Love You So Much

Love You So Much
Bagian 25 (Jatuh Pingsan)


__ADS_3

"Kita itu sahabat dan yang namanya sahabat pasti perhatian"


~~ LYSM ~~


Luna kembali masuk sekolah seperti biasa namun sekolah sangat membuatnya tidak nyaman, belum ada satu pun yang terlihat akrab dengannya terlebih lagi selama dia menjadi siswi baru waktunya banyak habis hanya bersama dengan Dandra. Luna menatap ujung sepatunya dengan senduh ingin rasanya Luna secepatnya tamat dari sekolah itu terlebih lagi kehadiran Aldrina di sekolah membuat Luna tampak canggung dan dia pun enggan untuk berdamai dengan Aldrina.


"Sendiri aja mana pengawalnya"seru Aldrina yang baru saja datang dan langsung mendekati Luna yang sedang duduk sendiri di depan kelas


"Gak usah sok polos seisi sekolah juga tau lo pacarnya kak Dandra"balas Luna cuek


"Oooh gitu bagus dong setidaknya kamu tau"balas Aldrina sambil berlalu memasuki kelas


Aldrina merutuki sifatnya barusan, andai dia bisa berbicara lebih lembut dan menanyakan keadaan Luna bukan malah mengabaikan gadis itu "Dahlah dia terlihat baik-baik aja kok"batin Aldrina setelah duduk di bangkunya


"Lah Shirene mana ya kok tumben amat lama datang"seru Aldrina menyadari Shirene belum duduk dibangkunya


Padahal biasanya Shirene sudah duduk dengan beberapa cemilan di atas mejanya gadis itu benar-benar tidak khawatir akan berat badannya. Aldrina yang merasa bosan sendiri terlebih tidak ada Shirene disampingnya memutuskan untuk kembali keluar mendekati Luna dan duduk disamping gadis itu.


"Kalau kamu mau bertengkar sorry mood gue lagi gak bagus"kata Luna menyadari kehadiran Aldrina


"Lah yang mau ngajak ribut siapa coba, aku cuma mau duduk disini"balas Aldrina tidak terima


"Benar-benar canggung"batin Aldrina


"Eh lo udah tau kan sekarang jadwal kita olahraga"kata Aldrina membuka pembicaraan


"Iyah gue gak buta masih bisa baca jadwal pelajaran"balas Luna dengan nada menjengkelkan


"Yaelah nih bocah belajar jadi orang ngeselin kali yah diluar negeri"batin Aldrina


"Yaudah deh bagus kalo lo uda tau"kata Aldrina mencoba bersabar


"Hemm"


Kesunyian kembali tercipta diantara keduanya "Aldrina yuhu..! Tumben wei cepat datang ke sekolah biasa juga hampir bel"kata Shirene begitu nyaring setelah melihat Aldrina yang duduk di bangku depan kelas


"Eh ada Luna, Hai Lun"sapa Shirene menyadari ada Luna juga disana


Luna yang tidak menyukai keakraban keduanya memilih diam dan tidak menjawab sapaan Shirene "Lagi sariawan kali dia mut makanya gak mau balas sapaan kamu, jangan masukin hati mut masukin saku lo aja siapa tau bisa dimakan heheh"sindir Aldrina dengan candaan yang mendapat sorotan tajam Luna


"Apa! Ya kan elo yang gak mau ngomong, dahlah mut yuk anterin tasmu udah mau masuk juga nih"kata Aldrina nyolot melihat tatapan tajam Luna lalu merangkul Shirene memasuki kelas


"Eh Rin kenapa sih si Luna gak enak gitu mulu tatapannya ke gue"curhat Shirene menyadari ketidaksukaan Shirene pada dirinya setelah di meja mereka


"Ah masa sih entar elo ke pedean"sangkal Aldrina dengan candaan

__ADS_1


"Masa sih? Bagus deh kalo dia gak marah"kata Shirene tidak terlalu memikirkannya lalu memamerkan senyum


Seluruh isi kelas X Mia-3 kini sudah ada di lapangan basket hari ini kelas mereka akan mengadakan ujian praktek basket. Aldrina terlihat bersiap-siap dengan mengikat tinggi rambutnya menampakkan lekukan lehernya yang indah, Aldrina melirik Luna dan menghawatirkan gadis itu.


