Love You So Much

Love You So Much
Bagian 58 (Atap Sekolah)


__ADS_3

"Pelukan adalah kehangatan yang memberikan kekuatan"


.


.


.


\~\~LYSM\~\~


Aldrina melangkahkan kakinya mendekati lelaki itu berusaha menahan emosinya mengingat kejadian semalam yang membuat dirinya begitu malu, Aldrina mengambil posisi duduk disebelah lelaki itu namun anehnya lelaki itu tidak melirik sedikit pun kearahnya. Aldrina melihat lebih dekat lagi ternyata lelaki itu sedang menangis sambil memejamkan matanya.


Aldrina tidak percaya melihat apa yang dihadapannya saat ini adalah Kenzo atau hantu yang sedang menyamar menjadi manusia kulkas itu. Hampir saja Aldrina mengeluarkan suaranya melihat air mata yang membasahi wajah dingin Kenzo, bukan lebih tepatnya wajah menyedihkan. Kenzo tidak terlihat dingin saat ini bahkan bisa dibilang Kenzo ini adalah sosok yang berbeda. Aldrina hanya memandanginya tanpa berniat mebuka suara, gadis itu berusaha memahami situasi yang tidak terduga saat ini.


***


Setelah kejadian semalam Kenzo merasa begitu menyedihkan seolah dunia begitu membencinya, Kenzo merasa tidak ada yang bahagia dengan kehadirannya di dunia ini, hanya kehadiran Mulan dihidupnya yang membuat Kenzo berpura-pura bahagia dan membangun tembok yang begitu tinggi di hidupnya. Tidak berniat melakukan apa pun setelah Kenzo mengantar tasnya ke kelas dan meminta bantuan dengan wakil ketua OSIS lelaki itu memilih untuk berdiam diri di atap sekolah. Kebetulan Kenzo memiliki kunci cadangan yang diberikan kepadanya karena ketua OSIS.


Kenzo memilih duduk di pinggir tembok, di bawah sinar matahari yang cukup panas. Kenzo menutup matanya dan memutar semua kejadian yang terjadi di hidupnya. Semenjak sang ibu sadar kehilangan suaminya tidak pernah sekali pun senyuman hangat yang dulunya diterimanya diberikan Nadya. Berulang kali Kenzo mencoba memahami posisi Nadya namun akhirnya hanya kecewa yang ditemukan lekaki itu. Kenzo sama sekali tidak memiliki sandaran hidup bahkan teman yang bisa menjadi tempatnya berbagi kepahitan.


"Arghhh"teriak Kenzo dengan air matanya yang  mengalir


"Eh copot"ucap Aldrina tidak sengaja karna begitu terkejut mendengar suara Kenzo yang begitu tiba-tiba


Mendengar suara yang begitu dia kenal Kenzo langsung berdiri dan menghapus jejak air mata yang masih membasahi wajanya dan kembali memasang wajah dingin.


"Sejak kapan?"tanya Kenzo begitu dingin


Dengan begitu was-was Aldrina ikut berdiri melangkah dan melangkah mendekati Kenzo kemudian gadis itu memeluk Kenzo yang sudah mematung, entahlah apa yang ada di otak gadis itu hanya saja Aldrina seakan memahami kondisi Kenzo saat ini. Aldrina memberi tepukan hangat di punggung Kenzo seolah gadis itu memberikan kekuatan.


Merasa sudah cukup, Aldrina melepaskan pelukannya dan mengambil jarak kedunya, Aldrina tau pasti Kenzo saat ini bingung dengan apa yang Aldrina lakukan bahkan gadis itu pun sama.


"Wajah lo kalo nangis jelek"ucap Aldrina sambil menunjuk Kenzo


Melihat Kenzo yang masih berdiam diri, Aldrina memanfaatkan keadaan dan kabur dari situasi yang begitu tidak nyaman itu. Aldrina berlari seolah gadis itu sedang berbuat salah.


"Anjir Aldrina ngapai lo main peluk goblok! Lo kira dia bahkan ngerti enggaklah dia batu goblok banget"ucap Aldrina merutuki kebodohannya sambil berlari terus menerus menuju aula


Kenzo merasa tertangkap basah ketika Aldrina yang begitu dibencinya berada tepat dihapadannya saat ini. Melihat sisi terendah dirinya yang begitu menyedihkan. Kenzo berpikir bahwa gadis itu sebentar lagi akan mengeluarkan cacian bahkan ejekan yang membuatya naik pitam, namun semuanya salah gadis itu malah memeluk dirinya. Pelukan itu seakan mengalirkan sengatan listrik yang memberikannya kehangatan. Dirinya hanya bisa berdiam diri menerima pelukan hangat itu bahkan setelah pelukan itu selesai, rasa hangat masih menjalari tubuhnya sampai Aldrina meninggalkan dirinya yang masih berdiam di tempat.

__ADS_1


Aldrina menemui Shirene dan Luna yang sudah ada diluar aula.


