Love You So Much

Love You So Much
Bagian 38 (Tragedi Basket)


__ADS_3

"Menyakitkan ketika kau tidak baik-baik saja"


~~ LYSM ~~


Aldrina berhenti di depan kamar mandi dan menoleh ke belakang.


"Heh stop kak"seru Aldrina dengan melotot melihat Dandra yang terus melanjutkan langkahnya


Dandra pun menggaruk kepalanya merasa malu dengan tingkah bodohnya. Sementara sedari  tadi ada sepasang mata yang terus melihat keduanya bersama.


"Heh gapapa, gapapa Dan nikmatin aja kebersamaan terakhir lo"kata Mila dengan seringai jahat


"Eh woi gila kenapa senyum seram gitu?"tanya Jack yang akan menjadi suporter Mila


"Ah  enggak yok ke lapangan aja"balas Mila mengajak Jack DKK ke lapangan


Jack sendiri ttidak tau rencana Mila terhadap Aldrina karena lelaki itu pun sudah melupakan dendamnya pada Aldrina.


FLASHBCAK ON


"Enak ya gue disuruh ambil seragam eh elo ngebucin"sindir Jack tanpa mengalihkan pandangan dengan fokus menyetir


"Hahah lah elo sendiri, ngapai berduaan sama si Aldrina? Bukannya benci?"


"Oh itu haha, enggak gue gak benci ternyata dia orangnya care juga! Gue malah tertarik"balas Jack senyum-senyum sendiri


Mendengar itu Mila menjadi semakin kesal dan tidak terima.


"Gue gak jadi ketongkrongan gue mau ke rumah aja langsung"kata Mila bete


"Lah kenapa?"


"Pokoknya ke rumah"kata Mila meninggikan suara


"Iya iya astaga suara lo kekencangan gila telinga gue bisa-bisa pecah"balas Jack yang juga jadi ikut kesal


"Bodo"


FLASHBACK OFF


Pertandingan kaum adam pun dimulai mata Aldrina terlihat berbinar-binar menyaksikan pertandingan itu. Bukan karena pemainnya terlihat sempurna hanya saja Aldrina begitu menyukai basket namun akibat ekspresi Aldrina yang  menurut Dandra begitu berlebihan membuat lelaki itu cemburu bahkan sampai memayunkan bibirnya.


"Tau gitu gue masuk tim basket"kata Dandra pelan


"Apa? Apa kak aku gak dengar tadi?"tanya Aldrina yang kurang mendengarkan akibat suara penonton yang heboh


"Gak"balas Dandra cuek


"Kenapa sih gaje"batin Aldrina lalu mengembalikan fokusnya


"Ayo babang Felix gak boleh kalah"teriak manja Bimo


Aldrina yang kenal betul suara itu langsung mencari sumber suara "Astaga kakak gue"batin Aldrina menutup wajahnya

__ADS_1


"Ayo Lix semangat! Kalo lo kalah lo traktir kita dua kali tapi kalo menang sekali"teriak Ley heboh


"Setuju"teriak Bimo, Ley, dan Loy kompak


Hal itu justru membuat fokus Felix berantakan "Anjay 3 kampret! Itu namanya nyiksa gue njir"batin Felix sambil melotot kepada tiga mahluk menyebalkan itu


Sementara gadis-gadis yang ada di sekolah itu telihat bisik-bisik dan senyum sendiri melihat 3 pangeran konyol yang baru saja muncul dan langsung membuat kehebohan.


"Eh itu siapa sih?"tanya Bunga pada Gery


"Oh itu sahabat si Felix kayaknya anak kuliahan deh"balas Gery


"Wah serius? Ganteng banget"kata Bunga yang membuat wajah Gery berubah mimik


Bunga yang menyadarinya "Tapi.. Gantengan pacar gue lah"tambah Bunga sambil merangkul sebelah lengan Gery


Pertandingan pun berakhir yang menjadi pemenang tahun ini tidak lain adalah SMA Tunas Utama. Semua anak Tunas Utama terlihat berjingkrak riah apalagi Aldrina sampai lompat-lompat kegirangan sambil memegang kedua tangan Dandra. Dandra ikut senang hanya karena melihat kegembiraan dimata Aldrina. Tidak berselang lama tim perempuan pun bersiap untuk pertandingan final selanjutnya. Felix menghampiri Aldrina yang sedang bersiap bersama timnya.


