Love You So Much

Love You So Much
Bagian 39 (Aku kembali, kamu pergi)


__ADS_3

"Duniaku begitu runtuh ketika kutau aku kehilanganmu"


~~ LYSM ~~


Felix akhirnya bisa membawa Dandra pulang ke rumahnya setelah banyak penolakan yang terjadi. Felix membawa mobil Bimo diintipnya wajah Dandra dari spion, walaupun Felix begitu mencintai Aldrina, lelaki itu masih bisa terlihat tegar tidak seperti Dandra yang saat ini bagaikan mayat hidup. Keduanya sampai di rumah Dandra dan Dandra masuk begitu saja diikuti Felix dibelakangnya karena nantinya keduanya akan kembali lagi setelah Dandra beganti baju. Mama Dandra yang berada di halaman rumah begitu shock ketika melihat anaknya berlumuran darah.


"Kamu kenapa nak?"tanya Mama Dandra dengan mata yang mulai berkaca-kaca


Mama Dandra tidak pernah melihat Dandra begitu terpuruk seperti ini, tanpa aba-aba Dandra memeluk mamanya berharap kekuatannya bisa bertambah sedikit saja.


"Ma Aldrina bakalan enggak kenapa napa kan?"tanya Dandra dan kembali menangis


Walaupun mama tidak tau apa yang terjadi beliau hanya bisa berperan sebagai penguat pada anaknya itu "Enggak sayang mama yakin Aldrina bakalan baik-baik saja! Dia gadis yang kuat kamu harus selalu ada disampingnya"balas mama lembut sambil menepuk-nepuk punggung Dandra mencoba memberikan kekuatan


Mila yang dibawa ke kantor polisi langsung di interogasi dan semua jawaban Mila adalah ngawur, Mila hanya mengatakan "Akhirnya dia mati mati mati hahah"


"Sepertinya jiwanya sedikit terganggu pak"kata petugas polisi


"Iya coba kalian periksa darah siswi ini dan suruh mengganti baju dengan baju tahanan"perintah polisi yang lebih tinggi jabatannya


"Siap baik pak"


Dandra dan Felix pun sudah kembali ke rumah sakit namun operasi masih tetap berlangsung padahal sudah 3 jam berlalu kini jam sudah menunjukkan pukul 14.00. Mereka semua yang beraada disana tidak ada satu pun yang sudah makan, mengingat itu Bimo pun langsung menyuruh mereka makan.


"Sebaiknya kalian makan dulu biar aku dan Dandra yang menunggu disini, kalian juga bisa membawakan kami nanti makanan"kata Bimo pada yang lainnya. Mereka semua pun menurut dan pergi keluar rumah sakit untuk mencari makanan


Sementara di sekolah terlihat Tian dan Gilbert yang masih membersihkan TKP setelah pemeriksaaan.


"Tega benar cewek itu mendorong Aldrina"kata Gilbert sambil terus membersihkan


Tian yang ada disana tidak berkutik dia hanya diam saja dan tidak menghiraukan perkataan Gilbert, Tian juga begitu sedih saat melihat Aldrina yang terkapar mengingat kejadiannya pun membuatnya ingin menangis.


"Walaupun Aldrina menyebalkan tapi tanpa dia rasanya kosong An! Duh pasti dia kehilangan banyak darah semoga aja dia gak kenapa-napa"tambah Gilbert yang juga sedih


"Semoga"lirih Tian


Terlihat pintu ruang operasi terbuka keluarlah dokter yang tadinya menangani Aldrina. Mereka semua yang ada disana langsung menghampiri dokter begitu juga Gandhi yang sudah tiba di RS sejam yang lalu.


"Bagaiamana putri saya dok?"tanya pria paruh baya itu dengan raut wajah begitu sedih


"Operasi yang dilakukan putri anda berjalan lancar pak"


"Syukurlah dok"seru Gandhi sedikit legah


"Tapi pak maaf untuk kesadarannya kami tidak bisa memastikan kapan putri anda akan sadar"


"Apa? Apa maksud anda dok?"tanya Dandra dengan emosi hampir saja Dandra mencengkram kerah baju dokter itu kalau saja Bimo tidak menahannya


"Mohon maaf kami pihak rumah sakit sudah melakukan yang terbaik akibat benturan keras pada kepala putri anda dia menjadi koma, tapi beruntunglah kalian, semenit saja kalian terlambat gadis itu mungkin sudah meninggalkan dunia akibat pendarahan yang hebat"