"Apa dia udah bisa capek ya?"batin Aldrina khawatir


"Duh panas banget"rengek Shirene yang tidak suka panas-panasan


"HAHAHA sabar mut itung-itung bakar lemak juga"kata Aldrina berniat menghibur


"Secara tidak langsung kamu bilang aku gendut tau"rengek Shirene merasa di ejek


"Yaelah apaan sih neng sensian amat! Udah ah ayo pemanasan si Tian udah mulai gerakan pemanasan tuh!"


Shirene mengerucutkan bibirnya lalu mengikuti langkah Aldrina. Mereka semua pun melakukan gerakan pemanasan dan peregangan agar otot-otot mereka tidak terkejut untuk menghindari cedera lapangan. Pak Eko guru olahraga mereka pun muncul dengan daftar nilai yang biasa digunakannya dia menyuruh seorang lelaki dari kelas Mia-3 untuk mengambilkan bangku untuknya.


"Kalian udah tau kan hari ini kita bakalan mengadakan ujian praktek?"tanya Pak Eko memastikan


"Udah pak.."jawab mereka serempak


Cewek-cewek Mia-3 lebih banyak menekukkan wajahnya dari pada bergembira terlebih lagi saat ini jam sudah pukul 11.00 bukan sinar matahari yang sehat lagi yang muncul namun semua itu berbanding terbalik dengan Aldrina yang terlihat begitu semangat.


"Itung-itung latihan gue"gumamnya sambil tersenyum


"Kita mulai dari absensi pertama! Aldrina"perintah pak Eko


Pak Eko tidak tau nama Aldrina hanya saja dia mengenal wajah Aldrina terlebih Aldrina begitu akrab dengan Felix sang ketua basket sekolah SMA Tunas Utama.


"Siap pak"


TAP


Tian melemparkan bola basket pada Aldrina dan ditangkap mantap oleh gadis itu. Aldrina mempraktekkan satu persatu teknik dasar basket yang sudah diajarkan pak Eko dari passing, dribble, cara mengoper bola sampai gerakan akhir menembakkan bola ke keranjang. Seisi kelas dibuat terpukau akan kelincahan Aldrina memainkan bola basket bak pemain profesional, terlebih lagi saat menembakkan 5 kali bola dengan beberapa  teknik lompatan tentunya, bisa dilakukan dengan mantap oleh Aldrina membuat para lelaki saja menciut melihat keahlian Aldrina. Pak Eko tersenyum senang melihat keahlian Aldrina.


Setelah giliran Aldrina selesai berlanjut siswa urutan absen selanjutnya. Aldrina mengambil posisi dibawah pohon rindang karena gilirannya sudah selesai. Gadis itu mengipasi wajahnya dengan tangan dan mengguncang-guncang pakaian olahraga seperti kebanyakan orang yang merasakan panas.


Sssstt


Ada yang menarik ikatan rambut Aldrina membuat rambutnya kembali terurai yang menambah kesan panas tentunya.


"Anjir kalo mau iseng liat timingnya napa"kata Aldrina marah


Dandra menampakkan wajahnya yang membuat amarah Aldrina menciut "Aisss iseng amat sih kak"protes Aldrina


"Siniin ah ikat rambutnya"rengek Aldrina karena ikat rambutnya kini sudah ada di pergelangan tangan Dandra

__ADS_1


"Udah minum dulu biar aku yang ikat ulang tadi berantakan makanya kulepas"tolak Dandra lalu mengeluarkan sebotol AQUA yang sudah ada di kantong celananya


Lagi-lagi Dandra bersikap begitu manis yang membuat Aldrina tidak terbiasa akan sikap Dandra. Dengan wajah yang semakin merah padam Aldrina menenguk air itu sampai tidak tersisa.


