
"Sejahat-jahatnya manusia pasti masih memiliki hati kecil untuk mengatakan kebaikan"
~ LYSM ~
Kedua preman itu membuat Aldrina terduduk disebuah bangku lalu mengikat Aldrina.
"Kalian akan menyesal telah melakukan ini padaku"seru Aldrina ditengah isak tangisnya
"Heh kami tidak akan menyakitimu wahai nona kami hanya akan menyekapmu disini dan pergi kabur"kata yang satunya menjelaskan rencananya
"Hah? Apa kalian gila? Apa untungnya meyekapku seperti itu"teriak Aldrina tidak habis pikir
"Diam! Kami hanya menjalankan tugas kami"
"Ayo cepat jangan tanggapi perkataannya"seru yang satunya agar fokus menyekap Aldrina
Dengan suara bergetar "Aku mohon lepaskan aku berapa pun yang kalian inginkan akan kuberikan"mohon Aldrina
Kedua preman itu terlihat saling menatap “Kau kira kami akan percaya akan bualanmu nona?”
“Sial! Aku mohon lepaskan aku… Aku takut hiks..hiks…”tangis Aldrina semakin menjadi
Kedua preman itu tidak memperdulikan apa yang dikatakan Aldrina, mereka keluar meninggalkan Aldrina namun sebelum itu mereka membawa lampu senter yang digunakan mereka tadi. Setelah kedua preman itu keluar dari gudang, tempat itu menjadi gelap gulita yang membuat Aldrina merinding dan semakin takut.
“Apakah ini akhir dari hidupku?”kata Aldrina sendu sambil berusaha melihat sekitar
Kedua preman tadi keluar dari gudang itu dan menemui seorang laki-laki yang sudah berada diluar gudang
“Kalian sudah mengikatnya?”
“Sudah boss”
“Iya sudah boss dia sudah merasakan gelapnya dunia di dalam sana”sambung preman yang satu lagi
“Bagus-bagus ini gaji kalian, eh tunggu tapi kalian meninggalkan barang-barang gadis itu di dekatnya kan? Seperti HP?”
Kedua preman saling melirik “I..Iya bos tapi mengapa begitu? Bukankah itu akan mempermudah pelacakan?”
“Itulah tujuanku”seru Jack dengan seringai di wajahnya
Salah satu preman yang seakan mengerti “Jangan jahat-jahat sama pacarnya bos gak bai…”
Jack langsung menatap garang preman itu yang membuatnya bungkam “Sudah pergi kalian dari sini”seru jack kesal
Tempat itu benar-benar sepi setelah kedua preman pergi, hanya suara hewan malam yang terdengar secara bergantian, Jack mencoba mengintip keadaan Aldrina dari celah lubang.
“Apa aku terlalu keterlaluan?”tanya Jack pada dirinya melihat Aldrina terlihat menyedihkan
“Ahh sudahlah siapa suruh galak padaku”kata Jack lagi menepis perasaannya
“Apa dia sudah makan?”tanya Jack lagi
Jack melupakan hal itu bagaimana pun dirinya adalah orang yang tidak tegaan “Bagaimana sekarang?”tanyanya tampak berpikir
Jack pun pergi menjauhi gudang itu dan mencari makanan untuk Aldrina dan dirinya sendiri namun sebelum itu Jack membeli topeng yang bisa menutupi wajah kalau sampai Aldrina tau itu adalah ulahnya akan sangat membahayakan.
“Ahh sial kenapa aku harus memperdulikannya!”seru Jack sambil membanting stir mobilnya
Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 PM akan tetapi adik kesayangan Bimo belum menampakkan batang hidungnya yang membuat lelaki tampan itu sangat gelisah.
