
Soal cincin itu ternyata berbuntut panjang. Hingga ketika mereka sarapan pagi, Giska masih mendiamkannya. Padahal, tadi malam keduanya bahkan sedikit lebih dekat usai Giska mengungkapkan bagaimana masa lalunya bersama Gavi.
"Ini cincin pernikahan daddy dengan mendiang mommy-ku, selama ini aku menggunakannya sebagai perlindungan agar tidak ada wanita yang berharap lebih," jelas Christ tanpa diminta dan membuat Giska menghentikan kegiatannya sejenak.
"Bukankah orang tuamu masih lengkap?"
Giska ingat betul Christ sempat mengatakan jika dia ke Berlin untuk menemui kedua orang tuanya. Lantas, kenapa sekarang dia melontarkan alasan yang sedikit tidak masuk di akalnya. Jika hendak menipu, Giska tidak akan tertipu lagi kali ini.
"Mommy sudah tidak ada sejak aku masih kecil, daddy menikah lagi beberapa tahun setelah mommy meninggal dan statusku sebagai anak tunggal berakhir saat remaja ... tapi mommy sambungku sangat baik, aku juga punya tiga adik kembar dari pernikahan kedua daddy."
Christ memang tampaknya memiliki keterbukaan tanpa ditanya jika dia sudah berkehendak. Pria itu mengatakan semua itu sejelas-jelasnya, Giska bahkan butuh waktu untuk mencerna semua yang dia bicarakan.
"Tiga adik?"
"Hm, semua laki-laki jadi tidak perlu khawatir ... tidak akan ada yang bersaing denganmu di rumah nanti."
Hubungan mereka bahkan belum jelas. Pacaran saja tidak, tapi Christ selalu saja mengutarakan hal-hal yang seakan menunjukkan jika mereka benar-benar sudah sejauh itu.
"Ini cincinya, ada nama mommy dan daddy di sana. Juga tahun pernikahan mereka ... kau boleh percaya boleh tidak, tapi aku hanya mengatakan ini padamu saja, Giska."
Christ menggunakan cincin itu agar tidak ada wanita yang berharap lebih. Bertahun-tahun dia gunakan, hanya sekadar tameng untuk melindungi dirinya dari harapan banyak wanita.
Kini, tanpa dia duga Christ dipertemukan dengan wanita yang sama sekali tidak berharap sekalipun Christ menginginkannya. Sekian lama cincin itu tersemat di jemari, kini Christ melepasnya hanya demi Giska percaya bahwa cincin itu milik orang tuanya.
Giska terdiam beberapa saat, untuk kali ini dia sedikit percaya setelah melihat ukiran di bagian dalam cincin itu. Memang sudah cukup lama, tepatnya 35 tahun lalu. Tidak ingin berlama-lama, Giska mengembalikan cicin itu pada sang pemiliknya.
"Bagus, pasti cincin mahal, 'kan?"
Kalimat yang sama sekali tidak Christ bayangkan akan terdengar setelah dia memberikan cincin itu. Sungguh, sama sekali tidak pernah Christ duga jika Giska akan tampak biasa saja.
__ADS_1
"Kenapa harus melakukan hal semacam itu? Apa kau pikir semua wanita akan berharap sama padamu?"
"Takutnya, bagus jika tidak," ucap Christ tersenyum getir dan dia seakan paham apa maksud Giska.
Christ tidak lagi kembali menggunakan cincin itu seperti sebelumnya, dia memasukkan benda kecil tersebut ke saku celananya. Hal itu jelas menimbulkan tanya dibalik benak Giska, apa mungkin dia salah? Pikir wanita itu bingung sendiri.
"Kenapa disimpan? Pakai lagi saja."
"Tidak, aku berubah pikiran sekarang ... aku menginginkan wanita ini berharap padaku," ucapnya dengan senyum tipis disertai kedipan mata yang membuat Giska mengalihkan pandangannya.
.
.
Setelah melewati malam penjang bersama Christ, pagi ini dia dibuat gemetar kala berada di depan rumahnya. Giska benar-benar takut Sonya akan mendaratkan pukulan nantinya. Sudah hampir lima belas menit, dan Giska belum juga memiliki keberanian untuk turun.
"Menjelaskan apa? Tidak perlu, aku bisa sendiri."
"Tapi tetap saja aku membawamu semalaman, lagi pula aku tidak memintamu baik-baik pada mereka."
Tanpa menunggu persetujuan Giska, pria itu turun dari mobil dan menerobos masuk seenaknya. Giska panik tentu saja, dia khawatir jika yang keluar adalah Sonya besar kemungkinan dia akan kehilangan harga dirinya.
Giska berusaha menarik paksa Christ yang lancang memasuki pekarangan rumahnya. Perdebatan terjadi dan kini terjadi, dan berakhir dengan teriakan Sonya yang membuat Giska berhenti.
"Sebentar, dia siapa Giska?"
"Oh, perkenalan saya Immanuel Christ Wilbert ... calon suami putri Anda, Nyonya. Bisa bertem_ hhmmpp."
"Ngaco, jangan dengarkan, Ma ... dia asal bicara, Mama masuklah," ucap Giska yang kini susah payah menutup mulut Christ yang memang lebih berbahaya dari gas amonia.
__ADS_1
"Hah? Wil ... wil apa tadi, Giska? Apa mama salah dengar?"
"Wil ... wildog iya wildog, kenapa? Familiar, 'kan? Mirip nama kucing kita dulu memang, Ma."
"Tidak, bukan itu katanya ... papa harus tahu soal ini," gumam Sonya yang sangat yakin dengan pikirannya.
Tanpa pikir panjang, dia menarik Christ menjauh dari Giska hingga putrinya panik sendiri. Sementara Christ terlihat santai dengan menjulurkan lidah tanpa sedikitpun merasa bersalah.
"Ayo, Nak kamu harus masuk!! Ingin bicara dengan suamiku, 'kan?"
"Benar, apa boleh, Nyonya?"
"Jangan panggil Nyonya, panggil saja Mama ... calon suami Giska, 'kan?"
"Mama!!!" Giska berteriak menahan malu yang kini lebih besar dari tubuhnya sendiri. Susah payah dia berusaha jual mahal, Sonya justru mengobralnya dengan santai.
"Christ ayolah, jangan bercanda ... Ma, dia bercanda!!"
"Bercanda apanya? Aku serius, Giska ... bukankah kau juga sudah menerimaku tadi malam? Jangan membuatku kecewa, Sayang."
Sonya bersorak mendengar ucapan pria tampan yang begitu berani di hadapannya. Dia yang sejak lama khawatir putrinya tidak lagi menyukai lawan jenis sontak menari di atas kekesalan Giska yang kini mengepalkan tangan dengan wajah sebalnya.
"Apa maumu sebenarnya?"
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1