
"Sahabat itu memang sangat menjengkelkan namun entah kenapa aku tetap menyayanginya"
\~\~LYSM\~\~
Dandra memasuki rumah dan melihat Shelly yang sedang sibuk di dapur bersama pembantu menyiapkan sarapan pagi. lelaki itu mengambil gelas lalu mengisinya dengan air dia menghabiskan minumannya dalam sekali tegukan yang membuat perhatian Shelly teralihkan.
"Darimana aja sih sayang? Sampe kehausan gitu"tanya Shelly menghampiri anak satu-satunnya
"Habis lari pagi ma"
"Tumben sayang biasanya kamu langsung tidur lagi"ucap Shelly mengingat kebiasaan Dandra yang biasanya tidur lagi setelah menemani dirinya berbelanja
"Iya ma tadi waktu mau nyimpan motor eh liat Aldrina lagi lari"
"Cie sepertinya kamu mulai sangat bucin sayang"
"Hmm iya ma dia membuatku sangat berubah"balas Dandra sambil menggaruk kepalanya
"Haha gak terasa ya anak mama satu-satunya udah dewasa sekarang, yaudah mandi gih kamu bau acem sayang"
"Hah masa sih ma"balas Dandra lalu mencium aroma tubuhnya sendiri
"Engga tuh malah bau pewangi baju"lanjut Dandra lagi
"Pokoknya mandi gih ntar keringatnya lengket sayang"
"Iya ma ia sebentar, oh iya ma papa dimana?"
"Di kamar, kenapa sayang?"
"Ini ma tadi kan aku jumpa Aldrina kata papanya hari ini bisa jumpa sama papa"
"Oh gitu iya nanti mama kasih tau sama papa, kamu mandi aja gih"
"Ih iya ma iya, ngusir Dandra mulu dari tadi"balas Dandra dengan wajah merengut lalu melangkahkan kakinya menuju kamar
Shelly geleng-geleng kepala semenjak mengenal Aldrina membuat anaknya Dandra semakin hidup menjadi manusia tidak bersikap kaku dan tertutup lagi, Dandra lebih berekspresi sekarang yang membuat Shelly sangat bahagia.
Shelly yang sudah selesai menyajikan sarapan memutuskan kembali ke kamar untuk membangunkan suaminya agar turun sarapan namun niatnya terhenti saat sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang.
"Sayang"ucap Shelly kaget
"Hahaha kenapa kamu kaget sekali"ucap Barley lalu mencium puncak kepala istrinya
"Kamu juga kenapa tiba-tiba meluk aku sih sayang"
"Habisnya kangen sama kamu, aku tepuk-tepuk samping aku eh ternyata tersisa guling aja"
"Hemm kamu udah tua juga manja gini! Aku kan menyiapkan sarapan untuk kita udah lepasin malu diliatin"ucap Shelly berusaha keluar dari pelukan erat suaminya apalagi terlihat beberapa pembantu senyum-senyum memperhatikan mereka berdua
"Pagi Pa"ucap Dandra dari arah tangga
"Ehmm pagi Dan"balas Barley lalu melepaskan pelukannya dirinya merasa sedikit malu di depan Dandra
__ADS_1
"Udah mandinya sayang? Sini kita sarapan dulu"ucap Shelly sambil tersenyum lembut
Ketiganya pun makan dalam diam sampai Shelly teringat ucapan Dandra tadi "Sayang"ucap Shelly setelah menghabiskan makanan yang ada di mulutnya
"Iya sayang" "Iya ma"ucap Barley dan Dandra bersamaan
"Kamu kok menyahut Dan? Mamamu memanggil papa bukan kamu"ucap Barley dengan nada jengkel
"Ya maaf pa, mama juga biasa manggil gitu samaku"
"Ga ada yang biasa kalau ada kita berdua yang bisa disebut sayang cuma papa"
"Posesif"ucap Dandra pelan namun masih bisa didengar Barley membuat lelaki itu sedikit melotot
"Udah-udah kok jadi debat sih kamu lagi mas udah tua malah berantam sama anak sendiri pula"omel Shelly pada Barley yang seperti anak kecil
"Aku mau bilang tadi Dandra bilang ayahnya Aldrina bisa bertemu sama kamu hari ini di rumah mereka"lanjut Shelly
"Wah benarkah? Baguslah kalau begitu"jawab Barley dengan mantap
"Akhirnya aku akan bertemu sahabat lamaku"batin Barley sangat senang
"Iya pa nanti kita bareng kesana ya naik motorku"sambung Dandra
"Lah kenapa Dan? Papamu kan bisa jalan hitung-hitung biar dia olahraga"ucap Shelly menimpali ucapan Dandra
"Sekalian aja ma soalnya Dandra mau keluar sebentar sama Aldrina"
"Baguslah kalo begitu"ucap Barley sangat cepat membuat Shelly dan Dandra menoleh kearahnya
"Eng enggak pa gapapa"ucap Dandra tidak berani berkata lebih jauh berbeda dengan sang istri
"Kamu kenapa senang sekali mas? Jangan macem-macem ya"omel Shelly
"Hahaha gak kok sayang lagian papa kan ke rumahnya bukan pergi kemana-mana"balas Barley menghilangkan keraguan istrinya
"Siapa tau kamu aneh-aneh"
"Enggak sayang gak mungkin aku berani"
Mereka pun kembali melanjutkan makan. Setelah makan Dandra menungggu Barley di ruang tamu karna Barley masih ingin mandi terlebih dahulu. Setelah Barley selesai bersiap keduanya pun pergi menaiki motor dengan Dandra yang dibonceng oleh Barley.