“Nyet kamu kemana? Gak biasanya telat gini”kata Bimo gusar
“Woi bro napa lo kayak setrika gitu dari tadi?”tanya Ley namun fokusnya masih pada benda pipih yang ada ditangannya
__ADS_1
“Tau tuh ganggu konsentrasi main game”tambah Loy yang juga merasa terusik
“Anjir lo berdua! Adek gue njir dari tadi batang hidungnya gak nampak”gerutu Bimo
“Yaelah kirai apaan! Palingan lagi jalan sama itu siapa? Itu emmm.. Dandra”kata Ley
“Iya benar tumben otakmu jalan Ley! Coba hubungi dia aja Bim kalo lo masih gelisah gitu”tambah Loy
Bimo yang mendengar kedua sahabatnya pun langsung menghubungi nomor Dandra. Dandra yang masih bersama teman-teman OSIS nya merasakan HP di kantongnya bergetar, Dandra membaca nama yang tertera ditelepon itu
“Bimo?”gumamnya
“Kenapa Bimo Dan?”tanya Felix mendengar Dandra
Dandra pun menunjukkan layar HPnya pada Felix lalu mengangkat telepon itu
“Halo Dan”
“Iya ada apa Bim?”
“Akhirnya lo manggil nama gue juga, eh btw si Aldrina lagi sama lo kan? Maaf mengganggu gak bermaks…”
“Enggak Bim dia gak ada disini”potong Dandra mendengar perkataan Bimo
Jantung Dandra pun seakan berpacu saat Bimo menyebutkan nama Aldrina “Anjir gue lupa nanya dia udah sampe rumah atau belum”kata Dandra dalam hati merutuki dirinya yang bodoh
“APA?”teriak Bimo di telepon
Hal itu pun membuat Felix was-was tidak pernah dia mendengar Bimo berbicara sekencang itu jika tidak marah
“Sabar Bim aku coba tanya temannya”
Tut Tut
“Nomor baru?”tanya Shirene dan mengangkat telepon itu
“Halo siapa ya?”tanya Shirene sopan
“Halo ini Shirene teman sekelas Aldrina kan? Saya Dandra”
“Oh iya kak benar ini aku, ada apa ya kak?”
“Aldrina nginap disana ya?”
“Engak kak”
“Ohh iya makasih ya” Dandra langsung mematikan telepon itu
Jack kembali ke gudang itu dan langsung masuk tidak lupa mengganti pakaiannya tadi dan menggunakan penutup wajah agar Aldrina tidak melihatnya. Jack menyalakan lampu senter yang diberikan preman tadi. Tanpa sadar Jack menyunggingkan senyumnya saat melihat Aldrina yang sudah tertidur.
“Bisa-bisanya gadis ini tertidur saat keadaannya seperti ini”gumam Jack tak percaya
Dengan air ditangannya, Jack memercikkan air ke wajah Aldrina agar gadis itu tersadar.
“Siapa?Siapa itu disana?”seru Aldrina refleks langsung membuka matanya selebar mungkin
Aldrina pun kembali menangis saat melihat seseorang ada didekatnya “Hiks..Hiks… Woy sialan apa salah gue sama lo? Kalo gue salah bilang-bilang dong! Gue takut sialan”seru Aldrina seakan memohon dengan makian
Jack pun menaikkan sebelah sudut bibirnya lalu membuka makanan yang dibelinya tadi dan mengambil posisi duduk di depan Aldrina, Jack memakan makanan itu dengan lahap yang membuat Aldrina menelan ludahnya
“Glek”
“Lo aneh banget ngapai pamer makanan disini kimak”Seru Adlrina yang seakan ingin menendang orang yang menculiknya itu
__ADS_1
Jack tidak berniat berbicara malah melanjutkan makannya sambil menatap Aldrina
“Tega banget woi”batin Aldrina
“Emm anu..emm”Aldrina ingin meminta makanan itu tapi dia takut
“Se..sebelum anda bunuh saya biarkan saya merasakan indahnya hidup”
Jack mengerutkan dahinya “Tolong beri saya makan”teriak Aldrina sambil memejamkan matanya seakan takut penculik itu akan berbuat kasar
Aldrina merasakan sesuatu yang sedikit asin menyentuh bibirnya, dia pun langsung membuka matanya dan terkejut melihat sendok dengan nasi lengkap dengan lauknya sudah bertengger di depan mulutnya, Aldrina tampak berpikir namun menepis segala pikiran buruknya “Biarlah walaupun beracun setidaknya aku tidak mati kelaparan”
Aldrina pun menerima suapan itu dan memakannya dengan lahap, kemudian penculik itu bergantian menyuapkan makanan ke mulutnya
“Anjir kita makan satu sendok berdua?”seru Aldrina tidak terima
Jack merasa pura-pura tersinggung dan membalikkan badannya membelakangi Aldrina
“Ya si kampret”batin Aldrina
“Anu eh jangan marah saya kan cuma bertanya! Saya tidak penjijik kok asal anda gak penyakitan aja”seru Aldrina
Jack tidak menggubris perkataan Aldrina “Kata ibu guru saya berbagi itu indah walaupun diri kita adalah orang jahat jika kita melakukan hal baik pasti…”
Jack langsung memasukkan nasi ke mulut Aldrina agar berhenti mengoceh “Gadis ini cerewet sekali”gumam Jack
Kini Dandra dan Felix sudah berada di rumah Aldrina menyusul Bimo DKK.
