
"Kalo cewek bilang gapapa yakinlah pasti ada sesuatu cuma ya gitu keras kepala"
~~ LYSM ~~
Aldrina begitu merutuki dirinya yang terpancing untuk mengejek Gilbert "Duh mati"batin Aldrina
"Ayo semua bacakan soalnya agar mereka berdua kerjakan"seru pak Anton
Aldrina dan Gilbert pun menuliskan apa yang disebutkan teman-teman sekelasnya lalu mencoba untuk berpikir "Kalo disuruh ngitung uang sih gue bisa"batin Gilbert sambil terus berpura-pura berpikir
"Loh bagaimana kalian berdua ini spidol saya bisa kering jika dianggurin seperti itu"seru pak Anton mulai jengkel
Pak Anton pun memeriksa tugas Aldrina dan Gilbert yang ada di buku tugas mereka "Lah ini kalian tau ngerjainya ayo cepat jangan malu-malu"tambah pak Anton
"Aduh pak itu nyontek! Ampun pak saya nyerah suer saya gak paham pak"seru Gilbert akhirnya pasrah
Pak Anton pun memegang belebas kayu yang biasa dia bawa "Beginilah siswa yang saya tidak inginkan! Di jaman bapak dulu kalau ada yang seperti kalian ini pasti sudah memiliki banyak cap merah dibetisnya beruntung kalian saat ini tidak diperbolehkan seperti itu"kata pak Anton dengan intonasi marah
"Emang yang menginginkan bapak siapa huh"kata Gilbert pelan
"Apa kamu bilang?"tanya pak Anton garang melihat mulut Gilbert berkoar
"Ah engga engga pak"balas Gilbert tersenyum sambil menggaruk kepalanya
"Sudah-sudah bapak malas melihat wajah kalian pura-pura seperti itu! Kalian berdua berdiri di pintu"seru pak Anton pada akhirnya
"Ayo siapa yang bisa menolong teman kalian ini?"sambung pak Anton
Akhirnya Luna dan Tian maju untuk menggantikan mereka.
"Tiru tuh si Luna pintar"sindir Gilbert
"Eh monyet lo dibiarin makin menjadi ya Bert emang elo gak nyadar lagi dihukum juga"
"Gue kan cowok gak pinter gak masalah yah! Elo cewek"
"Lah justru cowok dong yang harus pintar, kalo cowok gak pintar gimana mau jadi kepala rumah tangga yang baik? Bisa-bisa.."
"Heh sudah-sudah kalian berdua diluar saja membicarakan rumah tangga kalian"perintah pak Anton yang dari tadi sudah melihat keduanya adu mulut
"Kalian jangan tertawa! Ayo cepat lanjutkan nomor selanjutnya"
Sampai diluar pun Aldrina dan Gilbert seperti seakan ingin memakan mangsanya, saling tatap menatap dengan ekspresi jengkel masing-masing.
"Apa lo"kata Aldrina garang
"Apa rupanya"jawab Gilbert acuh
Aldrina pun menarik Gilbert ke lapangan basket yang masih terlihat sepi saat itu, Gilbert yang ditarik hanya terlihat pasrah saja.
"Dalam waktu 45 menit kalo elo bisa ngalahin gue masukin bola basket paling banyak, gue bakal minta maaf kalo engga sebaliknya! Gimana? Plus harus mentraktir yang menang"ucap Aldrina memberikan tantangan
"Okeeh siapa takut"balas Gilbert tidak mau kalah
Gilbert meminjam bola basket lalu keduanya pun saling berusaha mencetak poin masing-masing, Aldrina begitu serius begitupula Gilbert yang merasa tertantang. Waktu tidak tersisa banyak lagi dan kini skor keduanya masih terlihat seimbang, Gilbert dengan pikiran liciknya pun beraksi.
"Matematika gue kalah soal olahraga gue gak boleh kalah"batin Gilbert sambil melancarkan aksinya
__ADS_1
"Eh ada Dandra"teriak Gilbert menyebutkan nama orang yang bisa membuat fokus Aldrina terpecah
Akibatnya Aldrina melihat kearah yang dilihat Gilbert lalu dengan sigap Gilbert memanfaatkan situasi itu dan mencetak skor yang membuatnya menang.
"Yes! Huh"seru Gilbert lalu terduduk di lapangan basket
"Anjir curang"
"Apanya yang curang? Gak bisa dibilang curanglah emang kak Dandra tadi lewat"balas Gilbert dengan senyum puas
Aldrina pun semakin menekuk wajahnya "Makanya jangan bucin! Bodohkan jadinya"ejek Gilbert
"Udah sana-sana beli minum!"usir Gilbert menambah kejengkelan Aldrina
"Eh bibirnya mau jatuh tuh"tambah Gilbert yang begitu usil yang membuat Aldrina ingin memakan dirinya hidup-hidup
Setelah merasa tidak lelah lagi keduanya kembali ke kelas mereka, betapa terkejutnya keduanya sudah melihat pak Anton bagai patung yang mengeluarkan aura menyeramkan di depan pintu kelas.
