
"Kepercayaan adalah kunci dari sebuah hubungan"
~~ LYSM ~~
Aldrina memasang wajah kesal namun tidak menggubris perkataan Jack yang terkesan menyebalkan itu. Sementara tidak jauh dengan tempat itu terlihat Dandra bersama ibunya dan didampingi Mila berjalan bersama layaknya pasangan yang membawa ibu mereka bersantai, Mila begitu ceria dan antusias mengatakan segala pendapatnya dan sesekali mengeluarkan candaan.
"Tiru nih si Mila anak baik ceria lagi enggak kayak kamu kaku sekali"omel ibu Dandra yang melihat Dandra hanya sekedar tersenyum dan tidak ingin mencari topik
"Hahaha biasalah ma kan dari dulu kak Dandra sudah begitu"ucap Mila sambil tersenyum
"Iya sih sayang kamu benar, tapi gak bagus juga nanti cewek-cewek pada gak mau sama dia"
"Kalo gak ada yang mau entar aku mencalonkan diri ma heheh"balas Mila seperti candaan walaupun perasaannya adalah ketulusan
"Apa sih Mil"seru Dandra tidak suka
"Eh Dan gak usah marah udah baik Mila mau sama kamu"tegur ibu Dandra
Dandra pun hanya bisa pasrah menjadi bahan candaan kedua wanita cantik itu. Sementara itu Aldrina yanng sudah selesai mengambil seragam basket lalu keluar dari tokoh, Aldrina mengangkat beberapa tumpukan pakaian itu dan terus berjalan sampai suara Jack menghentikan langkahnya.
"Gak mau bareng nih?"tawar jack sambil membawa tumpukan pakaian yang diambilnya juga
"Enggak.. Makasih"balas Aldrina cuek sambil terus berjalan
"Yakin? Yakin nih gak mau?"ucap Jack terus menerus
Siapa pun yang melihatnya pasti bisa melihat raut wajah Jack yang terlihat senang menggoda Aldrina
"Maaf ya kak saya benaran gak mau jangan dipaksa dong"protes Aldrina karena merasa risih
Datang dari arah berlawanan Aldrina tidak menyadari keberadaan Dandra begitu juga sebaliknya sampai mereka akhirnya bertabrakan.
"Kalo jalan liat-liat dong kan jatuh semua ini"protes Aldrina sambil membereskan barang-barangnya yang terjatuh, sementara Mila memasang ekspresi terkejut melihat Jack bisa bersamaan dengan Aldrina
"Gapapa?"tanya Dandra sambil membantu Aldrina
"Suaranya?"batin Aldrina
"Lah Kak Dandra"kata Aldrina terkejut lalu melihat keberadaan ibu Dandra dan juga rivalnya yang menyebalkan itu
"Halo tante"sapa Aldrina dengan senyum cerianya
"Eh nak Aldrina, darimana sayang?"
"Ini tan abis dari sablon baju itu"balas Aldrina menunjuk sablon baju yang belum terlalu jauh dari mereka
"Oh gitu, ini siapa nak? Pacarnya ya?"balas ibu Dandra seakan menggoda Aldrina
"Enggak ma dia cuma orang asing"balas Dandra secepatnya
"Lah kok kamu yang jawab Dan?"kata ibu Dandra pura-pura penasaran sebenarnya dia tau anak satu-satunya itu memiliki perasaan lebih pada Aldrina
"Dia pacar aku ma"jawab Dandra begitu posesif sambil merangkul Aldrina yang membuat Aldrina melotot tidak percaya
Sementara ibu Dandra tidak syok, beliau tersenyum bahagia baru kali ini dia melihat anaknya jujur mengutarakan perasaannya sendiri.
__ADS_1
"Hahaha ia ia nak selamat ya sayang"ucap ibu Dandra bahagia
"Hem"Dandra mengangguk
Sementara Jack dan Mila dari tadi hanya bisa memasang wajah kesal masing-masing seakan terlupakan.
"Kamu tau Mil soal ini?"tanya ibu Dandra pada Mila
"Hahah enggak ma kurang tau"jawab Mila berbohong
"Oh iya maaf saya jadi mengabaikan kamu, kamu siapa ya?"tanya ibu Dandra menyadari keberadaan Jack
"Kenalin saya Jack kebetulan bertemu sama Aldrina tadi bu"jawab Jack sopan
Lama mengobrol akhirnya mereka memutuskan untuk makan bersama lalu pulang ke rumah masing-masing. Aldrina menjadi mengikut dengan mobil Dandra sementara Mila ikut dengan Jack. Sesampai di depan rumah Dandra.
