
Sesampai di depan rumah Aldrina gadis itu langsung turun dari motor Dandra kemudian merapikan rambutnya yang berantakan.
"Emm makasih"seru Aldrina tanpa memandang wajah Dandra
"Hmm"
"Is geram banget sumpah"batin Aldrina sambil memelintir lengan jaket Dandra
"Jaketnya langsung dilepas aja"kata Dandra dingin
Hal itu membuat bola mata Aldrina melotot "Iya iya gak bakalan gue curi, nih puas!"seru Aldrina galak sambil menghempaskan jaket Dandra ke pria itu
"Dasar singa betina"kata Dandra pelan
Aldrina memasang wajah benar-benar dongkol dan langsung melenggang pergi ke rumah tanpa mengucapkan apa pun lagi pada Dandra. Melihat itu Dandra kembali menyunggingkan senyumnya, kemudian Dandra menghidupkan motornya dan kembali melajukan motornya pulang ke rumah.
Sesampainya Aldrina di rumah, Bimo sudah ada di depan pintu rumah saat Aldrina membuka pintu.
"Aaa"teriak Aldrina kaget
"Is kakak ngagetin aja gimana kalo aku punya penyakit jantung bisa-bisa nyawa gue melayang"kata Aldrina kesal sambil memukul-mukul Bimo
"Hahaha, sorry sorry dari tadi gue ngehubungi lo gak diangkat kan khawatir gue nyet"kata Bimo yang membuat Aldrina terdiam
"Darimana tadi?"tanya Bimo penasaran
"Apa gue jujur aja ya? Ah udalah nanti kakak malah tambah khawatir terus ngelapor sama bokap"batin Aldrina
"Eh si monyet ditanyai malah diem, darimana?"tanya Bimo lagi sambil mengguncang tubuh Aldrina
"Ih jangan diguncang dong, cuma jalan-jalan aja"jawab Aldrina dengan mengalihkan pandangannya
"Yakin lo cuma habis jal..."
"Eh kak bibi udah masak belum? Aku laper nih!"potong Aldrina mengalihkan pembicaraan
"Nah nah kebiasaan deh lo nyet kalo jalan pasti gak mau ngeluarin duit buat ngisi perut aja, udah sana ganti baju dulu terus mandi baru makan bibi udah masak juga"omel Bimo layaknya kakak yang cerewet
"Iya iya kakakku sayang, aku ke kamar dulu ya bye"
Aldrina melangkahkan kakinya ke kamarnya. Membuka pintu kamar yang selalu dikuncinya saat pergi sekolah. Melihat kasur yang terlihat empuk membuatnya menghempaskan tubuhnya ke kasur.
"Hah"Aldrina menghelas nafas
__ADS_1
"Kenapa sih kak Dandra buat gue bingung terus?"
"Gue yakin banget sih kak Dandra cinta samaku tapi? Tapi kenapa selalu menghindar ya? Apa karena Mila? Ah iya Mila gue hampir lupa sama gadis menyebalkan itu, dia dimana ya sekarang? Dan gue benar-benar bingung kenapa dia senekat itu ngedorong gue waktu itu? Ahh sudahlah kepalaku semakin sakit memikirkannya"kata Aldrina bermonolog sendiri
Setelah membersihkan diri, Aldrina turun ke bawah untuk mengisi perutnya yang sudah kosong. Gadis itu melihat ke kanan dan ke kiri tapi tidak melihat batang hidung Bimo. Aldrina makan sendiri dan kembali ke kamarnya lagi. Hari ini begitu membuat tubuhnya lemah terlebih lagi sakit kepala yang masih menyerangnya yang membuat Aldrina menjadi uring-uringan dan tanpa sadar masuk ke dalam dunia mimpi.
Mila saat ini masih di dalam penjara. Sebelumnya jika Mila terkena masalah pasti Dandra akan mengeluarkannya dari masalah itu apa pun yang terjadi namun kali ini berbeda, sejak kejadian itu Dandra tidak pernah datang sekali pun bahkan hanya untuk melihat keaadaan Mila. Mila merasa begitu marah pada semuanya, Mila marah mengapa dunia bisa begitu kejam kepadanya dan kenapa semuanya seolah disusun sangat baik untuk membuat terlihat begitu jahat. Namun Mila tidak menyesalinya, menyesal hanya membuatnya akan semakin terpuruk. Gadis itu hanya berbuat semena-mena di dalam sel sehingga membuat pengisi sel lainnya terganggu.
Seperti suatu saat penjaga sel penjara memberi semua tahanan makanan, setelah melihat makanan yang diberikan Mila begitu marah dan malah menghempaskan semua makanan yang diberikan sehingga semua berserakan. Tentu hal itu membuat tahanan yang bersama di selnya marah, mereka menjadi tidak makan karna ulah Mila. Berakhirlah Mila dikeroyok oleh 4 tahanan yang lainnya dan salah satu berbicara kepadanya.
"Jika kau mau hidup bersikaplah yang sopan"desis tahanan itu dengan mata yang melotot sambil menjambak rambut Mila
"Cih"Mila membuang ludahnya seolah tidak peduli
Yang membuatnya kembali dikeroyok oleh mereka sampai penjaga sel datang untung memisahkan mereka.
