Love You So Much

Love You So Much
Bagian 49 (Gilbert mengulah lagi)


__ADS_3

Minggu untuk ujian semester pun akhirnya selesai, bisa terlihat wajah yang begitu ceria diantara seluruh siswa SMA TUNAS UTAMA terlebih lagi libur pergantian semester akan datang dan juga tiap tahunnya sekolah akan mengadakan perayaan natal.


Walaupun perayaan natalnya tidak terlalu meriah tetapi sekolah TUNAS UTAMA selalu melakukan kegiatan natal setiap tahunnya dan diakhiri dengan makan bersama di sekolah.


Aldrina sekarang terlihat membereskan bukunya dan kembali ke posisi awalnya duduk karena ujian sudah selesai. Sebelumnya setengah dari mereka bertukar ruangan dengan anak kelas lain jadi selama ujian Aldrina tidak duduk bersama dengan Shirene.


Shirene yang sudah berada disamping Aldrina "Eh Drin kapan nih kita balikin buku semester 1 ke perpus?"tanya Shirene membuka topik pembicaraan


"Lah iya yah harus dibalikin gue hampir lupa, lagian juga novel yang kemaren aku pinjam belum sempat aku balikin sih mut"


"Nah untung gue ingetin, berguna kan gue"kata Shirene begitu bangganya


"iyain aja Drin biar senang dia"sindir Luna yang tiba-tiba nimbrung


"Apa sih Lun gak bisa lihat gue senang aja"rengek Shirene dengan mengerucutkan bibirnya


"Lah lah siapa bilang ga bisa? Buktinya malam waktu itu gue bahagia banget lihat elo dinyanyiin sama kak Lucas serasa di filem filem suer deh"sindir Luna mengingat malam mereka semua berkumpul di cafe


"Hahah sialan loh Lun, ngejeknya langsung banget tepat sasaran gitu"kata Aldrina sambil tertawa


Mendengar perkataan Aldrina, Luna pun ikut tertawa menyisahkan Shirene yang sudah memerah wajahnya karena malu. Gilbert yang baru saja datang dari luar pun langsung bertingkah sesukanya. Yang membuat pembicaraan ketiganya terhenti.


"Eh ini kotak pensil lo baru Drin? Wih cakep tapi warna biru! Ini mainan tas mu juga baru ya? Yah tapi biru juga"kata Gilbert memegangi barang Aldrina sambil memasang mimik wajah yang berubah-ubah


Padahal wajah Aldrina sudah terlihat ingin memakannya namun Gilbert hanya bertingkah seolah tidak peduli.


Kemudian Gilbert beralih melihat ke barang Shirene yang tepat berada disamping Aldrina "Nah ini mainan tasnya sama cuma warnanya beda"kata Gilbert memperhatikan mainan tas dari Shirine


"Ya emang belinya sama"komentar Shirene menanggapi


"Wah gak benar nih kalian beli barang sama gitu?Buat gue mana?"tanya Gilbert seakan dirinya begitu penting bagi mereka


"Yee si kambing! Anda bukan siapa-siapa diantara mereka udah sini jangan ganggu"kata Tian yang baru datang sambil merangkul Gilbert agar menjauh dari gadis-gadis itu


"Tunggu bro gue gak terima diginiin"kata Gilbert seolah sedih dan menepis tangan Tian dari bahunya


Aldrina yang sedari tadi menahan emosi pun akhirnya mengeluarkan suaranya yang sudah dicoba untuk tidak keluar.


"Mau gue tabok lo Bert? Gue masih dendam yah sama lo perkara ujian kemaren! Gak usah betingkah deh"omel Aldrina yang mulai panas


"Yah marah yah marah hahah, nah elo bodoh emang gue pernah punya otak? Ngapai coba berharap itu jawaban! Salah elo lah bukan gue"jawab Gilbert tidak mau disalahkan


"Kok salah gue? Yah gue kira elo dapat jawaban dari Tian dan malaikat Gabriel datang sama lo makanya mau berbagi ke gue"kata Aldrina dengan polosnya


"Apaan! Yah salah lo lah, bodoh"tambah Gilbert lalu menoyor kepala Aldrina lumayan kencang


Tanduk kepala Aldrina pun seakan keluar dan kembali ingin menerkam Gilbert hidup-hidup layaknya singa betina