"Ma aku antar Aldrina dulu ya"ucap Dandra setelah mereka semua turun dari mobil dan mobil Dandra sudah dibagasi
"Oke sayang"
"Pulang ya tante"ucap Aldrina pada ibu Dandra
"Iya sayang salam sama orangtuanya"
"Siap tante"
Tangan kanan Dandra membawa pakaian-pakaian yang dibawa Aldrina tadi sementara tangan kirinya menggenggam tangan Aldrina begitu erat.
"Tangan aku kekencangan dipegangnya kak"protes Aldrina
"Siapa tadi?"
"Lah kakak dengar sendiri kan tadi dia perkenalan"
"Maksudku kenapa kalian bisa sama?"
"Seharusnya aku yang nanya kenapa Mila ikut tadi"
Keduanya malah saling melemparkan pertanyaan.
"Yaudah aku yang jawab duluan, tadi si Mila tiba-tiba aja muncul waktu lagi belanja sama mama"jawab Dandra tidak ingin menimbulkan salah paham
"Oh bisa gitu ya jumpa ditengah jalan, jodoh amat"sindir Aldrina dengan tampang kesal
"Hem jadi kamu gimana?"
"Sama kayak kakak kebetulan! Dia nanya nama aku yaudah gitu ajah"jawab Aldrina dengan nada terkesan marah
Dandra mengangguk paham kemudian menyentuh pipi Aldrina dengan telunjuknya "Marah?"
"Hahaha enggak! Siapa yang marah"
"Yaudah lihat ke aku kalo gak marah"goda Dandra sambil memegang gemas pipi Aldrina
"Ahh malas"
__ADS_1
"Cie marah"
"Maaf" "Maaf"ucap keduanya serempak
Keduanya pun tertawa yang membuat suasana menjadi cair kembali.
"Maaf ya sayang, pasti capekkan? Jauh lagi dari rumah kalo kamu bilang harus, tadi gak bakalan aku biarkan sendiri lo"
"Haha gapapa sayang, lagian gak bisalah aku digantiin sama mama, mama yang terpenting sayang"ucap Aldrina sambil menggenggam kembali tangan Dandra yang sempat terlepas
Sampai di depan rumah Aldrina "Yakin kak mau masuk?"tanya Aldrina memastikan
"Yakinlah biar aku bantu bawa sampe ke dalam"
"Yaudah kalo gitu, yuk masuk"balas Aldrina lalu menarik Dandra masuk ke dalam rumahnya
Keduanya masuk ke dalam rumah Aldrina "Ini diletak dimana?"tanya Dandra setelah di dalam rumah
"Di kamar aku aja kak"
Mendengar itu jantung Dandra berpacu kencang. Bisa-bisanya Aldrina terlihat santai mengatakan itu terlebih lagi saat ini mereka hanya berdua saja.
"Kenapa diam kak? Ayok antar biar cepat"seru Aldrina pada Dandra yang masih terdiam di bawah tangga
"E..eng.."
"Apasih kak gak jelas banget deh"
Dandra pun memberanikan diri melangkah memasuki kamar Aldrina, sebenarnya Dandra sudah beberapa kali masuk ke kamar itu hanya saat ini adalah hal yang berbeda suasana saat ini jauh lebih sepi.
"Wah akhirnya sampe juga di rumah"seru Aldrina langsung menjatuhkan dirinya ke tempat tidur
Sementara Dandra masih berdiri di dekat pintu setelah pintu itu ditutup.
"Letak disudut aja kak"seru Aldrina pada Dandra yang terlihat kebingungan
"Kakak kenapa sih? Kok keringatan gitu? Mau minum?"tanya Aldrina bingung
"Emm...i.. iya boleh""jawab Dandra sedikit terbatah
"Bisa-bisanya dia seberani ini"seru Dandra dalam hatinya
Aldrina pun menuang air minum yang selalu tersedia di meja dekat tempat tidurnya "Nah ini kak"kata Aldrina sambil mengulurkan segelas air
Dandra menyambut pemberian Aldrina dan tidak sengaja tangan Dandra juga menggenggam tangan Aldrina. Pandangan mereka pun bertemu, Dandra melihat Aldrina begitu lekat begitu juga Aldrina, terlebih lagi saat ini rambut Aldrina terikat keatas memperlihatkan lekukan indah lehernya. Tanpa disadari wajah mereka semakin lama semakin mendekat.
Dekat
Dekat
Semakin Dekat
"Non"ucap bibi Inem yang membuat keduanya tersadar dan salah tingkah sendiri
"Eh ini kak minumnya aku keluar dulu"seru Aldrina lalu berlari dengan pipi yang sudah merona
__ADS_1
"Astaga hampir aja aku lepas kendali, Aldrina selalu memancingku"batin Dandra merutuki dirinya