
"Tolong jangan menggunakan nada tinggi denganku, aku benar-benar rapuh jika kamu yang melakukan"
~~ LYSM ~~
Bel berbunyi menandakan pembelajaran sudah dimulai dengan berat hati Dandra meninggalkan Aldrina di UKS, tidak lupa untuk mengecup puncak kepala gadisnya itu yang masih saja menangis. Dandra berjalan keluar dan menutup pintu dengan begitu pelan.
Setelah kepergian Dandra mata Aldrina sayup-sayup tertutup dan akhirnya jatuh ke dunia mimpi.
"Mama... mama... mama dimana mama? Mama aku takut sendirian"ucap seorang gadis kecil yang berada di sebuah taman menunggu kehadiran mamanya
Gadis itu masih terlihat sangat kecil umurnya masih 4 tahun, dia meringkuk memeluk tubuhnya sudah lebih sejam dia menunggu kedatangan mamanya namun juga tidak kunjung datang. Padahal tadi sudah berjanji akan menjemput gadis kecil itu jika sudah selesai bermain.
"Hei gadis kecil kamu kenapa menangis?"tanya anak lelaki yang sedari tadi sudah melihat gadis itu
"Mama mama aku dimana"ucap gadis itu sambil menangis
"Sudah tidak apa-apa pasti mamamu akan datang sebentar lagi, jangan takut ada kakak disini"ucap anak lelaki sambil memeluk gadis kecil yang sangat ketakutan
"MAMA"teriak Aldrina terbangun dari mimipinya
"Ada apa? Kenapa berteriak Aldrina?"tanya dokter sekolah yang cukup terkejut
Keringat sudah membanjiri tubuh Aldrina dengan lemah gadis itu menggeleng "Tidak apa-apa dok saya cuma bermimpi"jawab Aldrina sambil berusaha tersenyum
"Kenapa aku memimpikan hal seperti itu? Siapa anak lelaki itu? Apa itu bagian dari masa laluku?"batin Aldrina yang terlihat bingung
***
Kring kring Kring
Akhirnya bel pulang berbunyi, bisa dilihat cetakan senyuman disetiap wajah siswa-siswi yang senang karena sudah waktunya pulang. Saat ini Aldrina sudah mulai merasa baikan, bokongnya sudah tidak terlalu sakit seperti tadi pagi. Dengan bantuan dokter sekolah Aldrina duduk dan menggendong tasnya di depan agar tidak mengenai bokongnya. Dokter memberikan beberapa butir obat untuk dikomsumsi beberapa hari.
Aldrina bergegas keluar dari ruangan UKS agar tidak bertemu dengan Dandra. Aldrina masih merasa kecewa ketika Dandra membentaknya tadi. Walaupun Dandra tidak sengaja hal itu benar-benar melukai Aldrina.
"Gue harus cepat"batin Aldrina berjalan cepat dengan gaya yang lucu
Dandra yang sudah bergegas ke UKS setelah melihat gadisnya itu yang berusaha kabur darinya mengikut dari belakang. Dandra memasang wajah khawatir melihat kondisi gadisnya itu yang begitu aneh saat berjalan namun juga hal itu membuatnya ingin tertawa.
"Sini tasnya aku yang bawa"ucap Dandra menyamakan langkah mereka
Aldrina hanya melirik dan hanya melanjutkan langkahnya "Yah gue ketauan"batin Aldrina
"Udah sini gak usah bandal"ucap Dandra kemudian mengambil alih tas gadisnya itu
Dandra melupakan Kenzo untuk saat ini "Sudahlah setelah mengantar Aldrina aku akan menemuinya"batin Dandra dan terus berjalan disamping Aldrina
"Mau kugendong?"tanya Dandra berusaha sabar karena ini adalah kesalahannya
__ADS_1
"Gak perlu gue masih punya kaki"ucap Aldrina sinis menggunakan kata gue seolah yang diajaknya bicara saat ini bukanlah orang yang selalu dipuja gadis itu
"Hmm pulang naik mobilku aja yah! Di mobil ada bantal biar lebih enak duduknya"ucap Dandra semakin lembut
"Gak butuh"ucap Aldrina lagi sinis
Dandra tersenyum kecut namun bukan Dandra namanya jika lelaki itu menyerah dengan sigap Dandra menggendong Aldrina ala bridel style yang membuat Aldrina mengeluarkan teriakannya.
"Dandra aaaaa turunin turunin"teriak Aldrina yang membuat mata semua siswa tertuju pada keduanya
"Gak mau, udah diam Drin nanti kamu dikira lagi diculik lagi"ucap Dandra yang kewalahan karna Aldrina memberontak
Siswa-siswi yang melihat kejadian itu mulai mengeluarkan isi pikirannya masing-masing.
