
"Bahkan rasa sakitku saja belum hilang kini luka baru berdatangan yang memaksaku untuk tetap kuat"
\~\~LYSM\~\~
Kenzo Praditya adalah ketua OSIS pengganti dari Dandra. Sejak awal kepindahannya ke SMA TUNAS UTAMA lelaki itu langsung terpilih menjadi anggota OSIS karena nilai-nilainya yang luar biasa. Kenzo memang tidak seterkenal Dandra dulunya namun ketika lelaki itu menjadi ketua OSIS banyak yang menyamakan dirinya dengan Dandra. Seakan-akan Kenzo memiliki hubungan darah dengan Dandra, bukan hanya dari sifatnya banyak juga yang mengatakan tampang keduanya juga mirip.
Kenzo tidak menyukai wanita baginya wanita itu begitu menyebalkan dan begitu rumit untuk dimengerti sama seperti Nadya ibunya selalu memarahi dirinya tentang apa pun yang terjadi. Bahkan ketika Nadya mabuk wanita paruh bayah itu sering main tangan pada Kenzo.
Kenzo bukanlah anak orang kaya sejak kematian sang ayah saat dirinya masih balita keluarganya tidak memiliki apa pun, seluruh kerabat dekat sekejap menjauh setelah mengetahui kemalangan yang menimpa keluarganya. Nadya yang membesarkan Kenzo dan adiknya seorang diri harus pontang-panting bahkan sampai menjadi wanita malam. Kenzo tumbuh menjadi manusia yang begitu dingin dan tidak memiliki kehangatan sama sekali. Alasanya adalah Nadya sang Ibu, Nadya tidak pernah sekali pun memberikan kehangatan layaknya seorang ibu pada Kenzo dan adiknya.
Matahari kini kembali memancarkan sinarnya terlihat seorang lelaki dengan tatapan dinginnya sedang memperhatikan orang-orang yang melewati dirinya, dia adalah Kenzo. Kenzo saat ini sedang berada di gerbang sekolah merazia siswa-siswi yang tidak taat akan aturan sekolah. Aura horror seakan keluar dari tubuh lelaki itu dan dengan tatapan dinginnya Kenzo mengeluarkan suara beratnya.
"Rok"ucap Kenzo dingin pada Biselia yang baru saja memasuki gerbang sekolah
"Yah kan udah gak belajar lagi kak, ayolah kak"ucap Biselia manja
"Rok"ucapnya lagi dengan tatapan semakin dingin yang membuat Biselia menurunkan rok yang sudah rapi digulung ke atas
"Huh gak seru"omel Biselia dan ingin berlalu
"Siapa suruh anda boleh pergi?"ucap Kenzo yang membuat Biselia menghentikan langkahnya
Kenzo mendekati Biselia melihat bet name gadis itu lalu mencatat namanya sebagai siswi yang melanggar peraturan. Setelah selesai Kenzo menggerakkan jari telunjuknya mengisyaratkan gadis itu baru boleh pergi.
Tidak berapa lama Aldrina yang hari ini pergi menaiki bus akhirnya sampai disekolah. Hari ini Aldrina juga tidak pergi bersama Dandra karena Dandra memiliki keperluan yang masih harus diurus. Aldrina menggunakan headset sambil bersenandung ria.
"Aww"seketika Aldrina teriak karena kesakitan
"Sialan"umpat Adrina kesal
Kenzo yang menarik rambut Aldrina hanya memasang wajah datar lalu menulis beberapa kalimat di bukunya. Aldrina mengerutkan dahinya dengan tampang kesal Aldrina membalas perlakuan Kenzo menarik rambut lekaki itu kembali.
"Enak aja lo narik-narik rambut gue, lo kira gue gak bisa hah?"ucap Aldrina yang menarik rambut Kenzo cukup kuat
"Sialan beraninya dia"batin Kenzo marah
Wajah Kenzo menjadi semakin dingin "Lepas"ucap Kenzo dingin sambil menatap Aldrina
Aldrina tidak menurut dan semakin menguatkan tarikannya, Kenzo yang mendapat perlakuan kasar seperti itu tiba-tiba saja teringat akan Nadya yang selalu menyikasanya.
"Dasar cewek gila"ucap Kenzo dan mendorong Aldrina cukup kuat sampai gadis itu terjatuh di tanah
Kenzo merapikan rambutnya yang acak-acakan sementara Aldrina yang terjatuh merasakan bokongnya yang begitu sakit.
"Kaos kaki tidak muncul, memakai headset. melawan OSIS. Anda mendapat 3 pelanggaran silahkan kunjungi ruang BK"ucap Kenzo dingin lalu pergi berlalu ke ruang BK
Aldrina cengo tidak percaya mendapati dirinya yang kini menjadi sorotan mata semua siswa yang baru saja datang. Aldrina mencoba berdiri namun tubuhnya seakan tidak mengizinkan dirinya.
__ADS_1
"Eh gila itu bukannya pacar mantan ketua OSIS?"
"Haha loser kasian banget pacarnya gak jadi ketua OSIS jadi diremehin"
"Karma sih itu! Masih kelas 10 selalu buat heboh
"Eh bantuin yuk?"
"Udah gak usah lo mau jadi tumbal? Siapa tau tuh cewek cari perkara sama Kenzo"
Banyak desas desus yang bisa Aldrina dengar tanpa berniat menolongnya berdiri. Untung saja Felix yang sudah tidak menjabat sebagai OSIS lagi datang lama ke sekolah. Felix langsung menghentikan motornya di tengah jalan.