“Gimana Bim nomor Aldrina bisa dihubungin gak?”tanya Felix
“Bisa lix masuk tapi gak diangkat njir”balas Bimo seakan menahan emosinya
“Dan dia gak ada bilang apa-apa samamu sebelum tadi lo tinggalin?”tanya Felix pada Dandra
Dandra pun langsung menarik kerah baju Felix saat mendengar pertanyaannya itu “Bangsat lo lix! Kalo lo gak maksa gue datang ke tempat itu! Ini gak bakalan terjadi”seru Dandra begitu marah
Bimo pun memisahkan keduanya “Udah udah jangan gunakan emosi! Kita harus berpikir gimana cara menemukan Aldrina ini udah jam 11.00 PM kalo bokap gue tau bakalan kacau semuanya”seru Bimo dengan nada yang meninggi
Kelima mahluk itu pun tampak berpikir tempat yang mungkin Aldrina kunjungi.
Setelah Aldrina diberi makan dan minum Jack berniat meninggalkan Aldrina “Eh makasih ya”seru Aldrina
“Apa? Apa yang baru kukatakan? Bukankah dia penculikku astaga”batin Aldrina
Sedangkan Jack yang mendengarkan itu seakan tersentuh “Apakah aku terlalu jahat padanya?”batin Jack
Sebelum Jack meninggalkan Aldrina pergi, Jack mengeluarkan kain yang bisa menutupi Aldrina agar tidak merasa kedinginan
“Gue gilak kali ya”batin Jack sambil melingkarkan kain itu pada tubuh Aldrina yang seakan menegang dan matanya cipitnya melotot
“Maaf”seru Aldrina dengan mata berkaca-kaca
Aldrina bisa merasakan orang yang didekatnya ini adalah orang baik, mungkin Aldrina begitu melukainya atau keluarganya mengganggunya sehingga menyekap Aldrina seperti ini itulah yang ada dibenak Aldrina saat ini.
Sementara dikediaman rumah Aldrina kelima pria itu tampak sibuk dengan pikirannya masing-masing
“GPS..GPS”gumam Felix
“Bim Dan Ley Loy kalian pernah masang pelacak gak di HP Aldrina?”tanya Felix
Kemudian Bimo pun mengingat sepertinya dia pernah memasang pelacak di HP Aldrina saat gadis itu kehilangan sahabat terdekatnya. Bimo pun langsung mengeceknya “Mudah-mudahan Aldrina belum menghapus aplikasinya”batin Bimo
“Huh! Terimakasih Tuhan”seru Bimo sambil menjatuhkan dirinya ke lantai
__ADS_1
Setelah melihat lokasi HP Aldrina dengan teliti otak Bimo pun mencerna tempat itu “Sial tempatnya jauh dari sini”seru Bimo hampir membanting HPnya.