
..." Beruntunglah kamu jika masih banyak orang yang khawatir dengan dirimu"...
...~~ LYSM ~~...
Semua mata fokus ke Bimo saat melihat reaksi Bimo mereka berpikir semua kejadian itu seakan sudah direncanakan. Loy menyenggol lengan Ley "Lo tau sesuatu?"bisik Loy
Ley mengangkat bahunya pertanda tidak tau apa-apa "Kenapa Bim? Kenapa bicaramu seakan ini bukan kebetulan?"tanya Dandra penasaran
"Tadi pagi gue kan nganterin adek gue ke sekolah eh ditengah jalan ada mobil gila tiba-tiba nyerempet kami untung gue bawa motornya dipinggir jadi gak kenapa-napa, gue merasa kayak semua kejadian berhubungan"kata Bimo mengingat kejadian tadi pagi
"Kalian kalo mau musyawarah ngapai kesini"lirih Aldrina setelah merasa sudah enakan
Semuanya pun bubar menghampiri Aldrina yang berbaring di kasur
"Lah muka kalian itu lo seakan emak kehilangan anak aja, gue gak kenapa-napa lebay amat sih haha"tutur Aldrina diakhiri tawa
Semua memasang wajah datar dan mengintimidasi "Woik kalian kenapa sih? Dengan tatapan horror kalian aja pasien yang sehat bisa sakit tau"tambah Aldrina lagi yang membuat mereka mengubah raut wajah
"Gue enggak kenapa-napa lagi udah yuk ke lapangan aku mau nonton pertandingan juga"tambah Aldrina
"Plak"Bimo menoyor jidat Aldrina pelan yang membuat Dandra melotot tajam kepadanya
"Dih adek gue punya pacar seram amat"batin Bimo menyadari tatapan Dandra lalu pura-pura menghiraukan
"Gak usah sok kuat kamu nyet"dengus Bimo kesal
"Ih sakit lo kak, lagian aku udah beneran enakan kok suer"sungut Aldrina
"Hargai dong dek kami yang ada disini, lo tau kan kami semua khawatir liat lo tiba-tiba drop gitu! Terus lagi Kakak mau nanya sama kamu! kamu punya musuh?"
"Hah musuh? Hahaha apaan sih kak gak mungkinlah, tapi gataulah mau kita baik atau jahat kek pasti ada aja orang yang gak senang ke kita, jadi mungkin aja orang itu gak suka sama aku"jawab Aldrina menarik kesimpulan sendiri
Semuanya pun asyik dengan pikiran sendiri memikirkan siapa dalang dari semuanya
"Ah udalah guys paling kebetulan aja, terus makasih banget kalian bela-belain nengokin aku kesini"kata Aldrina agar mereka semua berhenti memasang wajah khawatir, Aldrina begitu senang masih banyak yang peduli padanya
"Sekarang udah kalian semua bubar! Ke lapangan sana nonton pertandingan bukan nontonin gue"tambah Aldrina lagi
"Hemm"Shirene menghembuskan nafas berat
"Yaudah deh Drin aku, Gilbert sama Tian ke lapangan dulu, lo istirahat yang benar"kata Shirene pasrah lalu ketiganya keluar begitu juga dengan Bimo CS yang mengikut keluar
"Kakak juga keluar sana"usir Aldrina melihat Dandra yang masih mematung ditempatnya
"Yakin?"goda Dandra sembari duduk di bangku yang ada di dekat kasur Aldrina
"Hahaha ih..."
"Ih apa?"tanya Dandra tersenyum manis
"Ih pacar aku ganteng banget diliat dari dekat haha"goda Aldrina yang membuat keduanya tertawa
__ADS_1
Walaupun Dandra ikut tertawa pikirannya masih terus berkelana memikirkan apa yang membuat Aldrina sampai seperti ini dan kemudian tersadar
"Oh iya"seru Dandra
"Aku kelapangan dulu kamu tunggu disini"seru Dandra lalu berlari menuju tempat dimana Aldrina meletakkan botol minumannya tadi
Danda terus mencari dan menemukan botol minuman itu terjatuh dibawah.
"Huh untung masih ada"batin Dandra lalu memungut botol dan kembali menuju ke UKS
"Sebelumnya mohon maaf mengganggu dok, dokter bisa tolong memeriksa minuman ini? Saya curiga sialapa tau ada yang salah diminumannya"seru Dandra menghampiri dokter
"Baik dek silahkan tunggu dulu"kata dokter itu lalu mengambil beberapa tetes minuman untuk diperiksa
"Lo itu kan?"
