Love You So Much

Love You So Much
Bagian 46 ( Sel Tahanan)


__ADS_3

Keesokan harinya seperti yang sudah Aldrina katakan pada Dandra mereka akan ke penjara setelah pulang sekolah. Aldrina, Shirene, dan Luna yang pulang bersama berpisah di dekat parkir sekolah. Luna menyenggol bahu Shirene setelah melihat Dandra yang sepertinya sedang menunggu seseorang siapa lagi kalau bukan pujaan hatinya. Shirene pun tersenyum bahagia setidaknya dirinya sudah mengambil bagian dalam perdamaian keduanya.


"Ciee yang udah balekan lagi"goda Shirene saat melihat Aldrina yang sudah curi-curi pandang ke arah parkiran


"Hemm tau tuh kumat lagi bucinnya"tambah Luna


"Haha udah-udah sana kalian cari pasangan masing-masing! Elo ke kak Lucas dan lo perjuangin kak Felix sana hahah, yakin deh bentar lagi luluh tuh"kata Aldrina sambil menunjuk Shirene dan Luna secara bergantian


"Bacot lo Drin, dah ah sana! Bye guys sampai jumpa besok"seru Luna sambil berjalan menuju mobil jemputannya


"Bye"jawab Aldrina dan Shirene bersamaan


"Lo mut gimana?"tanya Aldrina yang melihat Shirene masih ada disampingnya


"Itu lo duluan aja Drin hari ini aku mau nemanin Lucas ke studio malam ini dia ada manggung gitu ke cafe waktu itu"jawab Shirene


"Cafe?"Aldrina mencoba mengingat


"Ooooh cafe tempat berantam gue sama Olivia! Oooh iyalah entar malam kalo gue gak ada acara gue datang ya sekalian ngajak kak Bimo DKK"


"Hmm iya boleh tuh ide bagus seru pasti rame-rame, ajak juga Luna ya"tambah Shirene mengingat Luna yang sudah menjadi sahabat mereka


"Okee siap kalo bundanya ngizinin ya! Yaudah deh bye mut have fun ya sama kak Lucas"seru Aldrina sambil tersenyum kemudian berjalan mendekati Dandra yang sudah siap dengan motornya


Aldrina tersenyum lebar melihat Dandra begitu juga Dandra membalas senyuman Aldrina.Kemudian gadis itu langsung naik ke boncengan Dandra.


"Kita gak pulang dulu ganti baju?"tanya Dandra sebelum motornya melaju sembari memberi helm pada Aldrina


"Iya pulang ajalah kak sekalian aku uda bilang sama bibi semalam biar dibungkusin bekal gitu buat dibawa ke penjara"


"Oohh okay-okay, yaudah pegangan gih"


"Siap bos"


Aldrina dan Dandra memasuki penjara. Suasana penjara adalah hal baru bagi Aldrina, ini pertama kalinya Aldrina memasuki penjara. Terlihat banyak polisi memakai seragam seperti biasanya dan terlihat beberapa orang berbadan besar yang sedang difoto oleh beberapa polisi, sepertinya itu adalah tahanan baru. Aldrina menelan ludahnya dengan susah payah melihat betapa menyeramkannya orang disana tidak bisa dibayangkan apa kabar Mila yang berada di sel tahanan. Aldrina dan Dandra menjumpai polisi yang sedang bertugas untuk mendaftar sebagai penjenguk dari Mila.


"Selamat pagi Pak"sapa Dandra dan Aldrina duduk disampingnya


"Ya selamat pagi, Ada perlu apa adek sekalian disini?"


"Begini pak kami ingin mendaftar sebagai penjenguk salah satu tahanan disini yang bernama Mila Gladys Sutarya"


"Oh sebentar, kalian ada hubungan apa dengan tahanan?"


"Kami keluarganya pak"jawab Aldrina ketika Dandra berdiam diri

__ADS_1


"Oke baiklah kalian adalah pengunjung pertama, saya akan mengingatkan durasi yang saya berikan hanyalah 15 menit dan kalian boleh mengunjungi tahanan secara bergantian"


"Baiklah pak tidak masalah"jawab Aldrina lagi


"Ini isi nama kalian disini"kata polisi itu dengan menyodorkan buku daftar tamu tahanan


"Aku dulu ya yang masuk kak terus nanti kakak, ya?"seru Aldrina pada Dandra yang sedari tadi lebih banyak diam


"Hmm"jawab Dandra sambil mengangguk


Sebelum Aldrina memasuki ruangan tempat bertemu dengan tahanan,  Aldrina memberikan bekal tadi kepada petugas agar nantinya diberikan kepada Mila. Aldrina masuk dan juga Mila yang datang bersama penjaga tahanan. Aldrina bisa melihat Mila tampak lesuh dan lebih kurus dari terakhir mereka bertemu, Mila menatap Aldrina dengan tatapan tidak suka.