"Awas-awas Tian, kasih jalan ke gue bro ada singa betina lepas"seru Gilbert mengambil ancang-ancang kabur


"Sini lo kalo berani kampret! Awas Tian kalo enggak elo yang gue pukul nih"omel Aldrina saat melihat Gilbert yang bersembunyi dibalik tubuh Tian


"Sabar Drin sabar"kata Tian mencoba menenangkan Aldrina


"Gak ada kata sabar! Gimana mau sabar dia cari perkara mulu! Awas"Aldrina pun mendorong tubuh Tian yang menutupi Gilbert untung saja Gilbert langsung sigap dan masih berhasil lolos dari Aldrina


Keduanya pun kejar-kejaran layaknya pencopet dikejar polisi sampai semua penghuni kelas membuat keduanya menjadi tontonan.


"Udah Lun, Tian kalian balek aja ke bangku kalian! Palingan mereka kalo udah capek berhenti"kata Shirene sambil menghempaskan tubuhnya ke bangku kekuasaannya


"Iya Lun, benar yang dibilang Shirene kembali ke dunia nyata kuy"seru Tian dan berjalan menuju mejanya

__ADS_1


Luna pun mengangguk dan berjalan mengikuti Tian.


Sebelum semua siswa pulang semuanya harus kembali dulu ke kelas masing-masing karena wali kelas mereka akan masuk terlebih dahulu. Aldrina dan Gilbert masih saja kejar-kejaran dan tidak memperdulikan hal yang lainnya.


"Sini lo jangan lari mulu, cemen banget"teriak Aldrina sambil berlari


"Blek blek blek blek tangkap gue kalo bisa"balas Gilbert dengan nada mengejek sambil terus berlari namun pandangannya kebelakang melihat jarak Aldrina darinya


"Awas aja kalo lo berhasil gue tangkep, gak kasih ampun suer"batin Aldrina sambil terus berlari


Melihat posisi Gibert yang berlari mendekati pintu keluar dan melihat pak Handoko yang sudah berada diluar membuat Aldrina tersenyum licik. Aldrina terus berbicara agar Gilbert tidak melihat jalannya.


" DUAR"


Gilbert menabrak pak Handoko cukup kuat, untung saja pak Handoko tidak terjatuh ke lantai karena memegang knop pintu sedangkan Gilbert terjatuh dengan mata yang melotot.


"Mampus"batin Aldrina begitu senangnya karena rencananya sukses


Aldrina pun dengan secepat kilat kembali ke bangkunya, meninggalkan Gilbert yang masih kesakitan di lantai dengan wajah yang sudah memerah.


"Hahahaha"penghuni kelas itu pun menjadi heboh dan tertawa begitu kencang


"Sial mampus gue"batin Gilbert


"Apa maksud anda Gilbert? Kamu tidak senang saya masuk ke kelas?"kata Pak Handoko terlihat marah


"Bu..buu..bukan gitu Pak! Tadi..."jawab Gilbert putus-putus sambil mencari posisi Aldrina


"Sial si singa betina udah duduk aja, apes banget gue"batin Gilbert seakan bingung mencari alasan apa


"Tadi apa Gilbert? Apakah anda melihat saya terlalu kecil? Sungguh terlalu anda"kata Pak Handoko mendramatiskan keadaan


Pak Handoko main bola sepak


Kala istri berhari raya


Saya tadi gak lihat jalan Pak


Mohon maafkan saya


Gilbert membalas perkataan pak Handoko dengan pantun yang langsung mengalir begitu saja diotaknya.


Lari-larian kesana kesitu


Tanpa takut dihukum


Kalo maaf semudah itu


Untuk apa adanya hukum?


Pak Handoko membalas pantun itu dengan menyinggung telak sikap Gilbert barusan. Seperti biasa keduanya memang selalu beradu pantun yang membuat seisi kelas menonton antara siswa dan guru itu. Tian yang melihat Luna tertawa pun berkomentar.


"Kenapa Lun? Lo teringat hari pertama masuk ke kelas ini?"tanya Tian sambil melihat ekspresi Luna


"Hahaha ia Tian benar banget, mereka lucu ya"


"Hmm ya begitulah lumayan buat penyegaran otak"balas Tian ikut tersenyum


"Haha ia betul"


Aldrina pun menghela napas dan menidurkan kepalanya diatas meja. Aldrina begitu puas memandangi wajah Gilbert yang terlihat pucat.

