
"Niat yang jahat muncul saat kesempatan ada di depan mata"
~~ LYSM ~~
Baru saja Aldrina bernapas lega jantungnya kembali ingin meloncat saat seseorang menepuk bahunya dari belakang "Aaaa"
Dandra memamerkan senyumnya lalu duduk disamping Aldrina yang masih memasang wajah kesal "Aku belum siap mati mendadak kak"protes Aldrina
"Yang bilang kamu siap mati mendadak siapa sayang?"balas Dandra sambil melekatkan jaketnya pada bahu Aldrina yang tampak basah
"Huh tadi ngambek sekarang nyusulin"gumam Aldrina mengejek
"Kamu terlalu dekat dengan Felix aku gak suka"balas Dandra dengan nada merengut
"Ha kamu hahah, apasih kak lagian kami cuma sekedar adek sama kakak kelas aja kok gak lebih! Kakak jangan ngarang-ngarang deh"
Dandra yang melihat pelayan melewati meja mereka memanggil pelayan itu
"Mbak.."panggil Dandra
"Iya ada yang bisa dibantu?"
"Pacar saya mau pesan makan"
Aldrina pun tersenyum bahagia melihat Dandra yang ternyata memperhatikan dirinya yang sudah kelaparan. Sementara lelaki tadi yang dikatakan bos itu mengambil posisi dengan seorang gadis tidak jauh dari meja Aldrina
"Kenapa tuh si Jack mukanya kayak gak disetrika gitu?"tanya Mila dengan candaan pada teman-temannya yang baru saja datang
"Gara-gara cewek"balas Paldo singkat lalu mengambil posisinya untuk duduk
Sementara Jack masih saja tidak terima dengan sikap Aldrina tadi, walaupun Jack adalah bad boy semua wanita selalu menunjukkan ketertarikan pada dirinya terlebih lagi saat ini Jack yang menunjukkan kertertarikannya, Jack tidak bisa menerima penolakan itu.
"Ha? Hahaha Jack kayak gitu? Makanya jangan suka ngejekin gue lah kalo lagi memperjuangin Dandra"ejek Mila
Sementara teman-teman mereka terlihat menahan tawanya langsung ditatap garang oleh Jack
"Uluh uluh jangan ngambek dong"kata Mila dengan mencubit gemas pipi Jack
Jack pun menatap Mila tajam "Yee dihibur malah mau makan orang"balas Mila lalu menghentikan kelakuannya
"Lagian siapa sih cewek yang buat dia kayak gitu?"tanya Mila penasaran pada mereka semua
Mereka pun menunjukkan seorang gadis yang kini tertawa ria dengan pasangannya, alangkah terkejutnya Mila mengetahui itu adalah Aldrina pacar dari orang yang paling dia cintai.
"Dunia begitu sempit"batin Mila dengan senyuman miringnya
"Oh dia? Apa bagusnya sih dia?"kata Mila dengan nada sombong
"Gue gak mau tau Mil lo harus cari cara buat balas tuh cewek beraninya dia nolak gue"respon Jack
__ADS_1
"Heh makin banyak aja yang benci sama tuh cewek"batin Mila dengan seringai jahat
"Ha ia ia ntar gue cari cara kalian pesan makanan gih! Udah lapar nih"balas Mila pada Jack yang masih saja memasang wajah cemberut
Setelah hujan redah Aldrina bersama Dandra melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah. Di tengah perjalanan ada sebuah mobil melaju kencang saat ada genangan air seperti memang benar sudah direncanakan bukan karena tidak sengaja dan hasilnya membuat Aldrina dan Dandra basah.
"Woy sialan punya mata dipakek dong! Gue juga kemaren naik mobil"omel Aldrina tidak terima
Dandra pun yang juga basah tidak bisa marah melihat wajah Aldrina yang begitu lucu saat ini terlebih lagi saat Aldrina menggembungkan pipinya
"Sayang jangan pernah marah depan cowok kayak gitu selain didepan aku"kata Dandra sedikit berteriak dibalik helmnya
"Ha apa gak dengar?"balas Aldrina yang masih fokus dengan mobil tadi
"Gak"Dandra tidak mau mengulang kata-katanya lagi
Sementara sipengendara mobil yang ternyata adalah Jack merasa senang melihat Aldrina marah dengan tindakannya barusan "Itu baru permulaan beraninya kau denganku"batin Jack dengan tidak berhenti tersenyum yang membuat teman-temannya yang menumpang dengan Jack bergidik ngeri.
***
Seminggu kemudian Aldrina semakin sibuk untuk untuk latihan basket untungnya ada Dandra yang selalu menemaninya saat latihan walaupun hal itu menjadi pusat perhatian para pemain basket cewek disana.
"Huh gak terima banget gue"seru Aldrina sambil mengambil botol AQUA yang diberikan Dandra pada dirinya
Dandra mengerutkan dahinya lalu menutup buku yang mengambil fokusnya tadi "Gak terima apa?"