Keduanya dipisahkan oleh jerajak besi namun masih bisa saling pandang dan untuk berkomunikasi mereka menggunakan telepon sebagai penghubung. Petugas yang mengantar Mila pun keluar memberikan waktu kepada kedua gadis itu saling berkomunikasi dalam waktu 15 menit.


"Hah"Mila menghelas nafas


"Gue kira gak bakalan ada yang berkunjung sekalinya ada yang datang orang yang paling gue benci, munafik"kata Luna dengan nada kasar


"Belum mati lo? Gue kira lo udah mati makanya Dandra gak lihat gue sama sekali"tambah Mila karena Aldrina masih tetap diam dengan tangan terlipat di dada


Mila menjadi semakin emosi "Kalo lo gak mau ngomong pergi lo sana ngabisi waktu gue aja, karna lo belum mati gue bakalan ngelakuin hal yang lebih kejam lagi sampai Dandra gak bisa hidup lagi"tambah Mila dengan mata yang mulai berkaca-kaca


"Terus kalo gue mati senang lo Mil? Gue lihat lo sekilas aja gak ada happy-happy nya sekarang"kata Aldrina membuka suara


"Gini ya Mil tadinya gue mau nyoba ngerti sama keadaan lo tapi makin kesini gue jadi kasihan"


"Shutt Mil suara lo kegedean"kata Aldrina dengan santainya


"Gue cuma mau bilang sadar Mil dunia lo itu bukan hanya Dandra, Dandra diciptakan bukan untuk lo! Buat apa lo nyia-nyiain hidup lo yang berharga karna dia! Ayolah gue bakal lupain semua kita bisa mulai dari awal mungkin jadi teman dulu"kata Aldrina mengeluarkan apa yang ada dihatinya


"Diam anjir gak usah ceramahi gue"kata Mila lagi dengan marah


"Huh"Aldrina membuang napasnya


"Gue bakalan welcome sampe lo sadar bahwa yang lo lakuin itu salah Mil dan satu lagi gue bakal lakuin apa pun biar hukuman lo dikurangin! Gue gak mau masa depan lo hancur Mil! Buktiin ke mama papa lo yang udah gak ada kalo elo masih bisa tanpa mereka tapi bukan berarti lo nyalahin Tuhan atas semuanya yang terjadi justru lo harus kuat buat jalanin semuanya Mil! Gue bakal support lo Mil gue tau gimana rasanya kehilangan Mil"kini air mata Aldrina keluar tanpa sadar


"Tapi bukan berarti karna rasa kehilangan itu lo nunjukin diri lo harus dikasihani atau harus diperhatikan semua orang tunjukin lo bisa lo kuat! Gue bakal bantu dan maaf kalo lo merasa gara-gara gue Dandra gak peduli sama lo tapi gue yakin 100 persen, Dandra punya cara tersendiri buat nyayangi lo jadi gak usah benci gue karna itu"


Mila tampak diam dan sepertinya gadis itu mendengarkan semua ucapan Aldrina yang seakan menyayat hatinya.


"Tetap semangat Mil dan dekatin diri lo sama Tuhan, God Bless You"tambah Aldrina lagi dengan senyuman tulus


"Coba deh lo dengerin kata hati lo, gue keluar dulu gantian sama Dandra, bye"kata Aldrina untuk terakhir kalinya lalu menutup telepon dan meninggalkan ruangan


"Apa Dandra?"batin Mila seolah tidak percaya

__ADS_1


Aldrina menemui Dandra yang terlihat melamun diluar. Aldrina menepuk bahu Dandra memberikan semangat pada lelaki itu lalu Dandra memasuki ruangan. Sebenarnya Dandra tidak meninggalkan Mila sepenuhnya hanya saja Dandra masih merasa tidak sanggup  bertemu dengan Mila, Dandra merasa bersalah atas sikap Mila yang seperti sekarang, bagi Dandra sendiri Mila adalah sosok adik kecil yang menggemaskan dan selalu ingin disayang karna Dandra begitu menyangi Mila, gadis itu salah mengartikan semuanya.


