Love You So Much

Love You So Much
Bagian 20 (Jadian?)


__ADS_3

"Tiada usaha yang menghianati hasil sama seperti usahaku yang kini mendapatkanmu"


~~ LYSM ~~


Matahari kembali memunculkan sinarnya yang membuat wajah Aldrina seakan bersinar. Bibi Inem baru saja membukakan horden jendela kamar Aldrina seperti biasa. Aldrina menggeliat diatas tempat tidurnya kemudian mengucek matanya seperti sikap kebanyakan orang sehabis bangun tidur. Setelah Aldrina mendapatkan kesadarannya kembali betapa sakitnya kepalanya saat ini Aldrina mencoba memijat-mijat kepala dan mengingat apa yang terjadi tadi malam padanya.


"AAAAAAA"teriakan Aldrina membuat semua penghuni rumah besar itu bertengger di depan pintu kamarnya dengan tatapan khawatir masing-masing


"Ada apa apa non? Apa ada maling?"tanya pak Kasep penjaga keamanan sekaligus supir pribadi keluarga itu dengan cemas


"Apa nona baik-baik saja?"tanya bibi Inem khawatir padahal baru 15 menit yang lalu dia dari kamar itu


"Ada apa sayang kenapa kamu berteriak sekencang itu?"Gandhi pun ikut angkat suara


"Woh adikku sudah sadar"seru Bimo dengan nada sindiran


Aldrina geleng-geleng "Ahh emm..ak..aku gak apa-apa kok! Hanya kesal aja bangun kesiangan"balas Aldrina mencari alasan


Mendengar itu semuanya mengangguk paham dan kembali melanjutkan aktivitasnya. Setelah semua pergi Bimo memasuki kamar adik tercintanya itu, Bimo bisa menebak pasti Aldrina sudah ingat ulahnya semalam sampai Dandra menghantarnya ke tempat tidur.


"Lo udah bangun adik nakal?"kata Bimo bertanya seolah basa-basi


Aldrina melirik Bimo dengan kesal "Bilang aja kakak pengen menertawakanku atau mengejekku! Kak aku tau betul sikapmu yang menyebalkan itu"kata Aldrina sambil memilin selimutnya


"Hahaha lo terlalu berpikiran negatif nyet! Tapi tentu aja yang lo lakuin semalam adalah tindakan bodoh"kata Bimo kini dengan menjitak kepala Aldrina


"Aw.. Sakit kak"


"Itu gak seberapa dengan rasa malu yang lo berikan! Andai lo nuruti gue semalam pasti gak bakalan seperti ini"seru Bimo mulai berceramah


"Ya ya ya ya maaf kakakku tercinta aku pun gak tau akan seperti itu kejadiannya, aku terlalu terbawa perasaan semalam"ucap Aldrina membenarkan perkataan Bimo


"Baguslah kalo lo sadar, mandi sana lo jorok nyet!"perintah Bimo dengan mendorong kepala Aldrina


Ketika Aldrina ingin membalas perbuatan Bimo orangnya sudah terlebih dahulu berlari dengan sangat cepat meninggalkan adiknya itu.


Aldrina sudah selesai mandi kemudian merapikan tempat tidurnya dan segera turun ke bawah, pandangannya menelusuri rumah tapi dia tidak menemukan kakak menyebalkannya itu ada di rumah.


"Hai pa dimana kak Bimo?"tanya Aldrina pada Gandi yang sedang bersantai di sofa


"Papa kurang tau katanya hanya ingin sekedar berjalan-jalan"


Aldrina pun mengangguk paham lalu pergi ke dapur memakan sarapan paginya. Aldrina kembali berdecak kesal mengingat besok adalah hari pertama dia UTS, Aldrina segera kembali ke kamarnya membuka kembali catatan yang diberikan Dandra untuknya.


