Love You So Much

Love You So Much
Bagian 40 ( Kembali ke Awal?)


__ADS_3

"Bahkan menghiraukan dirimu pun membuat hatiku sakit,bagaimana pula aku bisa melupakanmu?"


~~ LYSM ~~


Aldrina sudah kembali ke sekolah namun semua terasa berbeda ketika dirinya tidak berada di dekat Dandra, sudah beberapa hari juga sejak Dandra menjenguknya terakhir kali di rumah sakit Aldrina tidak lagi melihat lelaki itu. Aldrina ingin sekali menghampiri Dandra lengket seperti biasanya namun sekali lagi Aldrina mengingat semua hanya sebatas Dandra kasihan padanya, harapannya seakan pupus begitu saja.


"Kenapa Drin pagi-pagi muka lo uda di tekuk aja?"tanya Shirene yang sedari tadi memperhatikan wajah Aldrina yang cemberut


"Hemm entahlah"jawan Aldrina malas


"Eh btw nih ya Drin hari ini kita kan UAS terus libur semester deh, tahun baruan kemana rencanamu?"tanya Shirene mengalihkan topik pembicaraan mereka


"Ntah"jawab Aldrina cuek sambil menenggelamkan wajahnya ke meja


Wajah Shirene pun mulai kesal "Lo udah ada belajar gak Drin? Secara lo kan baru selesai pemulihan"


"Ntahlah mut"


"Apasih maksud elo Drin? Dari tadi entah mulu buat mood gue ikut jelek tau"kata Shirene merengut sambil berdiri di hadapan Aldrina


"Lo aneh banget Drin semenjak masuk sekolah! Sumpah deh! Apa jangan-jangan otak lo ke geser ya? Makanya jawaban lo entah semua"tambah Shirene yang membuat Aldrina memutar bola matanya malas


"Eh semua bubar-bubar guru pengawas datang"teriak Gilbert dari luar menuju kelas yang membuat Shirene dengan sangat terpaksa kembali ke bangku ujiannya


Dandra menghela nafasnya berat dan mulai mengerjakan soal ujiannya. Bagi Dandra ini adalah hal yang mudah hanya saja Dandra begitu mencemaskan Aldrina yang pastinya tidak mempersiapkan ujiannya, Dandra hanya bisa mengawasi gadis itu dari kejauhan bahkan saat Aldrina lewat dari depan rumahnya Dandra terpaksa mengendap-endap layaknya seorang pencuri hanya untuk mengintip Aldrina yang lewat sampai membuat ibunya sendiri heran.


Ujian pertama selesai akhirnya Aldrina bisa bergerak bebas walaupun hasil ujiannya kali ini pasti akan mendapat nilai yang lebih jelek bisa dibilang yang biasanya jelek jadi tambah jelek.


Belum lama guru pengawas keluar Shirene langsung menghampiri Aldrina dan menyeret paksa gadis itu untuk menemani Shirene ke kantin. Sesampainya di kantin seluruh tempat duduk terlihat penuh apalagi setelah mengerjakan soal ujian membuat perut seluruh siswa-siswi semakin meronta-ronta. Bisa terdengar banyak dari mereka yang bercerita dengan temannya tentang betapa kacaunya ujiannya dan ada juga yang terlihat sibuk makan sambil membaca bukunya.


Aldrina dan Shirene mengedarkan pandangannya berharap ada tempat yang kosong untuk mereka. Tiba-tiba Shirene langsung menarik tangan Aldrina ketika melihat bangku yang kosong di meja Dandra dan temannya duduk. Shirene langsung mendudukkan Aldrina tepat disamping Dandra dan meninggalkan Aldrina sendiri untuk memesankan makanan untuk mereka berdua.

__ADS_1


"Gue tau hubungan mereka pasti lagi broken makanya si Aldrina murung terus, hem semoga aja tindakan gue benar"gumam Shirene sambil menunggu pesanannya datang


Aldrina terdiam di tempatnya begitu pula Dandra yang hanya menghabiskan makanannya. Keduanya bahkan tidak saling menyapa satu sama lain seakan ada atmosfir yang menghalangi keduanya hanya untuk sekedar menatap satu sama lain. Bastian yang berada di depan Dandra pun mengerutkan dahinya, Bastian hanya tau bahwa gadis yang disamping Dandra adalah kekasih Dandra.


"Kenapa kalian engga bicara Dan? Gue merasa mengganggu aja jadinya"kata Bastian membuka pembicaraan


"Ehe ng.. ngak kok kak saya hanya menunggu teman saya tadi kok, kakak lanjutin aja makannya"balas Aldrina mulai tidak nyaman


Bastian melirik Dandra dan yang dilirik seakan tidak memperdulikan tatapannya. Bastian pun menghela napsnya kemudian melanjutkan makannya. Keempatnnya kini makan bersama namun tidak ada suara manusia yang terdengar hanya sesekali Aldrina yang terbatuk karena merasa kepedasan, entah apa yang dipikirkan gadis itu saat ini Aldrina tidak tanggung-tanggung menuangkan cabai serta saos ke baksonya.