Pada malam hari dimana kejadian itu berlangsung Dandra menyempatkan pulang ke rumah dan mendiskusikan semua yang terjadi dengan ibu dan ayahnya. Keluarganya kecewa mendengar itu dan ayah Dandra sebagai kepala rumah tangga mengatakan dengan tegas keputusannya bahwa Mila akan dibiarkan sebulan dipenjara agar Mila bisa menyesali semua perbuatannya.


Mila mengangkat teleponnya "Kak Dandra"pekik gadis itu dengan suara yang serak


"Udah tobat Mil? Gimana rasanya saat orang yang elo serang justru paling peduli sama lo"kata Dandra dengan nada kecewa


"Dandra"kata Mila lagi dengan sendu


"Apa Mil? Udah ngomong biasa juga mulut lo ngoceh terus"


"Aldrina ngerusak kebahagiaan gue dia ngerebut elo, tante dari gue dan lagi Jack sahabat gue sendiri lebih memilih berpihak sama Aldrina dari gue"kata Mila berteriak


"Terus karna itu lo tega nyelakai dia? Sebelum itu pernah gak mikir? Kenapa orang terasa jauh dari lo? Itu hanya karna elo yang merasa dijauhi"kata Dandra bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri


"Lo udah dewasa Mil gak anak kecil lagi yang harus gue jaga tiap waktu! Walaupun waktu gue ke elo makin sedikit bukan berarrti kadar sayang gue hilang Mil! Gue gak tau lo seputus asa itu Mil! Gue yang salah Mil! Gue bodoh! Bodoh! Bodoh lo Dan"kata Dandra dengan memukuli kepalanya sendiri bahkan air mata Dandra turun begitu saja


"Maaf Mil gak bisa jadi kakak yang baik buat lo"tambah Dandra lagi


Mila yang mendengar semua perkataan Dandra pun hanya bisa menangis tersedu-seduh "HIks... hikss.. hiks hiks hiks.. lo gak salah Dan"kata Mila susah payah dengan tangis yang pecah


"Aku yang salah kak maaf"tambah gadis itu


Ingin sekali Dandra menghapus air mata Mila seperti dulu jika ada orang yang selalu mengejek dan membuat gadis itu menangis. Dandra selalu di garis terdepan yang selalu ada buat Mila mungkin karna itu Mila merasa Dandra hanya miliknya saja.


"Udah Mil jangan nangis lagi! Jangan sia-siain air matamu lagi, semoga dengan ini lo kembali menjadi Mila yang dulu lagi! Gue bakalan selalu ada Mil"kata Dandra menguatkan Mila


Mila tersenyum ditengah tangisnya "Lo sama kayak Aldrina walaupun gue udah nyakitin kalian tetap aja kasih dukungan! Makasih Dan gue bakal berusaha merenungkan semuanya makasih udah datang sampaikan maafku untuk Aldrina"kata Mila sambil menutup teleponnya


Gadis itu berdiri dari duduknya dihapusnya air matanya dan tersenyum sekali lagi sebelum pergi berlalu karna waktu yang sudah ditentukan sudah habis. Dandra pun membalas senyuman Mila dengan tulus.


"Yang kuat Mil"batin Dandra dan keluar dari ruangan


Dandra melihat kanan dan kiri mencari keberadaan Aldrina dan menemukan gadis itu sedang mengobrol dengan salah satu polisi, tampaknya pembicaraan keduanya serius. Dandra menghampiri Aldrina dan menepuk bahu gadis itu.


"Eh kak Dandra, udah selesai? Gimana tadi? Ih nangis! Cemen! Iya kan Pak cemen banget pacar saya"kata Aldrina  sambil mengedipkan sebelah matanya kepada polisi


"Iya bagaimana bisa jaga adek ini kalau begitu saja sudah menangis, sudah sama anak saya saja kamu dek"goda pak Polisi mengikuti alur


Dandra pun memasang tampang kesal dan menarik tangan Aldrina agar keluar "Hahaha pacar saya mah gini pak, yaudah lain kali aja Pak saya minta nomor anak bapak hahaha, kami permisi dulu pak terimakasih banyak"kata Aldrina sambil tersenyum


"Iya dek silahkan, dijaga yah pacarnya nanti nangis lagi"


"Hahah siap Pak"jawab Aldrina dari jarak yang sudah cukup menjauh

__ADS_1


Dandra menarik Aldrina keluar dan Aldrina pun menurut. Aldrina begitu senang bisa menggoda Dandra, wajah Dandra sangat menggemaskan ketika lekaki itu menampakkan wajah kesalnya.


__ADS_2