
"Dengan sebuah kejadian saja akan membuat orang terdekatmu lebih protektif padamu, mau tau rasanya? Kuy dicoba hehe"
~~ LYSM ~~
“Santai Bim sialan! Kalo HP lo rusak kacau semua”bentak Dandra pada Bimo
Yang membuat semuanya memandang Dandra dengan tatapan tak percaya. Sementara Dandra dia memasang wajah datar merasa tidak bersalah membentak kakak iparnya. Tanpa berlama-lama lagi mereka segera berangkat membawa mobil Loy dan Ley begitu juga mobil Bimo yang ada di garasi mereka bawa.Tidak mungkin mereka semua hanya membawa satu mobil karena hanya mereka saja mobil itu sudah terlihat penuh.
Dengan bantuan GPS akhirnya setelah sekitar 2 jam mencari lokasi itu mereka menemukan lokasi Aldrina.
“Orang mengerikan apa yang tega membawa adikku ke tempat seperti ini”seru Bimo tidak terima dengan tangan yang sudah mengepal
Mereka pun segera memasuki gudang itu layaknya polisi yang sedang menggrebek orang jahat dan akhirnya pintu gudang itu terbuka menampakkan seorang gadis yang terikat dan wajahnya yang polos sudah tertidur lelap.
“Bisa-bisanya dia tertidur seperti itu bahkan kedatangan kami pun tidak dirasakannya”seru Dandra dalam hatinya namun Dandra bersyukur tidak terjadi apa-apa pada Aldrina
***
“Aaaa tolong”teriak Aldrina ditidurnya
Kelima pria yang sekarang menginap dikamar Aldrina pun langsung tersadar dengan mata yang masih tertutup seakan mengigau.
“Siapa-siapa yan berani nyakitin cewek gue?”refleks Dandra
“Sentuh adekku jangan harap bisa hidup”refleks Bimo
“Maju sini jangan sakiti Aldrinaku”refleks Felix
“Tolong biarkan kami tidur sebentar”seru Ley dan Loy kompak
Aldrina yang baru membuka matanya sangat terkejut melihat dirinya sudah ada di rumah sekarang dan kelima lelaki yang sangat dikenalnya ada dikamarnya membuat Aldrina bertanya-tanya. Aldrina terkekeh melihat semuanya begitu menghawatirkan Aldrina.
“Sepertinya mereka baru saja tertidur”batin Aldrina
“Cup” Aldrina memberi kecupan di pipi Dandra yang begitu dekat dengan dirinya lalu kembali tidur.
Setelah Aldriana kembali terbangun “Hoam.. waa anjir”Seru Aldrina kaget
Siapa pun akan terkejut jika bangun dipagi hari 5 pasang mata sudah melotot padanya “Ka.. Kalian kenapa kak?”tanya Aldrina sambil menutup mulutnya agar napasnya tidak tercium
“Sial malunya”batin Aldrina
Aldrina berlari ke kamar mandi yang ada di kamar itu kemudian mencuci wajahnya dan menyikat giginya “Coba jelaskan nyet apa yang terjadi semalam”seru Bimo menuntut penjelasan saat Aldrina keluar dari kamar mandi
“Nantilah kak aku mau sekolah”
“Hari minggu woi”teriak mereka berlima serempak
“Njir gak selo amat”omel Aldrina sambil mengusap kedua telinganya
Aldrina mengambil posisi ada ditengah mereka berlima
“Jai gini… (Aldrina memandang wajah mereka semua yang tampak serius) makasih kakak-kakakku”seru Aldrina dengan penuh syukur
“Hiks..Hiks… Aku kira semalam hari terakhirku hidup”
PLAK
Semua memukul Aldrina bersamaan entah dimana saja yang penting memukul “Aww sakit”seru Aldrina tidak terima