"Siap-siap kencan bareng gue lo"seru Felix sambil mengedipkan sebelah matanya lalu berlari menjauhi Aldrina


Aldrina pun hanya tersenyum dan tidak marah dengan perkataan Felix yang baginya hanya gurauan saja. Sementara Luna yang selalu melihat Felix mendekat ke Aldrina masih saja menaruh perasaan benci pada Aldrina padahal yang mendekat bukan Aldrina, Luna hanya menggunakan alasan yang konyol untuk membenci Aldrina. Aldrina bukan Tuhan yang bisa saja mengatur hati manusia yang akan menyukai siapa pun yang dia mau, Aldrina hanya manusia biasa yang kebetulan memiliki sesuatu didalam dirinya yang membuat orang tertarik padanya. Bahkan Luna pun tidak kalah cantik dengan Aldrina dia hanya dibutakan oleh kecemburuan yang sia-sia.


"PRIT"bunyi peluit panjang terdengar setelah perebutan siapa yang bawa bola pertama


Sebelumya Aldrina baru tau bahwa Mila juga ikut bermain dan menjadi pemain inti, Aldrina bisa melihat gadis itu tersenyum sinis pada dirinya.


"Sepertinya gue harus jaga jarak sama dia"batin Aldrina sambil mengoper bola yang kini ada ditangannya


Selama pertandingan bisa dilihat gerak-gerik Mila seperti mengundang kericuhan dengan Aldrina namun wasit tidak mengatakan bahwa itu pelanggaran, padahal penonton sudah heboh karna ulah Mila.


"Iya njir kesal gue"tambah Loy


"iya kasihan adek gue dari tadi hampir dibody mulu, apa jangan-jangan karena kejadian di klub?"tanya Bimo ketika teringat Aldrina menjambak Mila


"Bisa jadi sih"tambah Felix yang entah sejak kapan ada disamping Bimo


"Anjay lo Lix nongol gak bilang-bilang"kaget Bimo


Sementara Dandra pun sedari tadi sudah mendekat dan memohon kepada wasit lapangan agar salah satu dari keduanya digantikan saja, namun wasit tidak mengizinkan hal itu karena keduanya pun tidak ada yang mau untuk digantikan. Pertandingan terus berlangsung dengan kekuatan yang seakan seimbang, Aldrina mengakui kehebatan tim Mila tapi Aldrina tidak suka ketika Mila mendekat dengannya, ada perasaan aneh saat Mila selalu ingin membuat Aldrina hampir jatuh padahal dengan pemain yang lainnya Mila biasa saja.


"Aldrina"Panggil Keke salah satu pemain sambil mengoper bola kepada Aldrina yang saat itu paling dekat dengan ring basket


Posisi Aldrina begitu mantap untuk menerima bola dan setelah menerima bola dalam pikiran Aldrina hanyalah akan melakukan jump shoot. Gadis itu terlalu fokus dengan bola dan tidak lagi melihat Mila yang sudah berlari dengan cepat kearahnya dan saat yang tepat Aldrina melompat, Mila langsung membody Aldrina saat bola lepas dari tangannya sampai membuat Aldrina menabrak lantai dengan keras bersamaan dengan bola yang masuk ke dalam ring. Seketika darah mengalir deras ditengah matahari yang mulai terik, Mila tersenyum puas tanpa raut bersalah.


"Mampus"kata Mila sambil tersenyum senang bahkan tertawa


"DEG"jantung Dandra seakan terbang melayang


Pikirannya kosong seketika melihat Aldrina yang sudah terkapar di lapangan, tanpa aba-aba dan pikiran seketika kosong Dandra berlari menghampiri Aldrina, Dandra memeluk Aldrina dan mencoba menutupi darah yang terus mengalir dari kepala gadis itu, Dandra begitu pucat dengan air mata yang kini membanjiri wajahnya. Dandra tidak bisa membayangkan bahwa Mila lah yang menyakiti gadisnya, manusia yang selama ini dianggapnya adek sekan berubah menjadi monster. Bimo CS pun langsung menghampiri Aldrina dan tidak lupa menghubungi Ambulance.


"Anjir sialan tau gini gue kunci lo dikamar dek"batin Bimo yang sakit melihat Aldrina begitu megerikan dengan darah yang terus mengalir


Aldrina masih sadar dengan senyum yang mulai hilang dan tidak berapa lama, Aldrina tidak sadarkan diri lagi setelah melihat wajah Dandra dan Bimo.

__ADS_1


"Engga Aldrina, tolong tolong tolong bertahan hiks hiks Drin buka matamu, Aldrina tolong"teriak Dandra sambil terus menahan luka di kepala Aldrina yang terus saja mengeluarkan darah segar


Apalagi pada saat itu hari begitu panas pengaruh sinar matahari membuat darah Aldrina terus mengalir deras. Semua siswa-siswi histeris melihat kejadian yang begitu cepat itu. Tidak hanya Dandra dan Bimo bahkan Shirene, Ley,Loy,dan Felix kini pun ikut menangis. Mereka tidak bisa membayangkan Aldrina yang begitu aktif di depan mereka kini terkapar bahkan tidak bergerak sedikit pun.


Aldrina dilarikan ke rumah sakit terdekat dan menjalani operasi secepatnya. Sementara Mila yang mencoba kabur dari situasi itu langsung ditangkap oleh Jack yang juga tidak kalah terkejutnya melihat peristiwa yang mengerikan itu.


"Lo gila Mil"teriak Jack pada Mila


"Apa? Hahaha Gila? Elo yang gila"balas Mila dengan terus tertawa


Gadis itu memang benarbenar dibawah pengaruh obat-obatan, Mila tidak sedikit pun takut dan malah tertawa


"Heh seharusnya lo senang dia bakalan MATI"teriak Mila dengan penekanan dikata mati


Jack pun spontan menampar Mila dan gadis itu malah kembali tertawa dengan air mata yang mengalir "Hahahhaha Dia mati Jack dia mati"


Tidak lama polisi pun datang ke TKP dan langsung menangkap Mila karena itu adalah kejadian yang disengaja. Dengan senyum yang masih terukir jelas Mila diseret ke kantor polisi. Jack dengan tatapan nanar melihat kepergian Mila.


"Kenapa lo se seram itu Mil? Kenapa"teriak Jack frustasi


Diluar ruang operasi sudah terdapat Dandra yang terlihat mondar mandi, Dandra benar-benar seperti mayat hidup saat ini, tubuhnya berlumuran darah Aldrina dan rambutnya terlihat begitu acak-acakan.


"Dan"seru Bimo menghampiri Dandra


Saat ini Bimo tidak kalah sedihnya namun melihat Dandra yang lebih mengerikan dan darah adiknya yang banyak ditubuh Dandra iya ingin Dandra membersihkan dirinya terleih dahulu.


"Dan sebaiknya lo pulang dulu bersihkan dirimu"kata Bimo pelan dan halus agar tidak menyinggung perasaan Dandra


Dandra diam dan terus berjalan mondar-mandir


"Dandra"panggil Bimo lagi dengan nada semakin meninggi


Kuping Dandra seakan menolak kata-kata, pikirannya kosong dan hanya air mata yang terus membanjiri wajahnya.


"Dandra sadar"teriak Bimo dan membenturkan tubuh Dandra ke tembok rumah sakit


Felix yang melihat itu ingin melerai keduanya hanya saja Loy menahannya "Sudahlah dia hanya membantu Dandra"


"Bim.."Dandra sadar dan terus menangis di depan Bimo


Melihat itu Bimo pun tidak kuasa, kedua lelaki itu menangis seakan dunia keduanya benar-benar runtuh.


"Gue salah Bim kalo aja Aldrina enggak kenal gue dia gak bakalan kayak gini"kata Dandra menyalahkan dirinya


"Enggak itu bukan salahmu"kata Bimo menolak semua perkataan Dandra yang mulai meracau


"PLAK" Bimo meninju Dandra


"Sadar Dan itu bukan salahmu"Bimo meninju Dandra agar lelaki itu tidak terlihat semakin bodoh


"Tinju tinju lagi Bim asal Aldrina sadar gue gak apa-apa"Dandra menangis dan terjatuh ke lantai dilihatnya darah segar Aldrina yang melekat ditangannya


"Aldrina maafin aku, aku gak bisa menjagamu hiks hiks"Dandra menangis frustasi

__ADS_1


"Lix gue minta tolong bawa dia pulang dulu ganti baju"kata Bimo memohon sambil menghampiri Felix


__ADS_2