
"Sebesar apa pun masalah yang dihadapi akan jauh lebih baik jika seseorang mendengar keluh kesah kita"
~~ LYSM ~~
Dandra sudah berada di parkiran menunggu kedatangan Aldrina, wajahnya terlihat begitu tegang mengingat pembicaraannya tadi dengan kepala sekolah.
FLASHBACK ON
"Tok tok tok"Dandra mengetuk pintu ruangan kepala sekolah
"Masuk"
"Permisi pak, da apa ya? Kenapa bapak memanggil saya?"tanya Dandra spontan karena seingatnya urusannya dengan kepala sekolah sudah selesai
"Ada yang ingin bapak bicarakan ini mengenai masa depanmu dan juga nama harum sekolah kita"kata kepala sekolah langsung ke topik pembicaraan
"Bisa bapak katakan lebih jelas lagi saya masih kurang mengerti"
"Jadi begini nak Dandra tahun ini anda adalah siswa terbaik dari sekolah kita baik dari segi organisasi maupun pembelajaran. Jadi kami semua dewan guru setelah mengadakan rapat memutuskan memilihmu dengan kepercayaan penuh bisa mengharumkan nama baik sekolah sebagai utusan untuk kuliah di luar negeri dengan beasiswa penuh"kata kepala sekolah dengan jelas
"Bagaimana menurutmmu? Ini akan menjamin masa depan yang lebih cerah untukmu! Nanti bapak kirim email tentang universitas dan yang lainnya yang dibutuhkan agar nak Dandra bisa mempelajarinya terlebih dahulu"
Mendengar perkataan kepala sekolah Dandra diam dan termenung disatu sisi Dandra membenarkan perkataan kepala sekolah jika dia kuliah diluar negeri pasti akan jauh lebih baik dan nantinya akan lebih mudah membantu ayahnya untuk menjalankan perusahaan namun disisi lain Dandra teringat dengan ibunya yang nantinya akan sendirian di rumah dan juga pacar kecilnya Aldrina akan ditinggal selama 4 tahun kurang lebih.
"Danda? Dandra? Halo dengar bapak tidak?"seru kepala sekolah dengan menggerakkan tangannya di depan wajah Dandra
Dandra pun tersadar "Oh iya baik pak terimakasih kepada pihak sekolah yang sudah mempercayakan saya. Saya akan kabari bapak secepatnya setelah mendiskusikannya dengan kelurga saya Pak"jawab Dandra sopan
"Baik kami tunggu kabar darimu, itu saja kamu sudah bisa pulang"
"Iya oke pak, permisi pak"
Dandra pun keluar dari ruangan kepala sekolah dengan termenung, isi kepalanya seakan ingin pecah memikirkan berbagai hal yang terkait akan perkataan kepala sekolah sampai saat berjalan pun Dandra tidak memperdulikan apa yang berada dihadapannya sangkin sibuknya dengan pikiran sendiri.
FLASHBACK OFF
Aldrina yang sudah melihat Dandra langsung tersenyum riang namun Dandra tidak membalas senyumannya padahal pandangan keduanya sedang bertemu. Aldrina mengerutkan dahinya lalu menepuk bahu Dandra yang sepertinya sedang melamun.
"Oik kak"seru Aldrina sambil menepuk bahu Dandra
"Eh kamu udah balik?"ucap Dandra tersadar dari pikirannya
__ADS_1
"Hemm iya udalah makanya ada disini! iss gimana sih disenyumin malah nyuekin, kenapa sih kak? Kok murung gitu?"tanya Aldrina dengan tampang yang terus memperhatikan wajah Dandra
Dandra masih saja tetap diam "Ihh kenapa sih? Kok diem? Gak enak tau didiamin gini kalo ada masalah cerita dong walaupun aku gak bisa ngasih solusi setidaknya kita bisa bertukar pikiran kan"omel Aldrina karena Dandra masih tetap diam
"Iya iya bawel nanti aku cerita kita ke taman sekarang"seru Dandra sambil mencubit kedua pipi Aldrina
"Is sakit tau"
"Udah naik pakek helmnya juga"seru Dandra sambil memberi helm yang biasanya digunakan Aldrina
Dandra pun melajukan motornya menuju taman terdekat namun sebelumnya Dandra memberhentikan motornya di sebuah warung untuk membeli 2 bungkus nasi agar keduanya tidak terlambat untuk makan siang. Sesampainya di taman Aldrina mencari posisi yang teduh dan nyaman. Aldrina duduk dan Dandra menyusul duduk disampingnya. Gadis itu menyandarkan kepalanya di pundak Dandra dengan senyuman bahagia dan si empunya bahu dengan senang hati menerimanya.
"Nyaman bangetkan kak, kayak di novel-novel gitu"seru Aldrina dengan mengarahkan kepalanya memandang Dandra
"Hmm iya aku mau kita gini terus"
"Ya harus dong kak, perkataan kakak seakan-akan kita gak bisa gini lagi hahaha aneh"jawab Aldrina dengan sedikit candaan
Padahal Dandra mengatakan apa yang ada di dalam hatinya, Dandra bingung harus mengatakannya pada Aldrina atau tidak namun Dandra berpikir lebih cepat lebih baik, mungkin dengan Dandra mengatakannya lebih cepat waktu yang tersisa diantara mereka akan bisa dimanfaatkan jauh lebih berhaga lagi.
