyukaimu dan juga keluargamu sungguh ini adalah kebahagiaan bagiku"
LYSM
Kenzo terus saja berjalan menjauh dari rumah setidaknya matanya tidak akan melihat Nadya lagi untuk sementara, setiap kali ada Nadya pasti hanya ada amarah dan kebencian yang dirasakan Kenzo. Lelaki itu berhenti di sebuah taman yang tidak jauh dari rumah.
Angin berhembus menerpa wajah tampan Kenzo yang terlihat melamun samar-samar mata Kenzo seakan melihat Aldrina, yah pikirannya teralihkan pada kejadian di atap sekolah saat dimana Aldrina yang seharusnya membencinya justru memberi pelukan hangat yang entah kenapa bisa membuat hatinya yang membeku seolah mencair, berbeda dengan wanita yang disebutnya ibu selama ini.
"Hah lucu sekali bahwa wanita yang aku jahati justru tidak membenciku sedangkan mama ah entahlah apa dia masih bisa kusebut mama"ucap Kenzo pada dirinya sendiri
"Kejadian itu bukan salahku! Itu semua hanya kecelakaan yang sudah Tuhan ditakdirkan kenapa aku harus menderita kenapa kenapa, arrrggh" teriak Kenzo frustasi untungnya taman itu tidak terlalu ramai
***
Aldrina sudah sampai di depan rumahnya gadis itu turun dari motor diikuti Dandra dibelakang membuat Aldrina terkejut setelah menyadari Dandra mengekorinya.
"Eh"ucap Aldrina terkejut dengan mata yang sedikit melotot
"Eh kenapa sayang? Ada yang salah?"tanya Dandra dengan dahi yang berkerut
"Eng enggak sih tapi kenapa kakak turun dari motor?"
"Emang gak boleh?"
"Yah boleh aja sih tapi ini kan udah sore kak"
"Ya gapapa dong gak ada yang larang juga"ucap Dandra sambil mengelus puncak rambut Aldrina
"Hmm yaudah deh kalau gitu ayo masuk"
Keduanya pun memasuki rumah setelah melihat kearah TV yang ada diruang tamu Aldrina paham alasan Dandra tidak langsung pulang karna disana terdapat dua lelaki paruh baya yang sedang bersaing main PS membuat Aldrina heran padahal Gandhi tidak pernah bermain PS sama sekali baik sendiri maupun bersama Bimo kakaknya.
"Pantesan kak Dandra ikutan masuk mau jemput om ternyata"batin Aldrina sambil melirik Dandra
"Gak usah dilirik-lirik gitu dilihat fokus gak ada yang marah"ucap Dandra menggoda
"Hahaha ah resek lo kak"ucap Aldrina sambil memukul pelan pipi Dandra
"Astaga Aldrina jahat"ucap Dandra dengan memayunkan bibir
"Ih gemes banget sih kak kapan sih belajar pasang wajah imut gitu"ucap Aldrina sambil mencubit gemas pipi Dandra
"Ehm"
"Eh papa"ucap Aldrina kaget sambil melepas tangannya yang ada di pipi Dandra
__ADS_1
Tanpa mereka sadari Gandhi dan Barley sudah berada di depan mereka dan menatap interaksi keduanya.
"Hebat anakmu Dhi bisa mencairkan anakku yang sangat sangat pendiam ini kau tau aku saja dulu sangat jarang mendengar suaranya"ucap Barley memuji Aldrina membuat Aldrina tersenyum girang sementara Dandra terlihat merona
"Hmm iya Ley benar yang kau bilang tapi aku jadi kasihan sama Dandra soalnya purtiku ini tidak bisa diam sama sekali"ucap Gandhi membuat Aldrina tertawa
"Hahaha apasih papa ngomongnya suka betul deh"ucap Aldrina sambil menepuk pelan bahu Gandhi membuat lelaki itu mengerutkan dahinya
"Kau lihat Ley bukannya malu dia malah membenarkan ucapanku"ucap Gandhi sambil menggelengkan kepalanya
"Tidak apa-apa Dhi justru itu sangat bagus membuat Dandra mau tidak mau harus menyesuaikan diri"
"Udah dong pa jangan ledekin aku mulu lihat wajah kak Dandra sudah ingin meledak sangkin merahnya"ucap Aldrina sambil menyentuh pipi Dandra
"Astaga Aldrina kamu ini perempuan agresif sekali"tegur Gandhi lalu menarik tangan putrinya
"Tidak apa-apa om saya maklum, yaudah om saya dan papa permisi pulang dulu, iya kan pa?"ucap Dandra sambil meminta persetujuan Barley
"Ya ya ya baiklah, kami pulang dulu Dhi tapi ingat kapan-kapan kau harus berkunjung ke rumahku dan aku akan memperkenalkan istriku padamu"
"Ia iya itu sudah pasti Ley salam yah sama istrimu"
"Baik akan aku sampaikan, kami permisi dulu Dhi nak Aldrina"
"Iya " "Iya om hati-hati ya"ucap Gandhi dan Aldrina serempak
"Pa Aldrina naik dulu yah mau mandi"
"Iyah sayang papa juga mau ke kamar"
Gandhi memasuki kamarnya lalu mengunci pintu rapat-rapat, dirinya mendekati tempat tidur tepat dibawah bantal lelaki itu mengambil sebuah bingkai foto, ya itu foto Kaylee yang sedang tersenyum bahagia tidak terasa air mata mengalir begitu saja.