"Apa dia marah samaku?"gumam Aldrina teringat kejadian memalukan semalam

__ADS_1


"Ah udahlah lebih baik aku ngehindar darinya beberapa waktu, aku bingung akan mengatakan apa dengan tingkah bodohku semalam, bodohnya aku"umpat Aldrina pada dirinya sendiri sambil mengetuk jidatnya dengan pena yang kini berada ditangannya


***


Aldrina menyisihkan kertas ujiannya ke samping ini adalah hari terakhir mereka mengadakan ujian tengah semeter hati Aldrina merasa senang bercampur legah, seminggu ini Aldrina kurang tidur karena terlalu bersemangat membaca dan memahami catatan-catatan yang diberikan Dandra. Kehadiran catatan itu bagaikan obat ampuh yang membuat Aldrina semangat belajar tanpa harus membuat kopekan.


"Akhirnya kan mut"seru Aldrina sambil memakan makanannya


Shirene pun mengangguk dan tetap fokus pada siomay yang kini dimakannya. Setelah selesai ujian keduanya langsung menuju kantin dengan heboh padahal teman-teman mereka yang lain masih saja sibuk membahas soal UTS yang baru mereka kerjakan.


Keduanya seakan mati kelaparan akibat soal-soal yang menggerogoti jiwa dan pikirannya saat ujian berlangsung.


"Bagaimana ujiannya?"ucap seorang lelaki dengan suara khasnya yang sangat Aldrina kenali


Itu Dandra bagaimana bisa Dandra menemukannya padahal setelah kejadian seminggu yang lalu Aldrina tidak pernah mendekatinya dan bahkan berlari tebirit-birit jika melihat Dandra, Aldrina bingung apa yang akan dilakukannya sekarang. Apa iya lari saja dan meninggalkan Shirene hal itu masih mungkin untuk dilakukan saat ini masih ada potensi berhasil walaupun hanya 20%. Aldrina memicingkan matanya kebetulan sekali Lucas sedang berjalan mendekat kearah mereka.


"Kak Lucas..."teriak Aldrina heboh


Alhasil pandangan Dandra beralih fokus pada orang yang menarik perhatian Aldrina begitu pula Shirene yang hampir tersedak siomay mendengar nama yang dipanggil Aldrina. Secepat kilat Aldrina berlari diam-diam dari arah berlawanan penglihatan Dandra yang membuat Shirene mengerutkan dahi melihat sikap sahabatnya itu bukannya selama ini Aldrina mati-matian mengejar Dandra dan kini ketika mangsa tepat didepan mata mengapa sipemangsa memilih kabur tentu hal itu membuat Shirene menaruh curiga pada Aldrina.


"Ada yang gak beres nih"batin Shirene


Kemudian melanjutkan makannya bersama Lucas yang kini menggantikan posisi Aldrina. Keduanya sudah berbaikan dan memulai hubungan kembali dari awal sementara Dandra menggaruk lehernya yang tidak gatal dan pergi meninggalkan keduanya dan menyusul Aldrina.


"Pasti dia belum jauh, mudah-mudahan"seru Dandra kemudian berjalan kearah parkiran segera mengambil motornya


Aldrina belum naik bus karena rasanya itu terlalu cepat untuk pulang sekolah. Rencananya Aldrina ingin kembali kedalam sekolah setelah memastikan Dandra pulang terlebih dahulu. Belum aja hal itu dilakukannya Dandra sudah terlebih dahulu menangkap basah dirinya yang sedang berusaha kabur. Kini Dandra menggenggam erat lengan sebelah kanan Aldrina.


"Gawat"umpat Aldrina dalam hati


"Ada apa yah kak?"tanya Aldrina pura-pura polos dan berusaha melepas cengkraman tangan Dandra


"Kamu yang ada apa? Kenapa menghindariku? Padahal yang melakukan pelecehan itu kan..."


Aldrina langsung mendekap mulut Dandra yang berbicara begitu nyaring mengundang perhatian siswa-siwi lainnya yang hendak pulang. Aldrina kembali menatap Dandra dengan sebelah telapak tangan yang masih bertengger di mulut Dandra menyadari keadaan semakin canggung Aldrina menarik tangannya dan mengalihkan perhatiannya.


