
Dandra menghempaskan tangan Aldrina agar terlepas dari tangannya namun Aldrina tetap bertahan sekuat tenaganya sampai wajah gadis itu memerah karena tenaga Dandra hampir mendominasi. Dandra yang melihat Aldrina begitu berusaha pun mengeluarkan suaranya.
"Stop Aldrina"kata Dandra dengan meninggikan suaranya
"Yaudah ini aku udah stop jalannya kak"jawab Aldrina sambil memperlihatkan kedua kakinya yang sudah berhenti
"Bukan itu tapi stop bertingkah kayak anak-anak"
"Hmm ngapai stop kalo itu bisa ngambil perhatian! Lagian aku enggak merasa kayak anak-anak justru ini yang dinamakan lagi berjuang"
"Aldrina lo itu ya"geram Dandra
"Apa? Mau bentak Aldrina lagi? Yaudah silahkan malam ini Aldrina bakalan membatu! Gak bakalan marah bakalan tetap batu kok tenang aja"jawab Aldrina dengan penuh keyakinan
"Terserah"
"Nah gitu dong kak"
Dandra menghela nafas berat dan melangkahkan kakinya lagi dan Aldrina pun mengikut dengan tangan Dandra yang masih di gengamnya begitu erat. Melihat Aldrina masih berada disampingnya Dandra pun memilih untuk duduk di taman komplek. Berakhirlah mereka disini dengan duduk begitu dekat karena Aldrina sudah menempel dan meletakkan kepalanya dibahu Dandra. Keduanya diam sesaat sambil menikmati indahnya suasana malam.
"Tangan kamu lepasin dulu"
"Ah nanti kakak lari"
"Enggak udah pasrah"
"Janji?"
"Hmmm"Aldrina pun mempercayai Dandra dan melepaskan pegangannya
Dandra yang melihat bibir Aldrina tampak membiru langsung melepaskan jaketnya dan memasangkan jaket miliknya ke Aldrina.
"Hmm nyamannya"gumam Aldrina senang merasakan perhatian Dandra
Sesaat suasana nya yang begitu nyaman membuat Aldrina kembali mengingat percakapannya dengan Luna saat perjalanan mengantarnya pulang tadi.
FLASHBACK ON
"Eh Lun gue penasaran deh"
"Penasaran apa?"tanya Luna bingung
"Itu cewek yang buat aku celaka si Mila dia apa kabarnya?"
Luna tampak diam lalu "Itu Drin dia..dia di penjara"jawab Luna
"Anjir serius lo? Kok bisa? Kak Dandra tau soal ini?"tanya Aldrina tidak percaya
"It's okay Drin gak apa-apa, setimpal lah dia udah buat elo celaka juga"
"Tapi Lun itu gak benar, terlebih lagi dia itu cewek masa depannya dipertaruhkan disini"kata Aldrina dengan nada cemas
"Heh salut sih gue sama lo Drin! Gue yakin sebelum dia bertingkah senekat itu pasti udah diputusin matang-matang"kata Luna tidak setuju dengan pembelaan Alddrina
"Enggak Lun elo salah semua orang berhak dapat kesempatan kedua kayak kita"kata Aldrina yang membuat suasana kembali menjadi hening
__ADS_1
"Maaf Lun gak bermaksud"kata Adrina lagi membuka pembicaraan yang terhenti
"Iya maaf juga gue cuma menggunkan sudut pandang gue aja tanpa berpikir dari sudut pandang dia"
"Iya Lun gapapa, gue cuma kasihan aja Lun dia itu sebatang kara, setau gue cuma keluarga Dandra yang benar-benar tulus sama dia, kalo Dandra juga pergi gue gak tau bakalan kayak gimana perasaan dia Lun! Gue tanpa mama aja ngeri Lun apalagi dia tanpa keduanya"kata Aldrina dengan nada yang sedih, lagi-lagi setiap kejadian membuatnya teringat bahawa sosok ibu telah lama hilang dari hidupnya
"Tapi Drin gue dengar-dengar dia juga makek obat-obatan gitu"
Aldrina melotot tidak percaya dan mencoba mengerti lagi apa yang sebenarnya ada dipikiran Mila.
"Gadis itu benar-benar salah jalan"batin Aldrina merasa bisa memahami Mila.
FLASH BACK OFF
"Kak temanin aku besok yuk jenguk Mila!"pinta Aldrina setelah diam beberapa saat
"Buat apa? Kamu tau kan Aldrina dia udah nyelakai kamu"kata Dandra dengan nada yang penuh kekhawatiran
"Iyah tau gak usah melotot gitu dong, iss santau napa"kata Aldrina sambil menunjuk pipi Dandra geram
"Kakak lucu deh! Bisa kasihan sama aku masa sama adek sendiri engga"kata Aldrina dengan menekan kata kasihan
"Please, please Drin please don judge me"
"Yeee apasih gak usah english dong kak gue payah tapi kalo basket gue jago"
"Berhenti juga bilang basket"kata Dandra dengan nada begitu marah
"Hahaha Dandra Dandra! Eh oops maaf manggil nama"kata Aldrina tertawa sumbang
"Gini ya Dan, hemm enggak semua apa yang kita inginkan itu bisa terjadi dan enggak semua yang kita harap gak boleh terjadi terus gak boleh. Sama kayak kakak sekarang kakak berharap enggak terjadi apa-apa sama aku tapi terjadi kan dan ditambah lagi yang ngelakuin itu orang yang udah kamu anggap adek! Tentu kakak bisa marah apalagi kecewa tapi kakak gak boleh jadi lepas tanggung jawab seolah-olah itu alasan biar kita tetap aman justru dengan kayak kakak sekarang yang ada malah makin banyak timbul kebencian. Mungkin ini mungkin aja ya! Mungkin aja Mila disana makin benci sama aku karena kakak lepas tanggung jawab sama dia dan begitu juga aku berharap benci sama kakak yang dengan bodohnya mengambil kesimpulan dengan menjauh aku tetap aman"
Dandra mendengar dengan baik dan sesekali menghela nafas.
