Love You So Much

Love You So Much
Bagian 57 (Penampilan Yang Berbeda)


__ADS_3

"Aneh rasanya melihat tubuh yang biasanya kokoh terlihat lesu menyendiri"


.


.


.


\~\~LYSM\~\~


Keesokan paginya seperti yang disampaikan bibi Inem, Dandra datang menjemput Aldrina dengan mobil miliknya. Aldrina keluar rumah sambil tersenyum bahagia melihat kedatangan Dandra, sudah beberapa hari Dandra tidak memberinya tumpangan, Aldrina langsung masuk duduk di sebelah Dandra mengambil posisi nyaman.


"Udah lama nunggunya?"tanya Aldrina membuka pembicaraan


"Engga baru Aldrina"


"Oooo, udah makan?"


"Udah"


"Minum?"


"Udah"


"Kalo mikirin aku udah atau belum? Hahah"tanya Aldrina yang membuat tawanya sendiri pecah


"Selalu dan selamanya"ucap Dandra dengan tatapan serius


"Ihhh apasih kan jadi malu tau"ucap Aldrina sambil menyembunyikan pipinya yang merah di balik tas miliknya


"Hahahah Drin Drin kamu lucu bannget"ucap Dandra dengan tawa lepas


"Aldrina gitu lo"ucap Aldrina yang membuat Dandra mengacak rambutnya


Sesampainya keduanya di sekolah Aldrina menunggu Dandra yang memarkirkan mobil dan keduanya berjalan bersama lalu berpisah di koridor sekolah karena letak kelas mereka yang berlawanan tnyarah. Sebelum Aldrina mencapai kelas matanya menangkap sosok Kenzo yang memiliki beberapa lebam disekitar wajahnya. Ketika Aldrina ingin menghampiri lelaki itu tatapan tajam Kenzo yang begitu menyayat membuat Aldrina mengurungkan niatnya.


"Kenapa lagi tuh mahluk? Dia yang celakai gue malah dia yang marah"batin Aldrina sambil terus melangkahkan kakinya menuju kelas


Sesampai di kelas kedua sahabatnya sudah bertengger di bangkunya begitu juga dengan Gilbert yang sangat penasaran mengenai kehebohan yang diciptakan Aldrina.

__ADS_1


"Ck"Aldrina berdecak melihat 3 monyet yang sudah menunggunya


"Guys bisa minggir gak sih gue mau duduk"ucap Aldrina dengan memutar kedua bola matanya


"Jawab pertanyaan gue dulu baru lo bisa duduk"ucap Gilbert yang masih menempelkan bokongnya di bangku Aldrina


"Yaudah geser Bert bokong gue masih sakit tau"ucap Aldrina dengan sabar


"Ha? Hahah oke oke"ucap Gilbert tertawa geli melihat Aldrina yang terlihat tersiksa


"Satu-satu nanya nya"ucap Aldrina ketika melihat mulut Shirene, Luna, dan juga Gilbert yang ingin berbicara


"Gue duluan, gimana bokong masih utuh?"tanya Luna dengan memperhatikan bagian belakang Aldrina


"Utuhlah lo kira hilang sebelah gitu"ucap Aldrina kesal


"Tau tuh tanya-tanya gak seru, gimana gimana siapa yang menang lo atau ketos?"tanya Gilbert yang membuat mata Aldrina melotot


"ngeselin banget sih lo Bert lo kira kami berantem gitu? Tonjok-tonjokan gitu? Gaklah gila"jawab Aldrina heran dengan pertanyaan Gilbert


"Lah Gilbert ngomong gitu bukan tanpa sebab Drin soalnya muka kak Kenzo babak belur yah kita kira lo setega itu mukulin kak Kenzo karena kesal"


"Mut lo gimana sih? Mau gimana gue ngelawan kalo guenya aja udah tergelapar gitu di tanah tanpa belas kasihan dia ninggalin gue parah banget sih untung ada kak Felix eh Lun jangan buruk sangka ya! Kebetulan kak Felix lewat terus liat gue selonjoran di tanah, untung banget sih dia lewat karna selain dia gak ada yang maun bantuin gue"ucap Aldrina yang penuh emosi


"Gimana gak marah mereka tega banget ke gue Lun tapi maaf yah gue gak maksud buat dekat sama kak Felix"


"Selo kali Drin gak mungkin gue marah malah gue bersyukur dia tepat waktu nolongin lo, udah ah gak usah dibahas lagi"jawab Luna berusaha menenangkan Aldrina


"Hahah bisa kalah juga lo singa betina! Gue kira engga"ucap Gilbert mengejek mendengar pembicaraan kedua sahabat itu


