Love You So Much

Love You So Much
Bagian 34 (Sebelum Tanding Basket)


__ADS_3

"Enaknya punya kakak cowok itu? Kita gak tau naik motor jadi dianterin deh hehe"


~~ LYSM ~~


Tibalah hari yang membuat jantung Aldrina berdebar begitu kencang, gadis itu bukan takut melainkan semangat yang begitu menggebu-gebu. Pertandingan ini diadakan tiap tahun sekali antar 6 sekolah yang berguna untuk menjalin persahabatan dan kerjasama sekolah yang satu dan sekolah yang lain. Setiap tahunnya SMA CEMPAKA dan SMA TUNAS UTAMA selalu bergantian menjadi juara 1 baik itu tim perempuan maupun tim laki-laki. Karena sekolah yang ikut bertanding cukup banyak, pertandingan itu diadakan dua hari tepatnya hari jumat dan sabtu mulai dari pukul 09.00 AM.


Tahun ini adalah SMA TUNAS UTAMA yang dijadikan sebagai tuan rumah. Walaupun masa jabatan Dandra sudah habis Dandra masih bertanggung jawab atas berlangsungnya kegiatan ini karena ketua OSIS yang baru belum juga dilantik. Hal itu membuat Aldrina dan Dandra berpisah untuk pergi ke sekolah. Banyak hal yang masih harus diuurus Dandra terlebih dahulu, dia tidak enak kepada Aldrina jika harus memaksakan gadis itu pergi bersamanya pagi sekali. Aldrina harus mempersiapkan dirinya sebaik mungkin sebelum pertandingan dimulai.


Di rumah Aldrina sedang makan bersama Bimo di ruang makan


" Eh kakak"


"Apaan nyet?"tanya Bimo sambil melahap sarapan


"Tumben cepat bangun"sindir Aldrina


"Iya kata si Dandra disekolahmu ada pertandingan"jawab Bimo dengan wajah datar


"Terus hubungannya sama kakak apaan? Kayaknya gak berhubunganlah"


"Yah saya sebagai kakak yang baik hati dan budi akan mengantarkan adikku ke sekolah dengan selamat"jawab Bimo begitu sombongnya


"Ala.. ala.. Sok baik"ejek Aldrina


"Yauda kalo gak ma.."


"Ahh ia ia mau kok mau kok kakakku, gitu aja ngambek"


"Oke yaudah siap-siap gih"seru Bimo setelah melihat Aldrina yang memakai kaos dan celana olahraga


"Dah siap woi emang aku makek ini ke sekolahnya"


"Ooh yaudah kalo gitu let's go, eh btw hari ini kakak gak ngampus lo dosennya pada gak bisa semua"seru Bimo nyaring agar Aldrina mengundangnya secara terbuka untuk ikut hadir menonton gadis itu bertanding


"Oh"jawab Aldrina singkat dan padat


"Brak" Bimo menendang kaki kursi Aldrina karena membuatnya kesal


"Wowowow hahha"seru Aldrina sambil menyeimbangkan badannya yang hampir terjungkal


"Resek lo nyet"seru Bimo merajuk


"Yaudah kalo kakak ada waktu datang aja semangatin adek siapa tau dengan adanya kakak adek jadi semangat"


"Gak, males"balas Bimo datar lalu melangkah keluar mengambil motornya


"Acie cie cie ngambek nie"seru Aldrina cukup keras


"Adek sialan untung sayang huh"batin Bimo


Bimo pun menyalakan motornya dan Aldrina yang sudah mengikut dibelakangnya langsung naik begitu gampangnya ke motor besar Bimo


"Pelan-pelan woi nyet"seru Bimo pada Aldrina yang tidak hati-hati


"Ah iya iya kakak bawel amat! Lagian aku pakek celana kok, maju gih"


"Hmm"


Bimo melajukan motornya dengan kecepatan sedang, Aldrina yang berada dibekangnya memegangi bahu Bimo sambil bersenandung. Tiba-tiba saja tanpa Bimo sadari ada sebuah mobil pribadi yang melaju kencang kearah mereka, beruntungnya Bimo yang sedari tadi mengambil jalan dipinggir sehingga kejadian itu tidak membuat mereka celaka hanya saja motor Bimo jatuh karna kejadiannya yang begitu tiba-tiba.