“Kalo ngomong itu disaring nyet”kata Bimo marah
“Bukan gitu kak tapi emang kenyataannya gitu aku kira semalam aku bakalan mati kak apalagi aku belum makan juga eh untungnya pencurinya ngasih aku makan bahkan ninggalkan lampu biar aku gak kegelapan, trus aku diselimutin, anehkan”seru Aldrina memikirkan yang terjadi semalam
“Kamu gak diapa-apaikan?”tanya Dandra
“Iya engga kok makanya aneh, iseng kali tuh orang cem bocah aja! Kayak gak niat nyulik orang kak”seru Aldrina akhirnya menyimpulkan segalanya
__ADS_1
“Ada jahatin orang gak baru-baru ini?”tanya Bimo
“Sumpah enggak kak! Kurang kerjaan kali pencurinya lagian aku kan orang baik”balas Aldrina
“Baguslah, kampret kali tuh orang ganggu waktu tidur gue aja”seru Ley
“Jadi ceritanya gak ikhlas kak Ley nolongin aku?”tanya Aldrina sambil memayunkan bibirnya
“Tau tuh si ogeb! Jangan dengerin dia dek”seru Loy langsung memukul bahu Ley
“Yaudah kalian semua pulang sana hus hus”usir Bimo pada keempat temannya
“Njir selo woi”seru Felix tidak terima
“Kasih kita makan kek”tambah Ley tidak terima
“Yaudah gimana kalo kita keluar cari makan?”kata Aldrina antusias
Semuanya mengangguk akhirnya mereka pun pergi mencari makan.
Keesokan harinya seperti biasa Aldrina pergi ke sekolah namun Dandra lebih protektif padanya, saat Aldrina keluar rumah Aldrina sudah melihat Dandra bertengger di depan rumahnya bahkan Bimo pun seperti itu setiap jam mengetuk pintu kamar Aldrina memastikan keberadaannya saat di rumah.
"Hahah ada-ada aja mereka"batin Aldrina
"Hei gimana udah enakan?"tanya Dandra penuh perhatian
Aldrina mengerutkan dahinya "Iya enakan kok! Lagian aku gak kenapa-napa kok pakek acara jemput segala tapi baguslah gak capek jalan hehe"
Aldrina naik ke motor Dandra kemudian motor itu melaju ke SMA Tunas Utama. Di tengah perjalanan Jack tidak sengaja melihat Aldrina.
"Baguslah dia sudah keluar dari sana"batin Jack merasa legah
Setelah motor Dandra berhenti sebelah tangan Dandra masih setia menggenggam sebelah tangan Aldrina.
"Astaga"batin Aldrina sambil melihat kanan kiri
"Yaudah turun"
"Tanganku lepasinlah"
"Kan bisa turun tanpa dilepas"
Dengan raut wajah jengkel akhirnya Aldrina turun dan menunggu Dandra juga turun
"Kak lama-lama kamu kayak aku deh hahah"
"Terserah ayo kuantar ke kelas"
"Hahah iya iya yok sayang duh bahagianya aku"balas Aldrina membalas genggaman erat Dandra
Saat ini mereka adalah tontonan pagi masyarakat sekolah banyak yang irih bahkan senyum-senyum sendiri melihat kemesraan keduanya.
"Titip Aldrina yah Shirene"kata Dandra penuh penekanan pada Shirene
Bukan seperti permintaan lebih kearah ancaman yang membuat Shirene hanya bisa mengangguk paham terlebih lagi melihat mata Dandra yang begitu tajam membuat nyali siapa saja seakan ciut.
"Lo utang cerita"kata Shirene dengan wajah penuh pertanyaan setelah Dandra melenggang pergi dari kelas itu
Luna pun yang melihat perubahan sikap Dandra seakan penasaran entah apa yang sudah dia lewatkan.