"Bert tolong gue lagi gak bisa kejar-kejaran"ucap Aldrina yang mulai terpancing emosi


"Sini lo bro usil banget"ucap Tian menghampiri Gilbert dan membawa Gilbert menjauhi Aldrina yang sudah terlihat emosi


Beberapa menit kemudian wali kelas mereka pak Handoko masuk ke kelas memberi pengarahan namun pikiran Aldrina memikirkan Kenzo yang terlihat babak belur, ada perasaan senang dan tidak tega melihat wajah Kenzo terlebih lagi tatapan lelaki itu yang semakin dingin terhadap dirinya. Seperti yang diarahkan sebelumnyaa Aldrina dan lainnya pergi ke aula untuk latihan bernyanyi.


"Guys tiga hari lagi kan perayaan natalnya kita gak ada dress code gitu?"bisik Shirene di tengah nyanyian pada kedua sahabatnya


"Eh iya juga ya, gimana kalo makek dress warna putih?"saran Luna

__ADS_1


"Boleh tuh gue punya"jawab Shirene semangat


"Gimana Drin setuju?"


"Iya iya setuju"jawab Aldrina yang membuat Shirene dan Luna terlihat semangat


"Kalian gak deg-degan gitu nerima rapor dua hari lagi?"tanya Luna melihat kedua sahabatnya tidak mengeluh mengenai nilai-nilainya


"Yaelah Lun gue mah bebas, mau berapa pun asal gak terakhir nyaman-nyaman aja"ucap Aldrina tidak mau ambil pusing


"Setuju banget apalagi gue Lun jangan ditanya"ucap Shirene dengan cengiran


"Gak heran sih"ucap Luna yang membuat ketiganya menahan tawa ditengah nyanyian


Aldrina merasa heran bukannya mereka terlihat begitu rusuh saat ini, Kenzo si pawang kedisiplinan tidak terlihat sama sekali untuk menegur mereka yang membuat Aldrina lagi-lagi memikirkan Kenzo.


"Eh guys kapan nih kita balikin buku-buku?"ucap Shirene yang teringat buku mereka belum dikembalikan karena kejadian yang menimpa Aldrina


"Oh iya Mut gue lupa, gimana kalo kita permisi aja dulu?"jawab Aldrina memngingat buku dan novel-novel yang dia pinjam


Ketiganya pun meninggalkan aula dan menuju ruangan kelas untuk mengambil buku-buku yang ingin mereka pulangkan. Setelah memulangkan buku Aldrina menyuruh Luna dan Shirene kembali ke aula terlebih dahulu karna perutnya tiba-tiba saja sakit.


"Eh woi Drin gapapa kami duluan?"ucap Luna setengah teriak pada Aldrina yang sudah berlari


"Iya gapapa gue nyusul"balas Aldrina tanpa menoleh ke belakang lagi


"Yaudah mut kita duluan aja"ucap Luna menggandeng Shirene


"Mut?"tanya Shirene dengan sedikit melotot


"Heheh gak papa kali kita kan sahabat, emang gue gak boleh ikutan manggil gitu?"ucap Luna yang merasa mereka sudah sangat dekat


"Gapapa Lun gas kun!"balas Shirene yang membuat keduanya tertawa bersama


Setelah perut Aldrina sudah merasa legah, gadis itu merapikan pakainnya dan berjalan keluar dari kamar mandi, tubuhnya seolah malas untuk kembali ke aula. Aldrina memandang sekitar, matanya melihat semua anggota OSIS yang menjaga setiap sudut sekolah agar tidak ada yang membolos atau pun kabur dari latihan menyanyi mengingat waktu yang tinggal sedikit lagi. Aldrina kembali memikirkan tempat persembunyian yang aman dan tentram.


"Oh iya gue ke atap aja kali ya gak mungkin kan ada yang jaga di atap! Kurang kerjaan banget secara biasanya juga dikunci"ucap Aldrina kemudian berjalan ke atap sekolah


Aldrina mmbuka knop pintu begitu perlahan agar tidak ada yang melihatnya kemudian dahinya mengerut ketika pintu itu tidak dalam keadaan terkunci.

__ADS_1


"Keberuntungan emang selalu memihak elo Drin"ucap Aldrina dengan senyum andalannya


Baru saja matanya mengedarkan pandangan, sorot mata Aldrina menangkap tubuh seorang lelaki yang terlihat menunduk dengan posisi duduk di piggiran tembok. Aldrina mengenal tubuh itu namun apa yang dilakukannya disana membuat Aldrina merasa penasaran.


__ADS_2