"Eh cerita dong kenapa tadi? Kenapa murung gitu?"tanya Aldrina sambil menyenggol pinggang Dandra
"Semisal nih.."kata Dandra lalu diam
"Semisal apaan kak? Yang serius dong"
"Hah terpisah? Pisah gak jumpa gitu? Lihat situasi lah kak"jawab Aldrina tanpa berpikir yang membuat wajah Dandra berubah dingin
"Waduh gue salah jawab ya? Kok wajahnya balek kek es kutub gitu"batin Aldrina sambil membetulkan duduknya dengan menatap Dandra serius
"Kok auranya gak enak gini Dan?"tanya Aldrina sambil menggaruk lehernya
"Aku dipercaya sekolah sebagai utusan kuliah diluar negeri"
DEG
Mendengar luar negeri seolah dunia Aldrina yang baru saja dibangun kembali seolah runtuh, jantung berdegub kencang yang membuat matanya memerah hampir menangis. Mengingat Dandra menjauhinya berhari-hari saja sudah mengerikan apalagi tidak bertemu bertahun-tahun.
"Wah serius? Bagus dong kak bangga banget gue punya pacar pintar gini gak kek gue"kata Aldrina turut bahagia walau terpancar jelas diwajahnya aura kesedihan
"Udah kalo mau nangis yah nangis gak usah ditahan jelek"kata Dandra melihat ekspresi Aldrina
"Hahah apaan sih enggaklah! Kalo pun aku nangis pasti nangis bahagialah, jadi gimana keputusan kamu kak?"tanya Aldrina dengan setenang mungkin agar tidak menambah beban pikiran Dandra
Dandra pun mengangkat bahu "Masih bingung"jawab Dandra sambil menatap lurus kedepan
Aldrina sadar pasti salah satu alasan Dandra berat pergi adalah dirinya, Aldrina pun tersenyum dan mengusap kepala Dandra yang membuat Dandra kembali menatapnya
__ADS_1
"Aku sebagai pacar kamu seperti yang aku katakan disekolah tadi, aku gak bakalan bisa kasih jawaban karena itu adalah keputusan kamu sendiri kak tapi aku bakal bantu meluruskan pikiran kamu keknya udah bengkok-bengkok nih hahah"kata Aldrina dengan candaan
"Melihatnya seoalah kuat jadi terlihat bodoh, dasar Aldrinaku"batin Dandra sambil tesenyum
"Kalo kamu emang ada cita-cita pengen kuliah diluar negeri ambil aja kali kak, itu bakalan lebih bagus buat masa depan kita eh kamu maksudnya! Aku bukan mau bilang kuliah dalam negeri gak bagus ya cuma kalo kamu diluar negeri pasti pengalaman kamu jauh lebih bertambah dan relasi juga bakalan lebih luas. Aku gak mau jadi batu sandungan buat kamu tapi aku mau jadi perahu yang berlayar kemana pun kamu mau, dipikiri baik-baik yah kak aku sanggup kok LDRan"kata Aldrina begitu bijaknya
"Wih sejak kapan kamu sedewasa ini Drin? Blum 17 tahun juga"kata Dandra
"Dewasa itu enggak dari umur sayang tapi bagaimana jalannya pikiran seseorang"jawab Aldrina dengan bangganya
Dandra pun ber O riah yang membuat Aldrina melemparkan beberapa pukulan pada dirinya "Sirik aja"kata Aldrina dengan mengerucutkan bibirnya
"Jadi serius ini kamu siap kalo aku gak ada disisi kamu 4 tahun?"
"Hmm iyaa kak serius"
"Tapi aku gak siap Drin"
"Ih sejak kapan kamu yang lebih bucin udah ah ini kan buat masa depan aku juga, kalo kakak gak tergoda ya sama cewek-cewek cantik disana"sindir Aldrina mengingat ketampanan Dandra yang jauh diatas rata-rata
"Hahah iya sayang belum aja aku pergi uda cemburu gitu, makasih udah jadi pacar terbaik buat aku"kata Dandra sambil menarik Aldrina kepelukannya
"Ih siapa juga yang cemburu, awas ah malu tau diliatin orang"kata Aldrina dengan wajah yang sudah memerah
"Udah gapapa gak kenal juga"
"Kruk kruk kruk"perut Aldrina tiba-tiba saja berbunyi
"Dengar suara aneh gak?'tanya Dandra menggoda Aldrina
"Hm eng..eng..enggak kamu salah dengar kali"jawab Aldrina bohong
"Kruk kruk kruk"
"Aih dasar perut gak bisa bohong"batin Aldrina malu
Dandra melepas pelukannya lalu menaikkan alisnya sebelah menatap Aldrina "Iya iya aku lapar"kata Aldrina akhirnya
"Hahaha yaudah kita makan"kata Dandra sambil tertawa
Keduanya pun makan bersama dengan 2 bungkus nasi yang sudah dibeli tadi tidak lupa dengan 1 botol AQUA besar yang juga dibeli di warung tadi.
"Kamu gak merasa ngegembelkan Drin disini?"
"Asalkan ada kakak semuanya indah kok"tutur Aldrina begitu bucinnya
Dandra pun hanya bisa geleng-geleng mendengar perkataan Aldrina yang begitu terus terang tanpa adanya rasa malu sedikit pun.
__ADS_1