Love You So Much

Love You So Much
Bagian 43 (Kesialan yang Berujung Kebahagiaan)


__ADS_3

Tiba-tiba saja ada kertas yang mendarat ke kepala Aldrina dan jatuh ke lantai. Aldrina tetap tenang lalu melihat pengawas.


"Oke aman"batin Aldrina


Kemudian melihat ke belakang dan terlihat Gilbert seakan berinteraksi padanya, Aldrina yang melihat itu tersenyum manis dan menggerakkan mulutnya mengucapkan terimakasih.


"Aldrina apa itu? Kenapa kamu melihat ke belakang?"kata pengawas tiba-tiba yang membuat jantung Aldrina lompat seketika


"Aa aa anu bu saya mau minjem tipek"kata Aldrina langsung mengambil tipek yang ada di meja belakang


"Oh yaudah lain kali bawa perlengkapan masing-masing"kata pengawas memaklumi


"Huh hampir aja"batin Aldrina mengelus dadanya


Kemudian Aldrina melihat pengawas lagi dan mengambi kertas yang dilemparkan Gilbert tadi. Shirene yang melihat Aldrina langsung saja berbisik.


"Jawaban?"tanya Shirene


Aldrina mengangkat bahu dan sekali lagi melihat ke pengawas. Ketika Aldrina merasa cukup aman, Aldrina membuka gulungan kertas itu.


"Makanya belajar HAHAHAH"


Ukuran kertas yang cukup lebar dan  sekali mebaca itu membuat Aldrina ingin sekali memakan Gilbert hidup-hidup. Gilbert teratawa tanpa suara, dia berhasil lagi mengerjai Aldrina yang begitu berharap isi kertas adalah jawaban.


"Gilbert kamu kenapa lagi? Apakah soalnya sesulit itu membuat otakmu bergeser"kata pengawas begitu nyaring


"Ha? Hahahaa kurasa iya bu"balas Gilbert dengan cengengesan


Pengawas gelen-geleng "Sudah jangan sampai gila kerjakan saja semampu anda"


"hehe baik bu"balas Gilbert sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal


Lalu mengarahkan pandangannya pada Aldrina yang kini sudah memasang tatapan membunuh pada dirinya. Gilbert berpura-pura tidak melihat Aldrina dan kembali mengerjakan soal ujian.


Waktu tidak terasa berlalu begitu saja dan akhirnya Aldrina bebas dari ujian hari ini, Aldrina yakin pasti hasilnya akan begitu mengecewakan setidaknya tadi Aldrina bisa menjawab pelajaran Penjaskes. Aldrina menghela nafas lalu mengumpulkan barang-barangnya begitu juga Shirene yang berada disampingnya.


Aldrina teringat kejadian semalam lalu memicingkan matanya "Kemana lo mut semalam?"tanya Aldrina memulai interogasi


Shirene tampak berpikir "Yang penting lo jumpa kak Dandra kan?"jawab Shirene bertanya kembali


Awalnya Aldrina memasang wajah datar lalu tersenyum lebar dan memeluk Shirene begitu erat


"Aaa aw aw oi Drin kekencangan"kata Shirene sulit bernapas


"Hahha maap-maap"balas Aldrina lalu melepas pelukannya


"Gue mau juga dong dipeluk kakak Aldrina"seru Gilbert yang sudah berjalan menggendong tasnya


Mendengar suara Gilbert membuat Aldrina langsung berbalik badan dan ingin segera menerkam Gilbert. Untung Gilbert cepat membaca situasi dengan belari sekencang mungkin meninggalkan kelas.


"Ada singa betina"teriak Gilbert sebelum benar-benar menghilang

__ADS_1


Aldrina mendengus kesal "Hahaha uda uda Drin gak usah dimasukin ke hati emang si Gilbert orangnya jahil"kata Tian menghampiri


"Ihh bukan gitu Tian dia resek banget sumpah lebih resek dari Jery yang selalu buat Tom marah, pengen gue makan idup-idup tuh orang"omel Aldrina


"Hahaha tapi setidaknya kamu gak selemas kemaren-kemaren kan"balas Tian dengan mengelus puncak kepala Aldrina secara tiba-tiba


Aldrina menggerakkan kepalanya risih "Oh sorry-sory gak maksud! Gue duluan ya udah ditunggu Gilbert di depan"


"Yoai"Jawab Shirene


"Iya bilang ke dia awas aja kalo jumpa sama gue"kata Aldrina mengucapkan kalimat ancaman


"Hahha oke"


Tian pun melenggang pergi dan meninggalkan kelas. Sementara Luna masih ada di dalam dan langsung menghampiri Aldrina.


"Gimana keadaanmu?"tanya Luna tanpa basa-basi


"Ya lo liat sendiri"jawab Aldrina cuek


Luna tersenyum samar dan langsung mendekap Aldrina, sudah lama Luna ingin melakukan ini. Luna sadar semua yang dilakukannya selama ini hanyalah membuat jarak mereka semakin jauh. Aldrina yang dipeluk Luna langsung memasang wajah heran dan bertanya pada Shirene.


