Love You So Much

Love You So Much
Bagian 63 (Omelan Bimo)


__ADS_3

"Omelan adalah rasa sayang yang tersembunyi"


\~\~LYSM\~\~


Pagi Tiba


Aldrina sedang mandi sedangkan Shirene sudah mulai menancap make up di wajahnya. berbeda dengan Luna gadis itu masih berselimut manja di tempat tidurnya. Luna mengucek matanya kemudian memperhatikan jam yang menunjukkan pukul 05.30 WIB.


"Woi mut cepat amat make up nya! Entar langsung luntur baru tau rasa huh"omel Luna yang masih setia merebahkan tubuhnya


"Lo lupa?"tanya Shirene sambil mengoleskan toner di wajahnya


" Enggak gue gak lupa, mau ke sekolahkan acara natal"balas Luna dengan santainya


"Terus?"


"Terus apaan sih mut gak jelas banget deh"ucap Luna sambil mengerutkan dahinya


"Kita kan jadi penerima tamu woi! Bukannya elo juga yang ngusulin ke Pak Handoko waktu itu"ucap Shirene memutar bola matanya malas


"Wah njir oh iya gue lupa mut"ucap Luna shock dan langsung turun dari tempat tidur


Luna langsung mengambil peralatan mandinya tidak lupa menggulung rambutnya agar tidak basah.


tok tok tok


"Woi Aldrina cepat! Lama banget nih mandinya"teriak Luna sambil menggedor-gedor pintu


"Ya ya jangan teriak gue enggak tuli! Lagian sabar dong Lun, baru juga 15 menit"balas Aldrina dari dalam


"Hahah makanya padahal si Aldrina udah bangunin elo tadi! Lo nya aja sih yang kebo"ejek Shirene melihat wajah panik Luna


"Yah namanya juga gue lupa"balas Luna dengan mengerucutkan bibirnya


Tidak lama kemudian Aldriana keluar dengan anduk yang melilit di tubuhnya. Rambutnya masih basah membuatnya harus berdiri di atas keset kaki di depan pintu kamar mandi.


"Cepet cepet sana mandi gara gara lo rambut gue gak sempat dikeringin"omel Aldrina


"Heheh maaf Aldrina tayang takut telat"balas Luna dengan cengiran lalu langsung masuk ke dalam kamar mandi


Aldrina hanya bisa mengggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu "Mut o mut"panggil Aldrina pada Shirene yang masih sibuk merias diri


"Emm apaan?"


"Ambilin handuk aku dong satu lagi di lemari biru itu! Tadi belum sempat gue keringkan gara-gara buru-buru keluar"


"Oke sip!"


Shirene berjalan menuju lemari yang ditunjuk Aldrina kemudian mengambil handuk.


"Tangkap Drin!"ucap Shirene sambil melempar handuk tersebut


Ketiga gadis itu pun menyibukkan diri untuk mempercantik dirinya masing-masing terlebih ingin mendapatkan perhatian lebih dari orang yang mereka sukai.


Tin tin tin


Terdengar beberapa kali klakson di depan rumah Aldrina menandakan ada orang yang datang. Ketiganya saling tatap kemudian semakin mempercepat gerakannya tanpa mau turun ke bawah untuk melihat siapa yang datang.


Disisi Para Lelaki


Tadi malam Dandra sudah menyetel Alarmnya jam 5 pagi.


Kring kring kring


Dandra terbangun dari tidurnya dengan mata yang masih tertutup, lelaki itu mengambil Hpnya yang berada di meja dekat tempat tidur kemudian mematikan alarmnya dan menelepon nomor Felix.


(Dering panggilan masuk)

__ADS_1


nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi cobalah beberapa saat lagi


Dandra mengulangi panggilannya lagi sampai Felix disebrang sana mengangkat panggilannya.


"Halo"ucap Felix dengan suara khas pria bangun tidur walau terdengar ketus


"Ingat sebelum jam 7 kita udah sampai di rumah Aldrina! Mampir dulu di rumah gue kalo lo gak mau langsung kesana"ucap Dandra tanpa basa basi lalu mematikan hpnya


TUT


Mata Felix yang tadinya masih tertutup langsung membulat sempurna "Anjir si Dandra lama-lama! Mending yang nelpon cewek! Malah masih jam 5 pagi ngeselin sih parah"omel Felix sambil melirik jam yang ada di dinding kamarnya


Setelah mematikan panggilannya Dandra bangun dari tempat tidurnya dan memutuskan lari pagi sebentar sebelum mandi. Dandra terus melangkah tanpa sadar dirinya sudah sampai di depan gerbang rumah Aldrina, rumah gadis itu masih terlihat tertutup namun Dandra dapat melihat lampu kamar Aldrina sudah tampak menyala yang artinya si pemilik kamar sudah bangun dari tidurnya.