"Baiklah pak saya permisi dulu kalian bisa menjenguknya ketika dia dipindah ke ruang perawatan  tapi tolong masuk jangan terlalu ramai agar tidak mengganggu kesehatan pasien dan kita doakan agar Tuhan memberikan kesadaran pada putri bapak"kata dokter berlalu dengan menepuk bahu Gandhi untuk tetap kuat

__ADS_1


Gandhi tidak kuasa menahan tangisnya putrinya yang malang kini sedang berjuang uantuk tetap hidup, sekali lagi Gandhi menjadi teringat saat istrinya meninggal dunia.


"Kamu harus kuat nak! Kamu harus kuat"kata Gandhi terbatah sambil terus menangis


Bimo pun berusaha kuat di depan Gandhi, lelaki itu memeluk Gandhi "Semua bakalan baik-baik aja pa, papa harus kuat demi adek"


***


Sudah sebulan berlalu namun Aldrina tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dirinya akan segera siuman, Dandra yang baru saja pulang sekolah langsung memasuki ruang inap Aldrina. Seperti biasa Dandra dan Bimo akan bergantian menjaga Aldrina di rumah sakit. Teman-teman yang lainnya pun sudah sering datang untuk menjenguk Aldrina bahkan Jack pun pernah datang.


"Gue titip adek gue bro"seru Bimo sambil menepuk bahu Dandra dan keluar dari ruangan


Dandra tersenyum getir melihat wajah polos Aldrina yang terlihat pucat. Dandra mengambil posisi duduk disamping Aldrina menggenggam erat tangan Aldrina berharap gadis itu akan segera siuman. Dandra kembali menitikkan air matanya.


"Kenapa Drin? Kenapa lo diam aja? Dimana dirimu yang selalu bertingkah didepanku? Kamu seperti bukan Aldrina yang kukenal, Aldrina yang kukenal itu kuat, aku mohon bangunlah! Bangunlah sayang, kamu berjuang ya sayang, aku yakin kamu kuat"kata Dandra dengan air mata yang terus membasahi pipinya


"Kamu ingat saat pertama kali kita bertemu?"


"Kamu begitu menyebalkan Aldrina, kamu begitu membuatku ingin marah saat itu dan tiada hari tanpa kau membuatku marah, aku merindukan semua itu Aldrina aku janji gak bakalan marah bahkan mengeluh kamu bisa berbuat semaumu kepadaku hiks hiks"


Begitulah Dandra setiap harinya mengajak Aldrina berbicara dan  membuat dirinya sendiri menangis


"Seandainya kita gak bertemu waktu itu pasti kamu gak bakalan kayak gini karna Mila, Mila melakukan semua itu hanya karna aku Aldrina, aku bersalah hiks hiks aku bersalah akan kejadian yang menimpamu"Akhirnya berujung dengan menyalahkan diri sendiri


Suatu hari tepatnya tanggal 03 Desember 2021 Aldrina genap 16 tahun hanya saja gadis itu masih terlihat sungkan untuk membuka matanya, kini ada Dandra dan Bimo yang berada diruangan itu.


"Bim"


"Kalo Aldrina sadar gue janji bakalan ninggalin dia"kata Dandra yang membuat Bimo naik pitam


"Anjir lo Dan kenapa disaat adek gue  terpuruk elo malah mau ninggalin dia"teriak Bimo agar Dandra sadar akan ucapannya


"Gue gak pantas buat dia Bim, gara-gara gue dia jadi kayak gini, gue gak kuat Bim"


"Stop dan stop! Stop buat nyalahin diri lo sendiri, ingat Dan apa yang gue bilang waktu itu"


FLASHBACK ON


Melihat Aldrina yang begitu mabuk semalam Bimo langsung menemui Dandra di rumahnya, keduanya terlihat mengobrol di taman rumah Dandra.


"Makasih bro udah jagain adek gue semalam"kata Bimo tulus


"Iya santai aja"


"Gue mau nanya serius sama lo Dan"


"Lo cinta atau engga sih ke adek gue?"