"Kenapa?"tanya Aldrina tanpa suara yang dijawab dengan mengangkat bahu oleh Shirene


"Maaf Drin gue egois"


"Baru sadar?"kata Aldrina dengan nada yang mengesalkan


"Iss Drin gue mau ngajak damai bisa gak sih nada suaranya engga gitu!"seru Luna sedikit kesal


"Maaf juga Lun gue nyerah memperbaiki hubungan kita"kata Aldrina dengan suara yang mulai serak


Shirene yang berada disitu hanya berusaha membaca situasi dan tersenyum mungkin ini adalah awal yang akan membuat keduanya bisa bersama lagi.


"Gue tau Lun selama ini lo juga mederita banget karna gue tau lo gak bisa apa-apa tanpa gue kecuali belajar ya"kata Aldrina lagi yang membuat Luna semakin kesal


Aldrina melepas pelukannya dan menyeka air matanya "Kita gak perlu menjelaskan situasi masing-masing apa pun lo dulu gue ngerti karena lo terlanjur kecewa ke gue Lun, gue bahagia setidaknya lo masih mau temenan sama gue"


"Kok temenan sih?"kata Luna mulai bermanja dengan memayunkan bibirnya


"Hahha iya sahabatan"balas Aldrina lalu merangkul Luna dan juga Shirene


"Gu gue ikutan nih?"tanya Shirene sedikit kikuk


"Iya dong mut"jawab Aldrina mantap


Ketiganya pun tertawa bersama "Eh gue juga minta maaaf sama Shirene selama ini gue ketus banget sama lo, itu semua karn..."


"Karna gue rebut Aldrina dari lo? Yaudahlah Lun gue ngerti kok, sans aja"balas Shirene dengan senyum imutnya


Ketiganya pun berjalan bergandengan keluar sekolah dengan perasaan bahagia masing-masing, momen ini sesaat bisa membuat Aldrina melupkan sosok Dandra yang selalu mengisi pikirannya.

__ADS_1


"Eh Lun"kata Aldrina saat berjalan


"Hem?"


"Gue mau nanya nih, bukannya bermaksud nyinggung ya! Kenapa lo tiba-tiba jadi mau damai ke gue? Secara selama kemaren-kemaren gue mau damai lo malah ngibarin bendera perang!  Sekali lagi bukan maksud nyinggung nih"


"Iya Drin iya, ya gue merasa bersalah banget sih sama lo"


"Karna?"tanya Aldrina lagi sementara Shirene hanya menjadi pendengar


"Jadi waktu itu... Ketika Tian nelpon gue tentang seragam lo gue tau sebenarnya kejadiannya. Jadi ada 2 orang cewek yang masuk ke kelas kita dan bongkar lemari elo gue juga bingung sih mereka tau darimana itu lemari lo sementara lemari kan gak ada dikasi label nama kan? Terus gue ngintip tuh terus sampai mereka berhasil ngambil tuh seragam dan ngasih seragam elo ke cewek yang mencelakai lo kemaren Drin! Kalo gue tau bakalan kayak gitu gak bakalan gue tinggal diam Drin, gue... gue gak bermaksud sejahat itu Drin"suara Luna mulai serak


"Ahhh iya iya paham udalah Lun gak usah nangis ah cengeng banget lo, iya kan mut?"kata Aldrina mencoba mengerti


"Iya tau tuh tapi iya sih Lun kalo lo ngasih tau ke kita pasti kejadiannya gak separah kemaren"kata Shirene memberikan opininya


"Iya gue tau makanya gue merasa bersalah banget, sempat lo kenapa napa Drin mungkin gue bakalan nyusul"kata Shirene


"Ih gila! Jangan aneh-aneh lo"seru Aldrina dengan nada marah


"Yaudalah guys kok jadi melo gini sih kita, yang penting semua berlalu dan kita semua dame-dame, iya kan?"kata Shirene agar mereka tidak bersedih lagi


"Hahah iya tumben pinter mut, teringatnya lo dijemput?"tanya Aldrina ketika mereka sudah di dekat gerbang sekolah


"Oh iya Drin, tadi mama bilang mampir bentar yaudah gue duluan ya guys"kata Shirene berpamitan


"Oke oke hati-hati salam sama nyokap lo mut"balas Aldrina


"Duain"tambah Luna


"Oke-oke siap, hati-hati juga kalian"


Sesudah Shirene menghilang dari pandangan mereka.


"Itu dia single parent juga kek gue bedanya dia punya mama gue punya papa"


"Oooh gitu pantas gue gak pernah lihat eh maksudnya jarang lihat kalian pulang bareng selalu pisah kekgini"


"Cie yang merhatiin gue mulu, jangan-jangan lo udah suka sama cewek sekarang?"goda Aldrina yang membuat Luna kesal


"Ih gaklah masih sama dengan perasaan yang sama"


"Iss dasar bucin"


"Gue? Bucinan elo lah ke kak Dandra"


Mendengar itu membuat Aldrina memasang wajah murung, Luna yang menyadari perubahan wajah Aldrina langsung mengalihkan topik "Gimana kalo lo ke rumah gue?"


"Serius? Boleh nih?"tanya Aldrina tampak berbinar


"Haha ya seriuslah bunda juga uda rindu banget sama lo"

__ADS_1


"Yauda let's go"balas Aldrina semangat 45 kembali


Keduanya menaiki mobil jemputan Luna. Aldrina sudah mulai membayangkan betapa nikmatnya masakan Mira ibu Luna yang sangat dirindukannya. Dulu Aldrina menganggap Mira adalah ibunya namun sejak perpecahannya dengan Luna, Aldrina tidak pernah lagi berkunjung ke rumah Luna.


__ADS_2