"Oh bagus ya kalian berdua bukannya merenungkan sikap malah bermain"
"Elo sih Drin"kata Gilbert menyalahkan Aldrina
"Elo elo enak aja"balas Aldrina tidak mau disalahkan
"Sudah-sudah bapak tidak habis pikir dengan kalian berdua dan kamu Aldrina tugas kamu belum selesai semuanya! Bagaimana kamu ini? Mau saya berikan surat panggilan orangtua?"
"Ma.. ma..maaf pak maaaf saya janji pak enggak ulangin kesalahan saya lagi pak, saya mohon jangan panggil orangtua saya pak"kata Aldrina dengan penuh penyesalan
"Oke baiklah karna kalian masih kelas 10 bapak tidak akan terlalu keras dengan kalian berdua tapi sebagai gantinya selama sebulan ini kalian berdua akan selalu saya suruh maju untuk mengerjakan soal-soal yang saya berikan"
"Baik pak tidak masalah, terimakasih pak"jawab Aldrina cepat sambil mengelus dadanya
"Maaf pak mengecewakan bapak, selamat pagi pak"sambung Aldrina sambil memberi hormat dan diikuti Gilbert yang dipaksa membungkuk oleh Aldrina
Akhirnya pak Anton pergi berlalu "Huh akhirnya"seru Aldrina bernapas legah
Shirene pun langsung menghampiri keduanya yang masih setia berdiri di depan pintu kelas
"Permisi om tante gak mau masuk nih?"seru Shirene mengalihkan pandangan keduanya
Aldrina pun langsung memasang mata elangnya "Ciri-ciri sahabat yang senang diatas penderitaan sahabatnya nih"
"Sahabat lo PMS tuh Shirene dari tadi nyalahin gue"adu Gilbert
"Hahhaha tau aja Rin,oopps"balas Shirene sambil menutup mulutnya
"Kurasa sih gitu Bert hehe"tambah Shirene dengan cengiran
Aldrina melotot "Untung lo imut mut"balas Aldrina langsung mencubit pipi Shirene dan duduk dibangkunya
"Awww... Sakit woik"
"Eh Rin kita enggak ke kantin nih? Laper banget gue"sungut Shirene mengikuti langkah Aldrina
"Enggak ah capek lagian si monyet kampret ngabisi uang gue tadi"kata Aldrina kembali kesal
"Lah sejak kapan monyet makan uang Drin?"
__ADS_1
"Sejak Gilbert berubah jadi monyet"balas Aldrina malas
Shirene mengangguk-angguk seakan mencerna perkataan Aldrina "Lah kok si..."
"Udah ah mut diem dulu gue mau bobo"potong Aldrina mulai kesal dengan sahabatnya itu
"Yeee si mbak ada-ada aja! Yaudah deh aku ke kantin sendiri babay beb"seru Shirene akhirnya dan pergi berlalu menuju kantin
Shirene berjalan sendiri ke kantin lalu memberi beberapa gorengan. Sepulang sekolah Aldrina sudah ditunggu Dandra diparkiran dan keduanya pun pulang tanpa banyak mengobrol. Aldrina merasa lelah dan terlihat tidak bersemangat yang membuat Dandra pun mengikutinya untuk diam.
Sesampainya di depan gerbang rumah Aldrina, gadis itu turun tanpa mengucapkan apa-apa yang membuat Dandra menarik tangannya.
"Kamu kenapa?"
"Ah enggak apa-apa kak"
"Enggak kenapa-kenapa tapi kenapa kayak kesal samaku?"
"Enggak kenapa-napa lo kak"jawab Aldrina semakin meninggikan suaranya
"Suaranya kenapa ngegas gitu?"
"Iss gak kenapa lo ih.."
"Astaga Aldrina anak SD sekali pun tau kalo kamu kenapa-napa sekarang"
"Ah tau ah"Aldrina menghempaskan tangan Dandra
Dandra pun tidak tinggal diam, Dandra turun dari motornya lalu memeluk menarik Aldrina kepelukannya.
"Kalo punya masalah cerita sayang"kata Dandra begitu lembut
"Hemm"
"Kan masih marah"
"Apaan sih kak aku bukan anak-anak kali lepasin ah"
"Gini nih cewek maunya dimengerti tapi gak mau mengerti"gumam Dandra
"Aku dengar"
"Bagus dong"
"Ihh apaan sih kak"Aldrina memukul dada bidang Dandra yang menjebak tubuhnya
"Kalo ada masalah itu cerita bukannya marah gak jelas sayang"kata Dandra mengendurkan pelukannya lalu mencubit gemas hidung Aldrina
"Ih ada komedonya keluar"canda Dandra
"Mampus"kata Aldrina senang
"Ciee yang senyumnya mulai mekar"goda Dandra
"Hahah udah ah kak balek gih sana aku udah gak kenapa-napa lagi kok! Suer! Udah di reset tadi dengan pelukan kakak"
Dandra tersenyum "Hahaha ada-ada aja kamu! Yaudah aku pulang ya, masuk gih"balas Dandra sambil mengelus puncak kepala Aldrina
__ADS_1
"Hem iyaa"jawab Aldrina sambil mengangguk
Setelah Dandra menjalankan motornya Aldrina pun masuk ke dalam rumahnya.