
"Posesfif dan perhatian adalah dua hal yang berbeda dan kamu adalah adalah pacar perhatian"
~~ LYSM ~~
Pagi ini Dandra bangun lebih awal dari biasanya terlihat lingkaran hitam mengitari matanya. Harinya begitu terusik ketika mengetahui keadaan Aldrina semalam.
"Siapa sih yang tega jahatin Aldrina?"tanya Dandra pada dirinya sendiri
Kebanyakan melamun saat berdiri dari duduknya tidak sengaja tangan Dandra menghempaskan bingkai fotonya dan Aldrina yang ada di meja. Kaca foto itu terbentur yang mengakibatkan serpihan kaca bertebaran di lantai kamar Dandra.Seperti biasa akan ada pertanda buruk jika hal seperti itu terjadi.
"Kenapa perasaan gue aneh gini?"tanya Dandra sambil membersihkan serpihan kaca
Sementara Aldrina yang terlihat lebih segar dari Dandra sudah bangun juga. Aldrina tidak terlalu memikirkan apa yang terjadi semalam pada dirinya yang ada dipikirannya hanya akan melanjutkan pertandingan agar tidak semakin mempermalukan kelasnya lagi.
"Apa pun yang terjadi gue harus bisa, semangat Aldrina"Seru Aldrina menyemangati dirinya sendiri
"Gue bakal buktiin kalo gue pantas jadi ketua basket bukan hanya numpang nama"tambah gadis itu mengingat dirinya menjadi bahan gosipan seisi sekolah
Mila kini berada di depan cermin, gadis itu terlihat mengembangkan senyum jahat sambil membenarkan rambutnya yang berantakan "Hari ini gue pastikan lo bakal mati Aldrina, itu balasan setimpal ketika lo berani merebut satu-satunya manusia yang gue punya"lirih Mila penuh dendam
Sejujurnya Mila bukanlah gadis jahat hanya saja gadis ini memiliki pergaulan yang sesat yang membuatnya bagaikan kehilangan arah hidup, gadis itu hanya memikirkan Dandra adalah tujuan hidupnya saat ini. Mila kembali mengomsumsi obat terlarang yang ada di laci mejanya.
Hari ini adalah babak final seperti tahun-tahun sebelumnya SMA Cempaka akan bersaing dengan SMA Tunas Utama untuk memperebutkan posisi juara 1. Sudah dua tahun Mila bergabung sebagai anggota basket, gadis itu tidak lagi bepikir jauh bagaiamana caranya untuk menyakiti Aldrina walaupun hal itu akan mempengaruhi hidupnya di masa depan, Mila tidak memperdulikannya lagi.
"Toh hidupku sudah hancur"lirih Mila tersenyum getir
Bimo yang baru bangun pagi terkejut melihat Aldrina sudah terlihat memakai pakaian olahraga dengan rambut yang diikat satu tinggi ke atas
"Nyet"panggil Bimo pada adek kesayangannya
"Tolonglah kak Bim aku punya nama"balas Aldrina kesal sambil mengunyah sarapan
"Hahah kebiasaan dek namanya juga panggilan sayang"kata Bimo ngeles
"Hem serah deh kak"
"Oke kembali ke topik, lo mau kemana?"tanya Bimo dengan wajah yang kembali serius
"Lo udah sikat gigi gak sih kak? Bau tau"seru Aldrina kesal entah keapa gadis itu terlihat sensitif
"Haa haa ha"Bimo jahil dengan memberi nafasnya pada Aldrina
"Ihh jorok banget sih lo kak"
"PLAK" Aldrina memukul bahu Bimo dengan cukup kuat
"Aww monyet sakit"sungut Bimo kesal
"Siapa suruh jorok"ketus Aldrina dengan wajah kesalnya
"Hahaha yaudah iya kakak jaga jarak nih, yaudah jawab sekarang mau kemana?"
"Ya ke sekolah mau kemana lagi"jawab Aldrina cuek
__ADS_1
"Gak boleh"kata Bimo meninggikan suaranya
"Gak bisa gitu dong kak"
"Apanya gak bisa? Kalo kamu sakit lagi gimana Aldrina? Kamu mau kakak dimarahi papa habis-habisan kalo kamu kenapa-napa? Bukan itu juga! Kakak gak masalah kalo dimarahi tapi kakak gak terima kamu kenapa-napa dek kakak cuma punya kamu sama papa, ngerti napa"kata Bimo terbawa perasaan
Aldrina menatap mata kakaknya kemudian matanya menjadi berkaca-kaca, walaupun kakaknya begitu jahil tapi tetap saja begitu memperdulikannya.
"Ih kakak buat aku terharu aja hahah"
"Apasih dek kok ketawa! Kakak serius"
"Ii yaaa.. Aldrina tau kakak sayang dan serius ngomongnya ke aku, tapi aku gak bisa juga mengabaikan tugas aku kak, kakak tau kan aku udah dipercayakan sebagai ketua tim basket selama ini juga aku udah selalu latihan, aku gak bisa dong kak mematahkan kepercayaan mereka semua hanya karna kejadian sepele kayak semalam! Uda yah kak gak usah khawatir lagi aku gak kenapa-napa kok"ucap Aldrina memberi pengertian pada Bimo
Bimo pun diam sejenak "Sekeras apa pun gue maksa pasti dia gak bakal nurut"batin Bimo
"Hah"Bimo menghela nafas berat
"Ihh sans kali kak gak usah stres gitu ah"
"Yaudah tungguin kakak biar kakak an..."
