
"Terima kasih atas kerja keras yang sudah kamu lakukan, aku dan Zavia sangat menyukainya ... dan maaf aku selalu meragukanmu, Giska."
Hanya itu, Renaga berdiri di samping Giska serya menatapnya datar. Tersedia kursi di sisi Giska, tapi Renaga memilih tetap berdiri dengan kedua tangan yang dia masukkan ke saku celana.
Selama ini memang dia salah lantaran terlalu meremehkan Giska, ya hanya itu alasan Renaga minta maaf. Soal dia yang memilih Zavia, sama sekali Renaga tidak akan meminta maaf karena baginya itu bukan kesalahan.
Walau menurut Fabian kesalahannya seluas lautan, tapi hanya satu kata maaf yang dia ucapkan. Tulus, Renaga sadar jika bersalah, tapi bukan berarti caranya harus menggenggam jemari Giska atau melakukan hal lainnya.
Kendati demikian, fakta bahwa Giska menyembunyikan sakitnya serapi itu tetap membuat Renaga terluka. Akan tetapi, kemarahannya juga sudah percuma karena memang itu kemauan Giska sendiri.
"Bertahanlah, Bodoh ... sudah kukatakan cari kebahagiaanmu, dan kamu sendiri yang menyetujui janji itu."
Bodoh? Tentu saja, apa yang Giska lakukan memang sangat-sangat bodoh di mata Renaga. Hal semacam itu ditutup-tutupi, sementara yang lain dia tunjukkan secara terang-terangan.
"Om Keny bilang, Giska tidak selemah itu. Tunjukkan padaku, pada Zavia dan juga Fabian ... aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu, karena jika benar begitu sudah pasti istriku tersiksa lahir dan batin seumur hidup," ucap Renaga menarik napas dalam-dalam sebelum kemudian menghembusannya perlahan.
Jika ditanya khawatir atau tidak, jelas saja Renaga khawatir. Sama seperti Zavia dahulu, mengetahui Giska sakit dia jelas saja kacau, terlebih lagi ketika dia sama sekali tidak diberitahu oleh Fabian walau seujung kuku. Naluri Renaga hanya ingin marah saja, sayangnya dia sedikit berlebihan.
"Aku pergi, lekas pulih ... bakatmu sangat luar biasa, jangan sia-siakan."
Kalimat terakhir yang Renaga lontarkan sebelum kemudian berlalu meninggalkan Giska. Sama sekali dia tidak menjanjikan hal apapun, walau mata itu terpejam, Renaga sangat yakin telinganya mampu mendengar.
Tidak sampai sepuluh menit, Renaga keluar dengan langkah pasti. Sama sekali tidak berbalik ataupun menatap Giska sekali lagi, meninggalkan Giska yang kini meneteskan butiran kristal bening di sudut matanya.
"Terima kasih jika suka, Kak."
Tanpa berucap lisannya, mata juga masih terlelap. Giska menangis, bahagia karena Renaga mengucapkan terima kasih dan kata maaf. Walau, mungkin atas perintah Fabian maupun Zavia, Giska seakan lebih tenang saja jika sudah mendengar pengakuan Renaga.
Giska sama sekali tidak megharapkan terima kasih dari Renaga. Dia juga meminta agar Fabian diam, tapi tampaknya mulut pria itu memang tidak dapat dijaga. Bahkan perjanjiannya saja nyata dilanggar, Giska meminta Fabian menjaga rahasia, tapi yang terjadi justru berbeda.
Tapi tidak mengapa, kerja keras yang benar-benar keras itu akhirnya Renaga hargai juga. Meski terpejam, alam bawah sadar Giska merespon dengan baik semua yang terjadi. "Aku memang bekerja sangat- sangat keras agar kalian tidak kecewa."
Giska tidak akan menceritakan seberapa banyak tisue bekas berlumuran darah yang dia buang ke kotak sampah setiap harinya. Tangan gemetarnya tidak berhenti sekalipun mata terkadang tidak mampu menatap lebih fokus lagi.
Kepala sakit, tubuh lelah dan semua yang dia rasakan bersatu. Menyerang secara bersamaan, beberapa kali dia meminta tambahan waktu lantaran tidak mampu menyelesaikan sesuai target karena penyakitnya.
__ADS_1
Hari ke hari, Giska hanya ingin rancangan itu usai di tangannya. Dia tidak peduli apa yang terjadi setelah ini, dia hanya ingin memberikan semuanya secara sempurna tanpa campur tangan orang lain.
Hingga, tepat 42 hari dia mampu menyelesaikannya. Giska lega, impian sekecil itu harus mati-matian dia gapai. Sempat takut Renaga justru membuangnya mentah-mentah, Giska justru mendapatkan hal berbeda.
.
.
"Sudah?"
Jika saat ini Giska tengah menangis haru dalam diamnya, di sisi lain Fabian dan Zavia dibuat bingung dengan kemunculan Renaga yang secepat itu kembali. Lebih lama waktu menunggu dibandingkan waktu jenguk, sungguh Zavia benar-bear tidak habis pikir.