"Ciee yang pagi-pagi udah mesra aja"seru Gilbert menggoda Aldrina
Aldrina memasang wajah kesal "Is siapa yang pamer biasa aja kali"
"Iri bilang bos"sambung Shirene
"Ih Shirene kok kasar sih gak baik lo kasar-kasar gitu nanti Tuhan marah kalo nanti.."
__ADS_1
Aldrina langsung menyumbat mulut Gilbert yang terlalu ribut dengan kue Shirene yang masih ada di meja
"Tau aja gue lapar"seru Gilbert dengan susah payah lalu memasang wajah cengengesan
"Kue ku"rengek Shirene
"Nanti kita beli lagi"
Aldrina teringat sesuatu "Eh mut tugas matematika kita ada ya?"
"Njir jelaslah ada, gak mungkin pak Anton gak ngasih tugas! Itu adala..."
"Bagi woi cepat"
"Lah gila gak sempatlah"balas Shirene langsung memberikan tugasnya pada Aldrina
Dengan kecepatan diatas rata-rata Aldrina mulai menyalin tugas Shirene "Sial banyak lagi"
"Oke-oke aku bakal jaga dipintu liat bapak"
Tugas yang akan ditulis Aldrina ada 5 lembar timbal balik, pak Anton memang tidak pernah tanggung-tanggung jika memberikan tugas. 10 menit kemudian pak Anton datang dengan penggaris kayu yang biasa dibawanya kemana-mana.
"Rin Rin pak Anton datang"seru Shirene sambil berlari ke bangkunya begitu juga siswa-siswi yang lain
"Uda siap belum?"bisik Shirene yang dibalas dengan gelengan oleh Aldrina
Shirene pun hanya bisa memasang tampang iba.
"Selamat Pagi Pak"seru penghuni 10 MIA-3
"Ya selamat pagi"
"Gimana kabar kalian hari ini? Bapak harap baik ya apalagi baru malam minggu ya kan udah tambah lah ya staminanya"
Kelas seakan berubah menjadi pasar dalam sekejap. Pak Anton memukul meja 3 kali menandakan semua siswa harus kembali tertib.
"Udah siapkan belajar hari ini?"
"Siap gak siap pak"teriak Gilbert begitu polosnya
"Ha ini ini contoh malam minggunya yang gak berhasil"
Seisi kelas pun tertawa mendengar perkataan pak Anton
"Kalau begitu Gilbert agar lebih semangat coba kerjakan tugas kita kedepan dan letakkan tugasmu di meja bapak"Seru Pak Anton dengan senyum yang membuat Gilbert meneguk salivanya
Gilbet pun maju kedepan namun sebelumnya dia melihat kearah Tian seakan meminta pertolongan dan Tian hanya bisa memasang wajah menahan tawa dan mengangkat bahu acuh tak acuh.
"Ayo semangat Gilbert! Bagaimana anda ini masih muda tetapi semangatnya tidak ada"seru pak Anton lagi yang membuat wajah Gilbert semakin berkerut
"Yaelah si bapak gue aja nyontek semalam gimana caranya gue ngerjainya tanpa liat apa yang gue tulis, sial"batin Gilbert
"Hahaha mampus"kata Aldrina dengan nyaring yang membuat perhatian pak Anton kearahnya
"Sepertinya malam minggumu sukses ya, siapa namamu? Bapak belum terlalu hapal nama kalian"
Aldrina yang medengar itu "DEG DEG DEG"
Shirene menyenggol siku Aldrina "Elo sih senang amat si Gilbert dimarahi"
"Namanya juga refleks mut"
"Loh kok kalian jadi berbisik seperti itu?"sambung pak Anton yang belum mendapatkan jawaban
"Saya Aldrina pak"
"Oke baiklah Aldrina kamu maju kerjakan nomor 2! Tinggalkan buku tugasmu di meja saya nanti teman-teman kalian yang akan membacakan soalnya"
__ADS_1
Gilbert pun tertawa "Blekk" Gilbert menjulurkan lidahnya pada Aldrina yang terlihat gelagapan