
"Disaat hal tergenting pun kamu masih mengingatku bahkan membuatku menjadi tempat berlindungmu"
~~ LYSM ~~
Segera Tian menghampiri Aldrina yang mencoba meyadarkan Luna kemudian keduanya berlari ke UKS dengan Tian yang menggendong Luna dipunggungnya dan disusul oleh Shirene yang juga sangat khawatir. Luna yang masih belum sadar sesampai di UKS dibaringkan di tempat tidur dengan cepat dokter sekolah mereka memeriksa keadaan Luna. Dokter mengatakan kondisi Luna saat ini adalah hal wajar bagi seseorang yang baru saja menerima donor setelah Aldrina memberitahu dokter itu apa yang diketahui mengenai kondisi Luna.
"Apa juga gue bilang Lun lo itu masih sakit tetap aja ngeyel merasa gue yang jahat sama lo, mikir dong Lun gue sayang sama lo"kata Aldrina menumpahkan kekesalannya pada Luna yang masih menutup matanya
Tian yang mendengar itu hanya berdiam diri dan Shirene berusaha menenangkan Aldrina "Udah Rin jangan marah-marah kasihan Luna mending lo keluar tenangin diri lo dulu baru masuk lagi"
"Emm... Iya mut iya aku diam tapi untuk keluar aku bakal keluar kalo cewek keras kepala itu bangun dari tidurnya"balas Aldrina sembari melihat wajah Luna yang begitu polos saat tertidur
Mendengar perkataan Aldrina barusan, Shirene tau Aldrina begitu menyayangi Luna ada rasa irih yang dirasakannya ketika Aldrina begitu menghawatirkan Luna akan tetapi secapatnya Shirene menepis perasaannya itu. Sesaat kemudian ada orang mengetuk pintu UKS masuklah dua orang pria yang tak lain adalah Felix dan Dandra. Tanpa basa-basi Felix langsung mengajukan pertanyaan pada Aldrina.
"Gimana keadaan Luna Drin?"tanya Felix terlihat khawatir
"Tuh lihat masih terlalu nyaman menutup matanya"jawab Aldrina dengan ketus
"Kak Lix gue mohon banget sama lo setidaknya lo lebih memperhatikan Luna bukannya gue mau ngebebani lo bukan tapi masalahnya ini semua karena kakak juga yang buat jarak kami jadi jauh aku gak bisa ada di dekat dia, dia selalu ngus..."
"Kalo lo mau ribut diluar sana"potong Luna dengan suara pelan namun mereka semua bisa mendengarnya
"Tuh kan apa gue bilang gue diusirkan, bye"balas Aldrina kesal lalu keluar dari UKS
Setelah Aldrina menutup pintu UKS terlihat sudut bibirnya melengkung keatas, Aldrina bersyukur setidaknya Luna sudah siuman saat ini, Dandra menyusul Aldrina yang keluar dari UKS.
"Aldrina.."panggil Dandra pada Aldrina yang terlihat berjalan menjauhi UKS
"Eh sayang kak maksudnya"balas Aldrina dengan senyuman
"Gadis ini selalu saja ingin menyembunyikan rasa sedihnya"batin Dandra kemudian merangkul bahu Aldrina dengan erat
"Ihhh lepasin ah! Sakit tau kak! Aku gigit nih"
"Gigit aja kalau kamu tega"balas Dandra mengacuhkan perkataan Aldrina
"Hmmm"
"Mau kemana?"
"Mau ambil tas aku, Shirene, Tian sama.. Cewek keras kepala itu"balas Aldrina malas menyebut nama Luna
__ADS_1
"SIapa yang keras kepala?"
"Gak usah sok gak tau dong kak bikin tambah emosi aja"
"Hahah iya iya enggak, senyum dong makin jelek nanti"goda Dandra sambil mencolek pipi Aldrina
"Hahaha apa sih kak! Jangan ikutan genit kayak aku deh geli jadinya"protes Aldrina dengan pipi yang mulai merona
"Biarin yang penting kamu senyum"
Keduanya pun berjalan menuju ruangan kelas X-Mia 3 sambil tertawa. Sekolah sudah terlihat sepi hanya terlihat beberapa siswa-siswi yang berlalu lalang disana, seketika langit terlihat mendung pertanda hujan sebentar lagi akan turun keduanya pun mempercepat langkahnya menuju UKS.