Dandra diam dan hanya mendengarkan pertanyaan itu "Kalo lo cinta sama adek gue gak masalah Dan tapi ingat lo harus megang tangan dia dengan erat jangan sampe ditinggalin tapi kalo lo emang gak suka sama dia gue mau lo bersikap tegas dengan perasaan lo"tambah Bimo agar Dandra tidak terus bingung dengan perasaannnya sendiri


"Iya Bim gue pasti jagain Aldrina gue janji"

__ADS_1


Itu yang dikatakan Bimo kepada Dandra dan yang membuat Bimo yakin menyerahkan adek kesayangannya pada Dandra,


FLASBACK OFF


"Enggak Dan lo gak bisa main tinggalin adek gue! Gue yakin 100 persen lo yang paling dia butuhkan saat dia nanti sadar! Gue yakin itu"


"Apa? Janji apa kak?"tiba-tiba terdengar suara lirih Aldrina


Setelah sebulan lebih akhrinya gadis itu membuka matanya, mata gadis itu masih terlihat sendu namun langsung saja meneteskan air mata saat mendengar penuturan Bimo, Aldrina merasa kepercayaannya benar-benar rusak.


"Aldrina kamu udah sadar sayang"kata Bimo pelan dan langsung memegang tangan Aldrina


Sementara Dandra pergi keluar memanggil dokter dengan wajah yang begitu penuh syukur, Dandra begitu bahagia akhrinya Tuhan mengabulkan doanya. Dokter pun mengatakan kondisi Aldrina sudah baik-baik saja, gadis itu sudah berhasil melewati masa komanya dan dokter pun permisi untuk keluar.


"Sekarang kalian jelasin apa maksudnya janji tadi!"kata Aldrina pelan namun penuh emosi


"Jadi selama ini Dandra mau sama aku hanya karna kakak gitu? Bukan karna dia sayang sama aku? Hah? jawab dong kak"kata Aldrina sambil menangis


"Enggak dek enggak gitu kamu salah menyimpulkan"kata Bimo agar tidak membuat keduanya menjadi jauh


Sementara Dandra hanya berdiam diri saja, Dandra tidak berniat membela dirinya walaupun sebenarnya Aldrina sudah salah paham, Dandra tetap diam dan merasa jika Aldrina jauh darinya hal itu akan membuat Aldrina lebih aman.


"Woi Dandra! Jelasin brengsek"teriak Bimo hampir meninju Dandra


Namun tetap saja Dandra tidak menjawabnya, air matanya hanya terus mengalir dalam pikirannya hanya menjauhi Aldrina adalah hal yang terbaik.


"Ada apa ini kok ribut-ribut?"tanya Gandhi yang baru saja datang


"Wah sayang kamu sudah sadar"seru Gandhi dan langsung memeluk putri kesayangannya


"Papa"kata Aldrina sambil menangis


"Kamu kenapa sayang?"tanya Gandhi sang ayah lalu melirik kearah Bimo


Bimo pun memberi kode agar keduanya keluar dulu dan Aldrina bisa memecahkan masalahnya. Gandhi pun mengerti lalu keluar bersama putra sulungnya. Kemudian Dandra mendekatkan diri kepada Aldrina menghapus jejak air mata yang membasahi pipi gadis itu.


"Terimaksaih sudah sadar kembali"kata Dandra lirih


Dengan raut wajah Dandra saat ini pun Aldrina sudah yakin bahwa Dandae tulus kepadanya dan Aldrina ingin sekali meluruskan kesalahpahamannya.


"Tolong kasih aku penjelasan"


"Maaf"lirih Dandra


"Sebaiknya kita berpisah saja Drin"tambah Dandra dirinya pun tidak pernah membayangkan akan mengatakan hal itu


"Apa? Jadi maksud kamu, kamu nerima aku memang benar-benar bukan cinta? Kasihan gitu? Terus kamu merasa bersalah karna udah kasihan? Heh menyedihkan sekali diriku" Aldrina menangis histeris


"Pergi kamu kak aku gak mau lihat kamu"usir Aldrina dan memalingkan wajahnya agar tidak melihat Dandra pergi


Betul saja, Dandra pergi meninggalkan Aldrina dan Bimo pun hanya bisa pasrah terlebih lagi keduanya memang sedang tidak memiliki pikiran yang jernih. Ulangtahun Aldrina kali ini begitu berkesan Tuhan mengembalikan dirinya kembali dan hatinya terluka akibat orang yang dia cintai.

__ADS_1


__ADS_2