"Brakk"motor Bimo terjatuh dan Bimo langsung sigap berdiri dan melihat plat nomor mobil itu


"D 54*3 sialan sepertinya dia sengaja"batin Bimo yang masih melihat kemana mobil itu melaju


"Kak Bim aww"teriak Aldrina yang masih terjatuh di jalan


"Oh ia adik gue"batin Bimo


"Ada yang sakit?"tanya Bimo sambil membantu Aldrina berdiri

__ADS_1


"Ada"jawab Aldrina dengan kesal sambil menepuk nepuk pakaiannya yang kotor


"Yang mana?"tanya Bimo sambil memperhatikan seluruh tubuh Aldrina


"Hati aku!  Bisa-bisanya kakak nyelamatin diri sendiri"rengek Aldrina


"Ah oooh, yaudah yang penting gapapa naik lagi nanti telat"seru Bimo dengan wajah datar tanpa menggubris omelan Aldrina


"Siapa ya itu tadi?"tanya Bimo dalam hati dan kembali melajukan motornya


Sementara di dalam sebuah mobil bewarna biru tua ada Mila yang tertawa begitu hebatnya "Hahaha rasakan Aldrina ini masih permulaan"seru gadis gila itu sambil terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Akhirnya motor Bimo sampai di depan gerbang sekolah Aldrina. Gadis itu turun dari motor Bimo dengan wajah kesal dan ingin pergi begitu saja. Bimo pun langsung menarik tangan Aldrina.


"Eh nyet enak aja main pergi!' Gak sopan sama kakak sendiri"omel Bimo yang tau Aldrina masih kesal


"Apa lagi sih kak?"tanya Aldrina galak


"Wih galak amat! Mau bilang semangat adikku"seru Bimo sambil mengelus sayang puncak kepala Aldrina


Aldrina sempat mengembalikan senyumannya namun lagi-lagi Bimo jahil dengan mendorong kepala Aldrina kebelakang


"Hahaha adik gue mah lucu amat apalagi kalo ngambek"batin Bimo begitu senangnya menjahili Aldrina


"Ihh resek lo kak"rengek Aldrina


"Hahahah kamu lucu sih! Kakak pulang dulu ya nanti datang lagi! Manggil si kembar dulu"kata Bimo sebelum melajukan motornya


"Ha ia ia hati-hati ya kak"seru Aldrina masih dengan wajah kesal dan dibalas anggukan oleh Bimo


Setelah Bimo pergi Aldrina melihat sekitar ternyata sudah cukup ramai orang-orang yang berdatangan ke sekolahnya. Untung sekolah Aldrina besar dan luas sehingga cukup untuk menampung ribuan orang. Aldrina melihat jam menunjukkan pukul 08.15 AM.


"Duh bentar lagi mulai nih gue harus ganti baju dulu"seru Aldrina sambil berjalan ke ruangan kelasnya. Aldrina menaruh pakaian basketnya di loker kelas agar tidak ketinggalan.


"Mampus aku"teriak Aldrina melihat pakaiannya tidak ada di loker


Aldrina langsung menelepon Shirene karena tidak melihat batang hidung sahabatnya itu


"Halo mut"


"Iya Drin elo dimana?"


"Gue dikelas mut sini cepat"


"Ngapai lo kesana? Kita kan gak disuruh masuk ke kelas lag..."


"Uda cepetan sini"potong Aldrina dan langsung mematikan teleponnya


"Yaa uda dimatiin aja, kenapa yah dia?"batin Shirene kemudian berjalan ke kelas


"Mau kemana woi?"tanya Gilbert melihat Shirene yang berdiri


"Itu si Aldrina kayaknya ada masalah"


"Masalah apa?"sambung Tian setelah mendengar jawaban Shirene tentang Aldrina


Shirene mengangkat bahunya kemudian ketiganya bergegas berlari menuju ruangan kelas mereka.


