Love You So Much

Love You So Much
Bagian 41 (Rumah Sakit Lagi)


__ADS_3

Dandra tau pada akhirnya akan begini, pasti Aldrina akan mengalami sakit perut yang hebat tapi tidak untuk situasi saat ini yang membuatnya lagi-lagi harus berhadapan dengan Aldrina, bukannya Dandra tidak ingin hanya saja Dandra merasa Aldrina jauh lebih aman tanpa ada dirinya disamping Aldrina. Setelah menggendong tas Aldrina, Dandra segera berlari ke UKS untunglah dokter sekolah belum pulang Dandra meminta beberapa butir obat sakit perut kemudian lelaki itu bergegas ke kantin untuk membelikan sebotol minuman.


Kini tiba lah Dandra di depan toilet perempuan menunggu gadis yang sudah mengisi hatinya dengan begitu gelisah, Dandra berjalan mondar-mandir depan kamar mandi layaknya orang yang sedang begitu bimbang.


"Diletak atau nunggu aja ya? Jika kutunggu gak tau apa yang bakalan terjadi tapi jika diletak misalnya hilang gimana?"batin Dandra bingung


"Ah masa bodo daripada ngehadapi situasi canngung"batin Dandra dan ingin meletakkan tas Aldrina di depan kamar mandi


Tanpa Dandra sadari sedari tadi Aldrina sudah berdiri sembunyi dibalik tembok yang bisa menghalangi tubuh gadis itu. Awalnya ada rasa marah yang muncul namun melihat sifat Dandra yang begitu gusar membuat Aldrina mengukir senyumnya.


"Sekalian aja dibuang ke tempat sampah"kata Aldrina yang melihat Dandra ingin meletakkan tasnya di lantai


Entah setan apa yang merasuki Aldrina untuk mengatakan hal seperti itu. Dandra kembali memungut tas Aldrina dan memberikan tas itu kepada Aldrina tanpa berbicara sedikit pun.


"Apa?"tanya Aldrina melotot saat Dandra menyodorkan tas Aldrina


Dandra hanya memandang tas dan wajah Aldrina bergantian


"Oh tas gue? Berat yah! Cih punya mulut kan? Tinggal ngomong kan cepat"kata Aldrina dengan nada yang mulai kesal karna Dandra terus saja berdiam diri


Kemudian Dandra kembali menyodorkan obat dan minuman yang sudah diambilnya tadi. Memberi tapi dengan bahasa tubuh tidak sedikit pun suara keluar dari mulut Dandra bahkan suara tetesan air dari keran kamar mandi saja sampai terdengar ke telinga. Lama tangan Dandra terulur dan Aldrina hanya memandang dengan pandangan yang menahan kesal setengah mati.


"Gak butuh"Aldrina menepis tangan Dandra kasar yang membuat apa yang ada di tangan Dandra terjatuh


Dandra menghela nafas dan memungut obat dan mineral yang terjatuh. Aldrina memutar bola matanya kemudian berjalan menjauhi Dandra. Air mata gadis itu hampir saja jatuh yang membuatnya merasa malu.


"Gue gak paham, gue lemah banget"rutuk Aldrina dalam hati


Dandra menarik lengan Aldrina yang membuat jarak keduanya menipis. Aldrina tersenyum kecut melihat wajah Dandra dari dekat. Rindu dan rasa sakit kini berpadu dengan mantapnya yang membuat Aldrina tampak sulit mengendalikan diri.


"Apa lagi?'tanya Aldrina dengan nada marah sekuat tenanganya Aldrina menahan air matanya

__ADS_1


"Ini biar perutnya enakan"kata Dandra mencoba berkata setenang mungkin


Lagi-lagi Aldrina tersenyum pias "Ooo ceritanya gue lagi dikasihani karna sakit perut, iya? Dengarnya kak Dandra Daville gue bilang sekali lagi gue gak suka dikasihani, gue gak heh gue gak butuh dikasihani sama lo, cukup! cukup buat gue bingung dan sakit!"


Dandra diam dan tidak ingin membalas perkataan Aldrina yang menurutnya akan membuat Aldrina semakin marah, Dandra memutuskan untuk melangkah ke depan namun tangannya ditarik oleh Aldrina


"Pengecut lo kak"teriak Aldrina dan air matanya berhasil lolos


Setelah mengatakan itu Aldrina berlari sambil menangis. Aldrina masih berharap Dandra akan meperbaiki kata-katanya dan membuat hubungan mereka kembali tapi kenyataannya tidak sama sekali, Aldrina terlalu berharap pada harapan kosong. Berakhirlah Aldrina yang cengeng dan sakit perut di depan sekolah menuggu bus lewat. Kesialaan mungkin berpihak padanya entah kenapa pandangan Aldrina tiba-tiba saja mengabur dan pingsan. Untung Dandra mengikuti Aldrina yang berlari dan sigap menangkap tubuh Aldrina.