"Maaf ini Dan, bukannya aku marah eh marah sih hahahah"
"Ketawa dong kak udah aku buat ketawa nih biar enggak tegang amat suasananya"
"Aldrina"kata Dandra dengan nada memohon
"Oke okee serius, jadi Aldrina cuma mau bilang Aldrina tau Dandra sayang sama aku bahkan cinta cuma Aldrina marah karena kamu sembunyi dibalik kata kasihan dan gak mau meluruskan semuanya padahal aku udah nuggu! Cuma ya gitulah aku gak tahan nunggu terus aku paling gak bisa jauh dari kamu Dan, karena cinta aku uda dalam because love you so much! Yee jadi aku yang sok english"
"Pokoknya"Aldrina menggengam tangan Dandra
"Aldrina itu cinta banget sama Dandra, Aldrina gak tahan dijadiin musuh terus padahal kamunya peduli, kecelakaan itu gak bisa dihindari dan bahkan kematian"kata Aldrina dengan menghela nafas berat setelah mengatakan kematian
"Kalo pun Aldrina mati"kata Aldrina diam dengan jeda
"Stop stop Drin jangan bilang kata itu"kata Dandra dan langsung memeluk Aldrina begitu hangat
"hatiku hancur Drin! Aku gak bisa bayangin apa-apa lagi saat ngeliat kamu gak bergerak sama sekali, aku hancur"kata Dandra dengan air matanya yang mulai menetes
"Hmm Aldrina tau makanya Aldrina berusaha paham kak, Aldrina berusaha gak ikutin diam"kata Aldrina yang juga ikut menangis dan menepuk-nepuk bahu Dandra
"Tapi walaupun Aldrina mati setidaknya Aldrina bisa ketemu sama mama kak"kata Aldrina dengan tangis yang semakin menjadi
__ADS_1
"Gila kamu! Umur kamu masih panjang Aldrina, mama juga gak bakalan bahagia kalo kamu berpikiran sebodoh ini"kata Dandra marah dengan memegang kedua pipi Aldrina
"Aku tau aku pengecut Drin, maaf aku gak bermaksud buat nambah luka kamu padahal luka yang kemaren belum juga pulih"tambah Dandra dengan nada bersalah
"Setidaknya udah sadarkan?"kata Aldrina mencoba tersenyum
"Hmm iya Aldrina"kata Dandra sambil mengelus puncak kepala Aldrina
"Jadi kita balikan kan kak?"tanya Aldrina dengan kembali ceria
"Tolonglah Aldrina tau malu dikit, dikit aja"kata Dandra ketika Aldrina begitu cepat berubah
"Lagian kan kemaren kamu cuma ngusir aku Drin enggak bilang iya atau putus ya berarti kita masih.."
"Pacaran"potong Aldrina dengan cepat dan memeluk Dandra kembali
"Aku peluk nih biar kakak enggak kedinginan heheh"kata Aldrina sambil tertawa
"Modus"sindir Dandra
"Bodo pacar sendiri kok"jawab Aldrina yang membuat keduanya tertawa
"Jadi gimana kak? Mau kan temenin aku soal yang tadi?"tanya Aldrina lagi hati-hati agar tidak merubah suasana hati Dandra
"Hmm iya"
"Yang semangat dong! Senyum senyum"kata Aldrina dengan membentuk wajah Dandra seperti tersenyum
"Iya iya bawel, dah pulang sana besok masih ujian"balas Dandra
"Oh iya ujian, is gue kesal sama lo kak"kata Aldrina terlihat marah mendengar kata ujian
"Kenapa? Kenapa lagi?"tanya Dandra tidak paham
"Yah karna kakak aku gak bisa ngerjai ujian aku! Terlalu sibuk mikirin kakak hahah tapi boong"kata Aldrina dengan wajah datar
"Muka itu gak usah dibuat flat jelek udah jelek makin jelek lagi"kata Dandra sedikit jahil
"Ih sumpah serius ujian hari ini aku remedi semua kecuali penjas aku yakin bisa dapat cukup-cukup makanlah"
"Is is is cukup-cukup makan pula! Pacarku bodoh ya"
"Iya bodoh karna kamu hahah alias dari sononya"kata Aldrina lagi dengan tawa yang semakin pecah
"Hahah udahlah becandanya! Badan kakak udah mulai kedinginan tuh"kata Aldrina dengan pandangan melihat tubuh Dandra
"Oke iya iya siap, perlu aku antar lagi?"kata Dandra sambil beranjak berdiri
"Enggak gak usah rumah kakak masih lumayan jauh lagi, nih pakek aja jaketnya aku udah hangat kok"kata Aldrina sembari melepas jaket Dandra dan melekatkan jaket itu ke Dandra kembali
"Selamat malam sayang"kata Aldrina memeluk Dandra singkat dan berlari seperti anak kecil
Dandra pun tersenyum dan ketika Aldrina sudah cukup dekat dengan rumahnya, Dandra berjalan menuju rumah dengan perasaan yang mulai tenang.
"Makasih Drin selalu ada dan buat aku sadar, thank you for stay in my life"batin Dandra sambil berjalan menikmati udara malam Bandung yang begitu segar.
__ADS_1
***