
Sesampainya di rumah Luna, Aldrina bersikap seperti dulu begitu antusias sampai melupakan si pemilik rumah yang masih tertinggal dibelakang.
"Dasar onyet"kata Luna tersenyum melihat tingkah Aldrina
"Syalom"teriak Aldrina begitu nyaring
Kemudian muncullah Mira yang selalu tampak cantik walaupun sudah bertahun tidak bertemu, Mira yang menggunakan daster biru muda dengan rambut yang digulung dibelakang tersenyum bahagia melihat kehadiran Aldrina
"I miss you tante"seru Aldrina sambil memeluk Mira
"I miss you too Aldrina sayang, duh putri tante udah gede makin cantik lagi"balas Mira sembari membalas pelukan Aldrina
Luna yang melihat itu pun pura-pura memasang wajah cemburu "Jadi aku diabaikan nih?"
"Hahaha apasih Lun ganggu aja lo"omel Aldrina
"Tan Aldrina kangen.... banget makan masakan tante! Gara-gara Luna nih kelamaan marah sama Aldrina jadi Aldrina gak bisa main kesini"seru Aldrina dengan air mata yang keluar begitu saja
"Lah kok jadi nangis sayang?"
"Enggak tan Aldrina cuma bahagia banget, heheh maaf-maaf jadi cengeng gini"
"Hahha iya iya gapapa sayang, udah sana kalian ganti baju dulu kamu bisa pakai baju Luna dulu sayang"kata Mira lembut
"Kalo aku gak mau bun gimana?'kata Luna dengan melipat kedua tangannya di dada
"Yah aku ambil sendiri, blekk"balas Aldrina sambil menjulurkan lidahnya
"Aku naik dulu ya tan"seru Aldrina dan melenggang menuju kamar Luna
"Tan.."panggil Aldrina teringat sesuatu
"Kenapa sayang?"
"Kamar Luna masih sama kan?"
"Iya sayang masuk aja"
"Oke tan siap"
Luna yang merasa diabaikan mendengus kesal lalu memeluk Mira "Maaf ya bun Luna baru bisa baikan sama Aldrina sekarang"lirih Luna dengan menangis
"Iya sayang bunda bangga sama kamu, akhirnya kamu bersikap dewasa dan bisa menerima semuanya, udah jangan nangis lagi susul Aldrina sana gih! Kasih baju kamu juga"tutur Mila lembut sambil menghapus jejak air mata putrinya itu
"Hehe okee siap bun"balas Luna dengan tersenyum manis
Aldrina membuka knop pintu kamar Luna, kamar bernuansa pink itu terlihat begitu imut seperti dahulu. Mata Aldrina terhenti pada foto mereka berdua yang dipajang dikamar itu dengan berukuran lumayan besar. Aldrina tersenyum manis, Aldrina mengingat saat foto itu diambil itu adalah hari pertama Aldrina dan Luna berfoto di studio. Kenangan yang indah sebelum salah paham menghancurkan persahabatan mereka. Aldrina memegang foto itu dengan mata yang bekaca-kaca.
"Gak terasa ya Lun sekarang lo dah gede makin cantik lagi"gumam Aldrina
__ADS_1
"Iya dong sama kayak elo juga Drin"sambung Luna yang entah sejak kapan sudah ada dikamar
"Eh Lun ngagetin aja, sejak kapan lo nyusul?"
"Baru mungkin"balas Luna sembari membuka lemari pakaian
"Oooooo"seru Aldrina
"Nih tuker baju lo"seru Luna sembari menghempaskan kaos biru muda dan celana pendek bewarna putih"
"Wih si embaknya masih hapal aja favorit gue"seru Aldrina sambil cengir
"Ya taulah itu sengaja gue beli buat elo sih nih gue pake yang pink"
"Hahah oke oke nona pink thank you"kata Aldrina dengan mengatakan pink begitu nyaring
"Ih nada lo seakan-akan mengejek kalo warna pink itu jelek tau gak sih"omel Luna
"Lah elo nya aja kali kepedean, gue juga kadang suka pink kok"
"Hemm bodo ah, udah cepat uda di tunggu bunda tuh diluar"seru Luna lagi setelah selesai bertukar baju
Sesudah mereka berdoa Aldrina langsung menyantap bagiannya dengan begitu lahap. Aldrina begitu senang jarang sekali Aldrina merasakan makan bersama seperti ini mengingat Bimo dan papanya yang selalu sibuk dengan urusan masing-masing. Mira memperhatikan Aldrina dengan terus mengulas senyum, Mira masih mengingat jelas terakhir kali melihat Aldrina menjadi gadis yang begitu cengeng saat tau Luna pergi tanpa berpamitan dengan dirinya.