Dandra tersenyum "Sepertinya dia sudah bangun"ucap Dandra sambil melakukan beberapa peregangan di depan gerbang rumah Aldrina


Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak Dandra "Den..."


"Astaga"ucap Dandra kaget


Dandra menoleh ke belakang "Eh ada bibi, pagi bi"ucap Dandra ramah


"Pagi den, ada apa ya den pagi pagi begini udah disini aja?"tanya bibi Inem sambil mengerutkan dahinya melihat Dandra sudah ada disana pagi buta


"Hehe.. Ini bi lagi lari pagi eh tau-taunya udah sampe sini aja"balas Dandra menggaruk kepalanya


"Ooh begitu ya Den saya kira mau ketemu nona Aldrina pagi begini, yaudah bibi kedepan dulu yah mau belanja sesuatu dulu den, permisi"


"Oh i i iya bi, bareng aja ya bi saya juga mau pulang ke rumah"balas Dandra sambil menyamakan langkahnya dengan bibi Inem


Keduanya pun tampak berjalan berdampingan "Oh iya bi, saya boleh nanya sesuatu? Bukan maksud gimana-gimana cuma karena bibi tau sendiri saya kan pacarnya Aldrina setidaknya saya harus tau mengenai keluarganya biar gak salah ngomong juga kalo ada apa-apa bi"ucapa Dandra tanpa ada rasa canggung


"Boleh atuh, Den Dandra terlihat sayang sekali ya sama non sama kayak si non yang selalu aja ngoceh tentang De.. Ops saya keceplosan"ucapa bibi Inem spontan menutup mulutnya


"Hahah aduh bi gapapa, asal bibi tau Aldrina itu enggak ada rasa malu kalo sama saya bi jadi santai aja bi, dia gak pernah jaga sikap di depan saya eh maksudnya dia apa adanya bi"balas Dandra dengan tawa kecil melihat reaksi bibi Inem


"Justru saya yang bersyukur bi semenjak Aldrina ada di hidup saya, saya tau yang namanya tersenyum tanpa diminta"balas Dandra dengan jujur membuat bibi Inem tersenyum mendengar penuturan lelaki tampa itu


"Oh iya bi sebelum saya lupa, yang saya ingin tanya mengenai bunda Aldrina bi"


Bibi Inem terlihat terdiam dan tampak berpikir.


"Tanya apa itu den?"


"Itu bi saat saya berkunjung ke rumah saya liat foto-foto yang ada di rumah tapi foto bunda Aldrina gak ada terus foto Aldrina waktu kecil juga gak ada, bibi tau kenapa foto bunda Aldrina tidak ada di pajang ya? Maaf nih kalo saya terlihat lancang"


"Itu den, saya.. saya hanya tau sedikit kalo lengkapnya Den bisa tanya sendiri sama den Bimo! Dulu nyonya terlibat kecelakaan dan meninggal saat di rumah sakit jadi semenjak kejadian itu non Aldrina trauma padahal waktu itu kalo saya tidak salah ingat non Aldrina umurnya masih dibawah 5 tahun"jelas bibi Inem dengan raut wajah sedih mengingat majikannya yang baik hati harus meninggal di usia yang terbilang masih cukup muda


"Jadi den semenjak itu Tuan sendiri yang memutuskan menurunkan semua foto nyonya bahkan foto kecil non Aldrina sendiri di simpan semua, begitu kira kira Den. Saya kasih tau ini karena saya yakin Den bisa menjaga non Aldrina dengan sangat baik seperti Tuan"


Mendengar ucapan bibi Inem tanpa terasa ada bulir air mata yang jatuh di wajah Dandra, secepatnya dihapus lelaki itu agar tidak terlihat oleh bibi Inem " Ternyata kisahmu sangat sedih sayang, aku tidak bisa menyangka di balik tawa yang selalu kamu tunjukkan ada seribu kisah yang kamu hadapi"batin Dandra mengingat Aldrina yang selalu menjadi penyemangatnya


"Dandra!"