__ADS_1


"Makanya jangan macem-macem! Singa di lawan"batin Aldrina dengan menyunggingkan senyuman


"Sekali lagi saya meminta maaf Pak, tadi saya berlari karena sedang dikejar singa pak eh maksudnya Aldrina Pak"kata Gilbert menyinggung nama Aldrina


Pak Handoko memicingkan matanya pada Aldrina "Betul itu Aldrina?"tanya Pak Handoko


"Betul Pak, tapi dia yang duluan Pak"jawab Aldrina tidak mau disalahkan


"Hah"Pak Handoko menghela nafas


"Sudah-sudah cukup! Kamu Gilbert boleh duduk sekali lagi jangan diulangin"seru Pak Handoko pada akhirnya dengan intonasi yang sedikit marah


"Baik Pak terimakasih"balas Gilbert dengan lesu dan kembali ke kursinya


Setelah mulai tenang Pak Handoko kembali berbicara "Baiklah anak-anak karena waktu sudah banyak termakan akibat ulah teman kalian, sekarang boleh pulang dan jangan lupa setelah ujian selesai seperti tiap tahunnya semua umat kristen akan berlatih lagu untuk perayaan natal dan umat beragama muslim, hindu, budha atau yang lainnya kalian boleh mengurus buku-buku yang akan dikembalikan ke perpustakaan"kata Pak Handoko menjelaskan kegiatan kelas selanjutnya


"Ada pertanyaan?"tambah Pak Handoko


"Jadi kalo dah siap balikin buku Pak kami ngapai lagi?"tanya Pipit salah satu umat muslim


"Kalian bebas ngapai asal tidak bolos sekolah"


"Yes, yuhuu bebas"teriak Gilbert begitu keras padahal Gilbert beragama Kristen


"Bukan kristen tapi umat agama yang lain ya Gilbert! Tolong kuping digunakan"kata Pak Handoko dengan menggelengkan kepalanya


Lagi-lagi seisi kelas tertawa dan Gilbert pun hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Baik kita sudahi pertemuan hari ini, mari berdoa menurut kepercayaannya masing-masing. Doa dimulai"ucap Pak Handoko yang membuat kelas mendadak hening


"Doa selesai"ucap Pak Handoko lagi


Tian selaku ketua kelas langsung mengambil tugasnya "Beri hormat kepada bapak guru kita"ucap Tian tegas


"Selamat siang pak"ucap semua siswa dengan suara nyaring


"Ya selamat siang kalian boleh pulang"ucap Pak Handoko dengan senyuman lalu meninggalkan kelas


Sesudah Pak Handoko meninggalkan kelas, Gilbert menyusul berlari begitu kencang keluar karena Aldrina sedari tadi sudah memasang mata singanya seakan sudah menargetkan Gilbert.


"Gue tunggu di gerbang Tian"teriak Gilbert sebelum benar-benar keluar dari kelas


"Hahaha kasian tuh si Gilbert! Jangan galak-galak amat dong mbaknya"kata Shirene yang melihat tingkah Gilbert


"Bukan gitu mut! Dia aja yang gak bisa liat gue senang"protes Aldrina tidak terima


"Hahaha elo nya aja kali sensitif banget ke dia! Toh kami biasa aja"


"Ahh udah deh mut jangan belain si curut mulu! Tambah kesal gue"kata Aldrina yang beranjak dari bangkunya


"Hahaha iya iya udah ah jangan ngambek lagi"kata Shirene dan langsung merangkul Aldrina yang sudah berjalan duluan


"Eh woi tungguin gue"teriak Luna yang merasa ditinggal


Luna pun berlari dan juga merangkul Aldrina dari sebelah kanan. Sesampainya di pintu ketiganya mendadak berhenti.


"Kalo gini caranya kita gak bisa keluar dong"kata Aldrina agar Shirene dan Luna melepas rangkulannya


"Hahah oh iya apalagi badan gue gede"kata Shirene dan Luna pun tertawa begitu juga Aldrina


Seperti biasa ketiganya berpisah di parkiran sekolah. Luna dan Shirene dijemput sementara Aldrina pulang bersama Dandra.

__ADS_1


__ADS_2