"TIT TIT TIT"
Suara motor Dandra menghentikan perkataan Bimo
"Kayaknya itu Dandra deh kak"
"Iya keknya"jawab Bimo sedikit cuek
"Yaudah kak aku pergi dulu yah entar kakak nyusul ya ya ya! Harus nonton aku! Okay ka? Janji"kata Aldrina antusias dengan memberikan jari kelingkingnya
"Hahaha apasih nyet pakek janji kelingking kayak bocah aja"
"Udah ah lama tinggal dikaitkan juga"kata Aldrina lalu meraih kelingking Bimo
Bimo pun tersenyum lalu mengelus sayang puncak kepala Aldrina
"Ihh berantakan lo ka, dah yah babay kakakku sayang"seru Aldrina lalu melenggang pergi keluar rumah
Saat Aldrina keluar rumah sudah terlihat Dandra berjalan masuk melewati gerbang
"Loh Aldrina kamu mau kemana?"tanya Dandra bingung
"Aku? Mau ke sekolah lah"jawab Aldrina lebih bingung
"Gak boleh pokoknya ga boleh kamu ga boleh ke sekolah, aku kesini cuma mau lihat kondisi kamu"kata Dandra seakan marah dengan menarik lengan Aldrina secara paksa agar kembali masuk ke rumah
Dengan susah payah Aldrina melepas tangan Dandra dan keduanya berhenti.
"Lepasin Dan"teriak Aldrina lebih marah
"Kenapa sih kalian pakek acara drama di pagi hari? Ini bukan film atau drama Dan! Gue gak kenapa-napa! Kenapa kalian bertingkah seakan gue bakalan mati"kata Aldrina penuh emosi
Dandra terdiam memegang kedua bahu Aldrina "Bukan gitu Aldrina, Aku.. Ak"
__ADS_1
Aldrina langsung memeluk Dandra "Aku tau karna kakak sayang kan? Udah kak aku gapapa"
Akhirnya keduanya pun pergi ke sekolah dengan melewati banyak drama yang membuat Aldrina terkekeh di motor, Dandra melirik Aldrina dari spion tapi dirinya hanya bisa mengukir senyum tanpa ingin berkata apa pun lagi.
"Aku berharap senyum itu selalu terukir di wajahmu"batin Dandra sambil menangkup sebelah tangan Aldrina agar berpegangan erat padanya
Aldrina turun dari motor disusul Dandra yang berada disampingnya seakan bodyguard.
"Kakak gak punya urusan lagi di OSIS?"
"Engga semua udah diurus semalam"balas Dandra sambil melihat kanan kiri
"Ahh oke-oke"
"Aldrina"panggil Felix yang tidak jauh dari mereka
Aldrina pun tesenyum "Lo semalam kenapa?"tanya Felix terlihat khawatir
"Emm.."
"Gak urusanmu"potong Dandra dengan nada dingin
Aldrina pun melirik Dandra dan terkekeh kecil "Eh kak gimana kalian masuk final juga?'tanya Aldrina basa-basi
"Iya nih Drin, sayang banget lo gak liat gue mainnya keren banget semalam"kata Felix menyombongkan diri
"Hahaha iya iya sayang banget kak! Tapi dah bisa gue bayangin sih"balas Aldrina sambil tersenyum
"Keren? Cih"kata Dandra pelan yang bisa didengar Aldrina
"Eh yaudah yuk ke lapangan kayaknya dah mau dimulai tuh, tim cowok duluan ya?"tanya Aldrina memastikannya
"Yoi, eh gimana kalo kita taruhan siapa yang jadi juara 1 bakalan ditraktir gimana?"
"Deal"jawab Aldrina antusias
"Udah ayo kesana"kata Dandra terlihat kesal sambil menarik lengan Aldrina
Gadis itu kembali terkekeh sementara Felix mengikut dibelakang. Sesampainya di lapangan, Bunga langsung menghampiri Aldrina.
"Aldrina"kata mantan ketua basket itu
Aldrina yang melihat bunga langsung meminta maaf "Eh maaf ya kak gue semalam tiba.."
"Iya sans aja Dandra udah cerita kok, jadi gimana elo dah baikan?"tanya Bunga memastikan
"Iya udah kok kak"
"Bagus deh yaudah nih lo ganti baju kemaren gue nemu baju lo di kamar mandi cewek"
"Ha serius? Kok bisa sih kak?"
"Entahlah mungkin ada yang iseng, semangat ya gue kesana dulu ya babay"
"Oh oke kak"
__ADS_1
Aldrina pun pergi ke kamar mandi dan lagi-lagi Dandra mengikutinya dibelakang, Dandra tidak ingin lengah untuk kedua kalinya.