Saat ini Aldrina berada di rumah sakit dengan infus yang terpasang di tangannya. Dandra sedang berbicara kepada dokter tentang kondisi Aldrina di dalam ruangan.


"Bisa bicara dengan keluarga pasien?"tanya dokter kepada Dandra


"Iya dok saya sendiri, ada apa ya dok? Gimana keadaan Aldrina dok?"


"Baiklah dek, jadi begini keadaan pasien saat ini sudah baik-baik saja kami sudah memberikan obat sakit perut dan satu lagi tolong pasien dijaga dengan baik sepertinya kepala pasien baru saja sembuh ya?"


"Iya dok dia baru keluar dari rumah sakit sekitar seminggu yang lalu"


"Oh iya baik dok saya akan lebih menjaganya, terimakasih dok"


"Iya dek sama-sama, saya permisi dulu"


Dokter keluar dari ruangan dan Dandra berbalik melihat kondisi Aldrina yang kini sudah menatap Dandra dengan tatapan yang begitu sendu. Dandra mengambil kursi yang ada di ruangan dan meletakkannya di dekat tempat tidur Aldrina. Aldrina terus memperhatikan gerak-gerik Dandra sampai pandangan keduanya bertemu.


"Kali ini kasihan lagi?"lirih Aldrina tanpa mengalihkan pandangannya


Dadra diam dan tidak menjawab "Hmm kak kak"Aldrina beribiicara seolah bahagia


"Yaudah kali ini aku gak punya tenaga buat ngusir atau ngomong kasar sama kamu! Apa pun niat kamu makasih, makasih ya?"

__ADS_1


Dandra diam lagi "Dijawab dong mau balik jadi es lagi ya? Mau aku cairin lagi? Mau.."


"Udah diam istirahat dulu nanti kita bicara"kata Dandra dingin dan membenarkan selimut Aldrina


Aldrina pun pasrah untuk diam karna kini tubuhnya terasa begitu lemah dan rasa ngantuk yang mulai menyerang dirinya.


"Jangan ditinggal! Gak masalah karna kasihan"lirih Aldrina dengan mata yang tertutup


"Hmm" Dandra mengeluarkan suaranya yang membuat Aldrina tersenyum sebelum benar-benar tertidur


Saat Aldrina tidur perawat masuk dan mengatakan bahwa Aldrina tidak perlu sampai rawat inap sesudah sebotol cairan infus masuk ke tubuh Aldrina, dia sudah bisa dibawa pulang ke rumah dan dirawat di rumah saja. Infus sudah dilepas dan kini Dandra hanya menuggu Aldrina untuk bangun agar mereka bisa pulang. Matahari sudah mulai tenggelam Aldrina terbangun dari tidurnya dan beberapa kali menguap lebar karena belum terlalu sadar Aldrina menguap bagaikan Singa yang sedang mengaung, Dandra berusaha menahan tawa melihat Aldrina seperti itu.


"Anjir"teriak Aldrina sambil menutup mulutnya setelah melihat Dandra masih duduk di posisi yang sama seperti sebelum dia tidur tadi.


Kini Aldrina sudah berada diatas motor Dandra dengan berusaha menahan malu.


"Bodo bodo pasti gue jelek banget tadi"batin Aldrina sambil menepuk-nepuk kepalanya


Dandra yang melihat Aldrina dari spion secepatnya berhenti dan menarik tangan Aldrina yang memukul-mukul kepala sendiri.


"Jangan nambah penyakit! Penyakit itu dihindari bukan dibuat"kata Dandra dingin


Aldrina memasang wajah kesal "Emang yang bikin gue malu siapa? Iiiih kan elo"batin Aldrina begitu dongkol namun menurut dan melingkarkan kedua tangannya di perut Dandra


"Bukan gue yang minta ya tapi elo"kata Aldrina sok cuek namun dalam hati siapa yang tau


Dandra belum saja melajukan motornya, lelaki itu mengeluarkan jaket dari dalam tasnya.


"Dipakek dulu bulu tangan kamu diri semua"kata Dandra tanpa menoleh ke belakang


"Apa bulu? Emang gue hewan?"

__ADS_1


"Sejenisnya udah pakek aja" kata Dandra dengan menyunggingkan senyum dibalik helmya


Raut wajah Aldrina bertambah kesal namun dia selalu menuruti semua perkataan Dandra.


__ADS_2