"Masih haus? Biar aku beli lagi"komentar Dandra sambil meraih rambut Aldrina


"Iihh aku bisa sendiri lo kak gak malu apa diliatin orang"


"Ngapai malu pacar sendiri kok! Gak ada juga tuh yang liatin"


"Yeee dibilangin malah ngeyel! Nanti pak Eko marah lo apalagi ini belum jam istirahat"


"Makanya jangan bawel biar cepat Aldrina"sungut Dandra karena Aldrina tidak bisa tenang saat Dandra bersusah payah mengikat rambut panjang Aldrina yang begitu halus menjadi susah untuk diikat, akhirnya Aldrina menghentikan pergerakannya


"Nanti pulang sekolah kamu duluan aja ya aku masih punya kerjaan"seru Dandra setelah selesai mengikat rambut Aldrina walaupun tidak terlalu rapi setidaknya lebih rapi dari sebelumnya


"Emang kerjaan apa kak sampe pacar sendiri harus duluan pulang?"jawab Aldrina dengan pertanyaan


"Mau ke perpustakaan minjam buku yang bisa dipakai untuk persiapan ujian masuk kuliah"


"Ooooh itu toh! Heran deh gue orang pintar aja belajar tiba umat bodoh kayak aku ogah-ogahan"


"Dimana ada niat disitu ada jalan"


"Ya aku selalu punya niat kok"


"Iya tapi jangan cuma kata-kata aja harus di praktekkan"


"Iya iya bos iya udah sana gih hus hus lagi malas dengar ceramah panas-panas gini, aku tungguin entar biar pulang bareng"kata Aldrina sambil mengusir Dandra yang sudah terlalu lama didekatnya dan membuatnya yang bodoh tersindir


Dandra menatapnya saja lalu pergi berlalu "Kok bisa dia ada diluar"batin Aldrina melihat kehadiran Dandra yang begitu tiba-tiba


Setelah Dandra berlalu dari hadapan Aldrina gadis itu melihat Luna seakan berjalan ke lapangan  basket. Mengingat Luna baru saja check up dari rumah sakit Aldrina berlari ke lapangan basket untuk menghentikan Luna memegang bola.


"Maaf pak Luna baru aja check up dari RS"kata Aldrina dengan napas yang tidak teratur


Pak Eko mengerutkan dahinya "Benar Luna jadi gimana kamu sakit?"tanya pak Eko memastikan


"Enggak kok pak saya udah baik-baik aja dia aja yang berlebihan"jawab Luna lalu menatap Aldrina dengan tatapan yang sulit ditebak


Pak Eko kembali melihat Aldrina mereka berdua saling melemparkan tatapan, akhrinya Aldrina mengangkat bahunya dan pasrah dengan keputusan Luna toh itu dari mulut Luna sendiri tapi tetap saja Aldrina masih memasang wajah cemasnya. Matahari sudah semakin terik Luna memegang bola basket itu lalu mempraktekkan segala sesuatu yang diperintahkan dan tiba-tiba saja saat Luna ingin memasukkan bola ke dalam keranjang matanya terasa berkunang-kunang cahaya matahari begitu menyilaukan matanya kemudian kegelapan menyelimutinya, Luna terjatuh dan pingsan.


"LUNA"teriak Aldrina kemudian berlari menghampiri gadis itu


"Gue bilang jugak apa, lo tetap keras kepala Lun"sungut Aldrina dengan cairan bening yang lolos dari sudut matanya

__ADS_1


Aldrina menangis, gadis itu tidak kuasa melihat Luna yang selalu terlihat kuat dihadapannya.


__ADS_2