Mahligai Impian

Mahligai Impian
BAB 39 - Muak


__ADS_3

Sejak kemarin Zavia nantikan, hari ini dia kembali dikejutkan dengan kabar tidak menyenangkan tentang Giska. Hingga akhir Giska akan terus membuat semua orang ketar-ketir. Ponsel yang tidak dapat dihubungi, Kenny sudah berusaha mencarinya bahkan Fabian juga turut direpotkan dengan hilangnya Giska.


"Kakak tolong cari Giska juga," pinta Zavia dengan tatapan penuh harap Renaga akan rela membawa kembali Giska padanya.


"Dia tidak akan jauh paling besok pulang," ucap Renaga yang enggan terlalu memaksakan diri untuk peduli pada wanita itu.


Percakapan mereka terdengar jelas di telinga Gavi yang baru saja selesai memastikan kondisi kesehatan Zavia.


"Tidak akan jauh gimana? Kakak kenapa seyakin itu? Bian bahkan sudah mencarinya, tapi tidak ketemu juga," balas Zavia kesal dan sedikit tak suka mendapati Renaga seolah menutup mata atas apa yang terjadi saat ini.


"Ya sudah, Bian saja tidak ketemu mau bagaimana lagi," jawab Renaga enteng tanpa menatap mata Zavia sama sekali.


"Aga!! Enteng banget ngomongnya ... kalau sampai dia kenapa-kenapa bagaimana?"


"Zavia please!! Kamu boleh meminta apapun asal jangan ikut memaksaku mencari Giska ... aku muak."


Apa yang terjadi pada Zavia benar-benar membuat Renaga hilang akal. Hingga sesulit itu dia untuk memaafkan kesalahan Giska sekalipun sudah meminta maaf tanpa menutupi faktanya.


Mereka sejenak terdiam tidak ada yang berani bicara begitupun Fabian yang saat ini tengah mengupas apel untuk dirinya sendiri. Sebagai pihak penengah Fabian sangat sadar hubungan mereka berempat sangat tidak baik-baik saja.


Dia juga marah sebenarnya, tapi dia tidak setega itu tidak peduli pada Giska sebagaimana Renaga saat ini. Suasana mendadak mencekam akibat perdebatan antara Renaga dan Zavia yang menyeret nama Giska.


"Terima kasih, Dok."


"Sama-sama, makan siangmu jangan lupa."

__ADS_1


Pria itu berlalu pergi dari ruangan VIP yang entah kenapa mendadak panas dalam waktu kurang dari lima belas menit. Menjadi seseorang yang mengetahui sesuatu dari kedua belah pihak cukup membuat seorang Gavi sedikit tertekan. Dia menghela napas panjang, hanya demi Giska dia ikut-ikutan menjadi pembohong.


Wanita itu mungkin sedang merenung di kamarnya. Terakhir Gavi hubungi lewat telpon rumahnya, Giska tengah sarapan merangkap makan siang. Itu juga karena Gavi paksa, jika tidak mungkin Giska akan terus bersembunyi di balik selimut dengan alasan yang sama.


Rumit sekali asmara wanita yang baru menginjak dewasa, Gavi turut dibuat sakit kepala dengan hubungan ketiga insan itu. Sebenarnya dia ingin mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi, tapi melihat bagaimana Giska meminta waktu untuk dia menumpang di apartemennya, Gavi mengurungkan niat dan berpikir akan lebih baik jika Giska tenang lebih dulu.


"Dok."


Ketukan pintu sejenak membuat lamunan Gavi buyar, seseorang yang sejak tadi dia tunggu kini muncul dengan senyum penuh makna. Pertanda dia berhasil melakukan perintah ditujukan padanya.


"Kau?"


"Ini, benar tasnya, 'kan?"


Gavi menarik sudut bibir, benar sekali itu yang dia mau. Tanpa pikir panjang dia mengeluarkan beberapa lembar uang tunai dari dompetnya demi sebuah tas kecil milik Giska.


Tanpa suara, Gavi hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Dia tidak ingin berlama-lama melihat pria itu di sana, cukup dengan tatapan tajam Gavi pria itu berlalu keluar dari ruangannya.


.


.


Jika Giska mungkin sedang mencari ketenangan, saat ini Zavia masih mendiamkan Renaga setelah menolak permintaannya secara tidak langsung. Sungguh, demi apapun Zavia kesal sekali dibuatnya.


"Makanan orang sakit kenapa selalu begini ya, Zav?"

__ADS_1


Fabian merasa tidak nyaman dengan kesunyian yang kini membelenggu mereka bertiga. Entah siapa yang salah sebenarnya, yang jelas hingga saat ini Renaga dan Zavia seakan berselisih paham.


"Kenapa?"


"Persis makanan bayi, hambar lagi ... apa memang konsepnya begini?" tanya Fabian mempertanyakan hal yang tidak perlu ditanyakan demi mencairkan suasana siang ini.


"Namanya makanan buat orang sakit, kalau dikasih kikil susah gigitnya," jawab Zavia santai sembari terus membuka mulutnya setiap Fabian mengarahkan sendok berisikan makanan yang sama sekali tidak menggugah selera itu.


"Masa iya begitu?"


"Terus apa? Bener dong begitu jawabannya."


Sama halnya dengan Giska yang tergores dengan sikap lembut Renaga pada Zavia, pria itu juga sama. Dia menatap sebal Zavia dan Fabian yang terlihat akur-akur saja sementara dia perang dingin akibat kepergian Giska.


Ulu hati Renaga terasa sesak melihat interaksi mereka, sekalipun tidak ada bedanya antara Zavia dan Fabian tetap saja nurani laki-laki Renaga berkuasa saat ini. "Bian, Papamu telepon."


"Oh iya? Masa iya?"


"Hm, Zayyan papamu, 'kan?" tanya Renaga membuat Fabian bergegas menghampiri Renaga yang kini tengah duduk di sofa.


Saat itulah Renaga gunakan untuk menggantikan tugas Fabian, meski hanya beberapa suap lagi setidaknya dia tidak terlambat siang ini. Renaga sudah biasa sebenarnya menjadi sasaran kemarahan Zavia karena bersikap kasar pada Giska di masa lalu, tapi untuk saat ini dia benar-benar dibuat bingung hendak berbuat apa.


"Aku sudah meminta Daddy turun tangan, Giska pasti akan pulang ... kamu tenang saja, aku tidak tinggal diam, Zavia."


.

__ADS_1


.


- To Be Continue -


__ADS_2