"Wah keren banget ngeles lo Drin katanya kamar mandi rupanya cari alasan"ucap Shirene yang melihat kedatangan Aldrina


"Tau tuh sejak kapan lo pande bohong gini Drin?'tambah Luna yang memicingkan matanya


"Ha? A.. a... It....u.. tadi gue cariin kak Dandra iya nyari kak Dandra"ucap Aldrina mencari alasan


"Yaelah dasar si bucin mah"ucap Luna dengan menggelengkan kepala


"Hahah maaf guys, eh yaudah ambil tas yuk udah pulang juga!"kata Aldrina mengalihkan perhatian sahabat-sahabatnya


Wajah kedua sahabatnya tiba-tiba menegang seolah melihat hantu padahal yang mereka lihat adalah Kenzo. Aldrina pun membalikkan badannya melihat apa yang membuat keduanya begitu menegang.


Mulut Aldrina langsung menganga bahkan pupilnya membesar dan gadis itu langsung menarik kedua sahabatnya untuk menjauh dari Kenzo.


"Wah parah parah ngapai tuh orang? Jangan-jangan dia mau ngamuk gitu karna gue peluk tadi? Aldrinaa... Elo sih goblok banget"batin Aldrina yang terus saja memarahi dirinya sendiri


Luna dan Shirene terlihat sangat bingung melihat sikap Aldrina dan sangat diam padahal sudah sampai di dalam kelas.


"Woi Drin kenapa sih?"tanya Shirene yang sudah siap dengan tas yang bertengger di bahunya


"Em eng..enggak gak kenapa napa kok"ucap Aldrina dengan wajah yang seikiti legah


"Ha? Takut enggalah! Emang dia Tuhan makanya gue harus takut"jawab Aldrina tidak terima


"Terus kenapa lo kok kayak ngehindar gitu tadi?'tanya Luna penuh selidik


"Gak kenapa Lun, yah gak mungkin juga kan aku marah-marah gak jelas! Yaudahlah udah berlalu gak usah dibahas guys buat mood gue jelek"ucap Aldrina agar sahabatnya berhenti bertanya


"Gak mungkin kan gue cerita ke mereka bahwa gue kurang kerjaan meluk Kenzo waktu di atap yang ada gue dibilang gila lagi"batin Aldrina sambil berjalan di pekarangan sekolah


Aldrina berjalan dan sibuk dengan pikirannya sendiri, dirinya tidak melihat kedua sahabtanya yang masih ketinggalan di belakang. Luna yang melihat Dandra mendekat kearah Dandra kemudian bebrbisik pada Shirene.


"Gue yakin 100% Aldrina gak sadar kak Dandra datang"


"Iya Lun kita aja ditinggal, kayaknya lagi ada yang ganggu pikirannya"ucap Shirene merasa heran dengan sikap Aldrina


"Hei sayang jalannya dilihat! Gimana kalo nakbrak orang"ucap Dandra dengan sedkit mendorong jidat Aldrina

__ADS_1


"Eh kak Dandra"ucap Aldrina tersadar


"Lagi mikiri apa sih? Keknya sibuk gitu"ucap Dandra sambil merangkul Aldrina


"Emm apa ya? Emmm kamu kali?"ucap Aldrina dengan menggoda Dandra


"Ih dasar genit"ucap Dandra sambil mencubit gemas hidung Aldrina


"Aww sakit tau"ucap Aldrina kesal


"Siapa suruh bohong"ucap Dandra sambil mengetatkan rangkulannya yang membuat Aldrina memberontak kesal


Keduanya pun pulang dari sekolah. Di dalam mobil Aldrina teringat Dress Code yang sudah disepakatin dirinya dan teman-temannya tadi.


"Eh kak"


"Em?"jawab Dandra sambil fokus menyetir


"Kamu ikut kan natal sekolah nanti? Gak kemana-mana?"tanya Aldrina


"Kenapa?"


"Ihh.... Aku yang nanya duluan ikut atau enggak?"


"Hmm iyaa ikut ini bakal natal pertama dan terakhir kita kan? Gak mungkin aku gak datang Aldrina"ucap Dandra dengan senyuman


"Terakhir? Kamu mau kemana?"ucap Aldrina sedih seolah Dandra ingin meninggalkannnya


"Astaga Drin maksud aku selama SMA"balas Dandra agar Aldrina tidak salah paham


"Hahaha kirain kakak mau ninggalin aku, ingat ya aku gak mau kalo bukan kakak jodohku titik gak pakek embel-embel"


"Apaan tuh ancaman atau perintah nyonya?"ucap Dandra menggoda Adlrina


"Aku serius kak, aku mau kamu selamanya"ucap Aldrina yang membuat Dandra bahagia


"Me too Aldrina"balas Dandra kini dengan nada yang lebih serius


"Emmm entar kakak makek dress code putih ya, soalnya aku mau makek putih bareng shabat-sahabat aku"

__ADS_1


"Iya iya pasti"ucap Dandra dengan senyuman


***


__ADS_2