"Huh huh huh"Shirene mencoba mengatur napasnya akibat berlari


"Kenapa lo mut?"tanya Aldrina heran


"Biasalah efek orang gemuk"jawab Gilbert yang mendapat tatapan horror dari Shirene


"Udah-udah nanti becandanya kalian harus bantu gue!"kata Aldrina agar Shirene dan Gilbert tidak bertengkar


"Bantu apaan?"tanya Gilbert penasaran


"Seragam basket gue hilang dari loker"

__ADS_1


"Apa serius Drin? Emang uda diliat betul-betul? Semalamkan kita yang buat disana"seru Shirene setelah mendengar perkataan Aldrina


"Iya makanya aku heran"


"Wah gawat nih bentar lagi sekolah kita bakalan tanding sebagai pembuka"seru Tian seakan membuat tubuh Aldrina melemas


"Duh gimana dong? Ada yang liat gak siapa tadi ke kelas gitu?"tanya Aldrina begitu panik


"Luna"jawab Gilbert singkat


"Ah iya! Luna tadi permisi sama Tian kurang enak badan jadi pengen tidur bentar di kelas, nah sekarang mana orangnya?"jelas Shirene kemudian mencari keberadaan Luna


Tanpa berpikir lagi Tian langsung menelepon Luna dari WA


"Halo Lun"


"Iya ada apa Tian?"


"Dimana sekarang?"


"Lapanganlah"


"Tadi bukannnya elo permisi buat tidu..."


"Ooo itu tadi aku gak jadi ke kelas karna takut sendirian"potong Luna yang tau arah pembicaraan Tian


"Jadi gak jadi ke kelas ya? Oke Lun cuma mau  nanya itu makasi'


TUT TUT TUT


"Gimana bro?"tanya Gilbert


Tian menggelengkan kepalanya "Wah ada yang gak beres nih"seru Gilbert


"Iya kayaknya"sambung Shirene


Luna yang mendapat telepon dari Tian sebenarnya sudah tau maksud dari lelaki itu. Pasti Tian akan menanyakan pakaian Aldrina yag hilang dari loker. Tadi Luna sempat ke kelas namun setelah gadis itu melihat dua orang gadis sedang berusaha membuka loker Aldrina, dia mengurungkan niatnya. Luna hanya mengintip dari jendela kelas sampai keduanya berhasil mencuri pakaian Aldrina.


"Gue keterlaluan gak ya? Ah udalah toh Aldrina gak pernah anggap aku sebagai temannya lagi"batin Luna seakan tidak sejalan dengan tindakannya


Aldrina mulai tidak tenang sampai gadis itu melompat-lompat ditempatnya.


"Lah ngapai sih Drin kok jadi pocong gitu?"seru Gilbert melihat tingkah Aldrina


"Plak"Shirene memukul bahu Gilbert


"Jangan dibecandain woi lagi serius nih"seru Shirene kesal


"Iya maaf maaf biar rileks maksudnya, iya kan bro?"jawab Gilbert sambil menepuk bahu Tian yang ikut menegang


Tian pun menatap Gilbert datar "Eh Drin kalian punya cadangan kan?"


"Ah iya ada 5 orang"


"Yaudah pinjam aja seragam salah satu dari mereka! Toh gak main semua nanti"saran Tian


"Moga-moga aja"balas Aldrina


Mereka berempat pun akhirnya mencari salah satu pemain cadangan yang mau memberikan seragamnya untuk Aldrina, terlebih lagi Aldrina adalah ketua basket saat ini tidak mungkin ketua basket tidak bermain dalam pertandingan.


"Huh syukurlah kakel tadi baik ya"kata Shirene setelah mereka berempat berhasil menemukan orang yang mau memberikan seragam buat Aldrina


"Iya tapi aku masih penasaran siapa yang ambil seragamnya Aldrina"seru Gilbert


"Apalagi aku! Rasanya gak pernah jahatin orang deh, ah tau ah kita urus itu nanti! Kita ke lapangan aja langsung"kata Aldrina memutuskan untuk segera ke lapangan


Sementara Tian sibuk dengan pikirannya sendiri "Perasaan tadi si Luna udah jalan ke arah kelas, masa iya gak jadi sih?"batin Tian tanda tanya


"Woi bro ayo ngapai bengong aja sih"seru Gilbert sembari menarik Tian yang masih ketinggalan dibelakang.

__ADS_1


__ADS_2