
Tragedi berdarah kamis pagi, cukup membuat tiga keluarga itu khawatir. Seketika Zavia kembali menjadi pusat perhatian yang dipedulikan banyak mata. Bagaimana tidak, Zavia mengalami luka serius hingga membuatnya kehilangan banyak darah.
Bahkan, Fabian yang sama sekali tidak memiliki ikatan darah merelakan diri untuk menyelamatkan Zavia. Hal ini dikarenakan hanya darah Mikhayla yang dapat didonorkan untuk Zavia dari pihak keluarga, demi membuat segalanya berlangsung cepat Fabian melakukan hal yang sama seperti yang terjadi ketika mereka SMA.
Melihat dunia hanya sibuk dengan Zavia, bahkan kedua orang tuanya juga sama Giska memilih menyendiri di taman rumah sakit setiap datag ke sana. Sudah tiga hari, dia merasa benar-benar kesepian.
Walau hanya Renaga yang menganggapnya sebagai penyebab utama Zavia celaka, tetap saja Giska merasa diasingkan untuk saat ini. Fabian yang tidak membelanya, Sonya dan Keny yang justru menyayangkan tindakannya membuat seorang Giska benar-benar sendirian.
"Wajahmu jelek, pulang saja kalau mau menangis."
Lamunan Giska buyar kala merasakan seseorang kini duduk di sebelahnya. Dia bahkan baru sadar jika sedang menangis kala pria itu memberikan sapu tangannya, Giska yang awalnya enggan membuang ego dan menerima tawaran pria itu.
"Dunia memang kejam, jadi biasa saja ... jangan terlalu dikejar, seakan tidak punya kebahagiaan yang lain saja."
Gavi kembali dengan kalimat-kalimat bijaknya, tapi seorang Giska sedang tidak butuh itu. Saat ini yang menjadi alasan tangisnya bukan karena kehilangan Renaga, tapi semuanya.
Kepercayaan Fabian bahkan tidak lagi padanya. Padahal, yang menguatkan Giska selama ini adalah pria itu. Sayangnya, ketika Zavia benar-benar mengalami luka serius setelah berbicara dengannya, Fabian menunjukkan kekecawaan tanpa dia tutup-tutupi.
"Zavia bagaimana? Dokter yang tahu keadaannya, 'kan?" tanya Giska usai menghapus air mata denga sapu tangan dengan nama Gavi yang terukir jelas di sana.
"Sedikit lebih baik dari kemarin, kau lihat saja sendiri ... wanita itu hebat, aku pikir hidupnya akan berakhir kemarin."
"Syukurlah."
Giska menunduk, sejak kemarin-kemarin dia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk menjenguk Zavia secara langsung. Meski sudah tiga hari ini dia selalu berada di rumah sakit, Giska sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di ruangan rawat Zavia.
__ADS_1
Dia malu, takut dan merasa bersalah. Ketiga hal yang menjadi satu berkecamuk dalam batinnya, terlebih lagi saat ini Zavia menjadi perhatian banyak orang. "Tidak perlu menangis, jangan membuat hidupmu semakin menyedihkan, Giska."
Pria itu bicara dengan tatapan tak terbaca. Sejak awal dia secara tidak sengaja ikut dalam pergolakan hati mereka. Semula memang Gavi mencoba untuk tidak peduli, tapi semakin kesini dia seakan menatap bayangan masa lalunya di dalam diri Giska.
"Memang kenyataannya menyedihkan mau bagaimana lagi," lirih Giska kembali mengusap kasar air matanya, kehadiran Gavi sama sekali tidak membuat dia tenang.
"Minumlah, sudah tiga jam kau di sini ... jangan sampai dehidrasi karena kau akan semakin menyedihkan."
"Tahu dari mana?" tanya Giska mengerutkan dahi, tangannya tetap menerima air mineral yang Gavi berikan padanya.
"Tidak sengaja aku lihat," jawabnya singkat seraya menatap lekat Giska yang minum sebotol air ukuran sedang itu hingga tandas.
Gavi menggigit bibirnya, berusaha menahan agar tidak mengucapkan kalimat yang membuat wanita itu tersinggung, tapi memang sangat sulit. "Memang haus ternyata."
"Terima kasih," ucapnya terdengar amat lelah seraya menyerahkan botol air mineral kosong itu pada Gavi.
Ingin dia maki, tapi mata sembab Giska membuatnya merasa iba, Mana mungkin dia tega. Terpaksa, Gavi menerima botol kosong itu walau kotak sampah justru lebih dekat dengan Giska sendiri.
"Jam berapa, Dok?"
"Sepuluh, mau pulang?" Gavi balik bertanya, ini sudah malam dan memang sudah sepantasnya Giska pulang.
"Tidak, mau lihat Zavia ... sepertinya sudah sepi, 'kan?"
Gavi mengangguk, memang sepertinya begitu. Terakhir dia keluar hanya ada Mikhayla seorang, menurut Gavi tidak akan menjadi masalah jika Giska datang pada Zavia saat ini.
__ADS_1
"Setelah itu pulang, kau tidak ingin masuk rumah sakit jiwa setelah ini, 'kan?"
Langkah Giska bahkan terhenti kala mendengar pertanyaan Gavi, apa mungkin dia semenyedihkan itu sampai Gavi mengiranya akan gila sebentar lagi. "Maksudmu?"
"Tidak ada maksud, sudah sana ... jangan macam-macam, Zavia baru sadar tadi siang."
Tanpa menjawab ucapan Gavi, dia berlalu segera dengan langkah panjangnya. Zavia telah berhasil melewati masa kritisnya, sejak kemarin dia menerka keadaan Zavia, hanya Gavi yang memberitahukan hal itu padanya.
Bukti jika semua orang memang membencinya. Bahkan ketika Zavia sadarkan diri, Giska tidak diberitahu sama sekali. Dia juga seakan tidak dicari meski selalu menghindar dan memantau dari kejauhan.
"Zavia tidak akan marah, 'kan? Yah, dia selalu menerima permintaan maafku ... semoga kali ini juga begitu."
Semakin dekat, dia bergumam dengan harapan hubungannya bersama Zavia akan tetap baik-baik saja. Besar harapan Giska, malam ini mereka akan bisa bicara dari hati ke hati.
Dia memang terlalu bodoh kemarin, Keny hanya mengatakan agar dia segera melupakan Renaga yang sudah berstatus sebagai calon suami Zavia. Harusnya Giska semakin kuat, bukan justru tidak terima seperti kemarin.
"Belum tidur, Sayang?"
Deg
Bak dihantam bongkahan batu besar tepat di dadanya, Giska terhenyak begitu mendengar suara seseorang yang dia kenali ketika hendak membuka pintu ruangan rawat Zavia. Tangannya gemetar, lutut Giska lemas padahal Renaga bukan miliknya sama sekali.
"Kak Aga?"
.
__ADS_1
.
- To Be Continue -