"Aku mau pulang"seru Aldrina sambil menunduk


"Yaudah pulang sana gak ada yang melarang"balas Dandra yang membuat bibir Aldrina seakan membaca mantra


"HAHAH" Tawa Dandra lepas yang membuat Aldrina bergidik ngeri


"Setan apa yang ngerasuki lo kak?"tanya Aldrina dengan ekspresi takut


"Dirimu"balas Dandra sambil mengacak puncak rambut Aldrina

__ADS_1


Kemudian Dandra merangkul Aldrina berjalan mendekati motornya yang masih berada di parkiran. Banyak pasang mata yang melihat keduanya ada yang kagum dan banyak yang merasa jengkel karna Dandra akhirnya bisa dekat dengan wanita. Kondisi Aldrina saat ini adalah syok dia bagaikan mayat hidup yang sedang dituntun berjalan.


"Ada apa dengannya?"tanya Aldrina dalam hati dengan debaran jantung yang tak karuan


Aldrina tidak dibawa Dandra pulang ke rumahnya, Dandra membawa Aldrina ke sebuah tempat yang begitu indah dan terlihat sepi saat ini mereka seperti berada di pinggiran danau. Dandra menuntun Aldrina untuk duduk disebelahnya, disebuah bangku panjang yang ada disana. Keduanya terlihat diam untuk beberapa saat.


"Ngapai kita kesini?"tanya Aldrina mencairkan suasana


"Menyegarkan pikiran setelah ujian"balas Dandra sambil menghirup napas dalam-dalam dan memberikan seyuman simpul diakhirnya


Melihat itu Aldrina takjub dan jantungnya tetap tidak berdetak beraturan "Aku tau aku tampan"kata Dandra begitu percaya diri


"Hemm iya iya gue akui! kak apa lo gak mau gue jadi pacar lo?"tanya Aldrina begitu absurdnya


Dandra mendengar kata itu lagi. Dandra menatap Aldrina datar "Apa yang membuatmu menyukaiku?"


"Karena itu adalah kamu kak, aku suka semua yang menyangkut dirimu seperti ada medan magnet besar yang menarikku selalu untuk berusaha mendekatimu"


"Aku tidak mencintaimu.."


Aldrina tersenyum getir mendengar penuturan Dandra kali ini. Sebenarnya Aldrina tau itu akan terjadi cepat atau lambat mana mungkin seorang Dandra most hunted sekolah menyukai gadis sepertinya. Aldrina sadar betul akan hal itu namun setelah mendengarnya ada perasaan yang tidak terima yang dirasakannya air matanya kini membanjiri pipinya tidak ingin terlihat lebih menyedihkan lagi Aldrina berdiri dari tempatnya duduk dan Dandra menariknya kembali duduk.


"Tunggu Aldrina aku belum selesai bicara"


"Apa? Apa lagi yang mau lo bicarakan kak?"kata Aldrina dengan suara berteriak


"Shutt jangan teriak"kata Dandra kini dengan nada yang lebih lembut lagi


Dandra menangkap kedua pipi Aldrina yang tirus dan menghapus jejak air mata yang terus mengalir dan tersenyum melihat Aldrina menangis, Dandra tidak menduga hal itu akan terjadi Aldrina memang wanita yang terang-terangan.


"Aku tidak mencintaimu dulu tapi sekarang ada rasa aneh yang mengganjal ketika kamu menghilang dari mataku, aku sadar sepertinya aku mencintaimu lebih tepatnya aku mencintaimu"lanjut Dandra sambil memberikan senyum manisnya


Aldrina melotot gak percaya, matanya yang semula cipit kini membulat sempurna "Siapa lo? Lo bukan kak Dandra kan? Keluar sekarang dari tubuhnya"ucap Aldrina heboh seakan sedang menghadapi orang yang sedang kerasakukan setan


Dandra kembali terkekeh dan menyentil hidung Aldrina pelan "Entah respon apa yang harus kuberikan agar kamu terseyum bahagia"


"Emm bukan gitu kak hanya saja aku..."


Dandra langsung mendekap Aldrina dalam peluknya "Terimakasih sudah hadir didalam hidupku yang sunyi"bisik Dandra dibalik punggung Aldrina


Aldrina yang tadinya syok kemudian membalas pelukan hangat itu "Aku yang seharusnya berterimakasih kak because you're a man who can make me feel a great love"


Aldrina melepaskan pelukannya itu "Jadi kita pacaran kak?"tanya Aldrina antusias


"Jika kamu setuju"balas Dandra dan mengelus puncak kepala Aldrina dengan lembut

__ADS_1


***


__ADS_2