"Aldrina, kamu udah ngabari orang rumah kalo lagi ada disini?"tanya Mira membuka topik obrolon
"Em anu palingan belum ada yang kecarian tante"balas Aldrina dengan mulut yang masih penuh dengan makanan
"Hahah santai aja tan, papah mah jarang pulang sekalinya pulang pasti malam sementara kak Bimo pasti masih di kampus sekarang, jadi buat apa ngabari mereka"balas Aldrina tanpa menghilangkan fokusnya dari makanan
"Makannya yang pelan sayang nanti tersedat"tegur Mira melihat Aldrina seperti anjing kelaparan
"Tau tuh gue gak bakalan ngambil makanan lo santai napa"tambah Luna juga
"Bodo"balas Aldrina cuek
Yang membuat Luna dan Mira tertawa secara bersamaan. Selesai makan malam Aldrina membantu Mira membersihkan piring kotor sementara Luna menatap dengan wajah cemberut,
"Hadeh serasa gue yang tamu disini"cibir Luna
"Hahah abisnya gue kangen Lun, maap ambil posisi lo bentar, uda lo belajar aja sono nunggu gue siap terus antar gue balek ke rumah"balas Aldrina yang sedang membersihkan piring
"Pulang? Lo gue kira lo nginap"
"Iya sayang, kenapa harus pulang? Nginap aja di rumah tante"tambah Mira yang berada disampingnya dengan lembut
"Emm ide bagus sih tan, tapi lain kali aja deh tan, lagian Aldrina belum ngabari orang rumah juga! Tapi Aldrina janji deh lain kali bakal nginap"tolak Aldrina lembut
"Oooh yaudah sih, gue ke kamar dulu"balas Luna memahami dan melangkah ke kamarnya
__ADS_1
Ketika jam menunjukkan pukul 19.00 WIB Aldrina berpamitam dengan Mira untuk pulang dan Luna ikut mengantarnya bersama supir pribadi. Tidak berselang lama mereka sampai di depan rumah Aldrina dan gadis itu turun dari mobil dengan wajah ceria.
"Gue masuk ya, hati-hati pak supir kembalinya! Titip dedek Luna awas lecet"kata Aldrina sambil tertawa
"Hahah adek-adek, adek jidat lo! Udah ah! Bye Drin see you tomorrow"
"Bye too Lun"Mobil Luna pun meninggalkan kediaman Aldrina
Setelah mobil Luna menghilang dari pandangan Aldrina gadis itu masuk ke rumah. Sudah ada Bimo di ruang tamu bersama dengan Dandra dengan wajah terlihat khawatir.
"Darimana aja lo nyet? Udah gue bilang kalo elo lama pulang telpon kek SMS kek! Apa gunanya HP lo gede-gede kalo gak di fungsikan dengan baik"
"Hem ya ya ya iya kak lain kali dikabari, udah ya aku ke kamar"jawab Aldrina malas apalgi setelah melihat Dandra
"Aldrina"panggil Bimo kini dengan suara yang meninggi
"Apa sih kak?'jawab Aldrina juga dengan meninggikan suaranya
"Kakak gak suka ya elo kamu kayak gitu! Kakak belum selesai bicara udah main tinggal aja! Pernah kakak ajari kayak gitu?"omel Bimo
"Hah"Aldrina menghela nafas
"Yaa...Bukannya gitu gue kira kakak lagi sibuk ada tamu tuh"sindir Aldrina sambil melirik Dandra
"Dia bukan tamu gue"jawab Bimo terlihat masa bodo
"Lo?Jadi tamu siapa?"tanya Aldrina dengan mengerutkan dahi
"Hemmm ini kayaknya waktunya gue cau nih! Gue ke kamar dulu nyet bagus-bagus kalian bicaranya! Ngomongnya dari ke hati hahah"seru Bimo memberikan waktu buat keduanya dan pergi menuju ke kamarnya
Aldrina mengerutkan dahi namun langsung memposisikan dirinya duduk di sofa. Dandra yang masih berdiri terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kenapa? Kutu kakak tiba-tiba banyak?"ejek Aldrina
Dandra yang mendengar perkataan Aldrina terlihat kesal, akhir-akhir ini setiap keduanya bertemu Aldrina selalu membuat Dandra ingin marah namun lelaki selalu bersikap seolah tidak apa-apa. Dandra melihat Aldrina dari atas ke bawah, merasa Aldrina tidak apa-apa Dandra ingin beranjak keluar dari rumah. Sebenarnya Dandra ada disana saat ini karna Bimo tadi menanyakan keberadaan Aldrina kepadanya, tentu Dandra tidak tau soal itu bahkan saat Dandra ke kantin pun tadi, Dandra tidak menemukan Aldrina disana.
Namun semua kecemasan Dandra hilang begitu saja setelah menelopon Shirene tadi, Dandra dan Bimo sudah tau Aldrina baru bertemu dengan Luna dari Shirene. Bimo hanya ingin menggoda Aldrina agar gadis itu terlihat kesal padanya terlebih lagi Bimo juga jengkel karena tidak langsung dikabari oleh Aldrina.
"Lo kok pulang sih kak?"tanya Aldrina sambil menarik topi jaket Dandra dari belakang
Hampir saja Dandra terjungkal ke belakang "Eh maaf-maaf"kata Aldrina
Dandra menatap Aldrina dingin dan melanjutkan langkahnya keluar. Saat diambang pintu Dandra berpikir bahwa Aldrina akan mengekorinya. Dandra melihat kanan-kiri dimana posisi Aldrina. Ternyata gadis usil itu berdiri dibagian pintu yang tertutup (Ceritanya pintu depan ada dua bagian).
"Ciee yang kecariaan"kata Aldrina tiba-tiba saja muncul yang membuat Dandra gelagapan
Secepatnya lelaki itu memakai sandalnya dan berjalan cepat keluar. Pipi Dandra terlihat memerah bahkan saat di malam hari Aldrina bisa melihatnya dan itu membuat semangat Aldrina kembali untuk menggoda Dandra. Aldrina pun menyusul Dandra.
"Hap"seru Aldrina ketika menggapai tangan kiri Dandra
__ADS_1
Aldrina tanpa malu menggenggam erat tangan Dandra. Otomatis hal itu membuat Dandra melotot padahal posisi keduanya sekarang sudah cukup jauh dari rumah Aldrina.