"Sayang maaf aku hanya bisa melihatmu diam-diam seperti ini"ucap Gandhi dengan suara yang bergetar
"Sayang jika kamu masih disini pasti pasti kau sangat senang sayang"ucap Gandhi lagi dengan air mata yang terus saja berjatuhan
"Kamu tau sayang setelah 20 tahun lamanya aku berjumpa lagi dengan Barley, kamu ingatkan? Sahabat kita sekaligus lelaki yang kamu tolak dulu waktu sangat cepat berlalu sayang dia juga sudah mencintai istrinya bahkan memiliki anak laki-laki yang sangat tampan"ucap Gandhi sambil mengelus foto yang terbingkai itu
"Aku pikir kami tidak akan bertemu lagi namun takdir memang sangat hebat sayang, aku tau kamu dulu sangat sedih saat membuat Barley patah hati, kamu mati-matian menyembunyikannya dariku padahal dari raut wajahmu semua sudah tecetak jelas sayang"ucap Gandhi seolah sedang berbicara dengan Kaylee
"Iya takdir sangat hebat dengan membuat anak kita jatuh hati pada anaknya Barley sayang, sudahlah pasti kamu yang lebih tau sayang karna kamu selalu memantau kami, aku aku besyukur memilikimu dihidupku sayang walau saat ini kamu sudah tiada"ucap Gandhi lalu mengecup foto itu berkali-kali
Setelah puas berkeluh-kesah dengan foto istrinya Gandhi kembali meletakkan foto dibawah bantal, dia tidak mau Aldrina melihat foto itu untuk saat ini setidaknya Aldrina harus lebih dewasa lagi untuk mengetahui semuanya. Sementara Aldrina yang sudah selesai mandi kini merebahkan tubuhnya di kasur, gadis itu kembali melihat foto-foto yang diiambil di rumah Kenzo tadi.
"Hahaha kak Kenzo lucu banget sih"ucap Aldrina setelah melihat wajah datar Kenzo di setiap foto yang diambil
__ADS_1
"Eh tunggu-tunggu dilihat-lihat ibu tadi kok kayak mirip sama Mulan sih ah tapi gak mungkin deh, masa mama mereka menggunakan pakaian mewah kayak tadi itu kan mahal"ucap Aldrina dengan dahi yang berkerut
"Kalau itu mamanya pasti kak Kenzo gak perlu lagi dong buat kerja kesana kemari bahkan sampai ngamen di taman seperti waktu itu" Ya benar dibalik keangkuhan Kenzo, Aldrina sangat bangga pada lelaki dingin itu karna dia sangat bertanggung jawab pada adiknya sendiri
"Tapi sayang yah tadi waktu ke rumah kak Kenzo aku gak jumpa sama mamanya mereka, aku pengen tau seperti apa beliau"ucap Aldrina penasaran
Setelah puas memandangi foto itu Aldrina memutuskan untuk menyimpan ponselnya lalu mencoba menidurkan dirinya tanpa sadar gadis itu sudah memasuki alam mimpi.
Dandra dan Barley sudah sampai di rumahnya, disana mereka sudah disambut dengan hangat oleh Shelly yang sedang mengurus bunga-bunga yang ada di pekarangan rumah.
"Eh ada anak mama udah pulang, gimana tadi jalannya sama Aldrina sayang?"ucap Shelly dengan lembut pada Dandra yang mendekatinya
Belum semput menjawab Barley memprotes istrinya "Dandra aja sayang? Aku gak kamu tanya lagi"ucap Barley dengan wajah yang cemberut
"Ih kamu apaan sih mas udah gede kelakuan kayak anak kecil"
"Hahahah tapi kamu suka kan? Cup"ucap Barley lalu mendaratkan kecupan singkat di pipi istrinya
"Astaga pa gak malu diliatin anak"ucap Shelly yang merona
"Hahaha gapapa kok ma, yaudah Dandra masuk dulu ya"ucap Dandra dengan wajah bahagia lalu memasuki rumah
"Pa lihat anak kita banyak berubah kan? Aku senang sekali melihatnya seperti ini"ucap Shelly sambil melihat punggung Dandra yang semakin menjauh
"Iya sayang papa juga senang melihat anak kita seperti itu"ucap Barley sambil merangkul pinggang Shelly
"Ayo kita masuk sayang"lanjut Barley lagi
"Iya mas sebentar dulu"
"Pak Jodi"teriak Shelly memanggil tukang kebun yang tidak jauh dari mereka
"Iya saya nyonya"ucap Jodi dengan sopan padahal usianya jauh lebih tua dari Shelly
"Ini pak bunga-bunganya yang lain sisanya dirapikan ya pak, sama mau masuk dulu sama suami saya"
"Baik nyonya saya mengerti"
"Oke pak kami tinggal dulu, ayo mas kita masuk"
Sepasang suami istri itu pun masuk kedalam rumahnya sambil bercerita dengan penuh tawa karna sesekali Barley membuat lelucon. Dandra yang sudah ada di dalam kamarnya merebahkan tubuhnya di kasur wajahnya tersenyum bahagia melihat ibunya sangat bahagia tadi, walaupun sang ibu sering ditinggal ayahnya itu tidak mengurangi rasa sayang dan cintanya pada suaminya.
Padahal dulu bagi Dandra ayahnya adalah ayah yang kurang perhatian, namun sekarang Dandra mulai paham dan menerima semuanya walaupun sang ayah jarang berada di rumah tapi tidak sedikit pun mengurangi rasa cintanya pada istrinya.
"Semoga mama dan papa bahagia selalu, aku akan menjadi anak yang berbakti pa ma"ucap Dandra sambil memandang keatas
__ADS_1
"Semoga nanti aku bisa seperti papa membuat Aldrina bahagia dan bangga berada disisiku"ucap Dandra mantap mengingat pujaan hatinya
***