"Nih tas kalian"seru Aldrina sesampai di UKS bersama Dandra disampingnya
"Eh kak Lucas sejak kapan ada disini?"tanya Aldrina mencairkan suasana yang terlihat canggung dimata Aldrina
"Emm ini tadi Shirene bilang lagi di UKS jenguk kawannya yaudah gue samperin deh, udah mau hujan jugak biar ada yang antar pulang, iyakan sayang?"balas Lucas dengan mengedipkan matanya pada Shirene
Aldrina yang mendengar itu langsung memasang wajah ingin mual "Hargai dong umat jomblo disini"protes Felix mendengar perkataan Lucas
"Makanya ada cewek yang suka sama lo kak jangan dianggurin, salah sendiri toh"sindir Aldrina
"Lah gimana dong gue sukanya sama lo?"balas Felix yang membuat Aldrina membulatkan matanya yang cipit
Tidak ingin mengubah suasana lebih menyeramkan lagi "Eh kami duluan yah... Bye bye"seru Aldrina menggenggam tangan Dandra keluar dari ruangan UKS
Sesampai di parkiran Dandra masih terlihat diam lalu mengeluarkan kunci motornya dan menghidupkan motornya "Aku gak disuruh naik sayang?"tanya Aldrina tidak menyadari Dandra marah
Dandra mengabaikan gadis itu lalu melajukan motornya begitu saja "Ceritanya gue pulang sendiri nih?"tanya Aldrina pada dirinya sendiri dengan wajah konyolnya
Dengan pasrah Aldrina berjalan keluar sekolah dan menunggu bus datang, usahanya terlihat sia-sia air hujan mulai membasahi dirinya mau tidak mau Aldrina pun memasuki cafe yang jaraknya cukup dekat dengan SMA Tunas Utama. Disisi lain Dandra yang sudah melajukan motornya dan sudah memasang wajah kesal sedari tadi seakan sungkan untuk kembali menjemput kekasihnya itu.
"Sial sial"kata Dandra dibalik helmnya
Secepatnya Dandra memutar arah motornya kembali ke sekolah. Dandra merasa bersyukur Aldrina masih berada disekitar itu dengan wajah cemberutnya. Gadis itu terlihat menutupi dirinya saat hujan mulai turun.
"Sial aku lupa bakalan hujan"batin Dandra mengutuk dirinya yang bodoh karena cemburu
Dandra memarkirkan motornya lalu mengikuti Aldrina memasuki cafe itu dan mengambil posisi dibelakang Aldrina agar gadis itu tidak mengetahui keberadaannya.
Aldrina mengambil posisi disalah satu meja yang ada disana lalu mengambil beberapa tisu untuk mengeringkan dirinya yang basah. Sang pelayan cafe datang untuk menanyakan pesanan Aldrina.
__ADS_1
"Anjir mahal gak yah uang gue cuma bawa sedikit lagi terus perut gue lapar banget"batin Aldrina menimang-nimang apa yang akan dipesannya
"Kenapa dia? Apa jangan-jangan uangnya ketinggalan?"tanya Dandra melihat Aldrina bengong saja saat ditanyai pelayan
"Halo kak... kak..kak.. Mau pesan apa kak"kata pelayan beberapa kali saat Aldrina mengabaikannya
"Eh maaf mbak saya mesannya waktu pacar saya datang aja ya hehe"kata Aldrina dengan wajah memohon sambil berusaha tersenyum walaupun terlihat canggung
Pelayan itu pun memasang wajah kesal "Yah ini namanya ngabisi waktu saya"gumamnya
"Maaf mbak maaf"kata Adrina sekali lagi mendengar perkataan pelayan itu
"Huh gara-gara kak Dandra nih"batin Aldrina menyalahkan Dandra
Dandra pun terkekeh melihat ekspresi Aldrina yang benar-benar lucu "Kan betul"
Tidak berselang lama datang beberapa gerombolan lelaki dengan pakaian santai mendekati meja Aldrina. Dandra terlihat was-was saat itu namun tidak langsung menghampiri Aldrina layaknya pahlawan pada umumnya.
"Hai Cewek.."sapa salah satu lelaki
"Ih judas dia bos"sambung yang satunya melihat perkataan bosnya dihiraukan
"Tenang aja kita anak baik-baik! Oooh anak Tunas Utama ya?"kata lelaki yang dipanggil bos tadi
"Maaf ya om uda tau ngapai nanya"jawab Aldrina terlihat acuh bahkan terkesan menyindir
"Galak bos wow"kata salah seorang lagi yang membuat mereka tertawa bersama
Aldrina sungguh tidak menyukai mereka semua dia bisa mencium asap rokok yang pekat dari mereka bukan Aldrina membenci perokok aktif hanya saja mereka adalah orang asing yang bisa saja menjahatinya jika Aldrina tidak terlihat arogan.
"Tolong bisakah kalian minggir saya sedang menunggu pacar saya yang belum sampai disini"tambah Aldrina dengan nada mengusir
"Santai dong toh kita-kita gak ngapai situ dan satu lagi kita sama-sama masih SMA apa tadi om? Kamu gak lihat wajah tampan saya ini masih begitu segar"
Aldrina memasang wajah tidak peuduli "Terus gue harus bilang wow gitu udah sana apa perlu saya panggil pelayan disini untuk menuntun kalian mengambil tempat?"
"Sombong sekali gadis ini beraninya dia mengejekku"batin laki-laki yang dikatakan bos tadi
"Udah ayo semua tinggalkan gadis sombong ini"seru lelaki itu dengan wajah marah mengarahkan teman-temannya menjauhi Aldrina
"Huh selamat"batin Aldrina legah melihat gerombolon laki-laki itu meninggalkannya
__ADS_1
Sementara Dandra yang sedari tadi sudah menyiapkan dirinya dan membayangkan hal yang paling buruk terjadi justru menyunggingkan senyumnya "Ini dia Aldrinaku"batin lelaki itu lalu berdiri menghampiri Aldrina yang masih mengelus-elus dadanya.