"Dandra..Dandra"panggil seseorang sedikit berteriak ternyata itu adalah ibunya yang baru saja pulang berbelanja


"Den.. Itu Ibu manggil"ucap Bibi Inem sambil menepuk bahu Dandra yang melamun


"Oh i i ya bi"


"Iya ma sebentar, makasih ya bi maaf ganggu waktunya"ucap Dandra dengan sopan lalu menghampiri ibunya


"Iya Den sama-sama"balas bibi Inem sambil melanjut langkahnya dan tidak lupa tersenyum pada ibu Dandra saat mereka berpapasan


"Sayang kamu ngapain pagi pagi begini, tumben banget!"ucap ibu Dandra sambil tersenyum hangat


"Biasalah ma anak muda"ucap Dandra dengan senyuman

__ADS_1


"Duh mama gak nyangka banget kamu bisa ngomong begitu sama mama! Dulu aja kayak kulkas tertutup rapat ternyata udah ada yang buka ya"ucap ibu Dandra menggoda anak satu-satunya itu


"Hahaha mama bisa aja! Ayo kita masuk ma"ucap Dandra sambil membuka pagar rumah


\~\~\~


Dandra, Felix, dan Lucas memtuskan langsung masuk ke rumah saat bibi Inem membukakan pintu dan mempersilahkan mereka masuk walau tanpa para gadis. Ketiganya mengambil posisi nyaman duduk di sofa ruang tamu. Lalu sibuk dengan kegiatan sendiri sampai suara langkah yang terdengar dari tangga membuyarkan kesibukan mereka.


"Woi Lo pada ngapai di rumah gue jam segini tumben banget"ucap Bimo khas suara bangun tidur


"Nah elo tumben banget bangun pagi"balas Felix dengan nada mengejek


Plak


"Sialan lo kampret buka kartu aja"omel Bimo menghampiri Felix tidak lupa menjitak kepala sahabatnya


"Sialan lo bro sakit woi"


"Woi woi pala lo! Gak sopan amat sama senior"


"Umur doang yang senior sikap junior"ucap Felix pelan namun bisa di dengar ketiga pria yang ada disana membuat tawa mereka pecah


"Hello semua...."ucap Aldrina berteriak dari atas sebelum menuruni tangga didampingi kedua sahabatnya


Bimo memutar bola matanya malas "Hemm si monyet caper nih pasti"batin Bimo dan memperhatikan ketiga pria yang sudah membuka mulutnya dengan mata yang tidak berkedip


"Yaelah cuma gue yang jomblo"batin Bimo sambil mengelus-elus dada bidangnya


Kemudian matanya kembali melihat adik kecilnya itu beserta sahabatnya


"STOP"teriak Bimo membuat ketiga lelaki itu sadar


"Luna! Lo bukan model atau artis yang harus make baju gituan apalagi hanya untuk acara sekolah"omel Bimo sambil berkacak pinggang melihat Luna yang menggunakan gaun yang tidak menutupi bahunya


"Tukar baju atau tidak pergi sama sekali"sambungnya lagi khas ibu yang sedah memarahi anak gadisnya


"What? Ayolah kak ini seragam kami"ucap Luna dengan wajah mayun


"Ganti atau tidak sama sekali! Pokonya saya gak mau liat bahu lo gak tertutup semua gitu"


"Gini nih kelamaan jomblo jadi gak tau model baju cewek"ucap Aldrina pelan


"Udah gak usah diganti Lun tunggu gue ambil blezer putih gue cocok kok dipadukan sama gaun Lo"ucap Aldrina akhirnya karena dia tau Bimo tidak akan menarik ucapannya


Setelah Aldrina mengambil blezer dan Luna mengenakannya mereka menghampiri para pria yang sudah menunggu dibawah.


"Nah gini kan lebih bagus diliat enggak kayak tadi udah kay..."


"Shutt, udah dong Kaka ngomelnya"ucap Aldrina sambil menutup mulut kakaknya itu


"Pfutt...Apasih nyet"ucap Bimo tidak jelas karena Aldrina masih setiap menutup mulutnya


"Heheh udah yah kakak aku sayang, kami udah telat lo ini! Kami ditugasin jadi penerima tamu nih",ucap Aldrina lalu melepas tangannya dari mulut Bimo


Bimo memasang wajahnya kesal "Yaudah sana sana lu pada pergi! Gue juga mau tiduran lagi"ucap Bimo dengan nada ketus lalu merebahkan tubuhnya di sofa


"Jaket Lo Lix nyemak"ucap Bimo sambil melempar jaket Felix sembarangan


"Yaelah sensi amat bro"ucap Felix lalu memungut jaketnya yang sudah ada di lantai


Aldrina tersenyum jahil lalu menyuruh teman-temannya terlebih dahulu untuk keluar dan tinggallah gadis itu sendiri sambil memandang Bimo yang masih saja memasang wajah kesal.


CUP


Aldrina mendaratkan ciumannya sekilas di pipi kanan Bimo yang tentunya akan meninggalkan jejak di pipi lelaki itu. Aldrina mengambil ancang-ancang lalu berlari kabur sebelum Bimo mengeluarkan omelan.


"Aldrina!"teriak Bimo begitu nyaring sampai teman-temannya yang sudah ada diluar dapat mendengar teriakan Bimo

__ADS_1


__ADS_2