
Kehadiran Christ benar-benar membuat hidup Giska jungkir balik. Dia bahkan bingung sendiri dengan apa yang terjadi pada dirinya. Bertemu secara tidak sengaja, tidur di ranjang yang sama padahal belum saling mengenal, dilamar secara terang-terangan, pacaran dan kini Christ membawa serta orang tuanya untuk menentukan hari pernikahan.
Lucu, terdengar tidak logis bagi Giska. Selama pertemuan penting itu, Giska hanya diam menatap bagaimana kedua orang tuanya yang berterima kasih berkali-kali pada Christ. Habis sudah, Giska seakan tengah dipaksa menikah dengan tuan tanah, bedanya yang ini ada nilai plusnya, tampan.
Tampan, ya pria itu memang sangat-sangat tampan. Giska akui itu, dia kharismatik dan mampu membawa diri. Ketika bebicara dengan Keny, Christ benar-benar berwibawa, sedikit berbeda dengan sikap kala sedang bersamanya.
Sejak dahulu Giska memahami, yang namanya menikah bukan hanya penyatuan dua insan, melainkan keluarganya juga. Namun, dalam kasusnya ini yang justru menyatu lebih dahulu adalah orangtua mereka.
Pemandangan itu terlihat manis, sudah lama Sonya tidak berinteraksi dengan teman seusianya sejak pindah ke Munich. Giska seakan dejavu, kehadiran wanita itu ke rumahnya dengan membahas banyak hal bersama Sonya membuatnya mengingat sosok Agny, wanita lemah lembut yang pernah dia khayalkan akan menjadi ibu mertuanya.
"Katanya tidak mau menikah, kok malah bawa calon suami, Kak?"
"Diam, Anya ... aku sedang berpikir bagaimana caranya bisa bangun dari mimpi buruk ini," gerutu Giska kala Anya bertanya seakan mengejeknya yang memang sempat bersumpah tidak akan menikah seumur hidupnya.
"Aih, kenapa memangnya? Kalau Kakak tidak mau, Anya siap gantiin posisi Kakak ... Kak Christ tipe Anya banget," ucap Anya terang-terangan yang membuat Giska menarik rambutnya seketika.
"Gila!! Masih kec_"
"Apa? Masih kecil maksudnya? Aku sudah 23 ya artinya sudah dewasa dong ... selagi belum terjadi, kalau Kakak tidak mau Anya siap banget loh."
Anya mengedipkan matanya, selain suka mencuri pembalut, tampaknya Anya berpotensi merebut calon suaminya. Giska menoyor kepalanya hingga Anya meringis seketika.
"Jangan macam-macam, Anya."
"Kakak suka juga berarti, kalau Kakak tidak suk_"
__ADS_1
"Pergi yang jauh sana, kurebut pacarmu tahu rasa," ancam Giska balik yang membuat Anya terbahak, sadar atau tidak Giska memang sudah mengkhianati perkataannya di masa lalu.
"Jangan jual mahal makanya, syukur-syukur ada yang mau ... Kakak jangan berlagak paling stres deh. Diajak nikah baik-baik males, giliran disakitin sama Gopar mau."
Menohok, tapi itu fakta yang terjadi dang Giska tidak dapat mengelak jika memang ucapan Anya ada benarnya. Hanya saja mendengar sang adik bersuara setegas itu tangan Giska tidak kuasa untuk tidak bertindak segera.
.
.
Hingga siang menjelang, tidak ada tanda-tanda Christ dan mommy-nya akan pergi juga. Dari yang Giska ketahui, mereka sengaja berlama-lama karena calon mertuanya tidak bisa datang sesukanya nanti. Bahkan di hari pernikahan juga demikian, mengingat tuan Wilbert mengalami kelumpuhan dan tujuannya datang hanya untuk menemui orangtua Giska.
Giska memilih sendiri di taman belakang, dia memang butuh ketenangan sementara hendak ke kamar masih dilarang keras oleh Sonya, dasar kolot. Sembari menatap nanar ke depannya, Giska tengah menata hati. Luka yang Christ alami sejenak membuatnya tertampar karena dibandingkan Giska, luka itu lebih parah.
Giska mendengkus kesal, niat hati menenangkan diri, tapi otaknya justru memikirkan hal yang tidak seharusnya. Wanita itu memejamkan mata sesaat, udara di sini masih yang paling baik menurut Giska.
Hingga, dia kembali merasa terganggu kala seseorang ikut duduk di sampingnya. Sejak dahulu Giska paling enggan diganggu, jelas saja bibirnya tidak akan diam setelah ini.
Lebih menyebalkan lagi, kala kacamata hitamnya itu dilepas tanpa aba-aba dan izinnya. Giska meradang dan hendak melontarkan kata-kata mutiara pada sang adik. Namun, hal itu justru terhenti kala Giska membuka matanya.
"Christ? Kenapa kau di sini?"
Seingat Giska, sebelum dia berlalu Christ masih bersama Keny. Bukan hanya ngobrol biasa, tapi sepertinya berkenaan dengan hal yang cukup serius. Kini, senyum itu kembali menyapa Giska yang tengah menyipitkan mata lantaran pantulan cahaya matahari cukup menyiksanya.
"Aku mencarimu sejak tadi, kata adikmu kau di sini," ucap pria itu yang kini justru mengenakan kacamata hitam milik Giska, lalu berbaring dengan kepala yang mendarat sempurna di pangkuan Giska.
__ADS_1
"Oh."
Hanya satu kata itu yang Giska lontarkan, dia tidak menolak ketika Christ tiba-tiba melakukan hal ini, tidak ada pula kekesalan dalam diri Giska sebelumnya.
"Kau tidak marah aku begini?" tanya Christ menatap wajah sang kekasih di balik kacamata hitamnya.
"Sekalipun aku marah kau akan tetap begitu, 'kan?"
"Hahah benar sekali, kau pintar juga ternyata ... tidak salah aku memilihmu jadi istri," ucap Christ yang kini menghela napas lega seraya memejamkan mata.
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Boleh, tanyakan saja."
"Apa alasanmu mau menikahiku?" tanya Giska tiba-tiba hingga membuat Christ bangkit dari posisinya. Pertanyaan semacam ini perlu dijawab serius lantaran tidak selamanya Giska akan bertanya begini.
"Sederhana, aku membutuhkanmu, menginginkanmu, mencintaimu ... dan," ucap Christ seakan sengaja menggantung kalimatnya.
"Dan? Dan apa?"
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1