"Tuh liat"tunjuk Aldrina dengan wajah cemberut pada gadis-gadis yang begitu jelas mencuri pandang kepada Dandra
"Iihhh kakak itu cuma punya aku! Aku enggak terimalah kalo mereka liatin kayak gitu"balas Aldrina sambil menangkup wajah Dandra dengan kedua tangannya
Dandra tersenyum "Emang aku bisa dikantongin sayang? Kan enggak"balas Dandra sambil menepuk-nepuk puncak kepala Aldrina
HP Dandra bergetar "Dan elo dimana?"tanya Felix si penelepon
"Gak urusanmu"
"Yaelah si ogeb kebiasaan, ini teman-teman OSIS ngadain acara makan malam buat perpisahan anggota OSIS"
"Aku gak ikut"
"Yaelah lo ketua masa iya lo yang gak ikut gimana sih pak"
"Yaudah sayang pergi aja"bujuk Aldrina mendengar pembicaraan keduanya
"Kirai ngapai ternyata pacaran"gumam Felix yang bisa didengar Dandra
"Bentar lagi gue nyusul kirim alamatnya"kata Dandra mengakhiri pembicaraan mereka
Dandra pun merapikan barang-barangnya "Gapapa aku tinggal?"tanya Dandra pada Aldrina yang belum selesai latihan
__ADS_1
"Yaelah si kakak gapapalah emang aku anak kecil apa! Pergi sana hus hus"usir Aldrina bercanda
"Awas aja rindu, yaudah ya sayang aku pergi dulu hati-hati nanti pulangnya"balas Dandra sambil mengelus puncak kepala Aldrina
"Siap boss, babay sayang"jawab Aldrina sambil melambaikan kedua tangannya
Setelah kepergian Dandra. Aldrina dan yang lainnya kembali melanjutkan latihannya sampai hari mulai gelap lalu mereka memutuskan untuk pulang. Aldrina berjalan keluar sekolah sambil merutuki dirinya, betapa bodohnya Aldrina tidak menyadari bus yang melewati rumahnya sudah jarang lewat saat jam 6 Sore. Dia mulai menelesuri jalanan yang gelap dengan hati yang tidak tenang. Pasalnya jika hari sudah gelap banyak orang yang mengatakan preman-preman akan beraksi disekitar situ terlebih lagi saat melihat siswa maupun siswi yang berjalan sendirian.
"Sial gimana nih? Gak mungkin juga gue jalan sampe rumah yang ada gue tepar, ayolah bus datanglah"gumam Aldrina dengan gelisah
Baru Aldrina berjalan 2 menit dia merasa ada yang mengikutinya, Aldrina pun mempercepat langkahnya sampai suara langkah dibelakangnya tidak terdengar. Di sebrang jalan ada wajah yang terlihat senang saat melihat kecemasan di wajah Aldrina.
FLASHBACK ON
Saat Dandra sudah sampai di tempat yang dikirim Felix ada sebuah telepon masuk ke HP Felix
"Lo masuk aja bro mereka uda ada di dalam! Gue mau angkat telepon dulu"
Dandra pun masuk setelah mendegar perkataan Felix
"Lix liat Dandra gak?"tanya Mila ditelepon
"Kenapa?"tanya Felix mengerutkan dahi
"Pesan gue gak dibalas-balas nih"
"Yaelah kirai apaan gue tutup..."
"Gak gue kasih jatah lo"
"Yaelah emang sejak kapan gue minta jatah sama lo mimpi dulu sana"jawab Felix seakan membenci perkataan itu
"Yaelah si anjir udah ah kasi tau dimana dia?"
"Hadeh nih cewek batu amat"batin Felix
"Lagi di restoran Tengah Malem sama anak-anak OSIS yang lain"jawab Felix lalu memutuskan telepon itu
Mendengar itu Mila tersenyum jahat "Si Aldrina kayaknya lagi sendiri tuh"seru Mila pada seseorang lewat pesan suara
FLASHBACK OFF
Aldrina semakin mengencangkan tas yang bertengger di bahunya sangkin takut akan terjadi sesuatu pada dirinya, tiba-tiba 2 orang lelaki muncul didepannya. Keduanya menggunakan pakaian gelap terlebih lagi mereka memasang topi jaketnya sehingga Aldrina tidak bisa melihat wajah kedua orang itu dengan jelas. Aldrina mulai melangkah mundur kembali ke sekolah terlebih lagi jalanan saat itu sepi hanya kendaraan yang berlalu lalang disana.
"Hai nona jangan takut kami ini orang baik"seru yang satunya sembari berusaha meraih tangan Aldrina
"Betul sekali kami hanya akan menjaga keselamatan nona"kata yang satu lagi tersenyum licik
"Heh kalian jangan macam-macam sama saya ya! Saya ini sabuk hitam bisa tepar kalian saya buat"seru Aldrina memasang wajah garang agar kedua preman itu merasa takut
__ADS_1
Bukannya takut keduanya malah tertawa, salah seorang memberi kode dengan yang satunya "Diam! Bergerak sedikit saja nyawa anda melayang"kata pria itu dengan mengarahkan pisau ke perut Aldrina
Tentu Aldrina merasa takut dengan ancaman itu, air matanya mulai mengalir deras berharap sang malaikat akan menolong Aldrina tepat waktu. Dengan ancaman sebuah pisau keduanya berhasil menyeret Aldrina kesebuah gudang yang sepertinya tidak digunakan lagi.