"Wah gila nonton drakor secara real life gue"
"Anjir jantan banget kak Dandra"
"Jadi pengen"
"Aaaaa co cweet"
"Couple idaman"
"Menang banyak Dan"
"Mau dong digendong juga"
"Duduk di depan"ucap Dandra pada Aldrina yang ingin membuka pintu belakang mobil
"Gak mau"ucap Aldrina masih membandal
"Aldrina tolong bantalnya udah aku siapin di depan"pinta Dandra dengan nada memohon
Dengan malas Aldrina menurut dan mengambil posisi nyaman. Dandra memasuki mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan SMA TUNAS UTAMA. Jalanan terlihat ramai mobil Dandra kini berada di tengah kemacetan. Dandra mengarahkan pandangannya pada Aldrina yang sedang menunduk sambil memainkan tas punggung miliknya.
"Kalo mau marah, marah aja gak usah dipendam"ucap Dandra
"Tau gak aku tadi pulang ke rumah ngambil mobil biar bisa bawa kamu pulang"
"Bilang apa Drin"ucap Dandra lagi karena Aldrina masih saja tidak merespon
"Sama-sama"
"Pfutt...pfutt...pfuftt HAHAAH"Dandra mati-matian menahan tawanya namun akhirnya tidak tertahankan
"Ihhhhh ihh aku marah malah diketawain"ucap Aldrina sambil mencubit paha Dandra cukup kuat
__ADS_1
"Aduh duh duh sakit sakit Drin"ucap Dandra kesakitan sambil mengelus pahanya yang pastinya akan membiru nantinya
"Syukurin"ucap Aldrina ketus
"Ih ngambek lagi, pacar aku ngambekan ah"ucap Dandra sambil menoel-noel pipi Aldrina
"Maaf ya Drin aku udah ngebentak kamu tadi, aku tau aku salah"tambah Dandra yang membuat Aldrina mengangguk
Usaha Dandra tidak sia-sia berangsur-angsur amarah Aldrina redah dan mulai menampilkan senyuman walaupun ditahan. Dandra menggenggam sebelah tangan Aldrina sambil tersenyum lalu kembali fokus menyetir karna kendaraan yang ada di depan mereka sudah mulai melaju.
Sesampainya di rumah Aldrina, Dandra memasukkan mobilnya ke pekarangan rumah Aldrina dan membantu gadisnya itu untuk turun dari mobil. Dandra mengantar Aldrina sampai ke kamarnya dan membaringkan Aldrina di kasur. Dandra yang bingung harus berbuat apa berjalan mengelilingi kamar Aldrina dan melihat semua foto yang tertancap di dinding kamar. Sesekali Dandra tersenyum melihat pose-pose Aldrina yang begitu lucu dan menggemaskan kemudian mengerutkan dahinya menyadari bahwa tidak ada satu pun foto Aldrina saat gadisnya itu masih kecil.
"Oh iya Drin kamu gak punya foto waktu kecil gitu?"tanya Dandra sambil melihat kearah Aldrina yang masih rebahan
"Iya gak tau aku juga bingung, padahal kak Bimo punya"
"Kata bokap sih ada cuma yah gatau dibuat dimana"tambah Aldrina setelah mengingat pernah menanyakan hal yang sama
Dandra pun mengangguk paham walaupun merasa ada yang janggal bahkan foto dari ibu gadisnya tidak ada yang dipajang namun Dandra mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh lagi karna takut membuat Aldrina bersedih.
"Dandra"panggil Aldrina
"Hello kak Dandra"ucap Aldrina semakin meninggikan suaranya karna Dandra tidak menanggapinya
"Hmm?'jawab Dandra yang terlihat bengong
"Kok bengong sih?"
"Enggak Drin enggak"ucap Dandra yang tersadar
"Hmm, oh iya kak aku mau nanya sesuatu sama kakak, kakak kenal gak sih sama Kenzo?"
"Maksudnya?"tanya Dandra bingung
"Latar belakang dia gitu, kenapa dia jadi sedingin itu atau gimana gitu"
Dandra mengerutkan dahinya ada perasaan tidak suka ketika Aldrina menanyakan pria lain selain dirinya namun Dandra mencoba berpikir positif
"Yang aku tau dia cuma punya mama dan satu adik selainnya gak tau deh Drin"
"Oooo gitu toh pantasan attitude dia kayak gitu! Gak punya bokap toh"ucap Aldrina spontan
"Eh Drin gak boleh ngomong gitu"tegur Dandra
"Hehe iya kak maaf abisnya dia ngeselin banget, tegaan lagi! Ah udah ah malas ngomongin dia, yuk makan siang kak"ucap Aldrina menyudahi perbincangan itu
"Gak usah gerak, aku aja yang ambil ke bawah kamu disini aja"ucap Dandra sambil tersenyum
__ADS_1
"HEHEH makasii kapten"ucap Aldrina setengah berteriak karna Dandra sudah berjalan keuar kamarnya
"Mau gimana gue bisa lama-lama marah ke dia coba? Hadeh"batin Aldrina yang sudah tidak marah lagi