"Iya itu minuman yang kamu minum tadi"
"Lah emang kenapa kak? Ada racun?"tanya Aldrina kaget
"Duh makanya kalo nerima sesutau liht- lihat dulu dong orangnya"omel Dandra lalu mencubit gemas kedua pipi Aldrina
Aldrina protes dengan vokal yang tidak jelas karna tangan Dandra yang masih setia mencubit pipinya"Ya kan mana aku tau bakalan kayak gini! Lagian tadi haus banget"
"Nye nye nye ngomong apasih kok lucu banget"ejek Dandra mendengar suara Aldrina yang terdengar lucu terlebih raut wajah gadis itu yang menggemaskan
"Iih jahat banget lepasin ah"kata Aldrina kesal
"Enak yah jadi anak muda! Jadi pengen muda lagi lihat kalian"tambah dokter wanita itu sambil mengulas senyum
Keduanya pun tersenyum kikuk "Ini hasilnya sudah dokter periksa, benar di minuman itu terdapat obat pencuci perut dengan dosis tinggi dek"
"Baik dok terimakasih infonya"
"Ya sama-sama, enak yah dek punya pacar yang perhatian"seru dokter itu pada Aldrina sambil mengedipkan sebelah matanya
"Hahaha"Aldrina pun tertawa
Dandra yang sudah mendengar perkataan dokter itu langsung ingin bergegas keluar mencari lelaki si pemberi minuman. Walaupun dari kejauhan Dandra masih melihat dengan jelas wajah lelaki itu apalagi mata Dandra belum terkena minus, wajah lelaki itu terekam di memori Dandra terlebih kejadian tadi sempat membuatnya cemburu.
"Mau kemana?"tanya Aldrina
"Ada keluar bentar"
Aldrina menarik lengan kekar Dandra "Kasih tau cepat"
"Mau nyari cowok yang ngasih minum kamu tadi"
"Emang kakak tau orangnya? Udalah kak mungkin dia juga gak tau"kata Aldrina melihat ekspresi Dandra
"Gak tau gimana jelas-jelas dia yang ngasih ke kamu"
__ADS_1
"Ya siapa tau aja"
Merasa ada yang tidak beres dengan adiknya Bimo pun mengajak Loy dan Ley ke parkiran memastikan sesuatu yang membuatnya begitu penasaran.
"Ngapai sih Bim ke parkiran?"tanya Loy heran
"Tau tuh mau jadi tukang parkir kita?"tambah Ley
"Kampret lo enggak lah! Ini nyari mobil yang tadi pagi nyelakai gue siapa tau ada disini"
"Bodo banget tuh orang kalo sampe bawa mobilnya kesini"kata Loy mendengar perkataan Bimo
"Makanya dipastiin dulu bambang"
Ketiganya mengecek parkiran melihat mobil sesuai yang dikatan Bimo tapi tidak mendapatkan hasilnya sampai melihat sebuah mobil yang persis dengan yang dikatakan Bimo melaju kencang meninggalkan sekolah itu
"Anjir serius adek gue dalam bahaya"umpat Bimo kesal
"Kejar kejar"kata Ley seakan ingint terbang
"Dah jauh gila gak mungkin terkejar! Belum lagi proses ngeluarin mobil kita dari parkir lama"kata Bimo mendengus kesal
"Haha maklum bro kembaran gue yang baling ini suka bebicara sebelum berpikir, yaudah kita balek aja ke UKS bawa si Aldrina pulang"tambah Loy
Ley pun memasang wajah datar mendengar perkataan Loy yang suka benar lalu mengikut kembali ke UKS.
***
Kini Aldrina sudah berada di sofa sambil menonton siaran TV sesekali dia mengecek notikasi yang masuk ke HPnya sementara Bimo berada di dekatnya juga sedang bermain game
"Kak"
"Apaan nyet?"
"Ini aku di judge sama anak-anak yang lain"
"Kenapa?"tanya Bimo lagi tanpa mengalihkan perhatiaannya
"Masa aku dikatain ketua basket yang enggak profesional karna main hilang aja terus katanya untung sekolah bisa masuk final kan kesal aku, kakak kan tau sen..."
"Iiiih kak dengerin aku engga sih?"dengus Aldrina kesal melihat Bimo yang masih asyik dengan gamenya
"Iya dengar udalah dek gak usah ditanggepin mereka ga tau yang sebenarnya"
"Ih bukannya ngasih solusi atau mengibur dengan lawakan apa gitu! Cuek banget ahh ah tau ah ngambek aku"rengek Aldrina lalu pergi menuju kamarnya
"Eh nyet nyet mau kemana? Ya kan mati jadinya!"
"Mampus"kata Aldrina cukup nyaring sebelum masuk ke dalam kamarnya
Saat itu hari sudah malam untung saja Aldrina sudah makan malam, gadis itu ngambek dan tidak keluar kamar lagi. Aldrina sudah terlelap saat memikirkan hari ini begitu membuat jiwa dan raganya begitu lelah.
__ADS_1