***
Matahari kembali memunculkan sinarnya, sinar yang begitu indah walaupun susana hati setiap manusia tidak indah. Aldrina kini sudah selesai berpakaian dan akan bersiap berangkat sekolah dengan diantar oleh Bimo.
"Senang deh sakit"seru Aldrina sambil menghirup udara segar diatas motor Bimo
"Bodoh! Bisa-bisanya senang sakit"balas Bimo dengan nada dongkol
"Hemmm dasar licik! Demi elo nyet gue rela nahan-nahan ngantuk padahal baru tidur
"Yee siapa suruh begadang"jawab Aldrina tidak mau disalahkan
"Hemm terserahlah lagi gak mau debat gue dek"seru Bimo pada akhrinya
"Lo baik-baik aja gue bahagia banget dek"batin Bimo dalam hati
"Gimana ujian lo semalam? Sekarang ujian apa?"tanya Bimo mengalihkan topik
"Ahh ntahlah kak, udah ah jangan bahas ujian"balas Aldrina masa bodo lalu menyandarkan wajahnya dipunggung Bimo
"Hem nyamannya"batin Aldrina
Aldrina memasuki kelas dengan wajah yang lebih cerah dari hari-hari sebelumnya. Shirene yang sudah berada dikelas langsung melihat kehadiran Aldrina dan memanggil Aldrina dengan suaranya nyaring.
"Aldrina"teriak Shirene
Aldrina tersenyum tanpa mengeluarkan kata sedikit pun, Shirene menyipitkan kedua matanya "Kenapa lo mbak segar amat?"tanya Shirene
__ADS_1
"Mmm enggak kenapa"balas Aldrina masih terlihat santai
"Ngeliat lo santai gini Drin gue jadi bernapas legah"
"Kenapa gitu?"tanya Aldrina bingung
"Yah ini hari ini mata pelajaran legend semua"
"Maksudnya?"tanya Aldrina semakin tidak mengerti
"Gimana gak legend coba ada matematika,Fisika, terus Penjas, ya lo tau kan gue gak tau apa-apa diketiga matkul itu! Tapi ngeliat elo sesenang ini pasti dah belajar kan? Bisa kali ntar bagi-bagi jawaban"
"Ha? Heheheheh"Aldrina tertawa resah
"Lah napa lo Drin seram amat"
"Gue gak ada belajar"kata Aldrina lesu dan menghempaskan wajahnya ke meja
"Yeeee Drin gue kira belajar makanya senang banget, abislah kita"kata Shirene dengan nada kecewa
"Uuu sini-sini peluk, mari hancur bersama"kata Aldrina kemudian keduanya berpelukan
Tian yang sedari tadi melihat keduanya terlihat mengukir senyumnya begitu juga Luna yang duduk disampingnya. Entah kenapa buat kedua orang itu melihat Aldrina ceria membuat keduanya merasa nyaman. Luna yang terlebih dulu sadar melihat ke Tian.
"Kenapa An kok senyum gitu? Ada yang lucu dibuku?"tanya Luna
"Eh enggak engga"jawab Tian sedikit kikuk
"Oooo, gimana buat ujian hari ini? Aman?"tanya Luna lagi
Tian melihat Luna lalu menggangguk dan Luna mengulas senyum lalu keduanya melakukan aktivitas masing-masing. Walaupun keduanya sebangku tetapi belum terlihat terlalu akrab, hanya sesekali berbincang dan kembali diam. Terlebih lagi Tian masih merasa ada yang salah dengan Luna saat kejadian baju Aldrina hilang, entah kenapa Tian merasa Luna tau yang sebenarnya saat itu dan tidak berniat untuk membantu.
Ujian pertama yaitu matematika di mulai dan seperti biasa soal dan kertas jawaban dibagikan kepada setiap siswa tidak lupa selembar kertas coret agar siswa tidak berusaha utuk membuat contekan, mereka juga tidak diperbolehkan menggunakan kalkulator walaupun hari ini ada ujian matematika. Keadaan begitu hening dan semua siswa sibuk dengan dirinya sendiri.
Aldrina mulai membaca soal satu demi satu, Mencoba mengingat apa saja rumusnya padahal sewaktu UTS Aldrina ingat betul dia bisa menyelesaikan soal yang mirip seperti itu. Namun keaadaan saat ini sedikit berbeda akibat Aldrina tidak pernah mengulang atau hanya sekedar membaca materinya, Aldrina lupa apa saja rumus yang digunakan. Aldrina mempermainkan pulpen dan berusaha keras untuk mengingat namun semua usahanya sia-sia Aldrina tidak bisa mengingatnya malah wajah Dandra yang kini terngiang-ngiang dipikirannya.
"Aldrina, fokus, fokus dong"batin Aldrina
Aldrina melirik ke pengawas yang sedang sibuk dengan pekerjaannnya lalu melihat ke samping berharap ada sedikit bantuan dari Shirene namun semuanya sirna setelah melihat tingkah gadis tembem itu. Shirene menunjuk 5 kancing bajunya secara bergantian dengan mengucapkan beberapa kalimat.
"Ha ri i ni u ji an ke du a"Shirene berhenti dikancing terakhir
"Oke E jawabannya"seru Shirene langsung menyilang jawabannya pada pilihan E
__ADS_1
Aldrina yang melihat itu tersenyum miris dan menggelengkan kepalanya "Gak ada harapan"kata Aldrina sendu