"Sudah."
"Cepat sekali, bilang apa secepat itu?" tanya Fabian masih setia dengan tatapan tak terbaca pada Renaga.
"Maaf dan terima kasih," jawab Renaga dingin, sejak tadi Fabian selalu mencari kesalahannya dan Renaga jelas tidak terima.
"Hanya itu? Lengkapnya bagaimana?" tanya Fabian lagi-lagi membuat Renaga mendadak panas.
"Sayang, kita pulang, matamu sudah merah."
Renaga menarik pergelangan tangan Zavia pelan. Suaranya sangat jauh berbeda, terlihat jelas betapa dia menyayangi Zavia. Tanpa pamit sedikitpun Renaga berlalu, beruntung saja Zavia sudah pamit lebih dulu.
Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan di antara mereka. Zavia menguap lebar-lebar dengan tangan Renaga sebagai penutup mulutnya. Mungkin terlalu lelah sampai menutup mulut saja tidak mampu, pikir Renaga.
"Kak."
"Hm? Apa, Sayang?" tanya Renaga masih terus fokus dengan kemudinya, malam semakin larut dan jalanan yang sepi tidak membuat Renaga memiliki keinginan untuk menambah kecepatan.
"Mau peluk."
"Hah?"
Tiba-tiba, istrinya aneh dan biasanya tidak begini. Di dalam kamar saja Zavia tidak akan meminta, Renaga yang selalu berinisiatif memeluknya. Tepatnya, mungkin belum sempat meminta, tapi sudah Renaga lakukan.
__ADS_1
"Peluk," ucap Zavia yang kini melepas seat belt tanpa persetujuan Renaga, hal berbahaya yang membuat pria itu mengurut dada.
"Wait, harus sekarang?"
"Iya sekarang, Kakak maunya kapan lagi memang?"
Agresif mendadak, tiada angin tiada hujan Zavia tiba-tiba membuat Renaga berdesir. Terpaksa, dia menepi lebih dulu lantaran khawatir jika tidak bisa fokus andai terus mengemudi.
"Sini, kenapa? Apa ada yang mengganggu perasaanmu? Hm? Katakan," ucap Renaga begitu pelan dan kini seraya mengusap lembut punggungnya.
Padahal, jarak menuju kediaman mereka tidak begitu lama. Tapi, Zavia tampaknya tidak mampu untuk menahan hingga Renaga terpaksa berhenti sejenak. "Apa Opa membuatmu kesal lagi hari ini?"
"Tidak, ingin saja ... kita tidak bertemu selama 14 jam hari ini." Zavia berucap pelan hingga membuat hati Renaga menghangat, walau jujur saja dia tidak mengetahui kenapa istrinya mendadak berubah amat manis begini.
"Ah istriku sedang rindu rupanya?" goda Renaga yang hanya Zavia tanggapi dengan senyuman tipis, dia mendongak dan membuat Renaga salah paham hingga pria itu mengecupnya beberapa kali.
"Kak, boleh jujur tidak?"
"Soal apa?" tanya Renaga mendadak was-was, wajah serius Zavia menurutnya lebih menakutkan dari kemarahan mertua.
"Awalnya aku cemburu ... Kakak mengagumi seseorang yang ada dibalik gambar itu tanpa Kakak tahu siapa dia, melihat Kakak terus mencarinya aku seakan gila dan merasa Kakak sedang mendua. Tapi, setelah aku tahu bahwa Giska adalah orangnya, aku bangga karena berhasil membuat hati suamiku ini bergetar dengan karyanya."
Penjelasan panjang lebar Zavia berhasil membuat Renaga terhenyak, bongkahan batu besar seakan menghimpit relung hatinya dan dia tengah merasa berada dalam dekapan rasa bersalah. Diam-diam, istrinya memendam kecemburuan dan tanpa sadar Renaga telah menyakiti hati tulusnya.
"Astaga, Sayang maaf jika aku berlebihan, aku hanya terlalu senang dengan bayangan rumah kita di masa depan ... sungguh, aku sama sekali tidak menduga jika menyakitimu, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padanya, tidak lebih, tolong jangan salah paham."
Renaga benar-benar tidak menyadari hal itu sama sekali. Terlebih lagi, Zavia memang terlihat tenang ketika Renaga mengatakan keinginannya. Sama sekali tidak Renaga ketahu, jika wanita di seluruh dunia kecuali ibu dan adiknya berpotensi menghadirkan kecemburuan di hati sang istri.
"Sakit sedikit, cemburunya yang banyak, tapi sekarang tidak lagi." Zavia mengeratkan pelukan seakan enggan lepas dari sang suami, jika bisa dia ingin segera berpindah ke tempat ke tempat tidur.
"Jika cemburunya begini, besok aku buat cemburu lagi saja."
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -