Love You So Much

Love You So Much
Bagian 77 (Universitas London)


__ADS_3

Di pagi hari tepatnya pukul 05.00 Aldrina bangun dari tidurnya lalu mengedarkan pandangannya pada sekeliling kamar dan melihat kedua sahabatnya yang masih tertidur lelap. Aldrina berjalan dengan mengendap-endap agar sahabatnya tidak terganggu tidur setelah mencuci muka gadis itu mengambil jaketnya yang digantung lalu segera memakainya. Aldrina membuka pintu dengan sangat hati-hati.


Suasana dingin mulai terasa setelah keluar dari kamar, untungnya jaket yang digunakan Aldrina tebal dan hangat. Sebelum mereka berangkat ke London, Aldrina sudah mencari informasi mengenai musim apa yang akan terjadi di London pada bulan Desember dan ternyata musim dingin dimana akan bermunculan kristal es di jalanan namun itu tidak menghilangkan antusias mereka apalagi Gilbert yang belum pernah merasakan suasana seperti itu.


Aldrina berjalan mengitari rumah karna kamarnya berada di lantai 1 gadis itu tidak perlu menuruni tangga, seketika matanya berbinar-binar melihat perapian sudah menyala segera Aldrina mendekati perairan itu agar tubuhnya semakin hangat.


"Ehm"


Deheman seseorang membuyarkan keasyikan Aldrina menikmati perapian, Aldrina meboleh kebelakang dan ternyata sudah ada Dandra dengan secangkir coklat panas ditangannya.


"Eh kak Dandra?"


"Hmm iya kenapa sayang gak nyaman tidurnya? Kok bangunnya cepat?"


"Gak kenapa sih emang aku biasa cepat bangun kak paling kalo lama bangun berarti malamnya aku begadang"


"Ooh gitu bagus dong"


"Bagus kenapa kak?"


"Yah bagus nanti kalau kita menikah ada yang akan membangunkanku lebih awal di pagi hari"


DEG


Ucapan Dandra barusan berhasil membuat jantung gadis itu berpacu dengan kencang apalagi membayangkan dirinya akan tidur sekamar dengan Dandra nantinya, gadis itu semakin tesipu malu.


"Kenapa kok senyum-senyum gitu?"tanya Dandra sambil ikut duduk disamping Aldrina


"Ha? Eng enggak, gak kenapa ih kakak bisa aja, emang udah yakin jadikan aku istri?"


"100 persen"


"Tapi aku gak pintar masak loh kak, mau punya istri gak tau masak?"


"Astaga sayang serius kamu gak bisa masak?"tanya Dandra mengerjai Aldrina padahal lelaki itu memakluminya apalagi setelah Dandra tau Aldrina tidak memiliki ibu lagi


"Hooh apalagi karena papa sama kak Bimo di rumah aja jarang, gak semangat belajar masak dari bibi Inem"


"Yah padahal aku menginginkan istri yang pandai masak"ucap Dandra pura-pura kecewa


"Aduh gimana ini? Jangan-jangan nanti cinta kak Dandra berkurang lagi"batin Aldrina khawatir


"Eh gak usah pesimis kak, Aldrina janji jika suatu saat nanti aku udah menjadi istri kakak harus dan pasti sudah mahir memasak"


Dandra tersenyum "Janji nih?"


"Iya janji dong kak"jawab Aldrina dengan semangat


"Hahah kutunggu loh sayang"

__ADS_1


"Iya pasti tapi kakak juga harus janji dong"


"Janji apa?"


"Janji harus membiarkan aku menjadi pengantin wanita kakak di altar nanti"


"Hahah iya aku berjanji sayang"ucap Dandra dengan tawa


Aldrina pun tersenyum bahagia jika begini gadis itu yakin bahwa Dandra adalah orang pertama dan terakhir yang akan mengisi hatinya. Aldrina melirik ke meja makan disana sudah ada beberapa masakan yang masih tampak baru di masak.


"Kakak yang masak itu semua?"tanya Aldrina sambil menunjuk meja makan


"Oh bukan itu pembantu yang bertugas untuk menyediakan makanan kita selama ada disini, makanya aku cepat bangun untuk mempersilahkannya masuk buat masak sayang"


Aldrina mengangguk artinya mengerti "Terus mana orang yang masak? Kok gak nampak? Cewek apa cowok? Muda atau tua?"


"Cewek sayang sepertinya sih masih terbilang muda"balas Dandra santai


"Oh jadi kakak berduaan gitu dari tadi sama dia? Terus kenapa gak bangunin aku hm?"ucap Aldrina dengan nada kesal lalu mencubit gemas lengan Dandra


"Aww"


"Sakit Aldrina"


"Biarin, abisnya kakak jahat kan bisa bangunin aku tadi, kenapa harus berduaan gitu? Apa jangan-jangan kakak mau jadikan dia istri karna pandai masak?"


"Buktinya jelas kalian berduaan"


"Hahaha enggak kok sayang setelah aku buka pintu, aku kembali naik kok ke kamar"


"Terus sekarang kenapa udah di bawah?"


"Yah karena dia tadi mau izin pulang makanya aku turun lagi"


Aldrina menatap Dandra sambil sedikit melototkan matanya yang cipit "Oke aku terima alasan kakak tapi lain kali udah biar aku aja yang bukain pintunya"


"Hahah terserah kamu aja sayang nanti kalau dia datang lagi aku telepon deh"balas Dandra gemas lalu mengacak rambut Aldrina


"Nih minum dulu! Dah capekkan ngomel terus"ucap Dandra sambil menyodorkan coklat panas yang tadi dibuatnya


"Hehehe tau aja aku haus makasih kak"balas Aldrina tersenyum senang dan melupakan perdebatan mereka


Hari ini mereka akan menemani Dandra untuk mengurus segala berkasnya ke kampus. Tadinya mereka semua ingin berjalan kaki agar suasana lebih seru namun karna suhu udara yang sangat dingin membuat mereka mengurungkan niat dan pergi menaiki mobil.


"Oh iya Dan gue lupa nanya, lo mau ambil jurusan apa disana?"tanya Bimo yang duduk di depan bersama Dandra


"Jurusan bisnis Bim biar bisa bantu papa gue ngurus perusahaan"


"Wah bagus dong gue aja kali ya yang gak berbakti"ucap Bimo salut mendengar ucapan Dandra

__ADS_1


"Kenapa gitu?"tanya Dandra dengan dahi yang berkerut namun tetap fokus menyetir


"Yah gue ambil jurusan kedokteran dan itu juga yang buat gue jadi lama-lama di kampus"


"Serius? Gue baru tau lo ambil jurusan itu, boleh tau alasannya?"


Bimo terdiam mendengar perkataan lelaki itu tidak mungkin Bimo bercerita saat ini dan terlebih ada Aldrina di dalam mobil itu. Alasan lelaki itu satu-satunya karena kejadian yang menimpa ibunya yang harus kehilangan nyawa saat berada di UGD.


Melihat Bimo yang terdiam membuat Dandra mengerti "Eh kalo gak mau ngasih tau juga gapapa Bim"


"Hmm iya"balas Bimo yang tiba-tiba menjadi pendiam


Aldrina yang mendengarkan pembicaraan itu menimpali keduanya "Kalian tau gak? Kak Bimo aneh banget lo! Iya aku tau kakak gue emang pintar malah banget lagi tapi anehnnya dia itu ngambil jurusan kedokteran eh tapi nengo darah ketakutan"ucap Aldrina membuat semuanya menatap Bimo


"E e enak aja lo ngomong nyet, mana ada gue takut darah"


"Ih ngaku aja kak gak usah malu, dulu waktu aku naik sepeda terus jatuh kepalaku berdarah kakak gimana? Takut kan? Malah jadi pingsan bukannya manggilin papa biar bawa aku ke RS"ucap Aldrina mengingat kejadian saat dirinya baru saja belajar naik sepeda yang dibantu oleh Bimo


"Ma ma masa iya? Gue gak ingat"jawab Bimo gelagapan


"Eleh kakak mah ngelas"


"Ngeles Aldrina"ucap Shirene kesal yang ikut mendengar perdebatan itu


"Udah-udah semua turun sekarang udah nyampe ini!"ucap Dandra sengaja mengalihkan topik dan memang benar mereka sudah sampai di universitas London


Sebenarnya mendengarkan sedikit demi sedikit cerita dari semua orang, otak Dandra menyimpulkan bahwa kematian Kaylee ibu Aldrina membuat kesedihan mendalam pada keluarga yang ditinggalkan. Dandra mencoba mengalihkan pikirannya lalu memandang nama Universitas London yang terpampang jelas.


"Widih bukannya ini hari libur? Kenapa kampusnya lumayan rame gini?"tanya Ley penasaran


"Mungkin mereka ada urusan lagian gak urusan kita"balas Felix sambil merangkul Ley


"Eh iya juga sih, Lix gimana kalo kita godain bule bule disini mumpung rame?"usul Ley tersenyum nakal


Felix melirik Luna gadis itu sudah mendengus kesal "Up deh bro lo aja"


"Kenapa? Tumben"tanya Ley heran padahal yang lebih bersikap playboy adalah Felix


"Kakak gak liat mata Luna udah setajam silet"bisik Aldrina mendekati Ley


"Hahaha pantas aja, gimana kalo kita berdua aja? Lo goda cowok gue goda cewek"bisik Ley agar Dandra tidak mendengarnya


"Boleh kak"balas Aldrina dengan kekehan pelan


"Kami berdua kesana dulu ya"teriak Aldrina yang dirangkul Ley menjauh dari rombongannya


Dandra hanya bisa tersenyum kecut lalu melanjutkan langkahnya untuk mengurus berkasnya "Kalian jalan jalan dulu yah gue ke administasi dulu"


"Oke"balas mereka serempak

__ADS_1


__ADS_2