"Ehh gila lo Drin bisa sakit perut nanti"seru Shirene melihat Aldrina yang terlihat konyol


Aldrina hanya diam tidak berniat untuk menjawab. Tidak berselang lama Dandra berdiri dari duduknya yang kemudian disusul Bastian yang memasang tampang keheranan.


"Kenapa tuh bocah?"batin Bastian bingung


"Eh kalian kami kembali ke kelas duluan ya, semangat ujian selanjutnya"Seru Bastian sambil tersenyum ramah sebelum menyusul Dandra


"Kejam banget sih kak Dandra hanya lihat gue aja enggak apalagi nanya kabar gue, sebegitu gak sukanya dia sama gue sampai kehadiran gue disampingnya dihiraukan"batin Aldrina hampir meneteskan air matanya


"Eh lo kenapa Drin? Apa baksonya sepedas itu sampe lo nangis? Nih nih minum dulu Drin"seru Shirene khawatir  yang melihat mata Aldrina memerah dan hampir mengeluarkan air mata


"Hooh pedas"lirih Aldrina sambil berusaha menghabiskan baksonya


"Kayak kak Dandra"tambah Aldrina dalam hatinya


Dandra melahap makanannya dan berusaha menghilangkan Aldrina dari pikirannya. Belum saja Dandra mencoba lupa gadis itu kini hadir tidak jauh dari posisinya, wajah Aldrina terlihat semakin tirus namun tidak menghilangkan kecantikannya, tanpa sadar Dandra menyunggingkan senyum saat melihat Aldrina yang seperti orang kebingungan.


Namun Dandra segera memalingkan wajahnya ketika melihat Shirene menarik Aldrina mendekat ke meja tempat Dandra sekarang berada.


Akhirnya mereka bertemu setelah beberapa hari hanya saling pandang dari kejauhan bahkan bisa dibilang hanya sekilas terlihat. Dandra begitu bersyukur walaupun mereka seakan pura-pura tidak saling kenal setidaknya bisa duduk dan makan bersama. Bahkan tanpa Aldrina sadari Dandra memperhatikan gadis itu saat beberapa kali menuang cabai dan saos ke baksonya. Dandra ingin menghentikan Aldrina karena itu akan membuatnya sakit perut namun semua terhenti ketika Dandra mengingat dirinya sendiri yang memutuskan untuk tidak berhubungan dengan Aldrina lagi.

__ADS_1


"Bodoh"batin Dandra mengejek dirinya sendiri


"Semangat wanita hebatku"kata Dandra pelan sebelum meninggalkan Aldrina yang masih memakan makanannya


Akhirnya jam menunjukkan pukul 11.30 WIB yang menandakan seluruh siswa siswi sudah bisa pulang. Saat Aldrina berjalan menuju gerbang bersama Shirene perutnya tiba-tiba saja mules dan membuatnya harus segera ke toilet.


"Duh mut perut gue sakit banget"seru Aldrina kesakitan sambil memegang perutnya dengan kedua tangan


"Kan apa juga gue bilang makanya jangan bandel kalo gue bil.."


"Udah mut ntar aja marahnya, tangkep nih"potong Aldrina yang sudah tidak tahan lagi ditambah mendengar omelan Shirene, dia langsung melemparkan tasnya kepada Shirene


"Hadeh dasar tuh bocah"kata Shirene geleng-geleng kepala sambil melihat Aldrina yang lari kocar-kacir


Sudah 10 menit Shirene menunggu Aldrina tapi gadis itu tidak kunjung menampakkan batang hidungnya yang ada Shirene melihat Dandra yang sepertinya ingin pulang, segera otak Shirene berjalan begitu lancar.


"Soal pelajaran gue boleh 0 tapi kalo tentang kayak gini gue paling peka"batin Shirene menyombongkan diri sambil tersenyum senang


"Kak Dandra! Kak Dandraa! Kak"teriak Shirene beberapa kali sambil melambaikan kedua tangannya


Dandra yang merasa dipanggil pun berjalan mendekati Shirene yang masih tersenyum kepadanya.


"Kak gue bisa minta tolong gak?"tanya Shirene ketika Dandra berada dihadapannya


Dandra mengerutkan dahinya.


"Nih kak tolong pegangin tas Aldrina entar kalo dia uda datang dari kamar mandi kasih ke dia gue tiba-tiba ditelpon mama nih kak! Kata mama ada yan penting aku disuruh cepat pulang, tolong ya kak ya ya ya ya"pinta Shirene sambil mengandalkan pupply eye terbaiknya


Dandra pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan ingin sekali menolak namun Shirene sudah melemparkan tas Aldrina kepadanya dan berlari meninggalkan sekolah.


"Demi loh nih Drin gue rela lari-lari! Semoga kalian cepat rukun"batin Shirene sambil terus berlari menghindari jika Dandra mencoba menghentikan langkahnya

__ADS_1


__ADS_2