"Astaga Aldrina ngapai selonjoran disini?"ucap Felix sambil membantu Aldrina berdiri
"Aduh duh bokongku sakit banget"ucap Aldrina dengan mata yang mulai memerah
"Serius gak bisa diri?"tanya Felix khawatir terlebih lagi setelah melihat mata Aldrina yang mulai berkaca-kaca
Aldrina menggeleng akhirnya Felix yang tidak tega mengangkat Aldrina ala bridal style ke UKS. Kini bukan hanya siswa yang baru datang saja bahkan seluruh siswa yang ada di pekarangan sekolah membuat Aldrina menjadi pusat sorotan mata.
Dandra yang juga baru keluar dari kantor kepala sekolah awalnya tidak memperdulikan keramaian yang tercipta sampai telinganya tidak sengaja mendengar desas-desus yang membawa nama kekasihnya. Karena jarak UKS yang cukup jauh dari geerbang sekolah, secepatnya Dandra menyusul Felix yang masih menggendong Aldrina.
"Felix"panggil Dandra dengan nada tidak suka melihat kekasihnya digendong lelaki lain selain dirinya
"Turunin dia sekarang"perintah Dandra pada Felix yang tidak menghentikan langkahnya
"Nanti setelah sampai UKS"balas Felix singkat
Felix yang sebenarnya juga sudah naik pitam mencoba tidak marah "Dia gak bisa berdiri"ucap Felix dingin dengan Aldrina yang mengangguk sambil memasang pupplye eyes
Mendengar itu pun dengan perlahan Aldrina berpindah tangan, kini Dandra yang mengangkat gadisnya sampai ke UKS.
"Sialan lo Dan teganya ninggalin dia sampe kayak gitu, gue ngerelain Aldrina bukan untuk disakiti dan siapa Kenzo? Anjir tuh orang"ucap Felix marah setelah mendengar desas desus selama dirinya mengangkat Aldrina tadi
Kenzo yang saat ini duduk di kelasnya sambil membaca buku langsung dihantam oleh Felix.
"KENZO"
"BUGH"Belum sempat Kenzo melihat kearah orang yang memanggilnya pipinya sudah terkena tinju Felix
"BUGH"
"BUGH"
"BUGH"
Felix memukuli Kenzo secara sepihak dan tidak terima kemarahan Kenzo keluar dan dia membalas pukulan itu.
"BUGH"
"BUGH"
__ADS_1
"BUGH"
"Sialan lo apa maksud lo nyakiti Aldrina?"tanya Felix setelah memojokkan Kenzo
"Cih"Kenzo membuang ludah yang sudah tercampur darah
"Gak ada urusanya sama lo"ucap Kenzo dingin sambil menujuk Felix dengan telunjuknya
"Anjig lo"ucap Felix marah dan ingin melanjutkan pukulannya dan langsung ditahan oleh Dandra
Dandra yang juga sudah mengetahui semuanya datang ingin membuat perhitungan dengan Kenzo dan apa yang dilihatnya sekarang membuat niatnya terlupakan.
"Berhenti lo berdua"ucap Dandra tegas sambil memisahkan keduanya
"Dia nyakitin Aldrina Dan gue cuma mau balas"
"Tapi gak disini"ucap Dandra dingin dengan amarah yang terpendam
"Gue juga marah anjing"batin Dandra tidak terima seolah hanya Felix yang merasa marah
"Kalian berdua adalah OSIS tunjukkan sikap kalian sebagai OSIS! Dan lo Kenzo gue tunggu lo diluar sekolah!"ucap Dandra begitu dingin dan kembali ke UKS
Aldrina yang kini di UKS hanya bisa memasang wajah kesal bercampur menahan sakit, seperti yang dikatakan dokter sekolah sepertinya bokong Aldrina menghamtam batu yang membuatnya susah untuk berdiri bahkan berbaring pun terasa sakit. Kini Aldrina hanya bisa tidur telungkup.
"Apes banget sih lo Drin"batin Aldrina merutuki dirinya sendiri
"Dan Kenzo sialan? Kenapa ada mahluk tidak berperasaan seperti dirinya"batin Aldrina tidak menyangka Kenzo menelantarkannya begitu saja
BRAKK
Dandra masuk ke dalam UKS dengan membanting pintu untung saja dokter sekolah sedang keluar jika tidak Dandra pastinya akan terkena masalah. Aldrina tersadar dari lamunannya akibat suara bantingan itu.
"Cerita sekarang"ucap Dandra yang terlihat emosi
"Ah lagi malas sakit tau"balas Aldrina yang tidak berniat untuk berdebat
"Cerita Aldrina"ucap Dandra yang semakin meninggikan suaranya
DEG
Mendengar suara Dandra yang meninggi gadis itu membuang muka, menggigit bibir bawahnya agar tidak menangis namun alhasil tidak bisa bukan karna rasa sakit jatuh justru Aldrina menangis karna suara Dandra yang tiba-tiba saja meninggi.
"Hiksss hikss hiksss"Aldrina menangis dan mengalihkan pandangannya asal tidak melihat Dandra yang membuat lelaki itu melemah
"Drin lihat sini Drin hei Drin"ucap Dandra yang melembut namun Aldrina tetap membuang muka
"Hikss...Hikkss..Hiks"Aldrina hanya terus saja menangis sampai sesenggukan
Dandra pun berpindah tempat dan tetap Aldrina kembali melihat kearah lain. Sakit, keduanya merasakan sakit yang tidak bisa diungkapkan. Dandra pun memilih diam dan duduk dibangku sebelah tempat tidur Aldrina, mengelus kepala Aldrina yang tidak mau melihat dirinya.
__ADS_1