
Menikah di usia muda bukanlah hal yang sulit di kalangan orang kaya. Dukungan dari pihak keluarga tentu menjadi alasannya. Namun, tidak sedikit yang mencibir Renaga lantaran nasibnya yang terlalu sempurna. Hingga, beberapa petinggi perusahaan menganggap Renaga sama sekali tidak pantas ada di posisi itu.
Masih terlalu cupu, kira-kira begitu kalimat yang menggambarkan dengan jelas seorang Renaga Anderson. Memang, tidak bisa memaksakan siapapun menyukainya, Renaga sangat tahu itu.
Terlebih lagi, ketika jejak digital tentang dirinya sewaktu kecil yang memang tidak bisa hilang sepenuhnya semakin membuat Renaga seakan rendah menurut pemandangan beberapa pasang mata.
Tuduhan bahwa Renaga bukan darah daging Justin seakan sudah menjadi makanan wajib beberapa orang yang tidak menyukainya. Pengalaman Renaga yang belum seujung kuku dan juga kerap kali tidak fokus membuat siapapun yang membencinya semakin benci saja. Tidak peduli meski dia berstatus anak pemilik perusahaan, tapi bagi kaum munafik itu di belakang Renaga, mereka akan menganggap Renaga sama dengan sampah.
Menikmati pagi menjelang siang dengan pemandangan Renaga yang tampak buru-buru dari lantai delapan ini cukup menyenangkan. Mereka sedikit ragu bahwa perusahaan akan tetap baik-baik saja seperti sebelumnya dibawah kepemimpian Renaga.
"Lihatlah, jam segini baru datang ... aku sampai bingung kenapa pak Justin percaya sekali pada putranya."
"Pengantin baru, mungkin sarapan di ranjang dulu," ucap mereka yang kemudian kembali menjadikan Renaga sebagai bahan candaan.
Hanya karena mengabdi lama, ketiga pria yang sama sekali tidak muda itu membenci Renaga sampai akarnya. Bahkan, mereka seakan tengah menabuh genderang perang bersama seseorang yang lebih muda dari putranya.
"Hahaha ... kau tahu, anak itu bahkan pindah keyakinan demi bisa menikahi istrinya, pak Justin sangat-sangat gagal mendidik anak."
"Benarkah, Amran?"
"Hm, anak itu sekarang beda keyakinan dengan orang tuanya."
"Tapi yang lebih bodohnya lagi adalah ... Evan sangat menerima dan tutup mata soal itu. Padahal, ketika aku datang baik-baik melamar putrinya untuk putraku Evan menolak mentah-mentah dengan alasan putraku bertindik dan dia tidak suka, aneh bukan?" tanya pria yang dahulunya sempat melamar Zavia untuk putranya.
Gelak tawa kembali menggema, para petinggi yang sangat Justin percayai tampaknya memang kecewa dengan keputusan Justin hingga berani membahas hal-hal yang bersifat pribadi semacam ini.
__ADS_1
"Mereka memang cocok menjadi keluarga, bukankah Anda pernah mendengar isu miring tentang Evan juga?"
"Isu miring bagaimana?"
"Pria itu menikahi wanita yang menabrak istrinya hingga tewas ... bayangkan, memang psikopat dari sananya."
"Astaga? benar begitu?" tanya Gudarmo yang bersyukur tidak menjadi bagian dari keluarga Evan.
"Hm benar, jadi Anda harusnya bersyukur tidak menjadi bagian dari keluarganya ... seperti tidak ada wanita lain saja, putrinya juga biasa saja tidak begitu cantik."
Lengkap sudah, sekejam itu dampak dari sebuah perasaan iri. Seseorang yang mungkin saja memuji pada awalnya, mendadak berubah tanpa terduga. Mereka terus berbincang dan sama sekali tidak menyadari jika sejak tadi ketiganya tengah mengasah belati yang akan mereka jadikan alat untuk membunuh dirinya sendiri.
"Gunakan mulut kalian untuk hal yang baik-baik, minimal berhenti membawa kehidupan pribadiku dan keluargaku."
"P-Pak? Se-selamat pagi?"
.
.
Jujur saja Renaga tidak terlalu peduli. Tidak sulit baginya untuk menyimpulkan seseorang menyukainya atau tidak, tapi memang Renaga tutup mata dan telinga. Dia juga merasa hal itu sangat tidak penting untuk dia gubris.
Terpenting sekarang, tanggung jawabnya sebagai anak dan seorang suami sama-sama bisa dia jalani. Renaga sangat mengakui jika memang dia masih sangat mentah, tapi bukan berarti tidak mampu dan otaknya juga tidak sekosong bayangan para pembencinya.
Ruangan luas dan begitu sejuk dengan aroma khas itu sungguh melegakan jiwa Renaga, dia yang sejenak menenangkan diri kini membuka mata perlahan kala mendengar ponselnya berdering beberapa kali.
__ADS_1
"Hallo, Pak? Apa sudah Anda periksa? Jika memang ada kekurangan bisa disampaikan langsung agar kami bisa segera perbaiki."
Renaga yang memang hanya meminta dihubungi via telepon sejak kemarin terpaksa membuat Dito harus mengikutinya. "Saya lihat sebentar, terima kasih, Pak."
Jujur dia sedikit penasaran, bakat arsitek baru yang Dito katakan sedikit membuatnya ragu karena memang butuh waktu yang sedikit lama entah apa alasannya.
"Perfect."
Asal bicara, padahal sebenarnya dia kurang paham soal itu. Beberapa saat Renaga pandangi, pria itu menarik sudut bibir seraya membayangkan beberapa tahun kemudian.
"Mahligai Impian ... tujuh tahun lalu, aku juga menggambarnya, Via. Tapi tidak sebaik ini ... terima kasih tangan ajaib, mungkin nanti kita harus bertemu," ujar Renaga yang benar-benar dibuat kagum dengan hasil rancangan itu.
Entah hasil karya siapa, yang jelas Renaga ingin bertemu secara langsung pada pembuatnya. Seorang Renaga begitu menghargai sesuatu yang dilakukan dengan sepenuh hati, dan dia begitu yakin seseorang di balik ini benar-benar melakukannya dengan sesabar itu.
"Hallo, Pak Dito ... boleh saya bertemu dengan arsiteknya?" tanya Renaga setelah kembali menghubungi Dito untuk mengutarakan niatnya.
"Kenapa, Pak? Apa ada yang salah atau lupa?"
"Ah tidak, saya ingin mengucapkan terima kasih secara langsung padanya ... apa kami bisa bertemu, Pak?"
"Saya kira Anda ingin marah, ya sudah nanti saya sampaikan padanya ... hari ini anak itu tidak masuk, mungkin besok atau lusa, Pak."
Sayang sekali, sepertinya memang tidak jodoh dan belum saatnya Renaga bisa bertemu demi mengucapkan terima kasih untuknya. Masih dalam bentuk dua dimensi, tapi Renaga sudah menemukan kenyamanan setiap menatapnya. Hal itu tentu saja membuat Renaga benar-benar ingin menempatinya dalam waktu dekat.
.
__ADS_1
.
- To Be Continue -