"Pa aku aja bawa motornya"
"Eh enak aja papa masih sanggup ngapai harus kamu"
"Bener yang dibilang Dandra mas kamu jangan sok kayak anak muda deh"ucap Shelly yang ikut mengantar kedepan
"Hahaha papa masih muda kok ma, lihat ini masih sangat kuat"ucap Barley sambil menunjukkan ototnya
"Hmm terserah kamu aja mas, yaudah Dan naik aja lagian dekat kok sayang"
"Iya ma"jawab Dandra pasrah
__ADS_1
Aldrina sudah siap dengan pakaiannya dengan kaos putih dan celana jeans dilengkapi tas selempang, gadis itu menuruni tangga dan sudah ada Gandhi di ruang tamu duduk sambil menikmati secangkir kopi panas.
"Pagi Pa"ucap Aldrina lalu mengecup singkat kedua pipi Bimo
"Pagi sayang, eh mau kemana kamu ini? Kok sudah rapi sekali?"
"Biasa pa anak muda"ucap Aldrina sambil mengedipkan matanya
"Hahah kamu nakal sekali nak, sifat siapa sih yang kamu tiru"ucap Gandhi sambil tertawa
"Bunda mungkin"jawab Aldrina singkat namun mampu membuat Gandhi tersenyum sedih
"Iya sayang kamu benar"
Tin tin tin
Tin tin tin
Suara klakson yang sangat ramai itu menghentikan percakapan ayah dan anak keduanya mengerutkan dahi saat mendegar ada orang yang sangat bising berada di depan rumah mereka. Sementara Dandra yang sudah turun dari boncengan Barley menutup wajahnya malu karna sang ayah membunyikan klakson motornya berkali-kali membuat seluruh penghuni rumah itu keluar dan menatap kearah mereka.
"Pa sudah jangan di klakson lagi"
"Tidak mau selagi Gandhi tidak keluar papa akan terus melakukannya"
"Bagaimana kalau ternyata ayahnya Aldrina bukan sahabat papa itu?"
"Oh itu tidak mungkin, sudah kamu diam saja disitu"ucap Barley keras kepala dan tetap membunyikan klakson motornya
"Astaga kalau tau begini lebih baik jalan saja tadi papa bikin aku malu saja"batin Dandra merutuki dirinya
tin tin tin
Aldrina mengenal klakson motor itu namun karna bunyinya terus menerus membuat gadis itu heran, Dandra tidak pernah bersikap seperti itu pikirnya.
"Monyet siapa sih itu? Ganggu gue tidur aja"omel Bimo yang sudah berjalan mengampiri ayah dan adiknya
"Ntah gue juga gak tau kakaknya monyet"
Gandhi yang mendengar perbincangan kedua anaknya mengerutkan dahi "Berarti papa juga dong monyetnya?"
"E eng enggak kok pa Bimo becanda doang, Aldrina nih ngekor aja"
"Ih siapa suruh manggil aku monyet cantik gini dipanggil monyet"
"Sudah-sudah kita kok jadi berdebat disini, mari kita keluar kita lihat siapa yang berani berbuat onar di rumah papa masih pagi pula"ucap Barley menengahi perdebatan itu
"Tau tuh hayuk"ucap Aldrina sambil berlari kecil menuju pintu
Belum sempat Aldrina keluar dari rumah gadis itu mengintip dari pintu mulutnya langsung terbuka kala melihat Barley lah biang onar dari keributan yang terjadi.
"Kenapa sih dek? Mingkem mingkem"ucap Bimo sambil menutup mulut Aldrina
Bimo pun ikut melihat kearah yang dilihat Aldrina, dahi lelaki itu langsung berkerut saat melihat Dandra yang menutupi wajahnya dengan kedua tangan lalu matanya beralih pada sosok pria paruh baya yang wajahnya sangat tampan dan mirip sekali dengan Dandra.
__ADS_1
"Siapa tuh? Apa papanya Dandra?"batin Bimo menerka-nerka